Semua persiapan telah disusun sedemikian rupa. Namun sang calon suami tidak datang ke acara pernikahan. Untuk menjaga kehormatan, suami pengganti pun di cari.
Kehidupan mereka setelah menikah dibumbui dengan adu argumen dan kekonyolan. Saat cinta itu mulai tumbuh, masa lalu datang.
Akankah mereka bisa bertahan?
Kuy baca aja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sripujiayu620, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 14
"Tuh kan aku bilang Kakak yang nikah sama Papa." Ucap Gio menghampirimu Dinda dan Deniel.
Dinda tersenyum getir menatap bocah tersebut. Masih ada kekecewaan yang teramat dalam di hatinya. Harusnya hari ini adalah hari bahagianya bermasa Bayu, namun kenyataannya salah.
"Dasar cengeng!" ucap Deniel pelan melihat air mata Dinda yang hampir menetes.
"Apaan sih! dasar Pak Duda sialan!" kesal Dinda langsung menyeka air matanya.
"Gio, kamu panggilnya Mama ya. Jangan panggil Kakak lagi." Ucap Mama Ratna mengusap-usap kepala bocah yang sekarang telah menjadi cucunya.
Gio menganggukkan kepalanya mengerti.
"Selamat ya Kakak Deniel, selamat juga buat Kak Dinda ya." Ucap Yulianti, adik dari Deniel.
Usai sudah pernikahan yang tidak sesuai ekspetasi itu. Baik Deniel dan Dinda tidak merasakan kebahagiaan sama sekali.
Kini malam telah tiba. Dinda hanya membawa beberapa lembar baju untuk pindah ke rumah suaminya itu. Padahal Dinda hanya ingin tinggal bersama keluarganya saja,namun paksaan kedua orang tuanya lah membuat Dinda harus tinggal bersama Deniel.
"Woi kampret,sakit tau!" bentak Dinda dari dalam kamar pengantin.
"Ini dikit lagi udah mau masuk pe'a!" kesal Deniel.
"Aaawwww! pelan-pelan dong!" pekik Dinda.
"Udah tau kekecilan masih aja dipaksain!" bentak Deniel.
Di samping itu, Yuli sedang menguping malam pertama sang Kakak. Dengan senyam-senyum ia membayangkannya. Kali ini otak Yuli lancar ya bun.
"Gila tuh Kak Deniel main kasar," batin Yuli tertawa pelan sambil menyenderkan kupingnya pada pintu.
"Katanya gak saling cinta, eh tapi nyosor aja rupanya. Wajarlah Kak Deniel kan udah lama gak dapat enak-enakan, hahahaha." Batin Yuli tertawa ngakak.
"Eh Non, ngapain disini?" ucap Mbok Ijah mengagetkan Yuli.
"Eh si Mbok ngagetin aja." Kaget Yuli.
"Ngapain Non di depan kamar Tuan?" selidik Mbok Ijah sambil menyipitkan matanya.
"Anu…eh anu itu…ah sudahlah Mbok jangan banyak nanya. Sekarang buatin aku makan malam aja deh. Ayo Mbok!" ucap Yuli salah tingkah.
Dengan cepat Yuli langsung menuntun Mbok Ijah menuju dapur.Mbok Ijah bingung dengan tingkat Yuli yang gelagatnya sangat mencurigakan itu.
"Mbok Ijah gangguin aja. Apes emang kalau lagi enak nguping yang begituan." Batin Yuli dengan wajah masamnya.
Apa yang didengar Yuli tadi sesuai dengan kenyataan?
Kejadian sebenarnya.
Di dalam kamar, Dinda sibuk memasang sepatu hadiah pernikahan dari temennya.
"Sepatu itu kecil mana muat!" ucap Deniel risih dengan kesibukan Dinda yang memaksa masuk kedalam kaki indahnya.
"Muat kok ini," balas Dinda bersikeras.
Deniel memutar bola matanya kesal. "Si Congek ini, udah tau gak maut masih aja dipaksain!" ucap Deniel membatin dalam hati.
"Heh jangan liat aja, bantuin dong!" pinta Dinda.
"Nyusahin aja sih!" kesal Deniel langsung membantu Dinda memasang sepatu yang jelas-jelas jauh lebih kecil dari kaki Dinda.
"Woi kampret,sakit tau!" bentak Dinda memukul bahu Deniel.
"Ini dikit lagi udah mau masuk pe'a!" kesal Deniel menatap jengah pada Dinda.
"Aaawwww! pelan-pelan dong!" pekik Dinda.
"Udah tau kekecilan masih aja dipaksain!" bentak Deniel.
"Udah-udah, gak udah deh.Emang sepatunya itu gak bakalan muat juga." Ucap Dinda merasakan sakit pada kakinya.
"Nah dari tadi kek gitu!" balas Deniel langsung melangkah kakinya berjalan menuju kasur empuknya.
"Aduh, gila si Deniel!" batin Dinda mengusap-usap kakinya.
"Minggir, aku mau tidur!" pinta Dinda.
"Kenapa aku yang harus minggir? ini kamarku!" ucap Deniel tak mau kalah.
"Ini juga kamar ku! jadi kau tidur dibawah saja!" bentak Dinda tak mau kalah berseteru dengan Deniel.
"Aku tidak akan pergi dari kasur nyamanku!" ucap Deniel berguling-guling di kasur yang sangat luas itu.
"Ku sumpahin tuh nanti kuburannya penuh sama kasur!" kesal Dinda mengucapkan sumpah serapahnya.
Dinda kemudian membaringkan tubuhnya pada sofa panjang yang ada di kamar. Ingin tidur dikamar lain, namun niat tesebut ia urungkan. Jika Yuli melihatnya, bisa-bisa Dinda diejek habis-habisan olehnya.
Dinda memang cukup akrab dengan Yuli. Terlebih lagi umur mereka yang terpaut tidak jauh.
"Aduh! bisa dikecilin gak tuh volumenya!" kesal Dinda melihat Deniel menonton televisi dengan suara yang sangat nyaring.
Dinda yang sudah hampir hanyut tidur pun menjadi tidak bisa gara-gara Deniel. Ayah satu anak itu memang sengaja melakukannya untuk mengerjai si congek itu.
Deniel tersenyum kemenangan melihat Dinda yang tidak bisa tidur sama sekali. Dinda sudah menutup kedua telinganya dengan bantal namun itu hanya sia-sia saja.
Dinda beranjak dari posisi berbaring dan langsung mematikan televisinya. "Heh lancang sekali kau ya!" tegur Deniel.
Dinda menatap kesal Deniel. Dengan perlahan ia menghampiri Deniel dan ya dengan cepat ia langsung mengambil remote yang berada ditepi kasur.
Dinda langsung kembali merebahkan tubuhnya pada sofa panjang itu kembali. Dinda menyimpan remote tersebut dibawah bantalnya.
"Sialan!" teriak Deniel dan langsung memejamkan matanya untuk tidur.
"Akhirnya." Batin Dinda merasa cukup tenang.
Like, komen, dan vote.