Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.
Rafa terkesiap mendengar ucapan Kahiyang. Matanya membelalak tak percaya, sementara wajahnya memerah hingga ke telinga. Pemuda itu menatap gadis di depannya dengan pandangan serius.
Melihat reaksi Rafa, Kahiyang seketika tersadar dengan apa yang baru saja diucapkannya. Kedua matanya membulat, lalu menepuk kening sendiri.
"Oh, ya ampun... aku ngomong apa sih, barusan?" gumamnya lirih.
Ia pun berdeham pelan lalu buru-buru mengoreksi ucapannya.
"Aahh... maksudku itu... jadi kekasih pura-pura saja! Iya begitu hanya pura-pura!" Kahiyang tersenyum meringis menahan rasa malu.
"Plis... tolongin aku ya, Raf..." Gadis itu menatap Rafa, dengan ekspresi memohon, wajahnya masih memerah akibat rasa malu, tetapi ia abaikan demi bisa meyakinkan pemuda di depannya.
"Ulang tahun pernikahan Eyangku nanti, Mama minta supaya aku bawa kekasih sebagai kado istimewa buat Eyang. Beliau pengen sekali melihatku sudah punya pendamping. Tapi kamu tahu sendiri... aku ini jomblo sejati dari dulu." Kahiyang mengerucutkan bibirnya sesaat.
"Kamu mau nolongin aku kan, Raf?" tambahnya sambil mengedip-kedipkan matanya, persis seperti anak kecil minta uang jajan pada orangtuanya.
Rafa masih terpaku menatap Kahiyang. Jantungnya berdegup kencang tak karuan, bagaikan naik roller coaster. Melihat tingkah Kahiyang yang begitu polos dan menggemaskan itu, senyum tak sengaja merekah di bibirnya. Rasa bahagia meluap-luap memenuhi rongga dadanya. Ternyata balik sikap santai dan cuek yang selama ini gadis itu tunjukkan, rupanya ia begitu rapuh dan butuh perlindungan.
'Apa aku jujur saja tentang perasaanku, kalau gadis yang aku sukai adalah dirinya?' batinnya bertanya-tanya.
Pemuda itu pun menghela napas panjang, netranya tak sekalipun berpaling dari gadis pujaannya, membuat sang gadis tersipu malu -- salah tingkah.
"Maaf, Mbak. Saya nggak bisa...!"
Namun, sebelum Rafa menyelesaikan ucapannya, Kahiyang sudah langsung menyelanya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Kumohon...tolongin aku, Raf." Gadis itu menatap pemuda di depannya dengan pandangan sendu. "Aku akan mengabulkan apapun yang kamu minta, jika kamu bersedia menjadi kekasih pura-puraku."
Sudah kepalang tanggung ia tak mungkin meminta tolong pada orang lain. Dirinya bukan orang yang gampang akrab dengan lawan jenis, apalagi setelah sang mantan mengkhianatinya dengan sepupunya sendiri. Sejak saat itu Kahiyang memilih menutup diri, hanya Rafa satu-satunya yang sering berinteraksi dengannya karena merupakan rekan kerja.
"Apapun yang saya minta, Mbak?" tanyanya mengulang kalimat Kahiyang. "Apa Mbak Ayang yakin?"
"Iya,,, asal permintaanmu masuk akal dan aku cukup mampu mengabulkannya," jawab Kahiyang.
Rafa terdiam menatap ke atas sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya seolah sedang berpikir keras. Sesaat kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat tipis. Sepertinya dia sudah menemukan cara untuk membuat hubungan pura-pura itu menjadi sesuatu yang lebih nyata.
"Baiklah...Kalau begitu, saya mau Mbak Ayang menjadikan saya sebagai kekasih beneran bukan cuma pura-pura."
"Apa...!" Kahiyang terpekik kaget, lantas menutup mulut dengan telapak tangan.
Gadis itu mengerjapkan mata, berusaha mencerna kalimat yang baru saja didengarnya. "Ke-kasih beneran?" ulangnya tak percaya.
Beberapa saat, Kahiyang seolah benar-benar kehilangan kata-kata. Ia berniat meminta bantuan Rafa untuk menjadi kekasih pura-pura. Tidak pernah sedikit pun terpikir olehnya bahwa pemuda itu justru akan meminta hubungan sungguhan.
"Raf, ka-kamu... kamu nggak serius, kan?" tanyanya seraya menatap pemuda di depannya ragu-ragu.
Rafa mengangguk mantap. "Untuk urusan yang satu ini saya sangat serius, Mbak."
"Tapi...kamu ngerti kan, kalau ini cuma buat acara ulang tahun pernikahan Eyang, doang?" ucap Kahiyang.
"Iya, saya paham kok, Mbak," jawab Rafa tenang.
"Terus kenapa minta jadi kekasih beneran?" Masih menatap pemuda itu dengan raut bingung.
Rafa menatap Kahiyang lekat. Senyum di wajahnya perlahan menghilang, digantikan ekspresi yang lebih serius. "Karena saya nggak mau berpura-pura menyukai Mbak Ayang."
"Maksudnya?" tanya Kahiyang tak mengerti.
Rafa menarik napas pelan, lalu berkata jujur. "Sebenarnya gadis yang saya sukai adalah Mbak Ayang."
"Hahhh...!" Netra Kahiyang seketika membelalak, dengan reflek tangannya menutup mulutnya yang sedikit ternganga. Sesaat ia terpaku, otaknya berusaha mencerna setiap kata yang baru saja didengarnya. Selama ini ia hanya menganggap Rafa sebagai rekan kerja. Tidak pernah sekalipun terpikir bahwa pemuda itu ternyata menyimpan perasaan kepadanya.
"S-sejak kapan?" tanyanya sembari menoleh ke arah pemuda telah duduk di sampingnya. Jantungnya benar-benar di buat jumpalitan siang itu.
"Sejak pertemuan pertama kita...perasaan ini tumbuh begitu saja, seiring berjalannya waktu..."
"Pertemuan pertama? Di mana?" tanya Kahiyang lagi seperti orang linglung.
"Ya di sini lah, Mbak. Saat itu saya baru karyawan di sini dan Mbak Ayang yang selalu membantu saya," kata Rafa tak semuanya bohong.
"Kenapa kamu nggak pernah ngomong sama aku?" tanya Kahiyang lagi masih tak percaya.
"Itu karena sikap Mbak Ayang yang sangat cuek dan nggak peka. Sehingga tak menyadari perhatian-perhatian kecil dari saya. Atau mungkin saya bukan tipe pria idaman bagi Mbak Ayang," ungkap Rafa pelan.
"Bu-bukan begitu...." Entah mengapa Kahiyang tiba-tiba merasa de javu.
Keheningan menyergap di antara mereka, hingga kemudian Kahiyang kembali membuka suara. "Aku hanya merasa ini tak masuk akal. Bagaimana mungkin kamu menyukai aku yang jelas-jelas usianya lebih tua darimu?"
"Kenapa...? Emang masalahnya di mana?" tanya Rafa. "Cinta itu soal hati, Mbak. Nggak bisa dipaksa kalau lelaki harus lebih tua dari wanita. Usia juga nggak menjamin kedewasaan seseorang. Kadang banyak lelaki yang usianya lebih tua justru masih kekanakan, tapi mereka yang lebih muda malah bisa berpikir dewasa dan kritis," sambungnya meyakinkan.
Kahiyang terdiam menundukkan kepala. Ia menggigit bibir bawahnya sambil berpikir. Dalam hati membenarkan ucapan Rafa.
"Emang usia Mbak Ayang sendiri berapa?" tanya Rafa kemudian, padahal sebenarnya sudah tahu.
"Tiga puluh," jawab Kahiyang tanpa menoleh. "Sudah tua, kan?"
"Kalau Mbak Ayang sudah merasa tua, kenapa nggak mau menjadikan saya kekasih sungguhan? Malah meminta pura-pura?" tukas Rafa santai.
Bingung harus menjawab apa, Kahiyang hanya bisa menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak gatal. Sebenarnya, ia memang tidak pernah melihat Rafa sebagai seseorang yang bisa menjadi kekasihnya. Selama ini pemuda itu hanya teman yang selalu ada ketika ia membutuhkan bantuan.
Namun, tawaran pemuda itu membuatnya sadar bahwa jika ia menerima hubungan sungguhan, maka masalah ulangtahun Eyang memang akan selesai. Tidak perlu berpura-pura di depan keluarga. Hanya saja dirinya masih merasa takut untuk menjalin hubungan baru.
"Gimana, Mbak. Mau mengabulkan permintaan saya, nggak?" tanya Rafa tanpa terkesan mendesak. "Kalau Mbak Ayang merasa keberatan menganggap saya nggak pantas, ya sudah. Silakan cari orang lain saja, karena saya tidak ingin bermain-main dengan sebuah hubungan."
Rafa bergegas beranjak dari duduknya, tetapi dengan spontan Kahiyang menahan tangannya.
Kira-kira... apakah Kahiyang akan mengabulkan?
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭