Indonesia
NovelToon NovelToon
Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Sempurna dengan caramu sendiri

Adrian berjalan bolak-balik di dalam ruang kerjanya. Pandangannya berulang kali tertuju pada kursi sekretaris di luar kaca transparan yang masih kosong melompong. Rasa cemas dan bersalah kian membelit dadanya.

"Rio," panggil Adrian menghentikan langkahnya, menatap asisten pribadinya itu. "Menurutmu... apakah Nayla marah karena ucapan klien Jepang tadi?"

Rio yang sedang menata dokumen mendongak sejenak. "Kalau marah... menurut saya tidak, Pak. Hanya saja, wanita itu memiliki hati yang sensitif, apalagi kalau sudah menyangkut bentuk tubuh. Padahal menurut saya, Mbak Nayla itu cantik kok."

Sret!

Adrian seketika melayangkan tatapan tajam nan sinis ke arah Rio. "Kamu bilang apa?"

Rio refleks memundurkan langkahnya, baru menyadarinya. "A-ah! Maaf, Pak! Tapi... tapi kan apa yang saya katakan benar, Pak? Mbak Nayla memang manis dan cantik dengan caranya sendiri."

Mendengar penuturan Rio, kekesalan Adrian mengendur, berganti menjadi sebuah perenungan. Kata-kata Rio menghantam kesadarannya. Selama satu tahun pernikahan mereka, Adrian memang tidak pernah memuji penampilan Nayla secara langsung. Ia selalu menyimpannya di dalam hati.

Melihat ekspresi bosnya yang melunak, Rio tersenyum jahil dan memajukan badannya. "Nah, Pak! Ini sebenarnya momen yang sangat pas untuk memberikan hadiah mobil mewah yang Bapak beli tadi pagi untuk Mbak Nayla! Jangan lupa bawa bunganya, buat dinner romantis... dan yang paling penting, kasih kiss biar makin meledak romantisnya!"

"Ehem!" Adrian berdehem keras dengan wajah yang mendadak bersemu merah karena salah tingkah. Ia merapikan kerah kemejanya. "Ya... nanti saya coba."

"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak. Mau ke pantry sebentar, seret tenggorokan saya dari tadi cuma minum teh," pamit Rio santai seraya melangkah keluar.

Rio berjalan menyusuri koridor menuju area pantry. Namun, begitu mendekati pintu pantry yang terbuka sedikit, langkahnya terhenti tatkala mendengar suara gelak tawa dari dalam. Suara Bimo salah satu OB terdengar amat lantang.

"Heh, lo tahu nggak? Tadi pagi ada kejadian lucu banget di sini," ujar Bimo bersemangat.

"Apaan, Bim?" sahut Roni, OB lainnya.

"Itu... si gendut kan kemari mau ambil air minum," celetuk Bimo.

"Si gendut siapa, sih?" Roni bingung.

"Ah, elo! Masa nggak tahu? Di lantai ini kan yang paling gendut cuma Nayla, sekretarisnya Pak Adrian itu!" Bimo terkekeh meremehkan.

Dada Rio di balik pintu seketika berdesir tajam. Matanya menyipit mendengar nama sekretaris bosnya disebut.

"Oh, Bu Nayla? Kenapa dia?" tanya Roni lagi.

"Tadi gue kerjain dia! Galon habis, terus gue suruh dia angkat galon sendiri. Habisnya, lengannya aja segede pentungan maling gitu! Nggak ada menarik-menariknya. Kok bisa ya orang kayak gitu jadi sekretaris CEO?" cerocos Bimo tanpa rasa salah.

Roni menepuk bahu Bimo seraya menggeleng. "Ah, elo jangan suka body shaming gitu, Bim. Berbahaya, nyakitin hati orang loh."

"Alah, lebay lo, Ron! Gue kan ngomong sesuai fakta. Masa sekretaris gendut gitu? Kalah menarik dari staf biasa."

Di luar pantry, rahang Rio mengetat tajam. Tanpa membuang waktu untuk mengambil air minum, Rio langsung berbalik arah dan setengah berlari menuju ruangan CEO.

Sementara itu, Adrian masih dirundung gelisah. Ia menatap jam tangannya, makin cemas karena Nayla belum juga kembali ke mejanya.

Brak!

Pintu ruangan terbuka mendadak. Rio masuk dengan napas terengah-engah.

"Pak Adrian!"

Adrian mengerutkan alisnya heran. "Kenapa kamu, Rio? Kenapa seperti dikejar hantu begitu?"

"Saya punya informasi sangat penting, Pak!" tegak Rio dengan raut wajah serius. "Tadi pagi... Mbak Nayla sempat dikatai dan diejek sama OB di pantry. Saya mendengar sendiri si pelaku membanggakan perbuatannya barusan. Mungkin... itu penyebab utama Mbak Nayla tidak mau makan siang tadi, dan makin sedih saat klien Jepang membahas ukuran baju!"

Brak!

Adrian menggebrak mejanya, matanya menyala-nyala dipenuhi kemarahan yang membakar. Aura dingin di tubuhnya menguar hebat.

"Siapa OB itu?!" geram Adrian dengan suara berat nan berbahaya. "Pecat dia sekarang juga! Saya tidak sudi ada pekerja di perusahaan ini yang suka mengolok-olok sesama rekan kerja... apalagi dia mengatai istriku!"

"Baik, Pak! Segera saya urus proses pemecatannya detik ini juga!" jawab Rio tegas.

Tanpa membuang waktu, Adrian langsung bangkit dari kursinya. Rasa khawatirnya pada Nayla mengalahkan segalanya. Pria jangkung berparas tampan itu melangkah lebar keluar dari ruangannya menuju area toilet lantai eksekutif.

Langkah terburu-buru dan raut wajah cemas sang CEO yang biasanya selalu tenang dan dingin itu tak ayal menyedot perhatian staf di sepanjang koridor. Beberapa karyawan saling berbisik heran melihat pemandangan langka tersebut.

"Pak Adrian kenapa, ya? Kok kayak bingung begitu?"

"Iya, beliau cari siapa sih?"

Dari sudut mejanya, Mira memperhatikan gerak-gerik sang atasan dengan mata picik yang menyipit. Ketika Adrian berhenti tepat di depan lorong menuju kamar mandi wanita dan celingukan mencari keberadaan sekretarisnya, kecurigaan di kepala Mira makin meledak-ledak.

Pak Adrian... mencari Nayla sampai segitunya?! batin Mira kaget. Kemeja yang sama persis... gelang mahal... cincin... dan sekarang perhatian yang berlebihan ini? Tidak salah lagi... pasti ada rahasia besar yang ditutupi Nayla dariku!

Namun, di lorong toilet itu, Adrian harus gigit jari. Nayla tidak ada di sana. Membuat Adrian semakin cemas dan mempercepat langkahnya mengelilingi seluruh sudut gedung Dewangga grup. Karena ponsel Nayla tidak aktif.

.

.

Sementara Adrian sibuk mencarinya ke mana-mana dengan wajah cemas, Nayla rupanya tidak berada di dalam gedung. Wanita itu memilih melangkah keluar menuju area taman kecil di samping gedung perkantoran Dewangga Group.

Nayla berjongkok di atas rumput hijau, merogoh kantong kecil di tasnya untuk mengeluarkan satu sachet makanan kucing yang selalu siap sedia ia bawa. Tak jauh di depannya, seekor kucing liar berbulu hitam-putih melangkah mendekat dengan gerakan menggemaskan.

Kucing yang sering disapa Nayla saat berangkat atau pulang kerja itu tampak sangat terawat dan berbadan gempal, karena tak hanya Nayla, beberapa staf kantor lain pun kerap memberinya makan.

Nayla sudah tidak menangis lagi. Usai meluapkan air matanya di kamar mandi tadi, ia berusaha mengobati luka hatinya sendiri dengan menghibur diri bersama hewan mungil ini.

"Makan yang banyak, ya... Kamu menggemaskan sekali," bisik Nayla lembut seraya mengelus bulu tebal di kepala kucing itu.

Kucing yang dinamai 'Tom' oleh Nayla itu mengusap-usapkan kepalanya dengan manja ke pergelangan kaki Nayla, mengeluarkan suara dengkuran halus sebagai tanda terima kasih.

Nayla tersenyum tipis, matanya menatap lekat tubuh menggemaskan sang kucing. "Ya ampun, kamu semakin gembul ya, Tom... Tapi beruntungnya kamu, orang-orang justru akan semakin gemas kalau kamu makin gendut... Sementara aku? Semua orang hanya menilai dan melihatku dari berat badanku saja..."

"Tidak semuanya, Nayla."

Deg!

Sebuah suara berat nan dalam menyahut dari belakangnya.

Nayla tersentak kaget. Sebelum ia sempat berbalik, langkah kaki yang tenang mendekat dan bayangan tubuh jangkung seorang pria menutupi sinar matahari di atasnya.

Adrian berjongkok di samping Nayla, tanpa peduli jika celananya kotor. Pria itu menyapu pandangannya pada raut wajah istrinya yang masih menyisakan rona sembap di sekitar mata.

"M-Mas Adrian?" gumam Nayla terbata, panik luar biasa. "Kenapa... kenapa Mas ada di sini? Kalau ada staf lain yang lihat..."

"Biarkan saja," potong Adrian cepat. Tangan tegapnya terulur, jemarinya secara mengejutkan mengusap lembut sisa air mata di sudut mata Nayla dengan sangat hati-hati.

Sentuhan hangat itu membuat tubuh Nayla membeku seketika. Jantungnya berdebar kencang tak beraturan.

"Tom beruntung karena dia disukai apa adanya," ujar Adrian pelan namun sarat akan penekanan, matanya menatap lurus ke dalam netra jernih Nayla. "Dan kamu... kamu tidak perlu mengecilkan dirimu hanya untuk menyenangkan mata orang lain. Bagi saya, kamu sudah sangat cukup dan sempurna dengan caramu sendiri, Nayla."

Nayla menelan ludah, tenggorokannya mendadak mengganjal oleh rasa haru yang merebak tajam. Kalimat tulus yang meluncur dari bibir Adrian berhasil meruntuhkan dinding pertahanan dan rasa insecure yang membelitnya seharian ini.

"M-Mas..." bisik Nayla bergetar.

Adrian tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman langka yang jarang sekali dipamerkan kepada dunia. "Ayo berdiri. Di luar panas, dan kamu harus makan."

Adrian berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangan kanannya di hadapan Nayla. Nayla menatap telapak tangan hangat suaminya itu sejenak sebelum akhirnya menyambutnya, membiarkan Adrian membantunya berdiri tegak.

Tanpa sepengetahuan mereka berdua, di balik kaca lantai dua gedung kantor, Mira berdiri membisu. Matanya membelalak lebar menyaksikan pemandangan di bawah sana melihat bagaimana sang CEO yang terkenal dingin berjongkok di rumput demi mengusap air mata sekretarisnya, lalu menggenggam tangannya dengan begitu protektif.

'Tidak salah lagi...' batin Mira gemetaran, shock sekaligus tak percaya. 'Nayla... kamu benar-benar punya hubungan spesial dengan Pak Adrian!'

1
Ariany Sudjana
eh ada pelacur murahan yang ga tahu diri, sudah ditolong bukannya terima kasih, sama seperti ibu kamu, sama-sama pelacur murahan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ciye pa bos cemburu nih... kenapa ga sekalian informasikan kalau Nayla itu istri bapak?
Yunie Silvia Putri
😄😄😄 orang bucin mah memang gitu Rio, cemburunya kadang suka kelewatan.....😄😄😄😍😍
Yunie Silvia Putri
🖒🖒🖒🖒.....
best suka ama ceritanya
❤❤
Yunie Silvia Putri
waaahhhh parah nih emak nya, malu dia punya anak bertubuh gendut....
Yunie Silvia Putri
wah bakalan ada yg bucin nih sama istri gemoy nya 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
waahhh makin seru nihh, lanjut thor...
Yunie Silvia Putri
halo kk author baru mampir baca nih, suka ceritanya, tapi episode ini bacanya nangis terus...😢😢
Yunie Silvia Putri: kk author boleh tanya, kapan up bab selanjutnya uda gak sabar nunggu cerita selanjutnya, jangan lama2 ya up nya 😄😄😄
total 2 replies
Ariany Sudjana
yang pasti istri Adrian itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan seperti kamu yang pelacur murahan 🤣🤣😂😂 maklum yah, mama kamu kan pelacur murahan, yang tega meninggalkan suami dan anaknya demi jadi istri konglomerat
Lisa
Sabar y Nayla..yg kuat y..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Lisa
Aku mampir Kak
sunshine wings
Good story i like..
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ariany Sudjana
ciye yang mau dinner romantis 🤣🤣😂😂
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!