Indonesia
NovelToon NovelToon
Genius Keturunan Klan Phoenix

Genius Keturunan Klan Phoenix

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.

Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.

Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Kampung Penempa yang Terlupakan

Di atas bukit yang jauh, Bai Mo dan Zi Lan berdiri diam, mengawasi sosok kecil yang bergerak di bawah. Sejak Xiao Bai muncul, kedua mata mereka terbelalak hampir keluar dari rongganya. Mereka bukan orang sembarangan — telah hidup puluhan, bahkan ratusan tahun, mengenali segala jenis kekuatan dan makhluk di dunia ini. Dan sosok anak kecil yang kini melompat-lompat di samping Riu Han itu bukan manusia. Itu adalah herbal langka yang telah mencapai wujud manusia — sesuatu yang hanya bisa terjadi setelah sepuluh ribu tahun berkultivasi, menyatu dengan hakikat kehidupan itu sendiri. Harta yang tak ternilai harganya, bahkan di kalangan kekuatan tertinggi sekalipun. Dan ternyata Riu Han memilikinya.

"Anak ini sungguh tak habis-habisnya mengejutkan kita," gumam Bai Mo sambil menggelengkan kepala, pandangannya tak beralih sedikit pun. Setiap kali mereka mengira sudah mengetahui sesuatu tentang pemuda itu, selalu ada hal baru yang muncul, jauh melampaui dugaan mereka. Zi Lan mengangguk pelan, napasnya tertahan sejenak. Dua orang yang biasanya tenang dan berwibawa ini kini saling berpandangan, seakan mencari kepastian satu sama lain — apakah apa yang mereka lihat benar-benar nyata.

Sementara itu, di dasar hutan yang asri itu, Riu Han dan Xiao Bai terus bergerak. Waktu berlalu, namun mereka tak terburu-buru. Hanya dalam hitungan jam, ratusan herbal kelas atas telah tersimpan rapi di dalam Cincin Ruang. Padahal mereka baru menyusuri sepersepuluh bagian hutan ini. Xiao Bai melesat ke sana kemari dengan yakin, seakan ia mengenali setiap akar, setiap bayangan, dan setiap sudut tempat ini. Setiap kali ia berhenti, selalu ada sesuatu yang berharga di tangannya.

Hingga akhirnya, setelah menyusuri setiap sudut hutan itu, mereka berhenti. Ribuan herbal kelas atas telah tertanam di kebun Cincin Ruang — kekayaan yang cukup untuk menopang kemajuan sebuah klan besar selama ratusan tahun.

"Hahahaha... Kakak, bagaimana?" tanya Xiao Bai sambil tersenyum bangga, kedua tangannya di belakang punggung.

Riu Han menatapnya, lalu tersenyum tulus. "Baik. Sangat baik. Tidak sia-sia aku memanggilmu keluar."

Wajah Xiao Bai berubah seketika. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka. "Hah?! Cuma... tidak sia-sia?" Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku sudah bekerja sekeras ini, Kakak..."

Riu Han tertawa pelan, menepuk pundak anak itu. "Hei, hentikan wajah konyolmu itu. Bukankah selama ini di dalam sana kau hanya makan, tidur, dan berkultivasi? Bahan-bahan yang ada di taman itu kau pakai sesukamu, dan seingatku, baru sekali ini kau memberikan sesuatu yang berharga padaku — bahkan itu pun tak seberapa bagimu. Lagipula dengan adanya pohon kuno itu, energimu sudah terisi kembali, bukan?"

Xiao Bai menggaruk hidungnya yang memerah. "Iya... itu benar."

"Sudahlah, lupakan saja," Riu Han tersenyum lebih lembut. Ia hanya bercanda, namun melihat ekspresi anak itu, ia menyadari sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Di dalam Cincin Ruang, selain Xiao Bai, ada Long Siu, Qin Siue, dan roh-roh lainnya. Mereka semua adalah makhluk kuno yang berkuasa, namun pada dasarnya mereka adalah roh — tenang, sabar, dan tak banyak bicara. Bagi seorang anak kecil yang penuh semangat seperti Xiao Bai, tempat itu pasti terasa sepi. Tidak ada teman sebayanya, tidak ada yang bermain atau bercanda dengannya.

"Maafkan aku, Xiao Bai," ucap Riu Han pelan. "Aku tidak menyadari kau kesepian di dalam sana."

Xiao Bai menunduk, lalu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Kakak. Di sana tenang saja... tapi kadang sepi. Semua orang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Aku senang bisa keluar."

"Kalau begitu, mau tetap di luar atau masuk kembali?" tanya Riu Han.

"Tetap di luar! Aku ikut Kakak!" jawab Xiao Bai seketika, matanya berbinar kembali.

Mereka pun melanjutkan perjalanan, kali ini berlawanan arah dari jalan masuk. Langkah mereka membawa mereka semakin jauh ke bagian terdalam dunia ini. Pepohonan perlahan menipis, digantikan oleh tanah yang rata dan terbentang luas. Di kejauhan, barisan bangunan tampak samar — bukan reruntuhan yang hancur lebur, melainkan rumah-rumah yang berdiri berderet, sebagian masih utuh, sebagian lain mulai runtuh dimakan waktu.

Itu adalah sebuah perkampungan.

Suasana di sini sunyi senyap. Tidak ada suara orang berbicara, tidak ada tawa anak-anak, tidak ada gonggongan anjing. Hanya angin yang berhembus pelan melewati celah-celah dinding. Sejak perang kuno ribuan tahun lalu, tempat ini tidak pernah lagi dikunjungi siapa pun. Dikelilingi oleh zona ruang robek yang mematikan, siapa pun yang tidak memahami tata ruang akan hancur berkeping-keping sebelum sempat melangkah masuk. Itulah yang menjaga tempat ini tetap utuh — sekaligus terkubur.

Riu Han melangkah masuk ke perkampungan itu, Xiao Bai mengikuti di belakangnya, menatap kiri kanan dengan rasa ingin tahu yang bercampur takut. Pintu-pintu rumah tertutup, jendela-jendelanya gelap. Suasana itu menimbulkan perasaan dingin di tulang — seakan penghuninya baru saja pergi kemarin, namun tak pernah kembali.

Riu Han mendorong pintu rumah pertama. Engselnya berderit pelan, lalu terbuka. Di dalamnya masih terlihat jelas jejak kehidupan — namun bukan tempat tinggal biasa. Di tengah ruangan berdiri tungku perapian yang kokoh, disertai alat-alat penempaan: palu, penjepit, landasan, dan wadah air pendingin. Serpihan logam berserakan di lantai, seakan pekerjaan di sini terhenti secara tiba-tiba.

Ia keluar dan menuju rumah berikutnya. Isinya sama — tungku, alat penempaan, sisa-sisa bahan yang belum selesai dikerjakan. Rumah ketiga, keempat, kelima... semuanya sama persis.

"Perkampungan para penempa..." gumam Riu Han pelan. Ia mengerti sekarang. Seluruh penduduk tempat ini mengabdikan hidup mereka pada seni menempa senjata dan benda-benda ajaib.

Mereka berjalan lebih jauh ke pusat perkampungan, dan di sana berdiri sebuah bangunan yang jauh lebih besar dan gagah dibandingkan yang lain. Dindingnya tebal, pintunya terbuat dari kayu keras yang kokoh. Ini pasti kediaman pemimpin atau kepala pengrajin di tempat ini.

Riu Han mendorong pintunya perlahan. Ruangan di dalamnya luas dan tinggi. Tungku di tengahnya lebih besar, alat-alatnya lebih halus dan indah. Namun yang menarik perhatiannya bukan itu — di sudut ruangan, tergeletak kerangka seseorang yang telah lama beristirahat di sana.

Riu Han mendekat perlahan. Di jari kerangka itu terdapat sebuah Cincin Ruang yang sederhana namun kokoh. Namun yang membuat hatinya bergetar adalah tulisan yang tergores di lantai batu di depannya — ditulis dengan jari sendiri, sebelum napas terakhir berhenti. Tinta tulisan itu adalah darah yang telah mengering menjadi merah tua. Hanya tiga kata yang tersisa:

BESI KUNING ANGKASA

Riu Han membacanya pelan, menyimpannya rapat di ingatannya. Ia tidak tahu apa maknanya, namun ia tahu ini adalah pesan terakhir seseorang yang membawa rahasia penting. Perlahan ia melepaskan cincin itu dari jari yang sudah kaku, lalu memeriksanya. Di dalamnya tersimpan tumpukan bahan logam langka, cetakan senjata, dan senjata-senjata yang telah selesai dibuat — sebagian masih tajam dan bercahaya meski ditinggalkan ribuan tahun. Selebihnya telah lenyap, dimakan waktu, seakan hanya benda-benda yang terkait dengan penempaan mampu bertahan begitu lama.

Ia menyimpan cincin itu ke dalam Cincin Ruangnya sendiri, lalu menunduk sejenak sebagai tanda penghormatan kepada jiwa yang telah pergi. "Terima kasih," bisiknya pelan. "Aku akan menjaga pesanmu."

Keluar dari rumah itu, Riu Han menyapu pandangan ke seluruh perkampungan yang sunyi ini. Tidak ada tulisan lain, tidak ada nama, tidak ada catatan sejarah. Hanya kerajinan tangan yang menceritakan siapa mereka. Kampung ini adalah tempat di mana para pengrajin terbaik mengabdikan hidup mereka — dan semuanya berakhir dalam sekejap, tanpa sempat menyelamatkan diri.

"Kakak..." panggil Xiao Bai pelan, menarik ujung bajunya. "Mereka semua... tidak ada yang pergi?"

Riu Han menggeleng pelan. "Tidak ada. Mereka tetap di sini, menjaga tempatnya hingga akhir."

Ia mengajak Xiao Bai berjalan keluar dari perkampungan itu. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sini selain melanjutkan perjalanan. Semakin jauh mereka melangkah, semakin tebal dan gelap sisa-sisa pertempuran di sekelilingnya. Ruang robekan muncul lebih sering, memancarkan kegelapan yang menakutkan. Riu Han memutuskan memanggil Xiao Bai masuk ke dalam Cincin Ruang — tempat yang lebih aman.

"Masuklah, Xiao Bai. Sisanya akan aku lalui sendiri," ucapnya lembut.

Xiao Bai mengangguk paham. Ia tahu betapa berbahayanya robekan-robekan di depan itu. "Hati-hati, Kakak."

Setelah sosok anak itu lenyap, Riu Han melangkah sendirian ke dalam zona yang penuh luka dunia itu. Namun kali ini, ia tidak takut. Dengan pemahamannya tentang tata ruang, ia bergerak lincah di antara celah-celah maut itu — seakan ikan berenang di antara bebatuan sungai, seakan angin menyelinap di sela-sela pepohonan. Ia tidak menabrak bahaya itu, melainkan melangkah di sisi yang lain, melipat jarak, menyusuri batas antara dua dunia yang tak pernah bersentuhan. Setiap gerakannya tenang, mantap, dan yakin — bukti bahwa pemahamannya bukan sekadar teori, melainkan telah menyatu dengan setiap langkahnya.

Di hadapannya, jalan masih terbentang jauh, menembus kabut yang semakin tebal dan gelap. Namun Riu Han tidak ragu. Di tempat yang terlupakan ini, di antara sisa-sisa perang kuno, ia menemukan harta, pengetahuan, dan jejak sejarah yang hilang — dan ia tahu, ini belumlah akhir.

1
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍👍
Lanjut Up Thor..
𝕸𝕬𝕾𝕿𝕰𝕽𝕾 𝕷𝕰𝕰, 𝕬𝕸𝕶
Luar Biasa, Mantap
sibaweh abduh
cerita yang sangat baik thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Alur Ceritanya bagus dan menarik untuk dibaca, Mantap 👍👍
Bg Byl
Cerita yg menarik dg alur yg mengalir baik dan tata bahasa yg bagus. keren 👍❤️
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Petualangan Riu Han makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
syarif ibrahim
makin sakti nih.... 👍
syarif ibrahim
akhirnya.... terobati sudah kerinduan selama 20 tahun.... 👍
syarif ibrahim
kaget... ternyata sudah habis ceritanya..... up lagi Thor....... 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Petualangan Riu Han dialam atas makin mantap 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!