Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis-Gadis BPJS ( Budget Pas-Pasan Jiwa Sosialita)

Gadis-Gadis BPJS ( Budget Pas-Pasan Jiwa Sosialita)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:34k
Nilai: 5
Nama Author: Anelha Hasri

Andine, yang baru saja menikah dengan Reza terpaksa harus tinggal seatap dengan adik iparnya yang BPJS, ikuti kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anelha Hasri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku tak Bekerja tapi Berpenghasilan

"Mas apa gak sebaiknya kita ngontrak rumah saja? " usulku pada Reza, saat di kamar sebelum tidur. Sudy menjadi kebiasaan, kami mengobrol sebelum tidur. Berbicara tentang apa saja dan dia siap mendengarkan.

"Sebenarnya Mas pengen banget hidup mandiri, meski tinggal di kontrakan kecil, asal sama kamu!" sahutnya, membuatku merasa tersanjung.

"Tapi?"

"Kita lebih baik tabung uangnya buat DP rumah." sambungnya lagi.

"Bukannya saya tidak suka di sini, Mas. Tapi aku khawatir perkembangan janin di perutku, kadang aku gak tahan sama adik kamu," ucapku terpaksa jujur, khawatir Mas Reza tersinggung. Bagaimana pun hubungan darah akan lebih kental dari pada air.

"Sabar ya, maafin Adikku."

Aku menarik nafas, dengan cepat menghembuskannya kembali.

Mas Reza memeluk, membenamkanku di dadanya yang bidang. Membuatku merasa lebih tenang. Apalagi bahunya yang kekar dan berotot membuat ku makin nyaman.

Hingga kami terbangun oleh suara muadzin di mesjid - mesjid yang mulai bersahutan mengumandangkan adzan subuh.

Rasa mual tak mampu lagi kutahan, akhirnya lagi - lagi berakhir dengan muntah di kamar mandi.

Beberapa hari ini, aku mulai morning sickness. Ngidam berat, aroma makanan di rumah ini sangat busuk di indra penciumanku. Hingga kadang muntah jika aku memaksa mendekat ke dapur.

Sudah dua hari ini aku tidak menyiapkan makanan untuk mereka sekeluarga. Setiap waktu makan tiba suara panci, piring dan sendok akan saling beradu memicu suara yang tak enak di dengar seperti dentuman iringan drum band tanpa mayoret, terdengar memengkakkan telinga juga menusuk ke hati.

Demi kedamaian di rumah ini, aku meminta izin pada Imamku untuk nginap di rumah orang tuaku beberapa hari.

***Nly***

"Jangan lama - lama ya, Nak Andine, nanti Mama kangen," ucap Ibu Mertuaku tersenyum sambil merangkulku tapi di matanya tersirat dusta.

Tidak mengungkapkan bukan berarti aku tahu, aku cuma menjaga perasaan suamiku. Cukup adiknya yang membuatnya merasa bersalah karena sikapnya yang tidak menghargaiku sebagai Kakak Iparnya.

Tanpa hubungan keluarga pun tak sepantasnya dia kurang ajar padaku, apalagi aku ada ikatan suci dengan saudaranya.

"Insya Allah, Ma. Saya akan cepat pulang." Sahutku mencium punggung tangannya dengan takzim, begitupun kepada Papa mertuaku.

Aku berencana tinggal di rumah orang tuaku sampai tidak mengidam lagi. Merasa tak enak tanpa melakukan apa - apa jika terus tinggal di rumah mertua.

Untuk sementara biar Mas Reza yang ke rumah setiap jumat hingga minggu. Kasian juga jika harus bolak balik tiap hari, Jarak rumah orang tuaku dan kantornya cukup jauh, mengendarai motor bisa memakan waktu dua jam.

Karena sedang hamil muda, Mas Reza mengantarkanku dengan meminjam mobil Papa Mertua.

"Bawa mobilnya pelan - pelan saja, hamil muda begini masih rawan. Jadi hati - hati," pesan Ayah mertuaku pada anak sulungnya.

"Iya, pa. Kami jalan dulu," pamit Mas Reza.

Baru saja mobil melaju beberapa meter, Ratna melambaikan tangannya meminta suamiku berhenti.

"Mas Reza, tunggu," pekiknya, lalu segera berlari kecil ke arah kami.

Dengan nafas yang tersengal, dia masuk ke mobil dan duduk di jok belakang. Merapikan rambut pirangnya yang hampir berantakan.

"Mau ke mana?" Mas Reza menoleh ke belakang, keningnya mengkerut melihat penampilan Ratna yang kembali ke mode awal.

"Jalan saja dulu!" singkatnya.

"Jilbabmu mana?"

"Gak sempat, tadi liat kan, gara-gara Mas Reza jalan duluan, akhirnya aku tidak sempat pakai jilbab." Alasan Ratna mengada - ada.

"Mana Mas tahu, kalau mau nebeng. Situ gak bilang!"

"Emang Mas Reza mau ke mana?"

"Mau ke rumah orang tua Andine,"

"Oh, ya. Berapa lama?"

"Tumben, ini orang nanya. Biasanya juga gak peduli," batinku.

"Entahlah, terserah Andine."

"Jangan lama - lama ya," ujar Ratna.

"Emang kenapa kalo lama?" Mas Reza memperlambat laju mobil, menunggu jawaban Ratna.

"Ya, gak apa - apa?, ehm Mas berhenti depan situ dong!" Ratna menunjuk sebuah kantor, tanpa menjawab pertanyaan kakaknya.

Perempuan ini sama saja dengan ibu mertua, sepertinya hanya mau memanfaatkan tenagaku juga uangku.

"Ah, bodohnya. Kenapa baru aku menyadari ini!" gerutuku dalam hati.

"Mas Reza, tunggu ya cuma sebentar doang kok!" pintanya dengan suara manja.

Mas Reza menurut saja, aku diam malas menggubris adik iparku. Toh, dia pun tak menyapaku seperti biasa, sudah jenuh aku berusaha menyapa duluan walau sekedar basa basi tapi seolah aku ini tidak ada di depannya.

"Ok, loe jual gue beli!" geramku.

Ratna lalu berjalan gontai masuk ke dalam semua kantor yang di depannya bertuliskan Card Centre, setahuku ini tempat untuk mengurus kartu kredit.

"Cih, emang bisa di approve kartu kreditnya kalau gak punya pekerjaan, dasar otak kosong!" umpatku dalam hati.

Tak berselang lama, Ratna keluar dari kantor itu dengan senyuman yang berbunga - bunga. Ada sebuah brosur di tangannya.

"Gaya banget nih anak, sok - sok an mau pake kartu kredit," desis Mas Reza.

"Ok, Mas sudah nih, jalan lagi yuk!"

"Kamu ngapain di dalam sana?"

"Ada deh, mau tau ajah!" sahut Adik iparku santai.

"Kamu mau nge-apply kartu kredit? kayak punya kerjaan ajah!" Cibir suamiku.

"Emang kenapa?"

"Kerja dulu!, baru pakai kartu kredit!"

"Saya coba aja dulu, kali - kali aja diterima,"

"Kenapa gak coba kerja di situ! Setahuku SPG kartu kredit menerima lulusan SMA," selaku, aku tak tahan untuk komentar. Semoga pikirannya terbuka untuk mencari penghasilan sendiri, jadi waktunya bisa berkurang dari mendikte orang lain.

Ratna terdiam, melihatku sekilas dengan pandangan satiris. Bibirnya mencebik. Tapi setidaknya pikirannya akan terbuka, biar dia punya penghasilan dan tidak membebani Papa mertua juga saudara - saudaranya.

"Kamu mau ke mana sih sebenarnya?" Mas Reza kembali bertanya.

"Antar ke Mall ajah!"

"Tapi arahnya tidak melewati Mall!" Mas Reza menginjak rem mendadak, membuatku sedikit kaget.

"Antar pulang saja ya, please?" suara memuakkan keluar lagi dari bibirnya. Setiap kali punya mau, suaranya akan dibuat mendayu - dayu.

"Tapi kita sudah jauh, kamu ikut saja ke rumah Andine. Aku juga akan langsung balik, kok, besok mau ngantor!"usul Mas Reza, aku tak menanggapi. Mana mau aku mengajaknya ke rumah. Bisa - bisa sederet hinaan akan sampai di telingaku setelah melihat kondisi rumah orang tuaku yang sederhana.

"Ogah!" Tolaknya, bibirnya mencebik.

"Ya, sudah pulang naik ojek online saja, order sekarang," lontar Mas Reza lalu menepikan mobil.

"Ih, masa ojek sih? Badanku bisa gatal-gatal kena jaket kumalnya." Bahunya bergidik jijik.

"Terserah mau naik apa, cepetan! Andine lagi hamil nih gak boleh capek," gerundel suamiku menatap lurus ke depan.

"Bagi ongkos dong!" pintanya tanpa rasa canggung, seperti bocah ingusan minta jajan.

"Idih, ngerepotin amat, sudah diantar minta ongkos pula!" Ketus Mas Reza.

Kusodorkan selembar uang bergambar presiden pertama Indonesia, Mas Reza menautkan alis seolah tak setuju aku memberikan uang pada adiknya.

"Mau gak?" sosorku, dengan selembar uang mereh cukup membungkam mulut jahatnya.

Spontan sebelah bibirku tertarik ke atas, pantulan bayangan wajahnya di kaca spion terlihat sangat canggung saat mengambil uang tersebut dari tanganku, setelah itu dengan cepat kembali terlihat santai tanpa ucapan terima kasih.

"Cari kerja biar dapat uang!" desisku, tatapannya menjadi sinis.

"Emangnya situ kerja? Ini juga duit Kakak aku kan?" nada suaranya naik satu oktaf, Mas Reza geleng - geleng mendengar ucapan Ratna.

"Aku memang gak kerja, tapi berpenghasilan!" tegasku.

"Masa sih! Bohong banget, selama ini tinggalnya di rumah doang." Bola matanya diputar dan melipat kedua tangannya.

Aku bergeming, tak mau menyambungnya lagi nanti dia malah makin meracau.

"Asal tahu saja ya Rat, penghasilan Andine itu lebih banyak dari pada Kakak."Papar suamiku, adik iparku mengalihkan pandangan seolah tak mendengar apa yang diakui kakaknya barusan.

Aku merasa tak enak hati saat Mas Reza mengakui penghasilanku yang lebih banyak.

"Sudah datang belum taxi onlinenya," tanya Mas Reza lagi.

"Itu sudah ada!"

Ratna membuka pintu mobil dan nyelonong pergi begitu saja tanpa pamit juga tanpa terima kasih.

"Lega...akhirnya kita bisa berduaan lagi," Seloroh Mas Reza meremas tanganku dan menarik ke pipinya, senyumnya manis sekali.

"Jalan yuk," ujarku seraya melepaskan telapak tanganku, agar imamku ini fokus menyetir.

Bayangan dimanjakan oleh Mamaku sudah menari - nari di kepalaku.

Sebenarnya dari kemarin aku ingin sekali makan nasi putih dan ikan asin kuah asam tapi khawatir orang rumah tidak suka dengan rasanya apalagi baunya, jadi terpaksa hanya meminum susu untuk sekedar menambah tenaga.

1
Mom's Aish & Elma
maaf gak update di Sini Lagi 😌 terimakasih sudah membaca tulisan ini
dhaya nurhidaya: terus update di mana moms, biar bisa cari akunnya
total 1 replies
Dayah Ashfa
kemana ini lanjutannya..kok gak pernah update lg
Cikal Rabani
thor nya kemana nih
Adang Taofik
lama sekaliiii...
Ade Ajha: iya koq lama x up Thor...dh penasaran. ni???
total 1 replies
Dini Junghuni
authornya kmn yak?
sehat2 aja kan thor?
Ade Ajha
lanjut jg. lama penasaran 😒
Siti Zaenab
lama bngt
Ade Ajha
lama x nunggu sambungannya
Cikal Rabani
lanjut thor
titin oesman
palingan My King udh bawa kabur duit Zain tuh..pasti ketipuuu....deh si Ratna...
💓Yhan💓
Aku mampir ni thor..

semangat.. lanjut upnya thor..
Cikal Rabani
kaaa... lanjut donk
Cikal Rabani
lanjut ka
Mom's Aish & Elma
cuannya dikit
Cikal Rabani
lanjut kaka
Mom's Aish & Elma
ya begitu lah hehe
Dini Putri
knp jd bgtu yak??? 😅
💓Yhan💓
Semangat thor, lanjuuuuttt
mbakmiss
,kenapa sih gak di musnahkan aja tu si Sheila mak Lampir itu.. greget guee..
pengen ngremet mukanya aku
Mom's Aish & Elma: trima kasih sdh mampir, maaf tdk update di sini lagi.
total 3 replies
Adang Taofik
lanjutannya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!