Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjebak Heru
"Hari ini katanya akan di lakukan do'a bersama, sepertinya kejadian kemarin membuat para murid dan juga guru ketakutan" bisik Aariz
"Gue tahu, tadi Om Zaki sudah minta Daddy untuk memimpin do'a karena Opa Adrian tidak bisa ke sini, beliau dan bang Khalid masih sibuk di pesantren yang akan melaksanakan syukuran ke lima puluh tahun pesantren itu berdiri" jawab Kaivalya
"Ayo ke lapangan Smith internasional school" ajak Mustafa
"Kunti, kamu jangan melamun, setan itu senang kalau kamu melamun, jangan pikirkan yang sudah pergi, kak Zayd tuh masih lajang, kamu kejar saja dia" ledek Kaivalya
"Kak Zayd sudah empat puluh tahun kali, lagian dia itu sedang mengejar kak Rindu anaknya Om Riko dan Tante Bulan, cuma malu malu kucing garong saja" gerutu Cantika
"Yang seperti apa malu malu kucing garong itu?" Tanya Arthayasa meledek.
"Yang kalau di sodorin nggak pake basa basi langsung di gondol" jawab Cantika dan semuanya tertawa.
Mereka sudah sampai di lapangan sekolah, setiap kelas akan duduk bersama teman sekelasnya masing masing agar wali kelas bisa mengabsen anak anak yang hadir di sana dan membagikan bingkisan berupa makanan juga air minum agar mereka tidak bosan dan tidak kelaparan selama acara do'a berlangsung.
"Itu Zeeshan dan Abimanyu, mereka dengan teman teman sekelasnya juga, tapi ko murid yang kemarin hampir bunuh diri juga ada sama mereka, Eiliya dan Ethan juga ya" ucap Cantika menunjuk deretan kelas sepuluh, sebelas dan dua belas yang sedang duduk dan Diandra terlihat sudah ceria di samping Zeeshan dan Abimanyu juga teman temannya yang lain.
Kaivakya juga melihat ke arah Heru, Heru terlihat murung dan kembali berwajah muram dengan tatapan kosong. Kaivalya sempat berpikir mungkin Heru di ganggu hanya saat di sekolah saja, tapi saat mendengar kalau jin itu menyukai orang orang yang putus asa dan di liputi kesedihan, Kaivalya yakin kalau Heru punya masalah mungkin dari keluarga atau dari teman temannya di sekolah.
"Nak, dia itu korban perceraian orang tuanya, dia tinggal dengan ibunya yang sudah menikah lagi, tapi ayah tirinya terus menyiksanya secara mental dengan mengatakan kalau dia anak yang tidak berguna karena tidak masuk sepuluh besar ranking kelasnya, hanya ayahnya yang memperlakukan dia dengan baik, tapi mereka hanya bisa tinggal bersama selama dua hari dalam satu Minggu, itupun saat libur sekolah, kemarin ayahnya datang untuk mengajak dia jalan jalan karena besok lusa ayahnya tidak bisa menjemputnya untuk menginap, ayahnya harus ke luar kota" bisik Badaruddin
"Begitu ya" gumam Kaivalya terus menatap Heru.
Grep.
"Astagfirullahaladzim!"
Kaivalya terkejut saat tiba tiba sebuah tangan kecil memeluknya dari samping. Dia melihat ke samping kiri dan ternyata Diandra sedang memeluknya sambil tersenyum manis, bahkan dia menunjukkan kotak bekal miliknya pada Kaivalya.
"Ka... Kamu kenapa di sini?" tanya Kaivalya gugup bahkan teman temannya juga Ikut terkejut.
"Selamat pagi kakak" sapa Diandra masih tersenyum manis.
"Sel.. Selamat pagi" jawab Kaivalya menjauhkan wajah Diandra yang terlalu dekat dengan wajahnya.
"Kenapa ke sini?" tanya Aariz
"Ini, ini untuk kakak ini karena sudah bantu Diandra" jawab Diandra memberikan kotak bekal itu pada Kaivalya.
"Jangan berikan dia sushi, Kaivalya tidak menyukai itu" ucap Mustafa
"Opa sudah mengatakan itu, Diandra buatkan kakak ini chiken katsu" jawab Diandra
"Boleh tuh, pasti enak" ledek Arthayasa menyikut lengan Kaivalya
"Semoga kakak suka, Diandra buat itu untuk kakak saja" ucap Diandra
"Kak Kai, kamu bisa panggil aku kak Kai" ucap Kaivalya mengambil kotak bekal itu.
"Sudah pergi sana ke tempat kamu, nanti guru mencari kamu" ucap Cantika
"Mau di sini, Diandra minggu depan sudah pindah ke Alamsyah high school lagi, jadi boleh Diandra di sini ya" ucap Diandra kembali memeluk Kaivalya, membuat perhatian semua orang tertuju padanya, bahkan Zaki yang sudah berada di atas panggung juga melihat itu.
"Tidak bisa, kamu harus pindah ke tempat kelas kamu berada, yang tadi duduk dengan kamu itu adik adiknya Zeeshan" jawab Kaivalya
"Sudah tahu, makanya Diandra duduk dengan kak Eiliya, kak Eiliya kan calon istrinya Om Damian" jawab Diandra
"Diandra.. Nanti kita ngobrol lagi ya, acara do'a akan di mulai dan gara gara Kamu aku harus wudhu lagi" bujuk Kaivalya merasa sedikit gerah, bukan gerah karena udara panas tapi gerah karena dia merasakan dua gunung kembar Diandra yang imut menempel di lengan Kaivalya.
"Aduh Diandra lupa, kalau begitu Diandra juga harus wudhu lagi" panik Diandra segera berdiri dan pergi ke arah toilet.
"Om Kai, temani dia mungkin dia akan di ganggu jin itu lagi" ucap Mustafa
Kaivalya pasrah, dia membawa Diandra ke arah masjid sekolah dan menjaganya dari para mahluk yang mungkin akan menggangu mereka karena Kaivalya sengaja bolos kuliah untuk mengawasi Heru.
Selesai wudhu mereka kembali ke tempat acara, Kaivalya bergabung dengan teman temannya dan Diandra juga bergabung dengan Eiliya, Ethan dan Bethari. Kaivalya tahu Diandra hanya menganggap Kaivalya sebagai seorang kakak laki-laki saja dan Kaivalya tidak mau di anggap kakak, biar nanti saja setelah Diandra dewasa Kaivalya akan mengungkapkan perasaannya dan melamar Diandra langsung pada kedua orang tuanya.
Acara do'a itu di lakukan dengan khusyuk, bahkan Heru terlihat terus kepanasan dan itu di sadari Kaivalya, Kaivalya lalu meminta bantuan Mustafa untuk bisa mendekati Heru agar Kaivalya bisa melemparkan daun sirih yang sudah dia buat secara khusus.
"Kenapa gerah sekali, gue mau ke toilet dulu ya" ucap Heru
"Tunggu sebentar, acaranya sudah hampir selesai dan setelah itu Lo bisa pergi ke toilet" jawab temannya dan Heru mengangguk
"Pergi..... Pergi ke jalan raya, ada papa kamu di sana" bisik sosok itu karena dia sudah kepanasan. Bahkan Sagara terus menatap Heru yang sejak pertama acara di mulai terlihat gelisah.
Baru saja Heru berdiri untuk pergi ke arah area parkir sekolah, tangannya sudah di cekal Mustafa dan Kaivalya, dia melotot karena sudah mulai di rasuki sosok jahat itu. Heru yang tidak mungkin membuat keributan akhirnya memilih untuk duduk kembali dan mengalihkan pendengaran dengan cara menutup telinganya dengan tisu yang dia bawa.
Sagara yang mengetahui Kaivalya akan melawan sosok yang merasuki Heru, meminta Zaki untuk membubarkan para murid dan meminta mereka masuk ke dalam kelas masing-masing setelah do'a selesai. Bahkan Sagara menatap Heru agar sosok itu tidak berani keluar dan merasuki murid lain.
"Setelan lapangan ini kosong, pasang pagar gaib agar sosok itu tidak bisa kabur" ucap Sagara yang sudah mendekat ke arah Cantika dan Shafeea.
"Baik Om" jawab keduanya bersiap ke sudut lapangan itu.
Para murid sudah mulai masuk ke kelas mereka masing masing, Heru masih di pegangi Kaivalya meski teman teman Heru merasa heran, tapi Mustafa mengatakan kalau Heru sudah dijemput papanya di depan gerbang sekolah.
"Hhrrr...."
"Jangan menakut nakutiku karena aku tidak akan takut!" Batin Kaivalya mengancam sosok itu yang tidak percaya kalau Kaivalya bisa melakukan komunikasi secara batin dengan sosok yang dia tatap.
"Siapa kamu? Bagaimana mungkin kamu bisa tahu apa yang aku pikirkan!" Bentak Heru
"Aku adalah Kaivalya Rajasa Danendra, putra bungsu dari Sagara Danendra, aku akan melenyapkannya kamu" jawab Kaivalya
"Keturunan darah mati" sinisnya setelah melihat darah Kaivalya yang mengalir di tubuhnya mengeluarkan energi putih dingin.