Semua persiapan telah disusun sedemikian rupa. Namun sang calon suami tidak datang ke acara pernikahan. Untuk menjaga kehormatan, suami pengganti pun di cari.
Kehidupan mereka setelah menikah dibumbui dengan adu argumen dan kekonyolan. Saat cinta itu mulai tumbuh, masa lalu datang.
Akankah mereka bisa bertahan?
Kuy baca aja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sripujiayu620, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 15
Pagi ini Dinda disibukkan mengurus keperluan Gio untuk berangkat ke sekolah. Mulai menyusun buku-buku sampai menyiapkan pakaian. Bagi Dinda, itu sangat sulit karena ia menjadi mama muda dadakan.
"Baju dulu atau celana dulu yang di pasang ya?" tanya Dinda sambil menenteng kan baju dan celana sekolah.
"Gak tahu." Dengan polosnya Gio mengatakannya sambil menggeleng-geleng kan kepala.
"Mama kan pernah sekolah, masa gak tahu?" tanya Gio balik.
"Iya sih, tapi Mama gak ingat lagi." Ucap Dinda.
"Gimana dong?" keluh si anak polos dengan wajah sok imutnya.
"Bentar, Mama nanya sama Mbak Google dulu." Dinda kemudian mengambil ponsel yang ada di atas kasur.
"Oke, google. Baju dulu atau celana?" tanya Dinda pada si asisten google.
"Waullahhua'lam."
"Hahahaha ternyata Mbah Google nya juga gak tahu." Gio tertawa nyaring mendengar jawaban si Google sableng.
Dinda menggaruk-garuk kepalanya yang tidal gatal karena malu.
"Gio, udah gak?" tanya Deniel baru saja datang sambil fokus dengan ponselnya.
"Belum Pa." Rengek Gio.
"Loh ko belum?" tanya Deniel kemudian mengalihkan pandangannya pada anak semata wayangnya yang masih menggunakan dalaman.
"Eh Congek! ngapain aja kamu heh! anakku gak kamu pasangin baju!" kesal Deniel dan kemudian dengan cepat dan gesit memakaikan seragam sekolah.
"Oh ternyata baju dulu ya dipakai." Ucap Dinda memperhatikan Deniel memakaikan seragam sekolah pada Gio.
Deniel yang mendengarnya langsung mengernyitkan dahinya. "Kamu gak tahu heh?"
"Bukan gak tahu, tapi lupa." Ucap Dinda malu.
"Sebelas dua belas pe'a!" ketus Deniel.
"Ya udah ayo kita sarapan." Deniel menggandeng tangan putranya menuju dapur diikuti Dinda dari belakang.
Di sana sudah duduk Yuli yang sedang menikmati nasi gorengnya.
"Hai pengantin baru!" seru Yuli dengan senyum tak karuan.
Tidak ada yang menggubris sapaan dari Yuli. Semuanya duduk di kursi dan mulai menyantap sarapan pagi ini.
"Kak, aku itu disukai dua cowok di kampus. Aku suka sama dua-duanya. Tapi aku diharuskan memilih, tapi aku bingung siapa yang harus aku pilih? apa si cowok cogan dan kaya itu? atau si cowok cogan pintar ngerayu?" tanya Yuli meminta pendapat dari pengantin baru itu.
"Cowok cogan, pintar ngerayu." Jawab Dinda yakin.
"Kalau Kak Deniel gimana?" tanya Yuli menunggu pendapat dari Kakaknya.
"Tidak dua-duanya. Kamu itu jangan cari cowok yang wah dan mewah. Cari cowok yang bisa mendesah dan bisa bilang ah." Tanpa dosa ayah satu anak itu mengatakannya.
"Astaghfirullah dasar otak mesum!" celetuk Dinda geli dengan ungkapan Deniel.
"Wah berarti Dinda ini tipe Kak Deniel dong? gimana rasanya Kak?" tanya Yuli memicingkan alisnya pada Deniel yang sedang melahap makanan.
"Rasanya? ah mantap!" tiba-tiba saja Gio, si anak polos itu menengahi pembicaraan.
Seketika sorot mata mereka mengarah pada Gio.
"Aduh Gio, emak kamu itu dulu ngidam apaan sih aktif kayak gini?" gerutu Dinda dengan tawa.
"Emaknya dia dulu, kayaknya ngidam asap kenalpot deh !" jawab Yuli asal, sambil geleng-geleng kelapa melihat keponakannya itu.
"Aktif ya bun." celetuk Gio lagi.
Semua tertawa mendengarnya.
"Jangan becanda dong, aku seriusan minta pendapat sama kalian!" ucap Yuli berusaha menghentikan gelak tawanya.
"Udah aku bilang pilih cowok cogan, pintar ngerayu aja." Ucap Dinda.
"Jangan percaya sama si Congek. Dianya aja gagal dalam hubungan, gimana kasih masukan buat kamu?" sindir Deniel.
"Kayak situ gak gagal apa?" balas Dinda sambil memutar bola matanya.
Sarapan yang meresahkan itupun telah berakhir.
"Ayo Gio, kita berangkat." Ucap Deniel menenteng tas sekolah anaknya.
Langkahnya terhenti melihat istri dadakannya itu duduk santai sambil menonton drakor di televisi.
"Eh Congek! gak kerja kamu heh!" bentak Deniel.
"Kerja? ngapain aku harus kerja? mulai detik ini aku berhenti jadi asisten mu. Capek aku diperbudak sama kamu terus!" ucap Dinda menatap tajam suami penggantinya itu.
"Terserah, tapi kalau kau minta sesuatu padaku? jangan harap aku akan berikan!" ancam Deniel langsung pergi.
"Minta apaan coba? dasar aneh!" teriak Dinda.
Like, komen, dan vote.