Violyn seorang wanita yang terpaksa untuk menikah dengan lelaki bernama Mads Mikkelsen atas perjanjian kontrak bisnis yang di jalin oleh kedua orang tua mereka membawanya berakhir dengan tragis.
Mads Mikkelsen yang selalu mengelak atas pernikahan ini, tetapi ia tidak bisa menolak begitu saja karena ayahnya yang sangat kukuh untuk menjaga dunia bisnis nya itu.
Hingga akhirnya semua kekecewaan dan emosi tersebut di salurkan kepada salah seorang yang berada di sampingnya, dan hidup bersama nya.
Apakah Mads akan tetap bersikap seperti ini? ataukah mungkin Violyn akan menyerah atas keadaan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lynearys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strangers
Sinar matahari telah menyinari ruangan tersebut membuat Mads terbangun dari tidurnya dan merasakan kepalanya yang sangat pusing hingga terasa berputar-putar tidak hanya itu ia juga merasakan tubuhnya yang terasa sangat pegal dan sedikit nyeri terutama pada bagian pinggul miliknya.
Ia mulai membalikkan posisi tubuhnya dan terkejut melihat Violyn yang tertidur di sampingnya dalam keadaan telanjang bulat, ia mulai mengernyitkan kedua alisnya bingung.
Apa yang telah terjadi semalam? — ujar Mads dalam hatinya.
Dengan cepat Mads menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya yang juga telanjang bulat, sama seperti Violyn, namun ia melihat sesuatu yang membuatnya terkesiap, terlihat sangat jelas pada sprei putih tersebut terdapat sebuah noda merah yang mengering, sangat jelas sekali bahwa itu adalah bekas darah yang telah mengering.
Mads membulatkan matanya dan mulai memahami apa yang telah ia lakukan bersama Violyn semalam di saat ia kehilangan kesadarannya secara penuh.
Mads mengernyitkan dahi miliknya, ia sedikit mengelak atas hal yang mulai terlintas di kepalanya di karenakan ia hanya mengingat bahwa ia melakukan hubungan tubuh tersebut bersama Hanne.
Tidak mungkin aku benar-benar melakukannya bersama Violyn, bukan? Aku pasti sudah gila jika benar melakukannya. — ujar Mads dalam hatinya.
Mads menggelengkan kepalanya, mencoba untuk mengelak semua ini. Ia mulai bangkit dari kasur dan mengambil satu persatu baju nya yang berserakan di lantai.
Dengan tergesa-gesa ia memakai kembali bajunya dan berjalan meninggalkan kamar Violyn, ia merutuki dirinya sendiri di sepanjang jalan atas apa yang telah ia perbuat.
Sial, sial, sial. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?!? Seharusnya aku melakukannya bersama Hanne, bukan perempuan itu! — cerutu Mads di dalam hatinya.
Mads berjalan dengan sempoyongan menuju kamarnya, ketika ia sudah berada di depan kamarnya ia mulai menekan tombol bel yang berada di sebelah pintu kamar itu.
Tidak perlu menunggu waktu lama, Hanne telah membukakan pintu nya dan melihat ke arah Mads dengan terkejut.
“Mads? Kemana saja kamu semalam??” Tanya Hanne sembari melihat Mads dengan penuh tanda tanya.
“Aku ketiduran di bar lantai atas semalam.” Ucap Mads berbohong.
Hanne melihat Mads dengan tatapan yang kurang yakin, “Apakah benar? aku kira bar tersebut tutup pada jam 3 pagi..” ujar Hanne.
Mads meneguk ludahnya pelan, tetapi dengan cepat ia mengelak ucapan dari Hanne,
“Ya, bar itu tutup jam 3 pagi.. aku melanjutkan tidurku di lobby. Aku benar-benar kehilangan kesadaran saat itu, Hanne" Ujar Mads dan menatap Hanne mencoba untuk melihat apakah wanita itu percaya atas ucapannya atau tidak.
Hanne menghela nafas pelan dan mengangguk, ia mulai merangkul tubuh Mads dan membawa pria tersebut menuju kasur.
“Kamu pasti merasakan sangat pusing sekarang.. Aku pesankan jus untuk kamu ya?” Ujar Hanne yang telah mengangkat telefon yang tersedia di kamar hotel mereka.
Mads hanya mengangguk pelan dan merasakan rasa pusing yang kembali menyerang kepalanya, di tambah dengan ingatan dari kejadian semalam yang semakin jelas di benak fikiran nya.
Ya, betul. Dirinya menyetubuhi Violyn di dalam keadaan tidak sadar, Bahkan ia melafalkan nama Hanne di tengah kegiatan nya bersama Violyn.
Terlalu larut dalam ingatan-ingatan nya yang mulai muncul, Mads mulai tersadar ketika Hanne telah membawanya segelas jus dari buah pir.
Hanne tersenyum dan duduk di samping kasur Mads sembari membawa segelas jus buah pir, Mads perlahan mulai bangun dan Hanne membantu Mads untuk meminum jus tersebut hingga habis.
Hanne mengelus rambut Mads perlahan dan membantu pria tersebut untuk merebahkan kembali tubuhnya di kasur.
“Tidurlah kembali Mads.. Nanti sore kita main ke pantai ya?” Ujar Hanne sembari menaruh gelas yang sudah kosong di meja.
Mads tersenyum dan mengangguk pelan, ia mulai melanjutkan tidurnya, sedangkan Hanne duduk di sampingnya dan memijat tubuh Mads dengan pelan.
...****************...
Violyn mengernyitkan wajahnya ketika paparan sinar matahari telah menusuk kedua matanya, membuat dirinya membuka mata perlahan dan bangun dari tidurnya.
Ketika ia ingin bergerak, ia merasakan rasa nyeri yang berasal dari bagian kewanitaannya. Violyn perlahan melirik kasur yang kosong di sebelahnya,
Mads telah bangun dan pergi meninggalkan dirinya sendirian.
Violyn memaksakan untuk bangun dan melihat darah yang telah mengering di sprei putih kasurnya itu, dengan kenyataan yang pahit Violyn menerima semua ini.
Violyn sangat bingung, bagaimana reaksi Mads ketika dirinya menyadari apa yang telah pria itu lakukan kepadanya pada saat ia tengah mabuk.
Violyn mencoba untuk mengambil handphone yang terletak di nakas sebelah kasurnya dan mencari kontak Mads, tetapi niatnya terhenti seketika.
Untuk apa ia menanyakan hal tersebut? Mads tentunya sangat tidak peduli tentang apapun yang berhubungan dengan dirinya.
Dengan perasaan campur aduk Violyn menaruh kembari handphone di nakasnya dan bangkit dari kasurnya, dengan berjalan menuju kamar mandi sembari menahan rasa sakitnya di setiap langkah yang ia lakukan.
Violyn memegang erat pinggir wastafel sembari melihat pantulan wajah nya yang berada di cermin, terdapat sebuah kissmark yang berada di leher Violyn.
Memori semalam semakin terekam jelas di ingatan nya, Violyn mencoba untuk menghapus dan melupakan semua itu.
Ia berjalan menuju bathtub dan mulai merebahkan dirinya di dalam bathtub sembari menunggu air tersebut penuh hingga merendamkan seluruh tubuhnya.
Setetes air mata mulai mengalir dari kedua kelopak matanya yang tertutup, semua ingatan itu terasa sangat membekas di kepalanya dan mungkin akan abadi.
“Hanne, i love you.. i really do”
“Fuck, it feels so good Hanne..”
“You have to carry my child, you're the one who should've be my wife. Not her..”
Violyn langsung membuka matanya dan terengah-engah ketika ingatan tersebut mulai kembali, ia mencoba untuk melupakan kejadian tersebut dan memfokuskan untuk membersihkan diri nya.
Setelah beberapa menit Violyn membersihkan diri, ia mulai memanggil housekeeping melalui telfon untuk mengganti sprei yang telah terkena noda tersebut.
Violyn berjalan keluar kamar hotelnya sembari menunggu sprei nya yang akan di ganti, ia mulai berjalan keluar hotel hingga tiba di pantai yang tepat di depan hotel yang ia tempati.
Violyn berjalan pelan-pelan dan mulai duduk di antara butiran pasir putih yang sangat bersih, pemandangan laut biru muda yang cerah di sertai dengan angin pantai yang menerpa wajahnya membuat Violyn merasakan relaksasi sementara.
Ia mulai mencoba untuk memainkan pasir dan membentuk sebuah benda-benda lucu dari pasir tersebut, terkesan seperti anak-anak tetapi Violyn sangat suka melakukannya.
Tidak lama setelahnya Violyn mulai memandang lagi suasana sekitar yang mulai ramai karena suasana matahari yang akan mulai tenggelam, banyak sekali orang yang menikmati suasana sunset tersebut.
Namun pandangan Violyn terhenti seketika pada kedua pasangan yang berada tidak jauh dari pandangannya.
Ya, itu Mads dengan Hanne. Lelaki tersebut sangat menikmati percakapan dan pemandangan indah yang berada di pantai ini bersama Hanne, lengannya yang merangkul tubuh Hanne pun tidak luput dari pandangan matanya.
Tanpa Violyn ketahui, sebenarnya Mads telah menyadari kehadiran wanita tersebut di pantai ini. Ia melihat Violyn yang sibuk dengan dirinya sendiri membuat Mads merasakan sedikit rasa.. Kasihan?
Tidak, ia tidak ingin menaruh sedikitpun perhatian kepada wanita itu. Ia tidak peduli, sungguh.
TAPI PSYCHO ANJIRR