Indonesia
NovelToon NovelToon
Budak Cinta

Budak Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: IkeFrenhas

Sudah sekian lama Ayra Zuri memendam perasaan cinta kepada Adya Qias Jarvas. Namun, selama itu pula ia harus menerima kenyataan bahwa lelaki itu memcintai wanita lain.

Evelyn, wanita yang sangat dicintai Qias. Sampai suatu hari wanita itu pula yang tiba-tiba menghilang di acara pernikahan mereka. Hari yang seharusnya bahagia menjadi hari yang begitu nahas.

Ayra tidak pernah sedikit pun berpikir untuk menjadi pengantin hari itu. Terutama menjadi pengganti pengantin yang kabur. Berulang kali Qias meminta maaf, berulang kali pula hati Ayra seperti tersayat pisau berkarat.

Sanggupkah Ayra membuat Qias mencintainya? Sanggupkah Ayra bertahan di saat Evelyn datang dengan segala rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan

Sudah tiga hari Mas Ias di Bandung. Rasanya, ada kesepian yang menggelayut di dalam hatiku.

Entah mengapa, aku merasa harus bersiap diri jika suatu saat nanti Mas Ias mau memgakhiri hubungan ini.

Memikirkan menjadi janda seorang Qias membuat hatiku didera kesakitan mendalam. Aku menghela napas berulang kali, meyakinkan diri jika hati ini akan mampu menghadapi rasa sakit dan kehilangan itu.

Toh, dulu saat Mas Ias akan menikah dengan Kak Evelyn pun aku sudah bersiap dan ikhlas akan semua ini.

Aku menerima bagaimana akhirnya perasaan cintaku ini tidak berbalas.

Melihat bagaimana Mas Ias akan bahagia bersama wanita yang dicintainya sudah cukup bagiku.

Akan sangat menyiksa juga jika aku memaksakan diri dan Mas Ias justru tersiksa denganku bukan? Itu justru akan melukai banyak orang terutama aku dan Mas Ias sendiri.

Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Seperti aku yang tidak bisa memaksa hatiku untuk melepas cinta yang aku miliki untuk Mas Ias. Aku juga tidak bisa memaksa lelaki itu untuk mencintaiku.

Aku tengah merenung, duduk di atas ranjang mendengarkan suara hujan disertai gemuruh yang sejak sore tadi. Aku pulang dalam keadaan basah. Sekarang, aku menutup tubuhku sampai ke dada dengan selimut.

Duduk seorang diri, seperti biasanya. Rasa- rasanya tidak ada beda apa yang aku alami beberapa tahun terakhir ini.

Sendirian. Menikmati sepi. Kesibukan yang aku lakukan tidak juga bisa menghalau kesendirianku.

"Ra ...."

Aku tersentak kaget saat mendengar suara disertai gedoran di pintu kamarku.

Apakah itu suara Mas Ias?

Apakah ini sudah waktunya lelaki itu pulang?

Aku bergegas turun, melemparkan selimut secara asal ke lantai kamarku yang terasa amat dingin ini.

Aku membuka pintu dengan tergesa dan semakin kaget saat mendapati Mas Ias yang basah kuyup.

"Mas? Mas dari mana, kok, basah kuyup begini?" tanyaku khawatir. Bau alkohol menguar di indera penciumanku. Mas Ias mabuk?

Hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya saat mendapati Mas Ias yang menyandarkan kepala di bahuku.

"Maaf, kamu jadi kebasahan juga ya," ujar Mas Ias lebih terdengar seperti igauan.

Lantas, Mas Ias terkekeh pelan. "Aku kedinginan, Ra. Boleh numpang tidur enggak? Mas Ias begitu saja mendorong bahuku agar menyingkir. Lantas, dia pun berjalan melewatiku, naik ke atas ranjang dengan pakaian basah.

"Jangan, Mas!" Aku berseru, mencegah tingkah aneh Mas Ias.

Aku berlari cepat menghampiri lelaki yang bersiap untuk berbaring itu, lantas dengan tangan yang terasa bergetar hebat aku membuka pakaian Mas Ias.

Melihay bagaimana tubuh atletis Mas Ias yang ada di balik pakaian basahnya itu, mataku terpejam, sesekali mengintip agar kancing yang aku lepaskan tidaklah salah.

Tubuhku terasa membeku saat tiba-tiba saja tangan Mas Ias melingkar di pinggangku. Mata sayunya menatap lekat padaku. Aku menunduk, berusaha untuk terus berkonsentrasi membuka kancing demi kancing. Aku khawatir jika tubuh Mas Ias semakin kedinginan.

"Cantik," ujar Mas Ias lirih, serupa bisikan yang justru membuat bulu kudukku meremang.

Untuk pertama kalinya, aku dan Mas Ias beribteraksi dengan jarak sedekat ini dengan keadaan bangun.

Untuk pertama kalinya, Mas Ias berbisik di telingaku. Dan, untuk pertama kalinya bibir lelaki itu menyentuh bibirku.

Hawa dingin dari tubuhnya seakan kontan mengalir ke tubuhku, lalu berubah jadi hawa panas yang menerjang hebat.

Entah setan mana yang merasuki tubuh dan pikiranku ini yang berhasil membuaiku pada setiap sentuhan yang Mas Ias berikan.

Sentuhan Mas Ias begitu lembut dan bagai tarian indah yang membuat tubuhku ikut menari.

Suara gemuruh dan hujan yang deras semakin mendukung tubuh kami menari seirama. Seperti mendengar lantunan lagu yang membuat tubuh kami bergerak berlawanan, tetapi saling melengkapi.

Aku merasa jika rasa cintaku akhirnya bermuara. Aku merasa jika perasaanku kini berbalas.

Rasa sakit yang menusuk tubuhku begitu saja aku abaikan, berganti helaan napas kelegaan dan lelehan air mata kebahagiaan.

Mas Ias menghapus jejak basah di pipiku dengan telapak tangannya yang besar, tetapi begitu lembut kala menyentuh.

Mas Ias mengcup kedua mataku secara bergantian, lalu beralih ke seluruh tubuhku dan bermuara pada bibir.

Malam ini menjadi saksi jika aku telah sepenuhnya menyerahkan diri. Menyerahkan hati, jiwa dan ragaku untuk seorang Adya Qias Jarvas. Lelaki inilah yang selalu aku dambakan juga selalu aku sebut namanya dalam doa dan harapan masa depanku.

Aku begitu saja pasrah dan setiap sentuhan lembut yang Mas Ias berikan berhasil membawaku terbang ke nirwana melihat banyaknya pelangi yang indah.

Saat tubuhku dan tubuh Mas Ias telah melemah, dia memelukku kemudian membisikkan sebuah nama yang membuat seluruh hidupku hancur seketika.

"Evelyn ...."

Mata Mas Ias terpejam, lalu berguling ke sisi kosong di sampingku.

Air mataku mengalir begitu saja dengan rasa sakit yang tidak bisa aku gambarkan lagi. Remuk redam jiwaku, remuk redam pula ragaku.

Aku bergerak turun dari ranjang dengan tubuh ringkih, memunguti lembaran pakaian yang terserak lalu masuk ke kamar mandi.

Aku sengaja berlama-lama mandi di bawah kucuran shower. Sakit di inti tubuhku tidak sebanding dengan sakit di dalam dadaku.

Kemudian, aku berjalan menuju cermin masih dengan tubuh yang basah kuyup.

Lewat pantulan cermin aku bisa melihat dengan jelas jejak yang ditinggalkan Mas Ias di tubuhku. Aku juga bisa melihat dengan jelas bagaimana bodohnya wajahku di sana.

"Dasar bodoh!" seruku tertahan sambil menampar pipiku sendiri. Lantas, aku memukul dada kiriku, seakan dengan begitu diri ini bisa sadar dengan kebodohan fatal yang aku buat.

Aku kembali ke bawah shower sampai dingin membuat tubuhku menggigil.

Aku melewati ranjang yang masih ditempati Mas Ias. Rasanya, perasaan ini terlalu hampa sekarang. Aku tidak bisa menerjemahkannya secara jelas.

Aku mengambil pakaian dari dalam lemari, berganti pakaian kemudian keluar dari kamar.

Aku menuju dapur, mengambil segelas air hangat dan membawanya ke kamarku. Setelah meletakkannya di nakas, aku mendekati Mas Ias. Aku menarik selimut sampai menutupi dadanya. Ketika aku hendak meninggalkannya, tanganku digenggam erat.

"Terima kasih, Ayra."

Ucapan itu seperti anak panah yang menghunus tepat di jantungku. Aku bisa merasakan jika suhu tubuh Mas Ias menghangat.

Aku melepaskan genggaman tangannya, lalu mengambil selimut dan bantal. Aku memilih tidur di sofabed depan televisi.

Sayangnya, tubuhku yang teramat lelah ini tidak juga berhasil mengundang kantuk. Mataku masih terbuka lebar dengan pikiran mengarah pada lelaki yang kini tidur di kamarku. Ada khawatir mengingat suhu tubuhnya yang tadi menghangat. Namun, kali ini aku juga tidak bisa menepis perasaan sakit di hati.

Pada akhirnya, aku membiarkan pikiranku tertuju ke kamar, tetapi ragaku tetap bertahan di sofabed ini.

1
Aritya Ken Motor
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!