Ketika cinta tumbuh kepada yang tidak seharusnya. Apakah ini sebuah kebenaran atau salah satu kata sesat? Mencintai siapa pun, itu mungkin hak semua manusia. Namun, bagaimana jadinya jika cinta itu tumbuh kepada musuh negaramu sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjerat
"Zeefanca!" Teriak Qaseem
Dibalik suara alarm yang begitu keras, justru Zeefanca malah memeluk lutut di sudut meja. Qaseem yang melihat itu menjadi serba salah. Mungkinkah ini karena penolakan darinya. Atau memang Zeefanca yang sudah bosan dengan hidup?
"Apa yang, kamu, lakukan di sini. Ayo keluar dari sini, tempat ini sudah tidak aman lagi." Qaseem mencoba menjelaskan kepada Zeefanca
Zeefanca hanya diam tanpa menoleh sedikit pun. Akhirnya, dengan terpaksa Qaseem menariknya keluar dari sana. Memaksa Zeefanca untuk ikut dengannya.
"Telingamu sudah tidak berfungsi lagi? Jangan membuat orang susah karena, mu." Tegas Qaseem yang terlihat marah
"Kalau tidak mau susah, untuk apa perduli dengan saya." Sahutnya dengan enteng
Qaseem tidak memperdulikan ocehan Zeefanca. Melainkan terus memaksanya untuk berlari dengan cepat. Mobil sudah menunggu mereka, sedangkan Zeefanca menganggap semuanya seperti lelucon.
"Ayo cepat!" Tegasnya
Zeefanca yang merasa lelah menuruni anak tangga hanya berdiam diri. Apakah tidak ada jalan lain agar dirinya tidak terburu-buru seperti saat ini?
Qaseem menodongkan senjatanya agar Zeefanca bergerak cepat. Namun Zeefanca malah menyerah. "Jaitan saya bisa sobek, Qaseem." Jelasnya
"Tinggalkan saja, kalian harus pergi. Saya tidak kuat harus berlari lagi, bisa-bisa saya pendarahan bagaimana?" Sambungnya
"Ya Allah ...." Ucap Qaseem lirih
Qaseem mencoba untuk memapah Zeefanca agar bisa berjalan lagi. Walau pun akhirnya sepanjang perjalanan Zeefanca terus meringis menahan sakit. Apakah di hidupnya hanya ada rasa sakit?
"Rasanya saya bosan hidup. Selama hidup, saya terlalu tersiksa karena rasa sakit. Masalah perut saja sudah dua kali ini." Ucapnya dengan nafas ngos-ngosan
"Jangan banyak bicara."
"Qaseem." Teriak Saleh yang menyusul mereka. "Cepatlah, apa ada masalah?" Tanyanya dengan serius
"Lukanya belum pulih, dia kesulitan untuk melangkah." Jelas Qaseem
"Kita sudah kehabisan waktu, hanya hitungan detik." Ucap saleh yang mencoba memapah Zeefanca pula. "Sebaiknya di gendong saja. Kita bisa hangus di sini." Tegas saleh
Spontan saleh mengangkat tubuh Zeefanca ke pundaknya yang membuat Zeefanca berteriak. "Dasar bodo* ... Perut saya sakit!" Teriaknya
Saleh yang kaget langsung menurunkan Zeefanca. "Maaf, saya lupa." Sahutnya seraya menuntun Zeefanca kembali
"Apa mereka sudah pergi?" Tanya Qaseem
"Hanya giliran kita lagi, semoga kita selamat insya Allah." Sahut saleh
Tanpa bertanya, Qaseem menggendong Zeefanca dan langsung berlari yang di susul oleh saleh. Zeefanca yang kaget hanya terdiam. Apakah perlu dirinya mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini?
Sampai diluar gedung itu, mereka langsung masuk kedalam mobil yang menunggu mereka. Dan dengan cepat mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga bangunan itu seketika rubuh akibat serangan musuh.
Boom ....
"Astaga! Betapa gilanya mereka." Ketus Zeefanca
"Baru tahu, nona?" Sahut Saleh
"Mereka tahu ada kami di sana, mengapa mereka menyerang di tempat itu." Jelasnya
"Saya sudah menjelaskan itu semua kepada kalian. Nyawa kalian tidak ada harganya bagi mereka." Jelas Qaseem
"Heran, kenapa mereka tahu kita disini." Ucap Saleh yang merasa bingung. "Bukankah alat itu sudah di keluarkan dari tubuhmu?" Sambungnya seraya memerhatikan Zeefanca
"Bisa lihat!" Ketus Zeefanca yang menaikan bajunya yang membuat mereka seketika itu langsung memalingkan wajah
"Astaghfirullah." Teriak Saleh frustasi. "Sangat tidak sopan, Zee!" Ketusnya
"Kalian harus tahu, seminggu saya belum sembuh dari luka ini saat benda kecil itu di tanam di bagian sini. Dan beberapa hari kemarin kalian mengoreknya lagi." Ucap Zeefanca seraya menahan rasa sakitnya itu
"Kenapa hidup saya penuh rasa sakit?" Tanya Zeefanca
"Salah, kamu, sendiri. Kenapa mau melakukan itu semua." Ucap saleh
"Jika tidak, mereka akan menghabisi nyawa keluarga saya. Lagian saya sudah tugas untuk menjadi mata-mata negara. Terpaksa harus melakukan itu, walau pun penuh luka." Jelasnya
"Waw, pengorbanan yang sangat luar biasa. Tapi apa yang di dapat? Apakah keluarga, kamu, masih aman?" Tanya Saleh lagi
Zeefanca tertunduk lesu mengingat kebohongan yang sudah di lakukan oleh negaranya sendiri. Tentu saja mereka memahami itu dengan melihat tingkah Zeefanca.
"Ha, berarti ini balas dendam. Kamu, membantu kami karena dendam dengan mereka yang berkhianat denganmu?" Ucap Saleh
Spontan Qaseem melirik Zeefanca dengan tatapan yang sulit di artikan. Begitu pun dengan Zeefanca yang mencoba menjelaskan. Jika ada dendam dan cinta yang dia rasakan saat ini.
"Hebat sekali aktingnya. Mengatakan ingin dengan, Qaseem, tapi ada niat lain yang terselubung." Sahut Saleh seraya memerhatikan Qaseem yang tidak perduli dengan obrolan mereka itu. "Pemain yang handal, mengelabui musuh." Ketusnya
"Kalau tidak mengerti, jangan berbicara seperti itu." Sahut Zeefanca
"Kalau kami mau, hidup mu sudah berakhir sejak kemarin, Zee." Ucap Saleh
"Kenapa tidak sekarang?" Sahut Zeefanca tanpa rasa takut
"Kami diajarkan kebaikan, bukan seperti kalian. Apakah harus melakukan kekerasan juga seperti kalian?" Tanya Saleh
Zeefanca terdiam seketika, mungkin saja ucapan Saleh itu benar. Mereka tidak mendapatkan kekerasan dari musuh mereka. Melainkan mendapatkan teman baru, hingga hidup yang aman.
Beberapa waktu kemudian, mereka sampai di suatu tempat. Mereka semua berkumpul disana, menyiapkan kepulangan mereka beberapa jam lagi. Malam yang berakhir tanpa tidur dan ketenangan. Esoknya mereka sudah kembali ke negara mereka.
"Terimakasih informasi yang, kamu, berikan. Itu membantu kami, dan terimakasih atas kerjasamanya." Ucap Qaseem
"Qaseem. Apakah, kamu, menganggap saya mempermainkan, kamu?" Tanya Zeefanca
"Tidak. Sudah semestinya kami tidak terlalu mempercayai siapa pun itu. Termasuk ucapan musuh." Jelas Qaseem
"Tapi saya jujur." Sahutnya
"Terimakasih." Ucap Qaseem lagi
"Saya berharap bisa bertemu, Qaseem, lagi di suatu hari nanti." Ucap Zeefanca dengan penuh harap
"Sebaiknya tidak, Zee." Sahut Qaseem
"Baiklah, saya akan membuktikan jika saya tulis dengan, kamu." Ucap Zeefanca dengan serius
Qaseem masih tidak terlalu mempercayai ucapan musuhnya itu. Melainkan fokus dengan keselamatan dan kemenangan mereka sendiri. Sudah cukup banyak yang mereka korbankan beberapa bulan ini.
"Persiapkan dirimu, sebentar lagi kita berangkat. Sesuai janji saya sebelumnya." Jelas Qaseem
"Baiklah." Sahut Zeefanca lirih
next semngt sukses selalu