Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Baju Tidur, Pemotongan Gaji, dan Tarikan Tangan
Nb : Gambar di setiap bab hanya pemanis bukan visual setiap karakter.
~ HAPPY READING ~
|
Jarum jam tepat menunjuk ke angka delapan pagi di Hotel Azure. Di salah satu lorong area pelayanan, Leila sudah memegang erat gagang pel di tangannya. Dari sudut koridor, Arumi senior sekaligus pengawas staf melangkah mendekat, memperhatikan gerak-gerik gadis muda yang menjadi karyawan barunya itu.
"Lei, kamu sudah sarapan dulu tadi?" tanya Arumi ramah seraya menyilangkan tangan di dada.
"Sudah, Mbak! Tadi di dapur khusus staf," jawab Leila penuh antusias, menghentikan usapan pelnya sejenak. "Kandungan energi saya sudah penuh! dan tadi Pak Andri sempat memberi tahu saya kalau semua staf boleh makan, minum, atau ngopi di dapur khusus. Tapi kalau untuk permintaan layanan khusus dari para tamu VIP, tugas saya hanya mengantar makanan dari kitchen restoran hotel, tidak perlu membuat sendiri. Karena urusan meracik itu wewenang koki."
Arumi tersenyum puas melihat pemahaman dan semangat kerja gadis itu. "Benar banget. Bagus kalau kamu sudah paham alurnya. Selamat bekerja, Leila!"
"Semangat, Mbak!" sahut Leila tak kalah berapi-api, kembali menggerakkan pelnya dengan cermat menelusuri lantai marmer.
Sementara itu, tepat tiga puluh menit kemudian...
Dua unit mobil sedan hitam mewah beratap rendah meluncur mulus membelah gerbang besi kediaman keluarga Lauren. Begitu roda mobil berhenti sempurna di pelataran utama, pintu penumpang terbuka dan memperlihatkan sosok Alex Cassian Veradoux yang melangkah turun dengan aura kepemimpinan yang dingin dan amat mahal.
"Alex...?" gumam Meilin pelan dari balik jendela ruang tamu. Kakak sulung Helena itu mengerutkan dahinya heran melihat calon adik iparnya sudah menginjakkan kaki di rumahnya saat jarum jam baru menunjukkan pukul delapan lewat sedikit.
"Nona..." sapa salah seorang pelayan rumah yang melintas terburu-buru.
Meilin mengangkat satu tangannya, memberi perintah tegas. "Lanjutkan pekerjaan kalian. Tamu di luar biar saya yang urus sendiri."
"Baik, Nona Besar," jawab pelayan itu seraya membungkuk hormat lalu undur diri dari ruangan.
Meilin berjalan anggun menuju pintu utama, menyambut Alex yang berdiri di ambang pintu bersama sekretarisnya, Rayyan.
"Tuan Veradoux," sapa Meilin dengan nada suara yang sangat lembut, namun tersirat sindiran sarkastik yang tajam. "Ada gerangan apa pagi-pagi sekali sudah bertamu ke kediaman Lauren? Apakah Anda berniat menumpang sarapan di sini?"
Alex tidak terkecoh. Pria itu tetap berdiri tegap, membenarkan posisi kancing jasnya dengan sangat tenang. "Anda berpikir terlalu jauh, Nyonya Lauren. Kedatangan saya kemari murni untuk bertemu dengan tunangan saya. Hari ini saya akan membawa Helena pergi untuk memesan cincin tunangan yang baru."
Meilin menaikkan sebelah alisnya, mengulas senyum miring. "Oh... Helena? Sayang sekali, adik saya saat ini masih terlelap di kamarnya. Helena sangat kelelahan semalam gara-gara rentetan kejadian darurat yang penuh plot twist dan sulit ditebak. Jika Anda bersedia menunggu beberapa jam lagi, silakan duduk."
"Kalau begitu, bisakah Anda—"
"Tidak bisa. Maaf, Tuan Veradoux, saya tidak akan membiarkan siapa pun membangunkan Helena dari tidur nyenyaknya," potong Meilin cepat dan dingin, seolah-olah sudah bisa menebak arah pembicaraan Alex.
Alex menyempitkan matanya, hendak kembali membalas. "Siapa yang—"
"Euuughhhh..."
Sebuah suara lenguhan panjang dan malas mendadak terdengar dari arah tangga utama. Sosok gadis berambut agak acak-acakan perlahan-lahan melangkah turun dari anak tangga marmer. Gadis itu Helena alias Elia merenggangkan kedua tangannya ke atas, mengulur otot-otot tubuhnya yang kaku tanpa menyadari bahwa di ruang tamu sedang ada tamu penting yang memperhatikan tiap jengkal gerakannya.
Seketika itu juga, napas Alex tertahan di tenggorokan. Matanya terpaku kaku.
Pakaian tidur yang dikenakan Elia pagi itu berpotongan amat minim sebuah gaun malam tipis bertali spageti yang memperlihatkan lekuk bahu mulusnya serta potongan leher rendah yang memamerkan belahan dadanya secara terbuka. Di tambah gerakan peregangan tubuh yang dilakukan Elia, pemandangan itu mendadak terlihat sangat seksi dan menggoda.
Rahang Alex mengeras. Sebelum sekretaris di sampingnya sempat memproses apa yang dilihatnya, suara Alex yang berat dan penuh nada ancaman langsung memecah udara.
"RAYYAN! TUTUP MATAMU!" bentak Alex penuh penekanan.
Srettt!
Rayyan yang kaget refleks langsung menutup kedua matanya rapat-rapt menggunakan kedua telapak tangannya, bahkan sampai membelakangi tangga.
"HELENA!" teriak Meilin dengan nada suara melengking dan penuh kepanikan.
Panggilan nyaring sang kakak membuat kesadaran Elia seketika pulih. Matanya berkedip beberapa kali, lalu pandangannya beradu tepat dengan manik mata Alex yang menatapnya tajam tak berkedip.
"Paman ganteng...? Kok ada di—"
Kalimat Elia terhenti di udara. Pandangannya perlahan menunduk, menelisik penampilan tubuhnya sendiri dari atas ke bawah. Detik berikutnya, wajah Elia memerah padam bagai kepiting rebus.
"AAAAA! YA AMPUN!" jerit Elia histeris.
Gadis itu berbalik arah secepat kilat dan berlari kencang menaiki anak tangga kembali menuju kamarnya di lantai dua.
Brak!
Elia menyandarkan punggungnya di balik pintu kamar yang tertutup rapat, menutup kedua matanya rapat-rapt seraya menepuk jidatnya sendiri karena malu setengah mati. "Saking laparnya gue, sampai gak liat kanan-kiri! Mana ni baju rada terbuka lagi! Aarrghhh malu banget gue!"
Biasanya, di rumah keluarga Lauren pada pagi hari hanya ada para pelayan wanita dan Meilin. Jika Meilin tidak pergi ke kantor, Elia memang terbiasa turun hanya memakai pakaian santai tanpa peduli. Tapi siapa yang menyangka kalau jam delapan pagi sang paman ganteng sudah nongkrong di ruang tamu?!
Di ruang tamu bawah, suasana mendadak menghening dengan atmosfer yang sangat canggung. Alex melangkah tenang menuju sofa, lalu duduk menyilangkan kakinya seraya menyesap cangkir teh hangat yang baru saja disajikan oleh pelayan.
Namun di balik wajah luarnya yang dingin bagai es, batin Alex berkecamuk hebat.
‘Gadis nakal... Berani-beraninya dia berpenampilan sangat terbuka seperti itu di luar kamar?!’ geram Alex di dalam hatinya dengan emosi membumbung. ‘Dan Rayyan... gajimu bulan ini akan potong habis! Matamu sudah melihat sesuatu yang sama sekali tidak seharusnya kamu lihat!’
Sementara itu, Rayyan yang masih berdiri membelakangi sofa sambil menutupi matanya menangis meratapi nasib di dalam batin.
‘Haduh! Kenapa mata ku ga langsung meram aja tadi sih?! Melayang dah gaji bulan ini! Tolongin aku, Rayyanza... Bos kita makin posesif dan tidak berperikemanusiaan!’ jerit Rayyan dalam hati.
Meilin yang berdiri di tengah ruangan tiba-tiba melangkah mendekat dengan tatapan mata berapi-api, memecah keheningan yang sangat menusuk itu. "KALIAN LIHAT APA TADI?!"
"TIDAK ADA," jawab Alex singkat, tegas, dan tanpa kedipan mata sedikit pun.
Meilin mengalihkan pandangannya tajam, lalu menunjuk jari telunjuknya tepat ke arah Rayyan. "Kamu!"
Rayyan yang merasa terancam langsung memutar tubuhnya dengan tangan masih diposisikan di dekat wajah. "Maaf Nona Lauren, yang Anda maksud 'lihat' itu... lihat apa, ya? Saya dari tadi cuma lihat tembok kok!"
Meilin menatap Rayyan dan Alex secara bergantian dengan tatapan membunuh, sebelum akhirnya mengibaskan tangannya gusar. "Cih! Tidak ada! Lupakan!"
Tiga puluh menit berlalu dalam ketegangan yang tersembunyi.
Suara langkah kaki kembali terdengar dari arah tangga. Elia akhirnya keluar dari kamarnya. Kali ini, gadis itu mengenakan gaun kasual berwarna pastel yang rapi, imut, dan tertutup sopan, dipadukan dengan riasan tipis yang membuat wajahnya terlihat sangat segar.
Mata Alex kembali terpaku menatap sosok gadis itu. Namun hanya butuh waktu satu detik bagi Alex untuk langsung menguasai dirinya kembali dan memasang raut wajah datar yang dingin.
"Pak Alex," sapa Elia santai seraya berjalan mendekat dan tanpa ragu langsung mengambil posisi duduk di samping Meilin.
"Pak...?" ulang Alex. Wajah tampannya mendadak berubah masam secara drastis mendengar panggilan formal nan kaku itu.
Elia mengeripitkan matanya, pura-pura polos. "Jadi... harus panggil apa?"
‘Wkwkwk! Ngarep apa lu, Om? Ngarep gue panggil sayang lagi? Bayar seratus juta dulu sini!’ jerit Elia kegirangan dalam batinnya.
Alex menghembuskan napas pelan, mengalihkan pandangan. "Lupakan. Habiskan dulu sarapanmu, setelah itu kita pergi untuk memesan cincin tunangan yang baru."
"Lo... Eh, maksudnya, Anda pagi-pagi sudah sampai di kediaman saya cuma gara-gara urusan cincin?" seru Elia heran. Gadis itu langsung bangkit berdiri, melangkah cepat menuju meja makan, meraih satu tangkup roti tawar yang sudah diolesi selai cokelat serta satu gelas susu murni.
"Bukan hanya itu. Ada beberapa berkas kerja sama yang perlu tanda tangan kamu, Hel," jawab Alex tenang.
"Oh! Ya sudah, kalau gitu ayok!" jawab Elia dengan sangat enteng seraya mengunyah rotinya.
"Habiskan dulu sarapanmu dengan benar, Helena," tegur Alex.
"Udah, ayok Paman! Keburu siang!" ujar Elia tidak sabaran.
Tanpa memedulikan etiket atau rasa canggung, Elia langsung meraih dan menarik paksa lengan jas Alex, menyeret pria jangkung itu untuk berdiri dan berjalan bersamanya menuju pintu keluar. "Hari ini jadwal gue—maksudnya jadwal saya padat banget, jadi harus cepat!"
Alex yang biasanya sangat menjaga jarak dan tidak suka disentuh sembarangan, kini hanya bisa pasrah tubuhnya ditarik begitu saja oleh gadis berbadan jauh lebih kecil darinya itu.
Di belakang mereka, Rayyan dan Jeslin melotot tak percaya. Kedua bawahan setia itu saling bertukar pandang dengan mulut sedikit terbuka. Bos mereka pria paling intimidatif yang ditakuti di dunia bisnis sama sekali tidak memprotes saat tangannya ditarik-tarik seperti anak kecil!
Sementara Meilin yang berdiri di dekat sofa hanya bisa menepuk dahi, benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan ajaib adik bungsunya itu.
Bersambung 🫰🏻🤗
emang kamu dpt apa sih sistem kok gitu amadt, amadt aja gk gitu...
harusnya alex ngomong gitu wkwkwk
duh keinget kartun Syifa dari prindavan 😭