Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Sejak tanggal pernikahan ditentukan, rumah Kaizar berubah menjadi lebih ramai. Amira yang biasanya bisa menghabiskan pagi dengan membaca buku di ruang keluarga, sekarang hampir setiap hari didatangi orang yang membawa daftar keperluan.

Gaun sudah dipilih. Tempat sudah ditentukan.

Undangan mulai disiapkan. Bahkan menu makanan untuk acara pernikahan sudah beberapa kali ditawarkan kepadanya.

Amira sampai merasa kepalanya penuh hanya karena melihat begitu banyak kertas. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

"Menikah ternyata seribet ini."

Kaizar yang berada tidak jauh darinya masih sibuk membaca beberapa dokumen. "Yang menikah siapa?"

Amira menoleh. "Ya aku."

"Kalau begitu jangan mengeluh kepadaku."

Amira mengambil bantal lalu memeluknya. "Enak saja. Kamu tinggal duduk dan bilang setuju atau tidak."

Kaizar mengangkat wajah. "Kau ingin aku yang mengurus semuanya?"

Amira berpikir sebentar. "Kalau boleh."

"Baik."

Amira langsung tersenyum.

"Tapi..." Kaizar kembali menatap dokumen.

"Tapi apa?"

"Kalau semuanya kuurus, jangan salahkan aku kalau pernikahanmu nanti hanya dihadiri lima orang."

Amira mengerutkan hidung. "Kenapa?"

"Karena aku tidak suka keramaian."

"Jadi aku harus menikah dengan pria yang tidak suka pesta?"

"Ya."

"Kasihan sekali aku."

Kaizar menggeleng. "Belum menikah saja sudah banyak mengeluh."

Amira hendak membalas, tetapi seorang pelayan datang membawa sebuah kotak.

"Nona Amira, ini ada kiriman dari keluarga Wijaya."

Amira langsung memperhatikannya. "Dari rumah?"

"Iya."

Amira menerima kotak tersebut. Tidak ada nama pengirim. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah gaun. Warnanya indah. Potongannya juga terlihat mahal.

Amira mengangkat gaun tersebut. "Apa ini?"

Pelayan itu menggeleng. "Saya tidak tahu, Nona. Hanya diminta menyerahkannya kepada Anda."

Amira membaca secarik kertas yang terselip di antara kain. Untuk Amira. Semoga kau menyukainya.

Tidak ada nama. Namun Amira langsung tahu siapa yang mengirimnya.

"Alika..."

Kaizar memperhatikan dari tempatnya. "Hadiah?"

Amira mengangguk. "Mungkin."

Lalu ia membawa gaun itu ke kamar, namun ada hal yang terasa mengganjal untuk apa gaun itu diberikan.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Sore harinya, Amira mengenakan gaun pemberian Alika. Ia berdiri di depan cermin. Untuk beberapa saat, ia merasa gaun itu memang cantik. Potongannya pas. Warnanya juga lembut.

Tetapi ketika ia melihat dirinya lebih lama, ada sesuatu yang terasa mengganggu.

Gaun itu terlalu mencolok untuk acara keluarga kecil yang direncanakan Kaizar. Amira tetap keluar dari kamar. Saat melewati ruang keluarga, beberapa pelayan langsung memperhatikannya.

Salah satu dari mereka bahkan terlihat bingung. Amira menghampiri Kaizar.

"Bagaimana?"

Kaizar mengangkat wajah. Tatapannya berhenti beberapa detik.

"Siapa yang memilihkan?"

"Alika."

Kaizar melihat gaun itu sekali lagi. "Bagus."

Amira tersenyum. "Benarkah?"

"Tapi bukan untuk acara kita."

Amira mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Terlalu ramai."

Amira langsung teringat sesuatu. "Dia bilang ini khusus untukku."

Kaizar tidak menjawab. Amira memandang dirinya sendiri. "Aku kira dia cuma ingin membantuku."

Kaizar meletakkan dokumennya. "Kalau kau tidak nyaman, jangan pakai."

Amira mengangguk. "Ya sudah setelah ini aku lepas."

Ia hendak kembali ke kamar ketika salah satu pelayan masuk dengan tergesa-gesa. Karena di depan ada beberapa keluarga yang datang.

"Nona, maaf."

"Ada apa?"

"Beberapa tamu keluarga Abraham datang lebih awal. Mereka menunggu di ruang depan."

Amira menatap gaun yang dikenakannya. "Sekarang, kok mendadak banget.

Pelayan itu mengangguk. Amira langsung panik, bagaimana ia bisa mengganti gaun ini sementara keluarga Abraham sudah hadir tanpa sepengetahuannya.

"Astaga."

Kaizar menatapnya. "Pergantiannya nanti saja."

"Kenapa?"

"Karena mereka sudah datang."

Amira menghela napas. "Baiklah."

Mereka berjalan menuju ruang depan. Beberapa anggota keluarga Abraham memang sudah menunggu. Begitu melihat Amira, beberapa pasang mata langsung tertuju pada pakaiannya.

Seorang wanita yang lebih tua menatapnya beberapa saat. "Gaunmu..."

Amira tersenyum canggung. "Kenapa?"

Wanita itu tersenyum sopan. "Unik."

Amira langsung merasa tidak nyaman. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, wanita lain berbisik kepada temannya.

"Untuk acara pernikahan keluarga Abraham, seharusnya lebih sederhana."

Amira mendengarnya. Wajahnya terasa panas lalu kemudian ia menunduk.

"Maaf."

Kaizar yang berada di sampingnya langsung menoleh. "Untuk apa meminta maaf?"

Amira tidak menjawab. Wanita tadi buru-buru berkata, "Jangan salah paham. Kami hanya memberikan pendapat."

Kaizar menatap mereka. "Pendapat tidak perlu membuat seseorang merasa harus meminta maaf."

Ruangan langsung hening. Amira menatap Kaizar. Pria itu kemudian berkata kepadanya,

"Kalau kau tidak nyaman, naik dan ganti."

Amira mengangguk. "Baik."

Ia pergi meninggalkan ruangan. Dari kejauhan, salah satu pelayan memperhatikan kepergiannya. Tidak ada yang tahu bahwa gaun tersebut sebenarnya dipilih dengan sengaja. Bukan untuk membuat Amira terlihat cantik. Melainkan agar perempuan itu terlihat salah di tempat yang salah.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Malam harinya, setelah pertemuan keluarga tadi, Amira sedikit merasa lega, dan masalah gaun itu sudah terselesaikan dan dibicarakan namun tiba-tiba sekali handphonenya berdering, ternyata panggilan itu dari Alika.

"Mira?"

"Iya, Kak."

"Gaunnya sudah sampai?"

"Sudah."

"Bagaimana?"

Amira diam sebentar. "Bagus."

Alika terdengar lega. "Syukurlah."

"Tapi..."

"Tapi apa?"

"Sepertinya terlalu ramai untuk acara keluarga Abraham."

Alika tertawa kecil. "Benarkah? Aku justru pikir itu cocok untukmu."

Amira mengernyit. "Aku sempat merasa beberapa orang tidak menyukainya."

"Jangan dipikirkan."

"Aku harus memikirkan Kak, karena itu acaraku," sahut Amira.

"Tapi gaun itu pilihan terbaik loh, dan aku sendiri yang memesan, apa kamu mau menolak hanya gara-gara penilaian segelintir orang, padahal kan gaunnya bagus, kamu cantik memakai itu."

Amira tersenyum kecil. "Aku pikirkan nanti."

"Beneran ya," ucap Alika, tanpa ada yang tahu tangan perempuan itu mengepal karena mendengar ucapan penolakan halus dari adiknya itu.

Setelah telepon berakhir, Alika meletakkan ponselnya. Senyum di wajahnya menghilang.

Ia memang tidak pernah mengatakan kepada Amira bahwa gaun itu sengaja dipilih.

Tidak perlu.

Cukup membuat Amira mengenakannya di hadapan orang-orang yang mudah menilai.

Sisanya akan berjalan sendiri. Alika mengambil ponselnya lagi. Sebuah pesan masuk.

Bagaimana?

Alika mengetik singkat.

Belum selesai.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Di tempat lain, Ricki baru saja menerima kabar mengenai gaun yang dikenakan Amira.

Bukan dari Alika. Dari seseorang yang menghadiri pertemuan keluarga Abraham.

Ricki mengerutkan kening. "Amira dipermalukan?"

Ia berdiri. "Siapa yang melakukan?"

Tidak ada jawaban yang memuaskan. Ricki berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.

Seharusnya ia tidak peduli. Amira sudah akan menikah. Ia bahkan sudah bertunangan dengan Alika.

Tetapi mendengar Amira diperlakukan seperti itu membuat emosinya naik. Ponselnya kembali berbunyi. Sebuah foto masuk.

Amira terlihat berdiri di tengah beberapa orang dengan gaun yang baru saja dikirimkan Alika. Ricki menatap foto tersebut cukup lama.

Kemudian sebuah pikiran muncul. Aku harus bicara dengan Amira. Ia sendiri tidak tahu untuk apa. Mungkin hanya ingin memastikan Amira baik-baik saja. Atau mungkin ada alasan lain yang bahkan tidak ingin ia akui.

Ricki mengambil kunci mobil. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak Amira meninggalkannya, ia memutuskan untuk datang menemuinya. Tanpa tahu bahwa kedatangannya justru akan menjadi bagian dari rencana orang lain.

Bersambung...

1
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
Oma Gavin
semoga pernikahan kalian bahagia dan aku sumpahin pernikahan alika dan ricki bagaikan neraka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!