Luna yang hidup dengan kakeknya yang sudah tua mau tidak mau menerima pernikahan paksa yang sudah diatur oleh sahabat kakeknya.
"Kakek aku hanya ingin menemani Kakek dimasa tua," Luna berkata lirih sambil menyentuh tangan keriput kakeknya.
Tidak pernah terlintas di pikiran Luna jika akan menikah dalam perjodohan, Luna gadis polos dan tidak neko-neko harus menikah dengan CEO yang dingin dan galak tidak pernah dekat dengan seorang wanita.
Lalu bagaimana Luna bisa menjalani pernikahan dengan suami yang super Perfect, sedangkan dirinya merasa seperti Upik abu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpancing
Luna membuka matanya dengan berat, bukan hanya matanya yang berat tapi tubuhnya juga terasa di timpa beban berat.
Menggeliatkan tubuhnya tanpa sengaja tangan Luna menyenggol wajah seseorang, membuat Luna spontan membuka matanya lebar-lebar.
Menoleh kesamping, mata Luna semakin membeliak lebar detik berikutnya suara teriakan melengking membuat Raditya yang terlepas begitu terkejut menutup telinganya.
"Akkhhh!! Om nagapain!!" Pekik Luna dengan napas memburu, tatapan matanya turun untuk memeriksa pakainya dan ternyata masih lengkap, Luna merasa lega tapi kejadian tidur peluk memeluk membuat Luna tidak bisa membiarkan.
"Apaan sih Lun, berisik!" Raditya menatap Luna tajam, dan hendak bangkit tapi Luna menarik bajunya kuat membuat Raditya jatuh terlentang dan Luna langsung bangkit duduk diatas tubuh Raditya.
Hal itu cukup membuat Raditya terkejut setengah mati, tapi saat melihat wajah Luna yang marah membuat Raditya menghela napas.
"Dasar pria mesum, cabul! bisa-bisanya megambil kesempatan dalam kesempitan!" pekik Luna sambil menarik kerah baju Raditya kesal dan marah.
Napas Luna memburu, matanya memerah seperti menahan tangis.
"Hey, kau bicara apa!" Raditya menarik tangan Luna yang mencekram kerah bajunya, tapi Luna yang sedang marah tidak bergeming justru semakin erat mencekram kerah baju Raditya.
"Kau pria merengsek, aku membenci pria mesum seperti mu!"
Bugh
Raditya menggulingkan tubuh Luna, dan kini tumbuhnya yang mengungkung tubuh Luna. Rasanya Raditya ingin menyumpal bibir Luna yang bicara sembarangan.
"Kau mau tahu seperti apa pria bajingan itu," Raditya tersenyum menyeringai membuat tubuh Luna merinding.
Luna menelan ludahnya kasar saat wajah Raditya begitu dekat dengan wajahnya, secepat itulah kantungnya berdetak tak karuan.
"Sial! kenapa dengan jantungku," gumam Raditya yang menatap wajah Luna dengan intens.
Mata bulat, bulu mata yang lentik serta alisnya yang tebal begitu kontras dengan wajah Luna yang putih ayu, tidak cantik seperti wanita-wanita yang pernah Raditya temuin, tapi wajah Luna yang masih polos tanpa sentuhan makeup membuat matanya betah memandang, apalagi saat melihat bagian bibir Luna, Raditya menelan ludahnya kasar, jakunnya naik turun dengan cepat bahkan hawa disekitarnya menjadi panas.
"Minggir!" Sentak Luna sambil mendorong tubuh kekar Raditya, membuat Raditya tersadar dan mengusap wajahnya.
Melirik Luna, Raditya langsung beranjak dan masuk ke kamar mandi, sedangkan Luna yang sudah ketar-ketir menghela napas lega.
"Si Om mesum, bikin jantung mau copot aja." gumamnya kembali menghempaskan tubuhnya kembali.
Luna menatap langit-langit kamar yang terasa asing, dan dirinya kembali bangun dengan wajah terkejut.
"Jadi ini bukan dirumah?" Ucap Luna sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling.
Luna menatap dengan takjub, kamar yang sangat luas dan terlihat rapi, bahkan detailnya begitu sempurna.
"Perfeksionis," gumam Luna ditunjukan pada Raditya.
Melihat dinding, Luna membulatkan matanya saat melihat jam.
"Mampus, sudah malam." Luna yang panik langsung turun dari atas rajang, tapi saat hendak turun tiba-tiba tubuhnya masih terasa lemas. "Ya ampun, kenapa sakit ini begitu menyiksa," katanya lagi sambil duduk ditepi ranjang.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Raditya lebih tersiksa yang harus menghilangkan gairah panas yang sempat singgah. Untuk pertama kali Raditya dibuat panas oleh seorang wanita, bahkan tanpa wanita itu melakukan apapun.
"Luna sialan!" Maki Raditya, lebih tepatnya pada dirinya sendiri yang mudah terpancing hanya karena melihat wajah Luna dan bibir yang Ahhhh Raditya bisa gila jika terus seperti ini.