Diterungku di masa kecil, diusung ke Negeri asing, dan terjebak dalam cinta segi empat. Mandalika hanya ingin kebebasan—tapi masa lalu, cinta, dan luka tak semudah itu ditinggalkan.
"Masa lalu menahannya. Masa depan menakutinya. Tapi waktu tak pernah menunggu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lalarahman23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Kejam.
Gyumin menuntun Manda berjalan ke arah meja di mana orang tuanya bersama koleganya, yaitu keluarga Ji Young, sedang duduk. Ruangan restoran mewah itu, yang awalnya penuh obrolan dan aroma menggoda, kini terasa seperti zona mati. Suasana mendadak membeku, seakan waktu ikut berhenti menyaksikan dua langkah kaki yang mendekat.
Gyumin dengan tenang menarik kursi untuk Manda. Sikap sopan yang membuat ibunya nyaris tersedak air putih.
“Duduklah,” katanya pelan, seolah tak peduli pada tatapan tajam yang menusuknya seperti belati tak kasat mata.
Manda tersenyum kecil dan memberi salam. Tapi senyum itu seperti kertas tipis menutupi gemetar di ujung jemarinya. Tatapannya bertemu dengan Ji Young—lebih tepatnya, disambar oleh sorot penuh racun dari lawan yang tak bisa lagi menyembunyikan kemurkaannya.
“Dia adalah temanku, kenalkan dirimu,” pinta Gyumin, nada bicaranya lembut tapi penuh makna.
“Selamat malam, saya Manda. Saya teman dari Gyumin… dari Indonesia,” ucapnya, nyaris seperti bisikan yang teredam dalam badai kecanggungan.
Gyumin tak menunggu restu, langsung melanjutkan, “Manda akan bergabung di acara kita.”
Seketika, atmosfer meja berubah drastis. Tatapan keluarga Gyumin berganti dengan ekspresi seperti baru saja menemukan belatung di dalam croissant.
Ayah Gyumin segera bangkit. “Gyumin, kau tahu betul ini acara penting!”
“Aku tidak menganggapnya penting…,” jawab Gyumin dengan senyum dingin. “Kalau bukan karena dia, aku bahkan tidak akan datang ke tempat ini.”
Meja itu hening. Hening seperti bisikan kematian.
---
Di toilet, suhu emosi naik drastis. Kedua orangtua Gyumin mendesaknya seperti jaksa pengadilan yang kesetanan.
"Ayah ingin jawaban!" bentak sang ayah, matanya merah. “Kau akan menikahi Ji Young!”
"Aku tidak akan pernah menikahi dia!" Gyumin meledak. “Aku bukan produk lelang! Aku punya hati, bukan saham keluarga!”
Sang ayah menunjuk wajah Gyumin. “Ayah tidak peduli! Setelah malam ini, pernikahan itu akan diurus! Kau akan menikah dengan Ji Young, suka atau tidak!”
Gyumin menatapnya, mata berkilat tajam. “Kalau begitu, anggap saja kau kehilangan anak laki-lakimu.”
Ia pergi, meninggalkan orangtuanya dalam diam yang lebih menyakitkan dari makian.
Di luar, Manda mendengar semuanya. Jantungnya serasa diremas. Bibirnya gemetar, dan air mata mulai menetes, mengkhianati kekuatan yang ia pertahankan.
Lalu muncullah Ji Young. Tenang, seperti predator yang tahu korbannya sudah lumpuh.
Satu jambakan kasar menyambar rambut Manda.
“Kau pikir bisa merebut Gyumin dariku?” desis Ji Young seperti ular berbisa.
Ia menyeret Manda ke tangga darurat dan melempar tubuhnya ke bawah, seperti sampah tak berharga. Manda terguling, menghantam tiap anak tangga. Saat mencoba bangkit, sebuah tendangan keras kembali menjatuhkannya.
"Kau wanita kotor!" Ji Young menginjaknya berkali-kali. “Aku sudah cukup sabar denganmu.”
Namun dari balik luka, Manda masih sempat melontarkan kata kecil—tajam dan menusuk.
"Kau seharusnya bercermin. Lihat betapa menyedihkannya dirimu."
Ji Young meraung. Ia menarik pakaian Manda, merobeknya. Manda melawan, tapi tubuhnya sudah tak berdaya.
Klik.
Foto dan video. Potret kehancuran. Ji Young menyeringai puas.
“Satu klik, dan hidupmu selesai.” Ia menunjuk wajah Manda. “Ingat itu.”
Dengan tawa kejam, ia meludahi Manda dan memberikan tendangan terakhir. Lalu pergi, meninggalkan tubuh Manda tergeletak seperti boneka rusak yang dibuang.
---
Gyumin berlari, mencarinya. Ia bertanya ke penjaga, ke staf restoran, bahkan ke langit yang mulai mendung. Tapi tak ada jejak Manda.
“Tidak ada yang kembali ke sini,” kata satpam di lobi apartemen. Gyumin pun duduk terdiam di depan pintu kamar Manda. Tubuhnya membeku dalam ketakutan.
Sementara itu, Manda merangkak keluar dari tangga darurat. Wajahnya berlumur darah, tapi ia berdiri. Ia harus berdiri.
Satu taksi berhenti, dan dalam diam, ia kembali ke apartemennya.
Saat sampai, semua orang menatap ngeri. Tapi tidak ada yang berani mendekat. Manda seperti sosok hantu yang kembali dari peperangan.
Gyumin berlari padanya. “Apa yang terjadi?! Aku mencarimu! Aku—”
Tapi Manda hanya menatapnya… kosong. Lalu masuk ke dalam, membiarkan pintu tertutup perlahan.
Tangis mereka berdua pecah. Tapi terpisah dinding.
---
Dua minggu kemudian.
Manda menatap bus yang datang, dan melangkah masuk. Ia memilih berdiri, walau bangku kosong. Mungkin rasa sakit di kakinya masih mengingatkan tentang malam itu.
Di kampus, Doohyun mendekatinya.
"Kenapa tidak masuk kelas?"
"Aku akan masuk… nanti," jawab Manda.
"Aku tidak melihatmu akhir-akhir ini. Ada rumor tentang pernikahan Gyumin dan Ji Young."
Kalimat itu menghantam jantung Manda seperti petir. Tapi wajahnya tetap datar.
“Aku tidak peduli,” bisiknya. Mungkin lebih kepada dirinya sendiri.
Doohyun menatapnya lama. “Aku tahu kau berbohong.”
Manda berdiri. “Aku harus pergi.”
---
Di lorong kelas, Ji Young muncul seperti kutukan yang belum sempat dibakar.
"Masih hidup rupanya," bisiknya seraya menginjak sepatu Manda. “Masih ada fotonya.”
Manda menatapnya. Tenang. Datar. Penuh luka yang belum sembuh.
“Aku cuma ingin belajar…”
Ji Young mendorongnya dengan keras. Manda tidak melawan. Ia hanya melangkah menjauh.
---
Gyumin masuk kelas. Saat melihat Manda, ia langsung menuju ke arahnya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Tak ada jawaban.
Gyumin mencoba memegang tangannya.
"Apa kau mendengarku?"
Manda bangkit dan pergi.
Dan saat itulah Ji Young masuk, mengusir semua orang.
Pintu dikunci. Kelas menjadi ring pertarungan batin.
Ji Young mendekat. “Kau belum jera rupanya.”
Manda terdiam. Tubuhnya bergemetar. Tapi ia tidak mundur.
“Selama ini aku baik padamu,” desis Ji Young. “Dan kau…”
Sebuah tangan menangkap tangannya sebelum sempat menampar.
"Berani sekali kau menyentuhnya!" Gyumin mendorong Ji Young ke belakang, sorot matanya tak seperti biasanya.
Dan untuk pertama kalinya, ketakutan perlahan mulai muncul di wajah Ji Young.
To be continued..