Berawal dari niatnya ingin menyusul suaminya ke kota, untuk mencari keberadaan suaminya yang tanpa kabar selama tujuh bulan.
Namun, ia malah mendapatkan sang suami ternyata sudah menikah kembali dengan majikannya sendiri.
Apakah pernikahan mereka masih tetap bertahan dengan secara diam-diam seperti istri simpanan, atau kah harus berpisah?
Yuk simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erni sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
“Akhh ....” Lily kembali meringis, ia sudah berusaha melepaskan tangan Laura dari rambutnya.
Namun, tangan Laura semakin kuat.
“Lepaskan! Kalau tidak ....” Andre menggantungkan ucapannya sembari menatap Laura kekasihnya dengan tajam.
“Kalau tidak apa? Mau membunuhku!” jawab Laura tidak mau kalah.
“Lepaskan dia!” sentak Andre menunjuk wajah Laura.
Melihat wajah Andre terlihat serius, perlahan Laura melepaskan cengkeramannya. Terdapat beberapa helai rambut di tangan Laura. Akibat cengkeraman yang kuat, membuat rambut Lily terlihat rontok.
“Kamu membela wanita ini? Aku kekasihmu, Andre!” sentak Laura, menunjuk Lily yang tampak ketakutan.
“Keluar dari sini!” menarik paksa tangan Laura untuk keluar dari apartemen itu.
Prok ... Prok ...
Nova yang muncul di depan pintu apartemen, dengan bertepuk tangan sembari tersenyum licik.
“Sandiwara yang hebat! Lihat Laura, aku tidak berbohong, bukan? Kekasihmu ini yang sudah berkhianat!” menunjuk wajah Andre dengan tatapan murka.
“Kau!” tak mau kalah.
“Sudah, sudah. Ayo kita pulang!” menarik paksa tangan kekasihnya.
Sedangkan Nova menyeringai licik melihat kepergian Andre dan Laura. Setelah melihat punggung mereka menghilang, Nova menatap istrinya yang juga menatap dirinya.
Lily langsung membuang wajahnya ke arah lain.
“Lily, sayang. Beri aku satu kesempatan untuk menjelaskannya,” ujar Nova lembut melangkah mendekati istrinya.
Nova terduduk bersimpuh di depan kaki istrinya, bahkan ia tidak segan memeluk kedua kaki istrinya.
“Lily, tolong jangan seperti ini. Aku memang bersalah, aku tidak ada pilihan lain selain menikah dengan Jessica.”
Lily terlihat risih dengan posisi Nova yang bersimpuh padanya, ia berusaha melepaskan kakinya. Namun, tangan Nova terlalu kuat.
“Jangan seperti ini, Mas Angga. Lepaskan!” ujar Lily, masih dengan suara dingin.
“Tidak! Aku tidak akan melepaskannya, sebelum kamu mau memaafkanmu dan mau mendengar penjelasanku.”
Tampak Lily menghela napas berat, dengan terpaksa ia mengangguk agar Nova mau melepaskan tangan dari kakinya.
Terlihat Nova melonggarkan pelukannya, ia beranjak dari tempat itu lalu menarik pelan Lily untuk duduk di sofa.
Nova langsung menarik Lily masuk ke dalam pelukannya, aroma tubuh Lily yang sudah lama ia rindukan.
Hari ini ia kembali memeluk istrinya dan menghirup aroma tubuh Lily dalam-dalam.
“Maafkan aku,” ucap Nova Lirih.
Lily hanya diam termangu, ia sama sekali tidak membalas pelukan dari suaminya.
“Sayang, aku akan menceritakan semuanya pada keluargaku, termasuk Jessica.”
Mendengar itu, Lily langsung melepaskan dekapan suaminya. Dengan cepat Lily menggelengkan kepalanya, bahwa ia tidak setuju dengan pernyataan suaminya.
“Kenapa?” tanya Nova tampak bingung.
“Aku tidak mau di anggap merusak rumah tanggamu. Aku lebih baik mengalah, apalagi saat ini Jessica sedang mengandung anakmu.”
“Tidak. Aku tidak akan melepaskan mu, apapun yang terjadi kita harus tetap bersama. Kamu adalah istriku juga!” ucap Nova kembali memeluk Lily.
“Setelah anak itu lahir, aku akan menceraikannya dan kita hidup bahagia berdua.” Memeluk Lily dengan erat, seakan tidak mau kehilangan istrinya.
“Dengan membiarkan anak itu tumbuh tanpa Ayahnya? Tidak, Aku tidak mau!” tolak Lily melepaskan dekapan suaminya.
Ia beranjak dari tempat duduknya, melangkah ke arah balkon dengan pintu yang masih terbuka lebar.
“Lily, aku juga tidak mau kehilanganmu!” menyusul istrinya.
“Lily, pernikahan kami juga hanya pernikahan yang di paksa oleh kedua orang tua kami.”
“Oh ya?” Lily masih tidak percaya jika pernikahan suaminya dengan Jessica hanyalah terpaksa.
Saat itu, ia sangat jelas melihat mereka sedang bercumbu mesra di kamar. Bahkan tidak ada paksaan di antara keduanya, mereka saling menikmatinya saat itu.
Sehingga membuat Lily tidak percaya jika pernikahan mereka adalah pernikahan yang di paksa.
“Lily, bisnis ku sedang bangkrut saat itu. Ayahnya Jessica yang membantu kami, hingga bisnis itu kembali berkembang. Asalkan aku mau menikah dengan putrinya. Saat itu aku menolak. Tapi ....” Nova menggantungkan ucapannya.
Tampak Lily menunggu jawaban dari suaminya tersebut.
Lalu Nova melanjutkan percakapannya, dimana ibunya mengancam akan mengakhiri hidupnya. Jika, Nova tidak mau menikah dengan Jessica.
Lily hanya diam mendengar penjelasan suaminya.
“Lalu, menghilang dariku, bahkan memberi alamat palsu padaku. Apakah itu bagian dari rencanamu?!”
“Maafkan aku. Iya aku memang salah, aku mengakuinya. Tolong jangan pergi,” ujar Nova kembali memohon.
“Aku ingin sendiri!” tatapan Lily lurus ke depan, tanpa peduli lagi dengan suaminya.
Hatinya sudah terlanjur kecewa, dengan kebohongan besar suaminya padanya.
Nova menggelengkan kepalanya, bahwa ia tidak ingin berpisah dari Lily.
Drrtt .... suara getar ponsel milik Nova dari dalam saku celananya.
Ia mengambil ponsel tersebut, melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Awalnya ia mengabaikan panggilan itu, hingga berulang kali panggilan itu tidak berhenti.
“Kenapa tidak di angkat? Nyonya Jessica saat ini sedang mengandung, jangan biarkan dia cemas memikirkan dirimu. Itu pasti berpengaruh pada bayi yang ada di dalam kandungannya,” ucap Lily datar.
Mendengar itu, Nova terpaksa mengangkat panggilan tersebut.
Setelah mendengar suara panggilan itu, Nova tampak membulatkan matanya hingga ia harus bergegas untuk pulang.
“Kita harus pulang. Kemasi barangmu, aku akan membawamu pulang ke rumah kita,” menarik paksa tangan Lily.
Lily menarik tangannya, lalu menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak bisa!” tolak Lily lagi.
Ia masih belum siap untuk bertemu Jessica, apalagi Jessica yang begitu baik padanya. Apa jadinya, jika Lily datang kembali ke rumah itu sebagai istrinya pertama suaminya.
Lily tidak ingin membahayakan janin yang ada di kandungan Jessica.
“Lily, aku akan bertanggung jawab. Apapun yang akan terjadi, aku akan ....”
“Aku tidak mau!” sela Lily tetap dengan pendiriannya.
Tampak Nova menghela napas kasar, entah bagaimana lagi caranya untuk membujuk istrinya agar ikut bersamanya pulang ke rumah.
Nova cemas, jika ia meninggalkan Lily lagi, Lily akan kabur dan meninggalkan dirinya. Sementara saat ini, Nova tidak mau kehilangan jejak istrinya lagi.
“Apa kamu tidak mencintaiku lagi?”
Pertanyaan itu, sontak membuat Lily terdiam. Ia pun seakan bertanya, apakah masih ada cinta di hatinya? Setelah pengkhianatan dan semua kebohongan Nova padanya.
“Jika kamu tidak mau ikut bersamaku ke rumah, kalau begitu jangan tinggal di apartemen ini. Aku akan tinggal di apartemenku saja,” ujar Nova tampak mengalah.
“Besok kamu harus pindah dari apartemen ini!” Nova Kembali memeluk istrinya lagi dari belakang.
Lily tidak mengangguk maupun menggelengkan kepalanya.
Sebelum berpamitan pulang, Nova memberi kecupan hangat di kening istrinya.
Lily menghela napas berat melihat kepergian suaminya.
***
Sementara di dalam mobil, pertengkaran sepasang kekasih itu belum juga usai.
“Kamu jahat, Andre! Kamu menamparku demi wanita murahan itu!” sentak Laura sembari memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Andre.
“Jaga bicaramu itu! Lily bukan wanita murahan!” kesal Andre pada Laura, yang selalu menyebut Lily perempuan murahan.
“Hiks ... kamu bohong!” kesal Laura memukul bahu kekasihnya.
Andre hanya diam, tidak ingin membalas ucapan kekasihnya itu lagi. Menurutnya percuma, karena Laura tidak akan mendengarkan dirinya.
Setibanya di depan rumah Laura, tampak keduanya masih diam.
“Laura, hubungan kita cukup sampai disini saja!”
Laura yang mendengarnya langsung menatap nanar wajah kekasihnya, bersamaan dengan air matanya yang mengalir di pipinya.
“Sayang, kamu tidak serius kan? Kamu pasti bercanda, tarik ucapanmu lagi.” Dengan suara yang bergetar menahan tangis.
“Apa kamu melihatku sedang bercanda?” Andre menatapnya dengan tatapan yang serius.
***