Giovanni El Nino adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai pekerja seni di dunia hiburan, namun karena kepribadiannya yang angkuh dan tak acuh terhadap sesamanya membuat sang ayah terpaksa menjadikannya seorang guru di SMA Harapan Bangsa dengan harapan anaknya mengalami perubahan sikap yang lebih baik.
Akan tetapi tetap saja, kepribadian Nino tidak juga berubah, justru ia menjadi guru yang dibenci oleh murid-muridnya.
*****
Rhodophyta Algavian seorang pemuda yang lugu namun cerdas, selalu menjadi bahan perundungan teman-temannya di SMA Harapan Bangsa.
****
Suatu ketika hal besar menimpa Nino, ia mengalami kecelakaan hebat dan diberikan kesempatan oleh malaikat untuk memperbaiki hidupnya dan berbuat baik dengan masuk ke dalam tubuh Vian dan mengubah hidup pemuda tersebut.
Apakah Nino akan berhasil membantu Vian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Diaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Romantis yang Gagal
Seperti yang dikatakan oleh sang ayah sebelumnya, Vian berusaha bangkit dan mencoba mendapatkan hati Anna kembali, sungguh pemuda yang sangat gigih.
Pagi ini Vian sudah berada di sekolah dengan senyum sejuta watt yang tersungging di bibirnya.
Sampai di bangkunya, ia melihat Anna sedang membaca buku, “Anna, Do you wanna build a smowman!?"
Anna hanya menatap Vian dengan tatapan aneh, “Kau salah sarapan pagi, ini?" Lagipula seharusnya kau memanggil Elsa, bukan Anna."
“Akan tetapi di sini tidak ada yang bernama Elsa, adanya Anna dan itu adalah dirimu," ujar Vian.
“Sepertinya baru kemarin kita keluar bersama, kau sudah semakin aneh saja." Anna menyiapkan buku pelajarannya. “Kau tidak duduk?"
Seolah tersadar karena ia bersikap konyol di depan sang pujaan hati, ia hanya tersenyum tidak jelas dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Makanlah! Aku tahu kau tidak sarapan pagi ini." ujar Anna sambil menyodorkan bekalnya, Vian pun dengan semangat 45 membuka bekal dari Anna. “Wah, Omurice!"
Anna hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vian yang seperti anak berusia 5 tahun.
“Kau memasaknya sendiri untukku, wah! Aku tidak menyangka, kalau begini, kan aku jadi makin cin—" ucapan Vian terputus karena tiba-tiba Anna memasukkan satu suapan Omurice ke dalam mulut Vian dengan kasar.
“Sudah makan saja, kau ini makan saja terlalu banyak pidato!" sentak Anna.
“Uhuk-uhuk. Kau ini kasar sekali, kalau aku meninggal karena tersedak sendok bagaimana!?" sungut Vian.
“Puji Tuhan," jawab Anna sekenanya.
“Dasar Maleficent!" cibir Vian, Anna hanya mengibaskan rambutnya kemudian memasang headset untuk mendengarkan lagu.
Melihat Anna yang kembali dingin dan cuek padanya membuat Vian bersungut-sungut dalam hati.
“Katanya perempuan itu makhluk peka, mana buktinya? Nyatanya Anna saja tidak peka pada perasaanku," batin Vian menggerutu.
“Ha-ha-ha... Ha-ha-ha..."suara tawa menggelegar dari dalam dirinya.
“Jangan menertawakanku!" ujar Vian kesal.
“Itu karena kau sangat payah!" cibir Nino.
“Memangnya Bapak pernah pacaran?" tanya Vian.
“Tentu saja sudah," jawabnya pongah.
“Daripada meledek lebih baik Bapak membantuku," ujar Vian.
“Itu sama saja kau tidak berusaha, Anak Muda," jawab Nino.
Mendengar jawaban Nino membuat Vian mendung seketika.
🎶 So say you want me cause I'm Down! (Down.. down.. down..) Yeah.. yeah.. yeah.. eh yeah... So say you want me cause I'm Down, can you hear me? (Ooh)
Lagi dan lagi Vian dibuat terkejut oleh Anna dengan suara melengkingnya.
“Konser dadakan lagi," gumam Vian.
“Wow, highnote-nya luar biasa!" kagum Nino.
“Na, please ini masih pagi, jangan konser dadakan!" protes Vian.
“Justru karena ini masih pagi, aku bisa bernyanyi sepuasnya," jawab Anna sambil kembali bernyanyi, “oh, ya ampun Shim Changmin tampan sekali!"
“Masih tampan aku, daripada Cangcimen itu," dengus Vian.
“Changmin. Shim Changmin, bukan cangcimen!" protes Anna tak terima. Maklum saja, Anna merupakan penggemar nomor satu Shim Changmin, salah satu anggota grup Dewa dari Timur.
“Mana, aku lihat," ujar Vian.
Ia melirik ponsel Anna yang sedang menampilkan artis idolanya.
“Benar yang namanya Changmin itu tampan, sama sepertiku, bahkan wajah kami seperti anak kembar," ujar Vian dengan percaya diri yang tinggi.
Anna mengerutkan kening, “Benar-benar salah minum obat," pikirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi sudah berganti siang, perut sudah melakukan paduan suara untuk minta diisi ulang.
“Vian, hari ini kau sibuk?" tanya Anna.
“Tidak, memangnya kenapa?"
“Bagaimana kalau sore nanti kita menonton?" ajak Anna.
“Eh, tumben sekali?" tanya Vian sedikit heran.
“Aku hanya sedang ingin keluar saja, dan kebetulan ada film yang bagus di bioskop nanti," jawab Anna.
“Film apa?"
“Bohemian Rhapsody."
“Ah, film itu, ya.. ya, baiklah kita akan menonton sore nanti," jawab Vian. Anna mengangguk senang.
Sementara Vian sudah kegirangan dalam hati, “Yes! Akhirnya bisa kencan juga."
Saat mereka sedang berjalan menuju kantin sembari mengobrol santai ada seorang adik kelas yang menghampiri Vian dengan dalih minta diajari materi pelajaran yang kurang jelas. Karena Vian adalah sosok yang baik hati dan tidak sombong, tentu ia dengan senang hati membantu.
Melihat Vian sedang sibuk mengajari, Anna berinisiatif untuk ke kantin lebih dulu untuk menyelamatkan perutnya yang sudah keroncongan.
Vian yang mengajari adik kelasnya dengan sabar tak menyadari kedatangan Dea yang sudah berada di dekatnya, begitu juga dengan si anak kelas X.
“Ekhm.. kau ini jangan sok cari perhatian, ya. Aku tahu, kau sebenarnya sudah paham apa yang diajarkan Vian, bukan?" suara Dea menginterupsi kegiatan mereka.
“Apa maksudmu, Dea? Dia benar-benar tidak memahami materinya, tentu saja aku menjelaskan padanya supaya dia bisa memahami materi pelajaran dengan baik," jawab Vian.
“Dia ini hanya sedang berpura-pura untuk menarik perhatianmu saja, Vian. Tidakkah kau mengerti?"
“Apa maumu?" tanya Vian pada mantan kekasihnya itu dengan suara datar.
“Kau ini kekasihku, dan dia berusaha menggodamu, wajar bukan jika aku marah?" ujar Dea.
“Benarkah, aku kekasihmu? Dengar, hatiku ini bukanlah mainanmu Dea yang bisa kau buang dan kau pungut kapan saja saat kau butuh. Kau sudah membuangku waktu itu dan memilih Bobby menjadi kekasihmu. Tidakkah kau mengingat semua itu, lantas sekarang mengapa kau mengklaim bahwa aku kekasihmu? Aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun padamu,—"
“—jadi tolong berhentilah mempermalukan dirimu sendiri," jelas Vian.
“Kau jahat, Vian!" pekik Dea sambil berurai air mata.
“Aku hanya bicara sesuai kenyataan yang ada," timpal Vian tak acuh.
Kejadian ini tak luput dari pandangan para siswa yang berada di koridor. Mereka hanya memandang sinis pada Dea yang tak memiliki harga diri. Merasa malu, Dea pun pergi dari sana.
Sepeninggal Dea, tak lama kemudian Anna pun muncul dengan wajah bingungnya, “Kurasa aku ketinggalan sesuatu."
“Dan itu bukanlah hal yang penting," Vian menimpali ucapan Anna.
”O-oke baiklah," jawab Anna masih dengan wajah bingungnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya sesuai janji, Vian menjemput Anna untuk menonton. Ia sudah berpenampilan tampan, rapi, dan menarik, yang pastinya dapat memikat kaum hawa.
Mereka sudah tiba di bioskop, kali ini Anna bersikeras membeli tiketnya, sedangkan Vian membeli popcorn.
Kini giliran mereka yang memasuki pintu teater dan memilih tempat duduk berada di tengah. Pada kenyataannya, film yang dikatakan oleh Anna, bukanlah film Bohemian Rhapsody, tetapi sebuah film horor.
Beberapa kali Vian menjerit histeris kala hantu dalam film tersebut muncul, bahkan tangannya yang sedang memegang popcorn itu terlihat gemetar hebat.
Bagaimana dengan Anna?
Oh, gadis itu justru tertawa terpingkal-pingkal karena melihat ekspresi ketakutan Vian yang amat lucu baginya.
“Ah, aku tidak ingin menonton ini lagi!" teriak Vian merasa ketakutan.
Sementara itu Anna masih saja tertawa karena film dan juga tingkah Vian, sungguh selera humor Anna sangat tidak lazim. Apanya yang lucu dari sebuah film horor, mengapa ia bisa tertawa lepas kala menyaksikan film tersebut?
“Ibunya pasti salah mengidam saat sedang mengandung dirinya," begitulah pikir Vian.
“Pak Nino tolong aku!" batin Vian menjerit minta tolong.
Tak ada sahutan.
Mari kita lihat apa yang dilakukan Nino dalam diri Vian. Ternyata dia sedang tertidur dengan pulasnya, pantas saja tidak ada sahutan.
Hingga film telah berakhir Vian masih saja merasa takut. Mereka keluar dengan Vian yang sudah berkeringat dingin, wajahnya terlihat pucat, seolah nyawanya hendak dicabut secara paksa.
“Pokoknya aku tidak mau menonton film horor lagi!" marahnya pada Anna.
Anna hanya terkekeh, “Iya-iya maafkan aku, kau ini lucu sekali!"
Grep.
Dengan tiba-tiba Vian memeluk Anna karena masih merasa takut, tubuh Anna dibuat membeku dengan perlakuan Vian.
“Vi-Vian," panggil Anna dengan suara terbata.
“Biarkan seperti ini dulu sampai aku tenang," suara Vian menyahut. Anna yang tidak tahu harus melakukan apa, hanya bisa pasrah.
“Maafkan aku," sesal Anna.
Vian semakin mengeratkan pelukannya.
Nino yang menyaksikan kejadian tersebut hanya mendengus, “Penonton kecewa, ini bahkan masih jauh dari kata romantis, menurutku."
dah ga kuat hdup di dunia makanya buat ulah dulu sebelum ke alam lain
agak lain nih anak