Kanaya putri (20), gadis polos dan lugu yang hidupnya langsung berubah saat bertemu dengan pria bernama Bara Alexander (28). Kanaya yang biasa hidup bebas tiba-tiba harus terpenjara di sangkar emas milik Bara.
Bagaimana kelanjutan hidup Kanaya?.
Apa yang sudah terjadi di antara Bara dan Kanaya sampai Bara sangat terobsesi pada Kanaya?.
ikuti terus kelanjutan ceritanya ya 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bungabunga2929, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Pagi harinya, Kanaya sudah siap dengan barang-barang miliknya. Sejak tadi Danang terus menanyakan apakah Kanaya berubah pikiran atau tidak.
"Kanaya" panggil Danang saat mereka sedang berada di meja makan.
"Iya paman" jawab Kanaya yang langsung menghentikan makannya.
"Kamu yakin gak mau tinggal di sini aja" ucap Danang.
"Paman, aku udah yakin dengan keputusanku ini. Udah paman gak perlu khawatir. Aku pasti akan baik-baik aja kok, aku akan jaga diri juga" ucap Kanaya.
"Jangan lupa sering kabari paman ya. Kamu tahu kan, almarhum ibu kamu sudah menitipkan kamu pada paman. Semenjak itu, kamu adalah tanggung jawab paman".
"Paman hanya takut kamu menderita di luar sana" ucap Danang.
"Udahlah mas, Kanaya kan udah bilang dia bisa jaga diri. Kamu jangan menahan-nahan dia gitu dong. Biarkan dia mandiri" ucap Sintia.
"Iya paman, benar apa kata Tante Sintia. Aku pasti akan jaga diri baik-baik kok. Yaudah, kalau gitu aku pamit dulu ya. Sekali lagi terima kasih karena paman dan tante udah mau menampung aku" ucap Kanaya.
"Sama-sama Nay. Kamu jaga kesehatan ya. Jangan lupa makan" ucap Danang yang langsung memeluk Kanaya sebagai tanda perpisahan.
"Iya paman dan Tante juga" ucap Kanaya sambil membalas pelukan Danang.
Suasana haru menyelimuti Danang dan juga Kanaya. Berbeda dengan keduanya, Sintia justru merasa sangat senang.
"Akhirnya rumah ini tenang juga. Gak ada lagi orang yang menumpang hidup. Enak aja mau lama-lama tinggal disini" batin Sintia sambil tersenyum.
Setelah berpamitan, Kanaya keluar membawa satu tas berisi baju-baju miliknya. Tadi sang paman sudah menawarkan untuk mengantar. Tapi dengan halus Kanaya menolak tawaran sang paman.
Sampai di luar, ternyata sudah ada Bara yang sedang menunggu di samping mobil sambil menghisap rokok. Melihat itu membuat Kanaya langsung terkejut.
"Loh itu bukannya kak Bara. Ngapain dia disini" gumam Kanaya.
Bara yang melihat kedatangan Kanaya langsung mematikan rokoknya.
"Eh kamu udah keluar. Sini barang-barang kamu, biar aku masukkan ke dalam mobil" ucap Bara.
Hari ini Bara sengaja membawa mobil sendiri karena ingin menghabiskan waktu berdua dengan gadisnya.
"Eh gak usah kak, aku bisa sendiri kok" ucap Kanaya.
"Udah gak papa sini, sebagai laki-laki aku harus membantu wanita kan" ucap Bara.
"Tapi cuma memasukkan tas ke dalam mobil aja sampai harus merepotkan kak Bara si" ucap Kanaya.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa untuk bergantung padaku. Sebentar lagi kita kan akan menjadi suami istri" ucap Bara sambil tersenyum.
"Iya, tapi suami istri kontrak. Gak perlu juga kak Bara melakukan semua ini buatku" ucap Kanaya.
"Gak papa, kita harus terlihat romantis di depan banyak orang kan. Yaudah, yaudah. Sebaiknya sekarang kamu masuk, kita harus segera mendaftarkan pernikahan kan" ucap Bara.
"Em... Ini beneran harus hari ini ya. Aku tiba-tiba jadi gugup" ucap Kanaya sambil meremas kedua tangannya untuk meredakan gugupnya.
"Iya harus hari ini" ucap Bara penuh penekanan.
"Huft... yaudah ayo" ucap Kanaya.
Setelah proses yang lumayan panjang, akhirnya Bara dan Kanaya sudah mendapatkan buku nikah. Kanaya yang melihat buku nikah di tangannya masih tidak percaya kalau dirinya sekarang sudah memiliki status baru.
"Ya ampun, aku masih gak nyangka dengan apa yang terjadi hari ini. Aku menikah, dan sekarang statusku adalah istri orang. Iya walaupun pernikahan ini hanya pernikahan kontrak tapi tetap aja, pernikahan ini sah di mata hukum".
"Rasanya semua ini seperti mimpi. Aku tidak pernah memikirkan hal seperti ini akan terjadi padaku" batin Kanaya.
"Kanaya, kok kamu diam aja" ucap Bara saat melihat gadisnya terus menatap buku nikahnya.
"Jangan bilang dia menyesal. Gak bisa, aku gak akan biarkan gadisku membatalkan pernikahan ini. Dia milikku, aku tidak akan pernah melepaskannya" batin Bara.
"Eh, aku gak papa kak. Oh iya, buku nikah ini...".
"Sini berikan padaku, biar aku yang akan menyimpannya" ucap Bara yang langsung mengambil buku nikah milik Kanaya.
"Bagus, dengan begini gadisku tidak akan bisa pergi dari sisiku" batin Bara sambil menyunggingkan senyum.
"Eh kok di ambil si. Kak Bara kan udah punya sendiri. Itu milikku, aku yang akan menyimpannya sendiri" ucap Kanaya.
"Udah, biar aku aja yang menyimpannya. Biar gak hilang" ucap Bara.
"Tapi kak....".
"Shut.... Udah gak usah kita perdebatkan tentang ini. Pokoknya buku nikah kamu aman sama aku. Sekarang lebih baik kita pulang" ucap Bara.
"Yaudah deh" pasrah Kanaya.
Dengan wajah bahagia, Bara membawa Kanaya pulang ke mansion miliknya. Bara langsung menggenggam tangan Kanaya dengan lembut menuju mobilnya.
Kanaya sendiri sedikit terkejut melihat Bara menggenggam tangannya.
"Kak Bara" ucap Kanaya dengan wajah terkejutnya.
"Kenapa sayang" ucap Bara dengan lembut.
Wajah Kanaya langsung merah merona mendengar Bara memanggilnya sayang.
"Tunggu, kenapa wajah kamu merah. Apa kamu sakit?, yaudah kita ke rumah sakit sekarang ya" ucap Bara yang langsung menggendong tubuh Kanaya.
"Loh, eh... Enggak. Aku baik-baik aja kak, turunin aku" ucap Kanaya yang wajahnya sudah sangat merah karena merasa malu.
"Enggak gimana, lihat wajah kamu merah banget gitu. Udah kamu nurut ya, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Bara bergegas menggendong Kanaya dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Astaga, kak Bara salah paham. Tapi kalau aku jujur malu banget. Masa iya aku bilang kalau wajah aku merah karena tersipu malu. Enggak, enggak. Itu pasti malu banget kalau sampai kak Bara tahu" batin Kanaya.
Setelah mendudukan Kanaya di dalam mobil, Bara sendiri bergegas masuk ke dalam mobil.
"Sayang, bertahan oke" ucap Bara dengan wajah paniknya.
"Kak Bara, dengerin aku dulu" ucap Kanaya mencoba menghentikan Bara dengan memegang tangannya.
"Kenapa?" tanya Bara.
"Kita gak perlu ke rumah sakit. Aku gak sakit, aku baik-baik aja. Sebaiknya kita langsung ke mansion kak Bara aja ya. Gak perlu ke rumah sakit" ucap Kanaya.
"Beneran kamu gak mau ke rumah sakit aja, aku khawatir sama kamu" ucap Bara.
"Enggak. Udah jangan panik gitu. Aku beneran gak papa kok" ucap Kanaya.
"Yaudah, nanti aku akan minta dokter pribadiku untuk memeriksa kamu. Sebaiknya sekarang kita segera ke mansion" ucap Bara yang langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Bara ingin segera sampai di mansion agar Kanaya bisa segera di periksa.
"Kak Bara, bisa tolong lebih pelan lagi bawa mobilnya. Aku takut" cicit Kanaya.
"Cit!".
Bara langsung menghentikan mobilnya mendengar Kanaya merasa takut.
"Maaf sayang, aku bikin kamu takut ya. Aku benar-benar khawatir sama kamu" ucap Bara.
"Udah kak gak perlu minta maaf, yang penting sekarang bawa mobilnya pelan-pelan aja. Lagipula aku baik-baik aja kok. Jadi gak perlu buru-buru di periksa" ucap Kanaya mencoba membuat Bara lebih tenang.