Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14.ISENG KIRIM FOTO

Siang hari di hari Selasa, suasana di SMA Garuda Mulia berlangsung tenang. Jam pelajaran Seni Budaya baru saja usai, menyisakan waktu istirahat yang cukup panjang sebelum jam pelajaran terakhir.

​Nadira duduk di bangkunya seraya memutar-mutar ponselnya. Pikirannya melayang pada percakapannya dengan Mama Rahmi di telepon kemarin malam. “Nadira, kamu itu jangan pemalu terus! Coba sesekali kasih kejutan buat Abi biar dia makin kleper-kleper sama kamu!” saran ibu mertuanya yang dramatis itu masih terngiang-ngiang jelas di telinganya.

​Di rumah, kotak-kotak lingerie berenda yang dibeli bersama Mama Rahmi masih tersimpan rapi di tumpukan baju bawah lemarinya. Nadira belum pernah sekalipun berani memakainya secara langsung di depan Abiyasa karena rasa malunya yang teramat sangat. Tapi siang ini, sebuah ide jahat dan iseng mendadak melintas di otak polos gadis SMA tersebut.

​Gimana kalau aku cuma foto bajunya... atau foto pas aku coba dikit di kamar pas Mas Abi lagi rapat? batin Nadira dengan jantung yang mendadak berdegup kencang.

​Saat jam istirahat makin sepi karena teman-temannya pergi ke kantin, Nadira teringat bahwa kemarin malam sebelum tidur, ia sempat iseng memfoto salah satu gaun lingerie sutra berwarna merah marun (burgundy) berenda transparan yang tergantung di gantungan baju kamarnya saat ia sedang mencoba ukuran bajunya di depan cermin besar—foto yang hanya memperlihatkan bahu mulus, leher jenjang, serta lekuk gaun seksi itu tanpa menampilkan wajahnya secara penuh.

​Dengan jemari yang gemetar hebat dan pipi yang sudah merona merah padam hanya karena membayangkannya, Nadira membuka galeri ponselnya. Ia menatap foto tersebut sejenak.

​"Aduh... berani nggak ya?" gumam Nadira panik pada diri sendiri. "Tapi kata Mama Rahmi, Mas Abi suka kalau dikasih kejutan..."

​Dengan dorongan keberanian dan keberadaan rasa iseng yang membuncah, Nadira menekan tombol bagikan, memilih kontak Abiyasa, lalu mengirimkan foto tersebut. Tak lupa, ia menambahkan sebuah pesan singkat bernada godaan polos di bawahnya.

​[Nadira]: Mas Abi... baju 'santai' yang dibeliin Mama Rahmi kemarin kayak gini ternyata. Bagus nggak kalau dipake nanti malam? 🙈🙈

​Send!

​Begitu tombol kirim tertekan, Nadira seketika memekik pelan, menutup wajahnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan. "Aaaaa! Nadira bodoh! Kenapa dikirim beneran?!" jeritnya panik, berniat menarik kembali pesan tersebut. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh layar, dua centang biru langsung muncul.

​Pesan itu sudah dibaca oleh sang CEO.

​Sementara itu, di lantai empat puluh gedung pusat Mahendra Group, sebuah rapat evaluasi investasi bernilai puluhan miliar rupiah sedang berlangsung di dalam ruang konferensi utama yang serba kaca.

​Abiyasa duduk di kursi kebesarannya di ujung meja oval. Pria itu mengenakan setelan jas hitam elegan, tangannya memangku dagu seraya menyimak penjelasan serius dari Direktur Operasional yang sedang melakukan presentasi di depan layar proyektor. Wajah Abiyasa tampak kaku, dingin, dan penuh aura intimidasi khas pimpinan tertinggi yang tak mentolerir kesalahan sekecil apa pun.

​Para direktur senior duduk tegang di kursi masing-masing, menahan napas setiap kali Abiyasa menggeser pandangannya.

​Tiba-tiba, ponsel pribadi Abiyasa yang tergeletak di atas meja di samping berkas laporan bergetar singkat.

​Abiyasa melirik layar secara kasual, mengira itu hanyalah pesan konfirmasi jadwal dari Hendra. Namun, begitu melihat nama "Nyonya Mahendra ❤️" tertera di layar, ia meraih ponsel tersebut dan membuka kuncinya.

​Layar ponsel menampilkan sebuah foto beresolusi tinggi.

​Mata cokelat gelap Abiyasa seketika membelalak lebar. Tangannya yang memegang ponsel membeku kaku di udara.

​Di dalam foto itu, terpatri gambar bahu mulus yang putih bersih, leher jenjang yang pernah ia cium, serta balutan kain sutra merah marun berenda transparan yang membingkai lekuk tubuh indah istri kecilnya dengan sangat sensual dan memikat. Ditambah lagi dengan pesan polos yang dikirimkan Nadira tepat di bawahnya.

​DEG!

​Darah Abiyasa serasa mendidih seketika. Gelombang panas yang dahsyat menjalar cepat dari dadanya naik ke seluruh tubuhnya. Jantung sang CEO yang biasanya berdetak stabil bak jam Swiss kini berpacu liar tak terkendali. Rahangnya mengetat keras, dan napasnya mendadak terasa berat.

​Seluruh ruangan rapat yang semula hening mendadak makin mencamkan ketika melihat perubahan drastis pada raut wajah sang CEO puncak. Muka Abiyasa memerah padat, dan pendar matanya memancarkan gelora yang sangat intens—sesuatu yang belum pernah disaksikan oleh siapa pun di ruangan itu.

​Direktur Operasional yang sedang presentasi di depan seketika menghentikan bicaranya, gagap dan gemetar. "P-Pak Abiyasa? Apakah... apakah ada data yang salah dalam laporan saya, Pak?"

​Abiyasa tidak menjawab. Pria itu dengan cepat mematikan layar ponselnya dan menggenggam benda itu begitu erat hingga jemarinya memutih. Ia memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa rasionalitasnya yang runtuh berantakan hanya karena sebuah foto dari istrinya.

​Hendra, yang berdiri di belakang kursi Abiyasa, menyadari kegentingan situasi tersebut. Ia membungkuk pelan di samping telinga bosnya.

"Pak Abiyasa? Anda tidak apa-apa?"

​Abiyasa berdiri tegak secara mendadak dari kursinya, menarik kancing jas mewahnya dengan gerakan cepat dan tergesa-gesa. Aura dominasi yang dipancarkannya siang itu begitu pekat hingga membuat seluruh direktur menundukkan kepala takut.

​"Rapat hari ini ditunda," pangkas Abiyasa dengan suara baritonnya yang sangat dalam, serak, dan penuh penekanan yang tak bisa dibantah.

​Para direktur saling pandang dengan raut wajah panik dan bingung. "Tapi Pak Abiyasa, agenda keputusan akuisisi lahan untuk proyek baru belum—"

​"Saya bilang ditunda, Pak Budi," potong Abiyasa tegas, menatap direktur itu dengan pendar mata yang membuat bulu kuduk berdiri. "Hendra, siapkan mobil sekarang."

​"B-baik, Pak Abiyasa!" sahut Hendra cepat, langsung bergerak membuka pintu ruangan.

​Tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang menatapnya heran dan panik, Abiyasa melangkah lebar keluar dari ruang rapat, meninggalkan gedung Mahendra Group dalam waktu kurang dari lima menit. Pikiran sang CEO saat ini sudah tidak lagi berada di ruang rapat atau investasi miliaran rupiah, melainkan sepenuhnya terkunci pada sosok gadis SMA yang nekat memicu singa yang sedang tidur.

​Di kelas 12 IPA 2, jam pelajaran terakhir baru saja usai sepuluh menit yang lalu. Bel pulang sekolah menggelegar lega.

​Nadira sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Sejak mengirimkan foto itu dua jam yang lalu, Abiyasa sama sekali tidak membalas pesannya. Tidak ada kata-kata, tidak ada stiker, tidak ada apa pun.

​Aduh... Mas Abi marah ya? Atau Mas Abi ilfeel sama aku? batin Nadira makin cemas dan menyesal setengah mati. Harusnya aku nggak dengerin saran Mama Rahmi! Kenapa aku bisa nekat banget sih?!

​"Nad, kamu kenapa sih dari tadi bolak-balik ngelihatin HP terus?" tegur Sheila seraya menyandang tasnya. "Ayo pulang bareng ke depan."

​"E-eh, iya Sheil. Ayo," sahut Nadira lesu.

​Namun, baru saja Nadira dan Sheila melangkah keluar dari pintu kelas menuju koridor, ponsel Nadira bergetar hebat di genggamannya.

Panggilan telepon masuk dari nama Abiyasa.

​Dengan jantung berdebar kencang, Nadira mengangkat panggilan itu seraya memperlambat langkahnya. "M-Mas Abi? Mas Abi sudah selesai rapatnya—"

​"Kamu di mana sekarang?" potong suara Abiyasa di ujung telepon. Suaranya terdengar sangat rendah, serak, dan berbahaya—sebuah nada suara yang belum pernah Nadira dengar sebelumnya.

​"A-aku... baru selesai kelas, Mas. Ini mau jalan ke gerbang—"

​"Jalan ke gerbang belakang sekolah sekarang," perintah Abiyasa tanpa jeda. "Pak Maman tidak menjemputmu. Saya sudah ada di dalam mobil di depan gerbang belakang."

​"Hah?! Mas Abi sendiri yang jemput?! Tapi kan ini baru jam dua siang, bukannya jadwal Mas Abi—"

​"Lima menit, Nadira," pangkas Abiyasa tegas sebelum menutup panggilan secara sepihak.

​Nadira membelalakkan mata menatap layar ponsel yang sudah mati. Rasa panik yang luar biasa seketika menyergap dadanya. "Sheila! Aku duluan ya! Ada urusan darurat!" jerit Nadira seraya setengah berlari meninggalkan sahabatnya yang melongo bingung.

​Di lorong sepi dekat gerbang belakang sekolah, sebuah sedan mewah berwarna hitam legam terparkir dengan mesin menyala.

​Nadira berlari kecil menghampiri mobil tersebut, membuka pintu penumpang belakang dengan napas terengah-engah, lalu meluncur masuk ke dalam kabin yang sejuk.

​"Mas Abi, maaf ya aku tadi iseng banget kirim—"

​Kalimat Nadira terputus seketika.

​Sebelum ia sempat merapikan posisi duduknya, lengan kekar Abiyasa yang terbalut kemeja yang sudah digulung hingga siku langsung meraih pinggang mungil Nadira, menarik tubuh gadis itu dalam satu gerakan cepat hingga Nadira berpindah duduk di atas pangkuan tegap suaminya.

​BRUK!

​Pintu mobil tertutup otomatis. Pembatas kaca kedap suara antara kursi pengemudi dan kursi belakang sudah dinaikkan sepenuhnya, mengisolasi mereka berdua dalam ruangan privat yang intim.

​"M-Mas Abi?!" pekik Nadira kaget, wajahnya yang berada hanya berjarak dua senti dari wajah Abiyasa seketika memerah padam.

​Abiyasa menatap istri kecilnya dengan pendar mata cokelat gelap yang berkilat intens—sebuah tatapan penuh gairah dan rasa kepemilikan yang mendalam yang membuat seluruh persendian Nadira mendadak melumpuh. Deru napas Abiyasa terdengar memburu pelan di leher Nadira.

​"Kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan siang ini, Nadira?" bisik Abiyasa dengan suara bariton yang sangat serak dan berat di depan bibir Nadira.

​"Aku... aku cuma iseng, Mas Abi... maafin aku..." cicit Nadira takut-takut, kedua tangannya bertumpu pasrah di dada bidang Abiyasa.

​"Iseng?" Abiyasa menyunggingkan senyum tipis yang terkesan sangat berbahaya sekaligus menawan. Jemarinya yang hangat dan kokoh naik mengelus leher jenjang Nadira, merayap perlahan ke bahunya yang tertutup seragam sekolah. "Kamu mengirimkan foto seksi seperti itu di tengah-tengah rapat direksi saya, lalu menyebutnya 'iseng'?"

​"A-aku nggak tahu kalau Mas Abi lagi rapat..." cicit Nadira lagi, matanya yang polos menatap suaminya penuh penyesalan.

​"Saya batalkan rapat investasi puluhan miliar hanya untuk pulang dan menemui pemilik foto ini," tegas Abiyasa, tatapannya makin menggelap. Tangannya di pinggang Nadira mengencang, menekan tubuh mungil itu makin rapat ke dekapannya. "Dan sekarang, kamu harus bertanggung jawab atas tindakan isengmu itu, Nyonya Mahendra."

​Tanpa memberi kesempatan sedikit pun bagi Nadira untuk membalas, Abiyasa menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Nadira dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, hangat, dan penuh dengan gairah yang telah lama ia tahan.

​Kecupan kali ini jauh berbeda dari kecupan-kecupan sebelumnya. Tidak ada lagi keraguan atau kelembutan yang lambat. Abiyasa menyesap dan menuntut bibir manis istrinya dengan sangat intens, menyalurkan seluruh hasrat cinta dan kepemilikan seorang pria dewasa terhadap wanita yang teramat dicintainya.

​Nadira membelalakkan mata sejenak karena terkejut oleh serangan penuh gairah itu, namun rasa hangat yang menjalar dari sentuhan Abiyasa dengan cepat melelehkan seluruh pertahanannya. Kelopak matanya terpejam, dan jemari kecilnya refleks menyusup ke balik tengkuk Abiyasa, meremas rambut hitam suaminya seraya membalas ciuman itu dengan kepolosan yang tulus.

​Di dalam kabin mobil yang mewah dan sepi di bawah naungan siang hari, sang CEO yang dingin telah sepenuhnya tunduk dalam dekapan istri kecilnya, membuktikan bahwa kepolosan dan cinta seorang gadis SMA mampu meruntuhkan takhta terkuat seorang Abiyasa Mahendra.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!