Orang-orang di forum bilang 'Didalam Dungeon terdapat sebuah item langka yang setara dengan kemampuan cheat'.
Sayangnya butuh keberuntungan yang tinggi untuk item itu bisa Drop.
" cih, Developer ini sebenarnya niat membuat Game tidak sih ?"
Konomi, Seorang Player yang telat bermain dari Player lain, harus menerima kenyataan pahit.
Game yang ia kira adalah Game sederhana, ternyata adalah sebuah Game komplek dengan sistem yang menyiksa.
Bahkan, Karakter yang ia buat dan ia besarkan harus berjuang keras untuk bertahan hidup.
" Game sialan !! Developer Sialan !! Apanya yang Luck Tinggi Bisa membuat Beruntung !!"
Gadis ini adalah Konomi, Player Newbie yang mempertaruhkan semua Point Statusnya pada LUCK.
" Makan ini Kadal sialan, Potion Gagal ku !"
Tidak sampai sedetik setelah dia meneriakkan kekesalannya, puluhan Lizardman terbang ke udara dan berubah menjadi Orb XP yang cantik.
" Mengapa kalian tidak habis-habis ?!" Suara teriakan imutnya menggelegar didalam Dungeon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dracu Kazuma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Gadis Lucu itu Milik semua Orang.
Saat ini Konomi disidang di hadapan orang banyak. Meski itu hanya di depan halaman Base Camp.
Barang bukti berupa tumpukan Uang dan jejeran ratusan Equipment, tidak luput di hadirkan.
Tidak ketinggalan, Puluhan Tersangka yang menjadi korban dan berhasil di amankan. Dengan kemurahan hati Member familia, mereka semua di berikan selimut untuk menutupi tubuh mereka.
"Jadi bisa di jelaskan, apa yang terjadi di sana?." Roland mengulangi Pertanyaannya.
"...." Konomi tidak mau angkat bicara. Dia diam seribu bahasa, bibirnya saat ini sedang sibuk mengerucut, pipinya pun masih menggembung sampai sekarang.
"Kono.. Ann chan?."
"Hump...!." Bahkan Konomi sama sekali tidak mau menatap Suami tercintanya.
"Ya sudah." Roland menyerah menanyai Istrinya. Percuma jika di teruskan.
Roland kemudian beralih kepada Xen dan kawan-kawan selaku Saksi mata.
Baru saja ia hendak bertanya, mereka semua langsung membuang muka.
Disaat Roland menyadari Konomi sedang mengancam mereka, Roland kembali beralih kepada Konomi.
Konomi yang ketahuan, langsung membuang muka kembali.
"Ann chan, jika kamu tidak bicara. Masalah ini tidak akan selesai."
"Hump!!, Aku tidak akan bicara."
"Tapi kamu baru saja bicara."
"Itu kan, contoh. Sekarang aku tidak akan bicara."
"Tapi kamu baru bicara lagi."
"Ih, Jangan menggoda aku."
"Maaf, Kamu terlalu imut untuk tidak di goda."
"Aku bilang jangan menggoda aku."
"Ehem!. Bisa kita lanjutkan?." Doctor selaku hakim juri yang di undang, menghentikan paksa aksi Mesra-mesra pasangan suami istri di depannya.
Doctor kala itu juga datang dan melihat langsung, tumpukan barang dan kantung koin yang bertebaran dimana-mana.
"Ann chan. Kami butuh penjelasan. Apa benar kalau kamu merundung orang-orang ini?." Tanya Roland lagi untuk kesekian kalinya.
"Hump!." Untuk kesekian kalinya juga, Konomi mengabaikannya.
"Sepertinya ini akan sulit." tutur Roland pada Doctor, selaku orang paling Dewasa.
"Bagaimana dengan kesaksian dari para tersangka?."
"Tidak ada yang berbeda, pada dasarnya mereka mengatakan hal yang sama."
"Lalu, tunggu apa lagi. Barang bukti sudah di sita, tersangka sudah di tangkap, korban selamat...?" Doctor menghentikan kaliamatny di saat terakhir, ketika merasakan ada kejanggalan.
"Itu dia, Saat ini san Korbanlah yang di duga menjadi Tersangkanya." Jelas Roland sambil kembali melirik Konomi yang masih diam.
"Tidak, kurasa kasus ini dan itu berbeda."
Konomi menatap Doctor penuh harap. Dia senang ada yang mengerti dirinya.
"Aku tau maksud mu jika ini dan itu berbeda. Hanya saja bukankah ini semua berlebihan?."
"Tidak juga, ini murni pertahanan diri !." Konomi kembali membuang.
Roland beralih kebagian Tersangka untuk konfirmasi dari mereka.
Tanpa menjawab, mereka semua hanya menunduk dalam diam.
"Hah. Ini tidak akan selesai selesai." Keluh Roland membuang nafas berat dan panjang.
"Itu..., boleh aku bicara?."
"Yuji kun?!." Bentak Konomi.
"Onee chan, tidak bersalah. jadi tenang saja."
"Tapi?."
"Tenang saja, serahkan semuanya padaku."
"Ya sudah." Konomi menjadi Konomi yang tenang.
Roland yang cemburu dengan situasi hangat di antara mereka, mengkerut kan dahinya pada Pria kecil yang tadi mengangkat tangan.
"Siapa kau?!." Tanyanya cukup tegas.
Semua orang yang sadar jika Roland saat ini sedang cemburu, hanya bisa berbisik dalam hati. "oy oy."
"Aku Yuji, Teman masa kecil Ko.. Ann Onee chan."
"Hee? Aku juga TEMAN Masa KECIL, Ann. asal kau tau." Roland tidak mau kalah.
"Tidak perlu bersaing dengan anak kecil." Doctor memukul kepala Roland.
"Lanjutkan." Terus Doctor.
"Sebenarnya kami berencana menjelajahi Dungeon untuk beberapa kali, namun di perjalanan kami di cegat. Mereka mengancam akan membunuh kami dan merampas semua bawaan kami jika tidak menuruti permintaan mereka. Mereka juga mengancam akan terus mengulangi nya sampai mereka bosan. Xen onee chan mencoba melindungi ku tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Disaat itulah Kono... Ann Onee chan melindungi kami. 'Tetap di belakangku'. Sosok Ann Onee chan saat itu sangat keren. Satu persatu Paman penjahat ini maju dan satu persatu juga mereka di ledakkan. Mereka sama sekali tidak jera dan terus memanfaatkan jumlah mereka untuk terus mengeroyok Ann Onee chan. Aku ingin menolong, tetapi jika aku maju, aku hanya akan membebani Ann Onee chan saja, karena itu sampai akhir aku hanya bisa diam menikmati aksi keren Ann Onee chan. Dan disaat itulah Onii chan sekalian datang di waktu yang kurang tepat."
"Yuji Kun~~." Konomi melompat ke tubuh Yuji dan memeluknya. Adik kecilnya sangat mengerti akan dirinya.
"Kalian terlalu dekat." Lerai Roland sembari memisahkan mereka berdua.
"Memangnya kenapa? Yuji kan Adikku!." Konomi kembali memeluk Yuji.
"Aku baru tau jika kamu punya Adik."
"Apa yang kamu katakan, Adik Xen adalah Adik ku juga." Untuk kesekian kalinya Konomi melompat ke tubuh Yuji.
Dan untuk kesekian kalinya juga, Roland memisahkan mereka.
"Ih, kamu ini kenapa?."
"Dilarang memeluk laki-laki lain!!."
"Memangnya kenapa, Yuji kan Adikku." Konomi hendak Melompat lagi, tetapi Roland menghentikan.
"Tidak boleh!!." Roland menyilangkan kedua lengannya, kepalanya menggeleng tegas.
"Cih!."
"Dan Kau!! Apa hubungan mu dengan Istriku?!." Ancam Roland beralih ke arah Yuji.
"Jangan mengancam Anak kecil!! Sialan!!." Doctor memukul Roland cukup keras. "Maaf, lupakan yang dikatakan orang ini barusan, jangan di ambil hati." lanjut Doctor mewakili Roland.
"Kau ini, Dewasa lah sedikit." hardik Doctor beralih ke Roland.
Namun anak itu hanya membuang muka sembari berdecak.
"Kamu cemburu?." Tanya Konomi, Matanya berbinar dan pipinya merona.
"Mm..."
Konomi tertunduk malu, dirinya kembali Kalem. Dunia merah muda pun tercipta di sekitar mereka.
"Ehem, bisa undur dulu waktu Mesra-mesra nya?."
Doctor merasa tidak enak harus merusak moment bahagia dia insan itu. Tetapi saat ini masih ada kasus yang harus di selesaikan terlebih dahulu.
"itu... Bagaimana Nasib kami?!."
Salah seorang tersangka menunjuk tangan dan menanyakan nasib mereka yang masih belum jelas titik terangnya.
"Hah, Yasudah. Kalian boleh pergi." Usir Roland.
"Lalu bagaimana dengan barang-barang kami?." tanyanya lagi.
"Tidak Boleh!!. Ini milik ku sekarang." Konomi dengan gigih merentangkan tangannya menghalau siapapun orang yang mencoba mendekati harta jarahan nya.
Entah karena salut atau kecewa, semua orang menatapi Konomi dengan pandangan haru.
"Itu tetap disini." Jelas Roland. Tidak ada gunanya berdebat dengan Konomi saat mode ini.
Rombongan penjahat itu, hanya mampu pergi dengan perasaan sedih dan menyesal.
"Semoga kejadian ini, tidak akan pernah terjadi lagi." Harapan semua orang, mengantar kepergian para penjahat itu. Semua orang sedikit merasa kasihan dengan mereka.
Konomi chan, masih menatapi penjahat itu dengan geraman lucu selagi mereka masih terlihat.
"Ann chan, Sudah. Mereka sudah pergi, kamu menakuti yang lain." ucap Roland menenangkan.
"Ini milik ku."
"Iya, iya. itu milik mu tidak ada yang akan merebutnya. Tenanglah."
"Ya sudah."
"Hah, Aku sampai tidak habis pikir, semua kasus besar yang pernah meresahkan semua orang, semuanya diselesaikan oleh kamu."
"Apa maksudnya?."
"Kamu tidak sadar?."
"Apa nya?."
"Kasus diskriminasi, Kasus pertengkaran, Kasus Penampungan Player yang di buang, Krisis Kekurangan Potion, Krisis isu penutupan Server, Membantu Player yang di tolak dalam Party, Hingga yang sekarang."
"eh, sebanyak itukah?."
"Itu belum semua."
"Aku tidak merasa pernah melakukan itu semua."
"Aku tau, Tetapi tetap saja. Dari semua kasus yang aku sebutkan tadi, Kamu selalu ada di sana dan memegang peran penting lalu menyelesaikannya sendirian. Seperti ini contohnya." Roland menunjuk Tumpukan harta yang menggunung.
Konomi yang masih bingung, hanya mampu memiringkan kepalanya.
"Kamu tau. Selama Seminggu belakangan, terdengar laporan bahwa ada satu kelompok yang berbuat ulah di dalam Dungeon, kelompok itu selalu merampok dan menetapkan tarif kepada semua orang yang ingin lewat. Jika mereka menolak, harta dan barang mereka akan di ambil secara paksa." Roland menunjuk ke tumpukan harta di belakang konomi.
"Tidak!!, Ini punya aku, ini semua sudah jadi milik aku!!." Wajah Konomi sudah mau menangis.
Gadis itu sama sekali tidak punya niat untuk melepaskannya.
"Setidaknya, tolong kembalikan barang milik Player-Player yang di rampok saja. Bagaimana?."
"Ugh..." Setelah diceritakan kisah seperti barusan, Konomi merasa bimbang dan enggan.
"Ann chan, Apa Ann chan tega mengambil barang yang bukan milik Ann chan?."
Konomi menunduk dan menggeleng lemah.
"Apa Ann chan tega membiarkan orang-orang yang di rampok ini kehilangan barang milik mereka?."
"Ng."
"Apa Ann chan Mau mereka kehilangan barang yang sudah susah payah mereka dapatkan?."
"Tidak." Suara konomi lirih.
"Jadi tidak masalahkan, jika Ann chan mengembalikan ke pemiliknya?."
"Ng." Angguk Konomi pelan, gadis itu menghapus air matanya dengan Lengan pakaiannya.
"Anak pintar." Puji Roland, ia juga membantu menghapus Air mata Istrinya itu.
"Sudah, sudah. Nanti kita cari lagi penggantinya, Ok?."
"Ya." Konomi yang tidak tahan lagi membenamkan wajahnya ke dada Roland. Beruntung tidak sampai menangis.
Siang itu, Acara yang pada awalnya adalah Leveling, kini berubah menjadi ajang Bakti sosial.
Beberapa Player yang mengadu kehilangan barang datang untuk sekedar berterima kasih karena sudah membalaskan dendam mereka dan merelakannya untuk Konomi.
Hanya sedikit dari mereka yang mengambil kembali, karena benar-benar membutuhkan.
Konomi mengerti itu, dan tidak lagi berniat menginginkannya.
"Terima kasih banyak."
Sudah sore hari, matahari juga sudah akan terbenam. Tiga gadis Assassin pemula tadi adalah yang terakhir.
Langit sudah berubah Orange, membuat hati menjadi kesepian.
Angin malam yang datang lebih awal pun, menemani perasaan campur aduk Konomi di bangkunya.
Sedangkan kawannya yang lain, sedang sibuk membereskan Meja dan bangku.
Ditatapnya konomi yang hanya diam sedari tadi melihat di kejauhan.
Tidak ada yang tau apa yang ia pikirkan. Meskipun tadi Gadis itu bilang sudah merelakan, tetapi mereka tau Konomi adalah Mahluk Mata Duitan.
Matahari mulai terbenam sepenuhnya, Bayangan gedung di depan pun mulai menutupi wajah mereka dengan perlahan.
Kini langit sepenuhnya sudah menjadi gelap.
Semua orang sudah hampir selesai beres beres. Sisanya hanya tinggal Konomi seorang yang masih diam di bangkunya.
Ini sudah terlalu gelap, tidak sedap dilihat orang lain jika masih tetap di depan gerbang, apalagi Konomi adalah Perempuan yang menarik.
Roland Menggeleng pelan ketika Duo idiot hendak menghibur Konomi yang bersedih.
Meski enggan, Mereka berdua menuruti keputusan bijak Leader mereka. Jika mereka maju pun, belum tentu mereka bisa.
"Hey. Aku baru kali ini melihat Konomi sedepresi ini."
"Apalagi Aku."
"Sebenarnya Apa yang terjadi tadi siang?."
Roland hanya menatap lelah sepupunya, yang baru login ketika dia dan yang lainnya baru memulai mengembalikan barang rampasan.
"Apa kasus kali ini benar-benar berat." bisik Lucu bertanya.
"Kasusnya memang berat, Tapi jarahan Konomi kali ini jauh lebih berat. Kau lihat sendiri kan?, Ini saja masih ada banyak." Tunjuk Roland dengan Ibu jarinya ke arah tumpukan Hadiah di belakangnya.
"Ya, aku juga sedih jika harta sebanyak ini hilang begitu saja."
"Dari pada itu, bagaimana dengan Konomi?. Kita tidak bisa terus terusan membiarkannya seperti ini terus."
"Jika kau tanya aku, lalu aku tanya siapa?." Lucy yang lepas tangan hanya mampu mengangkat kedua bahunya.
"Kau kan Sahabatnya!."
"Kau kan Suaminya!."Lucy tidak mau kalah.
"Hah, Baiklah."
Kawan-kawannya yang kala itu masih beres beres, menghentikan sejenak aktivitas mereka.
Mereka lebih khawatir dengan Konomi yang sedang terpuruk.
Harapan 'Semoga Maskot lucu mereka bisa kembali ceria', mereka tumpang kan kepada Leader mereka, Roland.
"Konomi chan?. Kau baik-baik saja?. Tidak perlu dipikirkan terlalu dalam, lihat sisi baiknya, semua orang kembali tersenyum dan bisa bermain lagi, bukankah tujuan mu itu menyebarkan senyuman untuk setiap orang?."
"...."
"Semua orang sangat berterima kasih pada mu, mereka juga dengan senang hati membayar biaya Terima kasih mereka."
"...."
"Lihatlah, tidak semua yang mengambil kembali barang mereka. Mereka bahkan dengan suka rela menghadiahkan nya kepada mu."
"...."
"Konomi chan. Jika kamu terus seperti ini, takutnya kamu nanti sakit."
"...."
Roland yang hampir menyerah karena kata-kata manisnya sama sekali tidak mempan, meminta bantuan kepada kawan-kawannya.
Tapi yang ia dapat hanyalah gerakan penyemangat, dari kejauhan.
"Konomi chan, melihatmu seperti ini membuat kami ikut sedih. Lihatlah mereka, kami tidak bisa melihat Konomi yang tidak ceria seperti biasanya. Senyuman manis kamu adalah Energi terbesar kami. Jadi kembalilah menjadi Ann chan kami yang penuh energi, bermain lagi dengan Duo Idiot, menjelajahi Dungeon, Kejar Kejaran di lorong, Membuat Potion lagi bersama yang lain."
"...."
"Juga, bermain lagi dengan ku, seperti dulu."
"...."
"Kamu tau, Aku selama ini selalu cemburu dengan yang lainnya. Mereka selalu dan selalu memonopoli mu. Bahkan kamu sama sekali tidak pernah Daily dengan ku lagi. Meskipun kamu bilang itu semua demi Member dan Familia, tapi tetap saja aku cemburu. Kamu adalah pacarku di Dunia nyata dan Istriku di sini, tetapi kita terasa jauh."
"...."
"Terkadang aku sempat berfikir, Apakah kamu benar-benar menyukai aku. Meski kita selalu bertemu di Sekolah, tetapi aku tetap merasa risih setiap kali mereka mengelilingi kamu. Seharusnya yang ada di sisimu itu adalah Aku, bukan mereka."
"...."
"Konomi chan, Aku cemburu!! Aku ingin bermain dengan mu seperti dulu lagi!!, berpetualang bersama lagi!!, menjalankan Quest sama-sama!!. Juga, Aku juga ingin berkencan dengan mu, di dunia nyata."
"Aku kembali!!!." Konomi berteriak dengan kencang, sampai-sampai ia hampir melompat dari bangkunya.
"Wah, sudah malam!!."
""??!.""
Roland berusaha menyembunyikan rasa malunya dan membuang muka menatap langit malam yang berbintang indah.
"Ada apa?." Tanya Konomi heran dengan raut wajah aneh teman-temannya.
"Konomi chan, Apa kamu baru saja AFK?." Tanya Lucy curiga.
"Ya, Memetik Bunga." Bisik Konomi.
Duo Idiot yang mendengarnya dan paham maksudnya, hanya mampu diam.
"Hah, Kami pikir tadinya kau sedang depresi. Rou bahkan dari tadi sudah mengatakan kata-kata mutiara agar kau kembali bersemangat." jelas Lucy.
"Aku?. Memangnya aku kenapa?."
"Itu karena Kau hanya diam saja. kami pikir kau sedih karena jarahan mu dikembalikan kepada pemiliknya."
"Aku memang sedih tapi tidak sampai membuat ku depresi." Terang Konomi, gadis itu juga mengibaskan telapak tangannya.
"Ya sudah, ayo masuk." Ajak Lucy Romantis, ketika ia menyodorkan sikunya.
"Ayo." Konomi yang bahagia meraih dan merangkul lengan Lucy. Lalu mereka pergi masuk kedalam.
Meninggalkan Para pria yang melihat Leader mereka, dalam keadaan menyedihkan.
""Sayang sekali, Ann chan tidak mendengar pengakuan indah mu, Lead."" Hibur para lelaki.
"Berisik!."
Konomi terlalu jago menghancurkan martabat seorang Pria.
^^^つづく.^^^