"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
"Bi, Ibu pergi pengajian dulu. Nanti jangan lupa kasih makan anak-anakmu," pesan Bu Marni.
Akbar yang mendengar kata pengajian langsung melompat berdiri dari karpet depan TV. "Nenek, Akbar mau ikut!" serunya sambil berlari kecil mendekati Bu Marni.
Bu Marni tertawa kecil menggelengkan kepala, dengan cepat menolak keinginan cucunya itu. "Nggak usah, di sana ibu-ibu saja nanti. Mau nanti Akbar dicium-cium di sana sama ibu-ibu?"
Mendengar ancaman bakal dicium-cium ibu-ibu pengajian, Akbar langsung mengurungkan niatnya.
Dari sudut karpet, Aqil memiringkan kepalanya dan berteriak polos dengan lidah cadelnya. "Bawa makanan ya, Nenek!"
Bu Marni menyunggingkan senyum hangat melihat kepolosan kedua cucunya. "Yo wes, nanti Nenek bawakan berkat buat kalian. Ibu berangkat dulu ya."
"Nggeh, Bu, hati-hati," sahut Abi dari dalam.
Di ruang tengah, suasana terasa makin tenang. Arya sudah ikut bergabung, duduk bersandar santai di sofa. Nadia duduk tepat di sampingnya, dengan penuh telaten dan hati-hati membantu mengganti perban di bahu kiri suaminya.
Nadia yang baru saja selesai merekatkan plester terakhir di bahu Arya, mendongak dan menatap kakaknya.
"Mas Abi... nggak ada niatan nikah lagi?" tanya Nadia santai.
Abi menghela napas panjang, lalu melirik Nadia dengan tatapan malas. "Pertanyaanmu itu, Dek... Nggak ada yang lain apa?"
"Kan aku cuma nanya, Mas," sahut Nadia tak mau kalah sambil merapikan sisa kasa steril ke dalam kotak obat.
"Udah tiga tahun lebih Mas jadi duda. Ngga ada niatan nyari mama baru buat Akbar sama Aqil?"
"Kamu kira nikah itu mudah, tinggal pilih gitu aja?" sahut Abi datar.
"Cari istri itu bukan cuma buat Mas, Nad. Tapi cari ibu yang benar-benar tulus sayang dan mau terima Akbar sama Aqil apa adanya. Nggak semudah itu."
Arya yang mendengarkan pembicaraan itu tersenyum tipis. Tangannya merangkul pelan pinggang Nadia yang masih duduk di sampingnya, lalu ikut menimpali ucapan Abi.
"Betul kata Mas Abi, Nad. Menikah lagi apalagi sudah punya anak dua itu pertimbangannya panjang. Harus nanya ke Akbar sama Aqil juga, mereka nyaman atau enggak."
Nadia mencebikkan bibirnya, menatap sang suami lalu kembali melirik Abi. "Ya tapi kan dicoba dulu, Mas. Buka hati sedikit. Masa mau menjomblo terus sampai tua? Di desa ini kan banyak gadis atau janda yang baik-baik. Itu tadi si Kayla contohnya, makin cantik aja dia."
Abi mendengus geli mendengar nama Kayla tiba-tiba diseret ke dalam obrolan. "Ngomongnya asal tajam aja kamu, Dek. Kayla itu masih muda, masa mau disuruh ngurusin duda anak dua kaya Mas?."
"Sudah, tak usah ngurusin jodoh Mas," potong Abi.
"Mending kamu urus tuh suamimu."
Abi melangkah mendekati Akbar dan Aqil yang masih sibuk main mobil-mobilan di karpet, walau mata mereka mulai kuyu.
"Bar, Qil, ayo bereskan mainannya. Kita makan dulu," ajak Abi sambil menepuk pelan pundak Akbar.
Akbar mendongak sambil menatap ayahnya polos. "Makan apa, Ayah?"
"Ya makan nasi, maunya makan apa?" jawab Abi santai.
"Mau pizza, Ayah!" sahut Akbar cepat. Aqil yang mendengar kata pizza langsung ikut-ikutan mengangguk mantap.
Abi mendengus geli sambil menggelengkan kepala. "Kamu kira ini kota ada pizza nya? Sudah, ayok makan yang dimasak Nenek tadi aja."
Keesokan paginya, suasana di rumah Abi terasa sangat riuh dan kacau. Sejak semalam mereka memang sudah kembali ke rumah sendiri, namun musibah kecil datang beruntun. Listrik padam total sejak dini hari, pompa air mati, dan stok air di kamar mandi benar-benar tandas. Tambah pusing lagi melihat tumpukan pakaian kotor anak-anak yang makin menggunung.
Abi mengusap wajahnya yang masih kusam, lalu berteriak memanggil dua jagoannya dari arah ruang tengah.
"Akbar! Aqil! Sini sebentar, bantu Ayah!" panggil Abi sambil menggelar sebuah karung beras berukuran besar di atas lantai.
Kedua bocah itu berlari-lari kecil mendekat. Akbar masih mengucek matanya yang lengket, sementara Aqil berjalan sempoyongan menahan kantuk.
"Masukin semua pakaian kotor yang di keranjang itu ke dalam karung ini. Cepat," suruh Abi sambil memilah-milah baju yang berserakan.
"Kita mau ke rumah Nenek lagi."
Akbar dan Aqil langsung bergerak sigap, menjejalkan kaos, celana pendek, hingga kain-kain kotor ke dalam karung besar sampai padat.
"Nanti kita mandi di sana ya, Yah?" tanya Akbar mendongak sambil mendorong baju terakhir ke dasar karung.
"Iya," sahut Abi singkat sambil mengikat kencang mulut karung tersebut.
"Sama cuci baju sekalian di sana. Di sini airnya mati total, lampu juga belum nyala."
Dengan karung baju kotor terikat rapi dan diangkut di atas motor, Abi membonceng Akbar dan Aqil menembus udara pagi menuju rumah Bu Marni.
Namun, begitu roda motor berhenti di halaman, harapan Abi langsung pupus. Rumah Bu Marni tampak gelap gulita, sama persis seperti rumahnya.
"Lho, Bu... di sini mati lampu juga?" tanya Abi pasrah begitu melihat Bu Marni keluar membawa ember kecil dari samping rumah.
"Iya, mati lampu se kecamatan dari subuh tadi," sahut Bu Marni sambil menghela napas.
"Air di bak cuma sisa sedikit. Cuma cukup buat mandi Nadia, kasihan dia lagi hamil tua kalau suruh repot-repot."
Akbar dan Aqil saling pandang, langsung lemas memegangi karung baju kotor yang tergeletak di teras.
"Terus kita mandi di mana, Nenek?" tanya Akbar memanyunkan bibirnya.
Bu Marni menunjuk ke arah jalan setapak menuju belakang desa. "Ke sungai sana saja sama anak-anak sekalian nyuci baju. Tadi Arya juga mandi di sana kok, airnya lagi jernih dan lancar."
Abi akhirnya mengalah. Ia memikul karung baju kotor di bahu kanannya, sementara tangan kirinya menuntun Aqil. Akbar berjalan dengan gagah di depan sambil membawa tempat sabun dan dua helai handuk kecil.
Untuk sampai ke sungai, mereka harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak desa. Jalurnya melewati permukiman warga yang mulai ramai aktivitas pagi, menyisir pematang sawah yang menghijau dengan hembusan angin segar, lalu sedikit menurun melewati jalan tanah yang agak licin hingga sampai di area sungai.
Sungai di desa itu tampak begitu asri. Alirannya jernih memperlihatkan kerikil di dasarnya, dihiasi banyak batu-batu besar yang kokoh, dan arus airnya tergolong tenang serta tidak terlalu deras, sangat aman untuk anak-anak.
Di pinggir sungai, tampak beberapa warga desa yang baru saja selesai mencuci baju dan mandi. Pak RT dan Mbah Slamet yang sedang menjinjing ember cuci pakaian menoleh begitu melihat rombongan Abi datang.
"Lho, Mas Abi! Mau mandi sama nyuci di sungai juga?" sapa Pak RT ramah sambil menghentikan langkahnya.
"Nggeh, Pak RT. Rumah mati air sama mati lampu dari subuh tadi," sahut Abi sambil tersenyum dan menurunkan karung bajunya ke atas batu datar.
"Sama, di tempatku juga mati!" timpal Mbah Slamet sambil tertawa kekeh. Ia lalu melirik dua bocah di samping Abi.
"Wah, Akbar sama Aqil ikut mandi sungai ini. Awas lho, banyu kaline adhem banget."
Abi menghela napas panjang melihat semangat membara kedua putranya. Begitu baju dan celana mereka dilepas hingga tersisa celana dalam saja, kehebohan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Abi baru saja berjongkok di atas batu datar dan membasahi tumpukan baju kotor pertama, suara kepakan air yang keras langsung mengejutkannya.
BYURRR!
"Akbar! Aqil! Jangan loncat-loncat, airnya terciprat ke baju yang sudah dibasahi sabun ini!" seru Abi.
"Segar, Ayah! Dingin!" jerit Aqil girang sambil menepuk-nepuk permukaan air dengan kedua tangannya.
Bukannya duduk diam di pinggiran, Aqil malah mulai merangkak di atas batu licin. Abi yang matanya harus tetap tertuju ke cucian langsung melompat berdiri panik, meninggalkan sabun batangnya yang meluncur masuk ke dalam aliran sungai.
"Astagfirullah, Aqil! Jangan berdiri di batu itu, licin! Nanti kepalamu terbentur!" Abi bergegas mengejar Aqil, menarik ketiak bocah kecil itu sebelum terpeleset, lalu mendudukkannya paksa di air yang dangkal.
"Duduk di sini saja! Akbar, awasi adiknya, jangan dibiarkan naik ke batu besar!"
"Iya, Ayah!" sahut Akbar. Namun bukannya mengawasi, Akbar justru sibuk mengumpulkan batu-batu kecil dan melemparkannya ke dalam air tepat di dekat tumpukan cucian Abi.
"Akbar, berhenti lempar batu! Nanti bajunya kena lumpur lagi!" pusing Abi.
Belum ada sepuluh menit baju terkucek setengah karung, Aqil mendadak berjalan pelan menghampiri Abi. Bocah kecil itu menyilangkan kedua kakinya, memegangi pantatnya dengan wajah yang mendadak mules dan matanya yang berkedip-kedip cepat.
"Ayah..." bisik Aqil pelan, suaranya terdengar sangat pasrah.
Abi yang sedang memeras kaos putih langsung menghentikan gerakannya. Firasatnya mulai tidak enak.
"Kenapa, Qil?"
"Aqil... mau eek..."
Abi melotot tajam. "Hah?! Mau eek?! Ya Allah, Aqil... kenapa nggak bilang dari rumah tadi sebelum berangkat?!"
"Kan tadi belum mules, Ayah... Sekalang udah di ujung..." rengek Aqil sambil makin erat memegangi pantatnya, tubuhnya mulai bergoyang-goyang menahan hajat.
Abi menatap Akbar dengan wajah panik setengah mati. "Akbar! Kamu pinggir dulu, naik ke atas batu itu! Lihatin baju-baju di dalam ember sama karung, jaga jangan sampai hanyut terbawa arus! Awas ya, jangan balik masuk ke sungai sebelum Ayah balik!"
"Iya, Ayah!" sahut Akbar sigap, langsung melompat keluar dari air dan berdiri menjaga tumpukan cucian.
Tanpa membuang waktu, Abi memegang tangan Aqil dan membawanya berjalan sedikit ke arah hilir sungai yang lebih dangkal dan tersembunyi di balik batu besar.
"Sini, berjongkok di sini," suruh Abi menunjuk alur air dangkal yang mengalir pelan di balik batu. Tangannya dengan sigap melucuti celana dalam Aqil. "Ayo, eek di sini saja, biar langsung hanyut terbawa air."
"Udah nggak kuat, Ayah... udah di ujung banget!" rengek Aqil dengan muka yang sudah memerah menahan mules, lalu buru-buru berjongkok menuruti perintah ayahnya.
Abi menghela napas lega saat Aqil akhirnya bisa menuntaskan hajatnya. Namun, pikiran Abi sama sekali tidak tenang. Sambil berjongkok mendampingi Aqil dan bersiap membasuh pantat anaknya dengan air sungai yang jernih, matanya terus-terusan melirik kewaspadaan ke arah atas, khawatir Akbar nekat menyebur lagi atau baju-baju mereka terhanyut arus.
"Udah belum, Qil? Jangan lama-lama, kasihan Mas Akbar sendirian menjaga cucian di atas!" desak Abi.