Indonesia
NovelToon NovelToon
Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:59.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Megawaty Butar-butar

Angelica Percaya bahwa Steven adalah pilihan kata hatinya, berpacaran selama 3 tahun dengan jarak jauh, dan akhirnya memilih untuk mengikat janji sehidup semati, pada ikatan pernikahan. Setelah menikah setahun Steven tidak pernah ada kabar beritanya. Sebelum dengan Angelica ternyata Steven telah menikah dengan perempuan lain.
Siapakah perempuan itu?, Bagaimana kisah Angelica, apakah Angelica dan Steven akan bersatu kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Megawaty Butar-butar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#13. Dikta melahirkan anak laki-laki

Dua jam berlalu tetapi operasi belum selesai, ada sedikit kekhawatiran di dada Heni, takut dan cemas. Selalu berdoa dan berharap mudah-mudahan Dikta baik-baik saja dan segera selesai operasi nya.

Tim dokter datang menghampiri.

"Keluarga Dikta ada" ucap dokter yang menangani dengan suara keras. Karena begitu banyak keluarga yang menunggu pasien di ruangan tersebut, setiap dokter yang memberi kabar-kabar atau kondisi pasien, selalu di panggil dan diberitahukan keluarga pasien yang sedang dioperasi. Apakah operasi sudah selesai, apakah ada yang dibutuhkan.

Kebetulan Steven dan Heni agak jauh dari pintu masuk dari ruang operasi tersebut, tetapi masih bisa mendengar suara dokter memanggil. Heni dan Steven pun langsung berlari mendekati dokter yang menangani Dikta "Iya dok, kami keluarga dari pasien yang bernama Dikta" ucap Heni penuh khawatir dan ingin tahu bagaimana kondisi Dikta saat ini.

"Dikta sudah selesai melahirkan, anaknya berjenis kelamin laki-laki, dengan bobot 3,3 kg dan tinggi 59 cm. Tetapi setelah operasi Dikta mengalami pendarahan dan sedang tidak sadarkan diri, sekarang sekarang sedang diatasi dokter, ibu tolong siapkan siapa pendonor untuk golongan darah Dikta, atau ibu boleh cari atau beli di PMI, karena stok darah untuk golongan B sedang kosong di rumah sakit ini" ucap dokter yang menangani Dikta serius.

Disatu sisi Heni senang bila Dikta melahirkan anak laki-laki, disisi lain

Heni sedikit panik, mengetahui kondisi Dikta yang sedang pendarahan, Heni pun sigap menjawab "Baik dok".

Heni dan Steven sama-sama bergolongan darah B, mereka pun langsung ke ruangan pendonor darah, agar di periksa apakah layak dan bisa mendonorkan darah nya.

Untung lah setelah Steven dan Heni diperiksa, tahu mereka layak dan bisa mendonorkan darahnya, mereka pun langsung diambil darahnya, agar tidak terlambat dan bisa langsung diberi kepada Dikta, sehingga Dikta cepat bisa tertangani.

Di ruang pemeriksaan Heni pun bertanya mengenai kondisi Dikta "Kok bisa pendarahan ya sus, sehabis operasi melahirkan" tanya Dikta kepada suster yang jaga diruangan tersebut ingin tahu.

"Mungkin pasien mengalami stres yang hebat akhir-akhir ini Bu, tensinya mungkin tinggi terlalu khawatir atau takut dan bisa juga fisik pasien lemah, mengkonsumsi obat penggugur kandungan atau hormon si pasien yang lagi meningkat" jawab suster itu menjawab beberapa kemungkinan-kemungkinan.

Heni pun manggut-manggut, didalam hatinya Heni merasa bersalah, tidak tahu dan tidak mengontrol bagaimana kondisi kehamilan Dikta selama ini. satu kali pun Dikta tidak pernah memeriksakan kandungannya, bahkan vitamin-vitamin dan penambah darah tidak pernah dikonsumsi Dikta.

"Itu semua karena aku, aku ibu yang tidak peduli terhadap keselamatan anaknya, padahal wajar Dikta tidak mengetahuinya, karena aku tidak pernah memberitahukan Dikta" pikir Heni di benaknya dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah.

Heni selalu berdoa di dalam hatinya "Tuhan tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku kepada Dikta, kumohon Dikta bisa cepat pulih bisa melewati masa-masa kritis nya.

Heni pun akhirnya menitikkan air mata nya karena kondisi Dikta yang masih tidak sadarkan diri.

Begitu juga Steven, Steven sangat menyayangi Dikta, Steven adalah orang yang paling dekat dengan Dikta pada waktu Dikta kecil.

Tidak berapa lama kemudian, dokter keluar memberitahu kembali " Keluarga Dikta" ucapnya.

Steven dan Heni, menyahut secara bersamaan " iya".

"Dikta sudah siuman, sekarang berada diruang observasi, 2 jam lagi, apabila tidak terjadi pendarahan lagi pasien diperbolehkan masuk ruang inap" ucap dokter itu dengan senyum kepada Steven dan Heni.

Steven dan Heni mengucapkan "Terima kasih banyak dokter" ucapnya.

Steven dan Heni pun segera pergi ke ruang observasi untuk melihat kondisi Dikta saat ini.

Dikta terbaring lemas, di sarankan dokter tidak boleh banyak bergerak, baik menghadap ke kiri atau menghadap ke kanan, harus terlentang terus.

"Hai Dikta" sapa Heni dan Steven.

Dikta pun tersenyum bahagia melihat Heni dan Steven datang.

"Selamat Dikta, anak kamu berjenis kelamin laki-laki, sehat dengan bobot 3.3 dan tinggi 50cm. ucap Heni dengan senyum bahagia.

" Dikta serasa bisa melihat dan mendengar suara-suara dokter yang menangani Dikta ma, tetapi mulut Dikta terasa terkunci tidak bisa berbicara, tubuh pun terasa kaku tidak bisa bergerak, seperti antara mimpi dan kenyataan" ucap Dikta menceritakan pengalamannya ketika di ruang operasi tadi.

" Memang seperti itu sayang, sepertinya biusnya dibuat kita masih bisa sedikit tersadar" ucap Heni.

"Syukurlah sekarang kamu baik-baik saja, tadinya mendengar kamu pendarahan dan tidak sadarkan diri, mama begitu panik dan khawatir, kami juga disuruh untuk langsung periksa apakah bisa atau layak mendonorkan darah kepadamu, untung lah darah mama dan Steven cocok, kalau tidak kami akan mencari darah kemana, karena stok darah di rumah sakit ini, katanya lagi habis" ucap Heni.

Heni dan Steven ingin sekali bisa melihat baby junior Dikta.

Heni pun mencoba memohon izin untuk bisa melihatnya.

"Suster, bolehkah kami sebentar melihat baby nya?"

"Sekarang baby nya lagi di ruang baby, sedang diberi susu oleh suster yang jaga, tidak boleh dibawa kesini Bu, harus melihatnya ke ruang baby" ucap suster yang berada di ruang observasi.

Karena banyak pasien juga yang berada di ruang observasi, semua pasien adalah yang baru selesai operasi, kondisinya berbeda-beda, bahkan ada juga pasien yang habis operasi sedang masa observasi tiba-tiba meninggal dunia, jadi pasien yang disebelahnya merasa down, jadi keluarga yang menjenguk di ruang observasi tidak boleh berisik dan tidak boleh berlama-lama, Heni dan Steven pun pamit kepada Dikta untuk segera keluar dan menunggu di luar saja.

"Kami menunggu di luar saja ya sayang, tidak enak dengan pasien yang lain, lagian suster menganjurkan berkunjung hanya sebentar saja" ucap Heni pamit kepada Dikta.

Diktapun mengerti posisi Steven dan Heni, "Iya ma, Dikta tidak apa-apa di tinggal" ucap Dikta pelan.

Heni dan Steven pun keluar dari ruang observasi tersebut dan bermaksud untuk mengunjungi baby junior Dikta yang berada di ruang baby. Letak ruang baby berada disebelah ruang observasi, Heni dan Steven pun melihat dari balik dinding kaca, mencoba permisi kepada suster jaga, apakah di izinkan masuk untuk melihat baby junior Dikta.

"Suster boleh masuk ke dalam?" Heni minta izin kepada suster jaga.

"Maaf Bu, orang luar tidak diizinkan masuk, hanya melihat-lihat dari balik dinding kaca Bu, karena ruangan ini harus tetap steril. Nanti setelah ibunya sudah berada diruang inap, nanti akan dibawakan sebentar keruang inap ibunya" jawab suster jaga memberi penjelasan.

Heni dan Steven pun pasrah hanya melihat baby junior Dikta dari balik dinding kaca, posisi baby nya berada pada kotak ketiga dari kanan. "Ganteng dan mancung" pikir Steven sambil tersenyum bahagia.

1
Elok Pratiwi
buruk
Widi Widurai
halah. 4th jg nikmatin adek angkatnya
Widi Widurai
biang masalah. bisanya bikin anak. tp yg dipikir diri sendiri terus
Widi Widurai
trnyata sumber kelainan akal sehat itu dikta. kl steven ya nepsong aja cuman ga ada akal jg sih nepsong sama sodara kandung
Widi Widurai
heran. apa ibuknya ga jijik sama klakuan anaknya. pada incest
Widi Widurai
kawin lg aja lah ngel. kok repot repot nyari steven
Widi Widurai
ga didaftarin ke sipil, dah 2th ditinggal ga ada kabar ga ada nafkah auto jatuh talak bukan si
Soraya
mampir thor
Daulat Pasaribu
cerita menjijikkan
Litaalzhaazzila Azzila
heni tu terlalu manjain dikta, mana dikta gak ada otak, sama kayak stiven gak ada otak
Lily Megawaty Butar-butar: iya. Benar banget kak. Sudah tidak sejalan otak dan logika.
total 1 replies
Matahari
novelnya bagus kak
Lily Megawaty Butar-butar: makasih banyak kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
Anonim
Lanjutannnnnnn
Siti Komariah
goood angel.... lanjuut thor.... semangat...
Siti Komariah
naahhh klw begitu aku setuju..... thor ga ada laki lain apa yg ke cantol sama angel....
nesya
keputusan yg sgt tepat angel, utk apa hrs menerima rujuk dgn laki-laki yg tdk pernah menganggap mu sbg istri dan ayah bg putra mu. jgn kan bertanggung jawab menafkahi, mikirin km dan anak mu aja tdk pernah. trimakasih ya author... sll semangat ya, sy menunggu kelanjutan kisah nya, sampai Angelica dan anak nya menemukan kebahagiaan dgn org yg layak.
Manah Azhar
Lanjut...
Anonim
Lanjutannnnnnn
amalia gati subagio
makan saja kepa batumu gel, banserep & tameng... hm mm gmn dia bersukur seperti namanya anjel kalau tahu dia hanya banserep utk tameng kebejatan laki & Keluarganya ya 🤔
Siti Komariah
thor kok begitu ceritanya.. g seruuuu.... angel nya bego... mau aja bekas ....
nesya
ah knp hrs bodoh Krn cinta sih angel... mikir dong spt apa tdk bertanggung jawab nya Steven yg telah dgn sengaja dtg hny utk menipu dan menanam benih sj dlm rahim mu, setelah itu pergi tanpa rasa bersalah sedikit pun. dan skr malah dtg lg utk meminta kesempatan kembali pd mu, itu pun Krn terpaksa sebab kelakuan nya kawin sedarah sdh ketahuan, cb kl tdk ketahuan, dia pasti tdk akan pernah ingat Sm km.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!