💫Rindu tidaklah berat Dilan, tapi yang berat itu menunggu💫
Apalagi jika harus menunggu seseorang yang tidak tau kapan akan kembali pulang.
✨itulah sanggahan Fatir pada Dilan yang mengatakan bahwa Rindu itu berat✨
💥Fatir anak yang terlahir dari buah cinta dan nafsu antara Athmaja dan Ajeng sebelum menikah.💥
Waktu masih bayi Fatir harus kehilangan mamahnya, yang menghilang setelah ditukarkan dengan harta, oleh papahnya pada mahluk berbadan manusia tapi berkepala gorila.
Rasa kesepian dan rindu yang dia rasakan bertahun - tahun terbayar, dengan hadirnya Syaima, gadis cantik, baik, lugu tapi pintar dan pemberani.
Dia pun jatuh cinta padanya, tapi sayang cintanya di tentang banyak orang, karena sisi gelap dari papahnya yang mulai terbongkar.
Berbagai kejadian dan konflik pun bermunculan, membuatnya harus memilih mempertahankan Syaima atau mencari mamahnya yang hilang.
💫💫💫
Simak terus ya kisah perjalan cinta Syaima yang bikin baper selangit, penuh misteri dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenti nurhayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kisah remaja 14
"Pagi semua ". Ucap seorang pria yang usianya sekitar 45 tahunan bernama Drs, Gunawan Spd, beliau mengajar mata pelajaran Agama.
" Pagi juga pak ". Jawaban serempak dari semua siswa di kelasku.
"Tugas yang bapak berikan minggu kemarin sudah di selesaikan ?". Tanya pak Gunawan.
" Sudaaaahh pak ".Jawab semuanya kembali kompak.
" Bagus kalo begitu kumpulkan semua buku tugasnya lalu bawa kesini, dan sekarang ada tes dadakan ya, setiap orang harus ke depan berceramah selama 5 menit dengan tema bebas, ayo di persiapkan bapak kasih waktu 15 menit untuk berpikir ". Kata pak Gunawan.
" Haaahh ". Semua siswa langsung lemes dan saling berbisik -bisik.
"Maaf pak, ko gak gasih tau dulu sebelumnya ya ? ". Tanya Agung sang ketua kelas.
"Namanya juga tes dadakan, kamu tuh nanya yang berbobot apa Gung, Agung ". Jawab pak Gunawan sambil geleng - geleng kepala.
"Hehe... iya pak". Jawab Agung tersenyum malu karena salah bertanya.
Sementara itu aku masih menundukkan kepala, rasa malu masih belum hilang sebelum kunciran rambut ku lepas.
* ibu bisa -bisanya dia mengikat rambutku kaya gini, aaahh... ". Batinku.
" Syai... kamu sudah siap ke depan ?, pakai tema apa ? ". Tanya Fani sambil berbisik.
"Hhmmmm... enggak tau ". Jawabku dengan mengangkat kedua bahuku.
"Syai... kasih masukan dong, kepalaku ngebleng banget ni ". Pinta Fani setengah memelas.
"Apaan sih Fan aku juga belum tau ". jawabku yang mulai kesal.
"Ya udah, kalo tidak bisa bantu juga tak apa, tapi jangan marah gitu dong ". Ujar Fani membuatku merasa bersalah karena sudah kesal padanya.
" Nnaahh, waktu berpikirnya habis, ayo sekarang siapa yang sudah siap maju ke depan". Suara pak Gunawan yang berat dan serak membuat para siswa terdiam tak berani untuk maju ke depan.
" Baiklah, karena tidak ada yang mau maju sendiri, jadi bapak yang akan menyebutkan namanya satu persatu, dan yang bapak sebut namanya langsung ke depan ya ". Kata pak Gunawan lagi membuat para murid semakin pucat .
" Hhmm.. coba itu anak baru siapa namanya ? dan langsung maju ke depan ceramah ". Kata pak Gunawan menunju ke barisanku.
Semua mata memandang ke arah Fatir yang terlihat sangat tenang, Fatir pun berdiri untuk melangkahkan kakinya, namun belum sempat Fatir melangkah pak Gunawan sudah berkata lagi.
" Eehh.., bukan kamu tapi anak baru yang itu tuh, yang rambutnya di kuncir dua ". Kata pak Gunawan sambil menunjuk ke arahku.
*Iiiihh, kenapa dalam keadaan begini harus aku yang ke depan sih, aiisshh ". Batinku berteriak ingin rasanya ku acak - acak kepalaku .
"Saya anak barunya pak ". Ucap Fatir dengan lantang, seolah dia yang ingin maju ke depan menggantikan ku.
" Oh... yang anak baru kamu, lalu itu siapa ?". tanya pak Gunawan sambil menatapku.
"Syaaaaiiimmmaaa pak ". Jawab semuanya dengan serempak sambil menahan tawa.
" Walaaahh... syaima to, bapak kira siapa habisnya kamu terlihat imut dan lucu ". Kata pak Gunawan sambil tersenyum.
Aku hanya diam dan cemberut menahan malu juga kesal.
Pak Gunawan adalah salah satu guru yang dekat denganku, karena dia sering meminta tolong padaku, untuk mengoreksi jawaban dari tugas - tugas yang beliau berikan pada anak kelas 1.
" Ya sudah sekarang anak baru silahkan maju, perkenalkan namamu dan langsung ceramah". perintah pak Gunawan dan mempersilahkan.
Fatir pun melangkah maju menghampiri pak Gunawan terlebih dahulu, lalu berkata dengan suara pelan agar tidak ada murid yang mendengar, entah apa yang dia sampaikan namun pak Gunawan menggangguk - anggukan kepalanya, tanda beliau memahami apa yang Fatir bisikan.
Kemudian Fatir melangkah lagi agar posisinya berada di tengah, dan mulai memperkenalkan diri lalu melanjutkannya dengan ceramah yang bertemakan.
* Surga di telapak kaki ibu *
Secara gamblang Fatir menjelaskan, bagaimana kewajiban seorang anak berbakti terhadap orang tua, terutama pada ibu yang sudah mengandung, melahirkan dan merawat dari kecil hingga dewasa, setelah itu Fatir pun kembali ke bangkunya.
Semua siswa semakin merasa takjub melihat kepintaran Fatir, terlebih lagi Melly dan Tania yang sedari tadi tersenyum ke arah Fatir, sambil menggodanya dengan melambaikan tangan.
"sekarang giliran Fahra maju ". kata pak Gunawan.
Fahra pun maju ke depan, dengan ragu - ragu ia menyampaikan tentang keajaiban sedekah. Selesai Fahra di lanjutkan oleh Adi,Yuni, Ifan dan seterusnya tanpa terasa bel pun berbunyi.
" Baiklah semuanya, sampai disini dulu pertemuan kita kali ini, bagi yang belum maju ke depan, di pertemuan berikutnya harus sudah siap tanpa di panggil namanya". Kata pak Gunawan mengakhiri kegiatan mengajarnya dan langsung meninggalkan kelas.
Sorak riang pun terdengar dari siswa yang belum terpanggil untuk tes ceramah, aku sendiri merasa heran.
*Tumben pak Gunawan belum memanggil namaku ". Batinku.
"Syai.., mau ke toilet tidak ayo aku antar ". Tanya Fani seakan mengerti keadaanku yang menahan malu dengan kunciran rambut.
" Tidak Fan, nanti saja sekalian istirahat aku mau langsung ke mushola, titip beliin cemilan aja ya ". Jawabku lemes.
" Iya baiklah ". Ucap Fani tidak ingin memaksa.
"Tuk ". Tiba - tiba gulungan kertas mendarat di meja ku, aku melihat ke kiri - kanan tapi semuanya pada sibuk masing - masing, ku buka gulungan kertas putih itu yang ternyata ada tulisannya.
"Jangan malu dan minder Syai, kamu bahkan terlihat lebih cantik dengan kunciran rambut begitu, aku malah semakin menyukaimu". Isi pesan dalam gulungan kertas putih itu.
*Siapa lagi yang ngirim ini ". Batinku.
Lalu ku coba menengok ke arah Fatir, yang berada tidak jauh di belakangku, dia pun tersenyum manis sambil melambaikan tangannya padaku.
Deg.. deg.. detak jantungku mulai tak beraturan dan wajahku pun memerah, ku balikan wajahku lagi agar tidak membuat siswa lain curiga, tapi sayangnya Vino dari tadi memperhatikan tingkahku dan gerak - gerik Fatir, dia semakin yakin jika diantara kami ada sesuatu.
" Teman - teman katanya akan ada rapat mendadak jadi kita bebaaas ". Teriak Agung sang ketua kelas dengan gembira.
Setelah di beri tahu waktu tadi dia ke ruang guru, menanyakan tentang guru Sejarah yang belum datang untuk mengisi pelajaran ke 2 di kelas kami.
"Waahh.. asyiiik, ayo kita main ". Teriak Melly.
"Iya... ya..., kita main yuuk tapi kemana ya ?". Tanya Tania sambil berpikir.
Lalu Melly membisikan sesuatu di telinga Tania, mereka berdua pun tertawa.
Teman - teman gengku Fani, Yuli, Dian, Siti dan Mae segera berkumpul mengelilingiku, mereka semua menatapku dengan segudang pertanyaan .
" Pehatian kepada semua siswa dari kelas 1 sampai kelas 3, semuanya di pulangkan karena ada rapat, harap semuanya belajar di rumah, terimakasih.
Suara pak bambang guru BP terdengar jelas di speaker sekolah.
Tidak berapa lama kemudian, terlihat semua siswa yang jumlahnya ratusan, dengan riang berhamburan keluar kelas menuju pintu gerbang, seolah kebebasan telah menanti di sana.
Lain halnya dengan ku, yang masih dikerumuni oleh ke lima temenku, mereka menatapku dengan senyuman yang menyeramkan, laksana sekelompok polisi yang akan mengintrogasi tersangkanya.
" Maaf teman - temanku yang cantik, baik, rendah hati dan tidak sombong, aku harus segera pergi karena pamanku sudah menunggu di depan, hehehe.. ". Ucapku terpaksa berbohong dengan senyum yang di buat seindah mungkin, agar ke lima temanku percaya.
" Syai.. jangan coba - coba membohongi kami ya, kemarin kamu bisa bebas, tapi hari ini kami tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja sebelum cerita semuanya ". Ujar Yuli tegas.
" Iya benar Syai, kami akan membawamu ke rumah Fani '. Timpal Mae.
" Benar kata Yuli, kamu harus nurut dan ikut kita ". Kata Dian menambahkan.
Fani dan Siti tidak bersuara, tapi tatapannya keduanya cukup untuk menyatakan rasa ingin tau juga.
"Baiklah p". Jawabku pasrah.
"Horee.. yeeeey ". Kelima nya langsung berpelukan memelukku seperti Teletubbies.
* Aku tau kalian begitu karena peduli dan sayang padaku, tapi aku juga tidak mungkin membocorkan hubungan ku dengan Fatir sama kalian, karena biar bagaimana pun aku sudah meminta Fatir berjanji untuk merahasiakannya, masa aku yang membocorkan, bisa di cap plin - plan aku nanti ". Batinku.
Suasana sekolah mulai sepi, tinggal beberapa siswa saja yang terlihat sedang berjalan di koridor sekolah, sementara para guru sudah berkumpul di ruang rapat.
Aku dan ke lima temanku berjalan beriringan sambil bercanda ria menuju rumahnya Fani.
"Tiiidd.. tiiidd.." Bunyi klakson motor dari arah belakang kami.
"Syai... Syai.. tunggu ". Terdengar jelas suara laki - laki yang memanggilku.
Deg..deg...
* Duuhh jangan sampai si jelangkung yang datang bisa mati kutu aku ". Batinku.
🌸🌸🌸
Hai semuanya,
Hari ini saya up 2 bab ya,
Sebagai ucapan terimakasih,
Pada pembaca setiaku,
Kasih komentarnya,
Like dan Vote juga ya,
Terimaksih 😍😍😍
Ditunggu ya, salam manis dari Karita
Gracias ❤️
Aku tambahin di favorit biar nggak ketinggalan
Jangan lupa mampir di karya pertamaku kak
Salam dari "Dua Jagoan Kecil Mas Duda"
Salam dari karya Ku 'Viral. Ditunggu feedbacknya ☺
semangat terus ya💪
🌺🌺🌺🌺🌺🌺