Halo,
Terima kasih udah klik dan mau baca kisah Bianca dan Arya.
Cerita ini berangkat dari satu pertanyaan sederhana: berapa lama sih kita bisa bertahan di hubungan yang nggak jelas statusnya? Empat tahun cukup nggak buat nunggu seseorang berani ngomong “aku serius sama kamu”?
“Cincin yang Terlalu Sesak” bukan cuma soal cinta. Ini soal keberanian, soal diam yang nyakitin, dan soal perempuan yang akhirnya milih harga dirinya dari pada terus nunggu.
Aku nulis cerita ini karena aku percaya banyak dari kita pernah ngerasain sesak itu. Ngerasa udah berjuang sendiri, udah sabar setengah mati, tapi pasangan masih takut buat maju selangkah.
Semoga lewat Bianca dan Arya, kamu bisa nemuin jawaban buat dirimu sendiri. Mau terus nunggu, atau berani lepas?
Selamat membaca,
dan jangan lupa bawa tisu :)
Salam,
[ Shizukka ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizukka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Masa lalu
Seminggu setelah USG, rumah Arya-Bianca lagi adem.
Sampai HP Bianca rame karena grup *"SMPN 2 MALANG 2012 - REUNI AKBAR"*
> *Salma*: Hai semuaaa
Kangen banget. Yuk kita agendain reuni ya. @Arya Lama nggak ketemu nih
Darah Bianca langsung dingin. Salma. Mantan gebetan SMP Arya.
Bianca tutup HP. Diam.
---
Besoknya, karena penasaran yang nyakitin, Bianca buka HP Arya pas dia lagi mandi.
Dan dia nemu chat lama sama *Fitri*.
> *Fitri*: Mas\, jadi kan kita ke Batu minggu depan?
>.*Arya* sama adekku juga ya\,biar ada temennya"
Jempol Bianca berhenti di situ.
Bianca inget. 2 tahun lalu, dia pernah demam tinggi sampai 39°C, muntah-muntah, dirawat di rumah 3 hari. Waktu itu Arya bilang "lembur kantor, nggak bisa nemenin".
Ternyata... lemburnya ke Taman Wisata Batu. Sama cewek lain. Bertiga sama keponakan.
Dadanya sesek.
---
Arya keluar kamar mandi. Bianca langsung hadang pake HP.
“Mas, jelasin ini!”
Arya liat layar. Wajahnya langsung pucat. “Bi...”
“Kamu bilang waktu itu mau ngajak aku sama Ida ! Tapi kamu ke Batu sama Fitri! Pas aku demam 39 derajat sendirian di rumah!” Suara Bianca pecah.
Arya diem. Keringat dingin. “Bi, dengerin aku dulu.”
“Nggak! Kamu bohong, Ya! Kamu ninggalin aku sakit, terus jalan sama cewek lain!” Bianca nangis.
“Iya, aku ke Batu. Tapi beneran bertiga sama Ida. Aku nggak macem-macem.” Arya buru-buru jelasin.
“Terus kenapa bohong bilang lembur?! Kenapa nggak jujur aja, Ya?!”
Arya nunduk. “Karena... karena aku takut kamu marah. Kamu waktu itu emang udah agak mendingan, kata Ibu. Aku mikir sebentar doang nggak apa-apa. Aku salah, Bi. Aku minta maaf.”
“Terus Salma?!” Bianca nunjuk HP yang masih kebuka grup reuni. “Mantan gebetan kamu ngetag kamu kangen-kangenan! Kamu seneng kan?”
“Enggak, Bi! Salma itu SMP. 10 tahun lalu. Nggak pernah jadian!” Arya frustasi, megang kepalanya.
Bianca mundur. Tangannya megang perut yang udah mulai keliatan. “Aku lagi hamil, Mas. Aku gampang kepikiran. Terus aku tau suami aku pernah bohong pas aku paling butuh.”
“Bi, sumpah itu terakhir. Aku hilaf waktu itu. Aku bodoh.”
“Buat aku itu luka,Ya !” teriak Bianca, terus lari ke kamar, banting pintu.
---
Di dalam kamar, Bianca nangis sejadi-jadinya. Bukan cuma cemburu. Tapi ngerasa dikhianati pas paling lemah.
_Dia demam\, muntah\, sendirian. Sementara suaminya ketawa-ketawa di Batu._
Dari luar, Arya duduk di depan pintu. “Bi, aku nggak minta dimaafin sekarang. Aku tau aku ngaco. Aku egois. Tapi tolong, jangan bawa debay kita ke luka aku yang dulu.”
Nggak ada jawaban. Cuma suara isakan.
Lama banget, pintu kebuka dikit. Mata Bianca merah. “Kenapa harus sekarang aku taunya, Ya? Kenapa nggak dari dulu jujur?”
Arya ngusap air matanya pake jempol. “Karena aku pengecut, Bi. Aku takut kehilangan kamu sebelum kita nikah. Dan sekarang aku takut kehilangan kamu sama debay.”
Bianca diem. Lama.
“Grup reuni itu gimana?” tanyanya pelan.
“Gue tolak.” Arya langsung buka HP, ngetik di depan Bianca.
> *Arya*: Maaf semua\, aku nggak bisa ikut reuni. Istriku lagi hamil dan aku nggak mau ninggalin dia lagi. Titip salam buat Salma.
Dia nunjukin ke Bianca. “Tuh. Jelas ya. Aku milih kamu. Milih kita.”
Bianca liat chat itu. Napasnya masih sesenggukan. “Terus Fitri?”
“Udah aku blok. Kontak, IG, semua. Dari 2 tahun lalu juga udah nggak kontekan lagi, Bi. Sumpah.”
Bianca akhirnya peluk Arya. Kenceng. Nangis di bahunya. “Sakit, Ya..”
“Iya. Aku tau. Dan aku yang bikin sakit. Maafin aku ya.” Arya elus punggungnya. “Mulai sekarang nggak ada rahasia lagi. Kamu mau cek HP aku kapanpun, silakan.”
Malam itu mereka tidur pelukan. Nggak baikan total, tapi udah mulai jahit lukanya.
Sebelum merem, Bianca bisik, “Janji ya Pas aku sakit lagi nanti, kamu nggak ninggalin aku buat ke Batu.”
Arya cium keningnya. “Janji. Seumur hidup. Kemana-mana kita bertiga. Kamu, aku, sama debay.”