Siapa yang menyangka, manusia serigala ada di dunianya. Kegiatan camping yang diikuti Karelina membuatnya tersesat di hutan dan harus bertemu serigala misterius itu. Sebagai gadis pemberani, Karelina mencoba tidak takut dan memberikan makanan untuk menjinakkan hewan buas di hadapannya. Bagaimana bisa disangka, serigala itu berubah menjadi laki-laki tampan.
Melihat luka di kaki manusia serigala itu, Karelina iba. Entah keputusan yang benar atau salah, Karelina membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Kembali tanpanya
...HAPPY READING ALL!!...
Gawat. Deniar membuat Karelina murka.
Matahari bersinar melewati celah-celah di ruangan yang ada, mengisi kegelapan dengan cahayanya. Karelina membuka matanya perlahan, menggeliat di atas kasur, kemudian bangun dan meregangkan ototnya. Lalu, ia beranjak dari tempat tidur dan pergi keluar kamar.
Minggu ini, Karelina memutuskan untuk mengambil lembur di siang hari. Sebelum itu, ia ingin memasak sesuatu sebagai sarapan. Ketika melewati ruang tengah, dia mendapati Deniar masih merengkuh dalam tidurnya.
Sudah dua hari sejak kejadian Deniar memakan kelinci miliknya, Karelina menolak untuk berbicara dengan lelaki itu. Kesabarannya sudah di ambang batas, Karelina cukup kesal dibuatnya. Kemarin juga, Deniar mencarikan kelinci untuk gadis itu, tetapi pulang dengan tangan kosong membuatnya begitu sedih.
Sengaja menggoda laki-laki itu, Karelina terus menghindari kontak mata hingga membuat Deniar menangis kemarin malam. Antara masih kesal dan juga kasihan.
Karelina melihat bahan di dapurnya yang menipis. Ia menghela napas. "Nasi goreng," ucapnya. Mau bagaimana lagi, hanya ada beras dan beberapa rempah di sana.
Beberapa saat kemudian, Deniar datang dengan wajah muram. Lalu, ia berdiri di samping Karelina memperhatikan gadis itu memasak. "Kar, masih marah?" ucapnya dengan suara pelan.
Karelina mengacuhkannya, kemudian mengambil piring dan menuangkan nasi goreng dari wajah, membaginya menjadi dua. Deniar mengikuti kemana gadis itu pergi. "Maaf," ujar Deniar.
Karelina menghela napas panjang, kemudian menyodorkan piring berisi nasi goreng itu pada lelaki di sampingnya. "Iya," jawabnya, tanpa menatap ke arah Deniar. Lalu, ia melenggang pergi dengan piring di tangannya.
Deniar berdecak. Ia putus asa membujuk Karelina. Tetap saja wajah perempuan itu masih terlihat kesal padanya. Karelina bahkan melemparkan sorot mata benci. "Bagaimana aku harus berbicara padanya?" gumam Deniar.
.....
Matahari bersinar panas hari ini, jalanan beraspal itu juga terlihat begitu kering. Beberapa dedaunan pun gugur di tanah. Tidak sedikit orang yang memakai payung karena panasnya cuaca.
Di tengah cuaca yang gerah, Karelina harus bekerja lebih keras, melayani pembeli yang datang dengan senyuman lebar. Terkadang, ia dipaksa untuk tersenyum bahkan saat dunianya hancur. Namun, Karelina sudah terbiasa akan keadaan yang berulang selalu seperti ini.
"Jangan terlalu dipaksa, Kar," ujar Gana yang tiba-tiba berdiri di samping Karelina yang sedang menyiapkan pesanan.
Karelina sontak terkejut dengan kemunculan laki-laki itu. "Nggak, kok," jawab gadis itu sambil menampilkan seuntai senyuman.
"Hari minggu, harusnya kamu istirahat," ucap Gana.
Karelina menggelengkan kepala. "Kayaknya nggak ada waktu buat senang-senang."
Gana mengambil nampan dari tangan Karelina. "Biar aku yang antar," katanya. Lalu, ia melangkah dari sana.
Gadis itu mendudukkan tubuhnya, kakinya sudah terasa lelah. Sudah lima jam ia terus berdiri mengambil pesanan, mengantar, dan menjadi kasir. Seluruh tenaganya akan terbuang di sini.
Kemudian, Gana datang kembali membawa segelas air soda dan diberikan pada Karelina. "Kamu pasti lelah, kan?" ujar Gana.
Karelina pun mengambil segelas soda itu dan meneguknya hingga tetes terakhir. "Makasih, ya."
Gana mengangguk singkat, kemudian ikut duduk di samping Karelina karena sudah tidak ada pembeli yang datang. "Rencana mau ke lanjut kuliah atau gimana, Kar?" tanya Gana.
"Mau kerja full time aja di sini," jawab Karelina. "Aku nggak kuat kalau harus lanjut ke perguruan tinggi."
"Kenapa nggak kuat?"
"Nggak mampu, mahal pasti. Takut berhenti di tengah jalan," ucap Karelina.
"Mau aku bantu?" tawar Gana.
Karelina membulatkan mata, kemudian menggeleng pelan. "Nggak usah, aku juga nggak punya cita-cita."
Mendengarnya, Gana cukup kasihan pada Karelina yang sebatang kara. Laki-laki itu cukup mengerti dengan kehidupan Karelina. Karena itu, ia ingin menjadi seseorang yang berperan banyak dalam hidup gadis itu. Namun, sepertinya Karelina tidak membutuhkan Gana lebih dari seorang teman.
"Memang, kerja di sini sudah cukup untuk biaya hidup kamu, Kar?" tanya Gana.
"Dibuat cukup, Gan. Aku juga nggak suka foya-foya, cuma buat kebutuhan sehari-hari aja." Karelina mengulas senyum tipis. "Setelah lulus, kayaknya tanggungan hidup aku jadi lebih ringan," ucap Karelina.
Tidak terasa berbicara cukup lama, Karelina kemudian berdiri dari sana untuk melayani pembeli yang mulai berdatangan kembali. "Aku lanjut kerja dulu, ya!" ujar Karelina.
Gana hanya menganggukkan kepala, kemudian Karelina pergi dari sana.
Matahari tidak lagi terlihat. Langit mulai menggelap. Tak terlihat satu benda pun sana, hanya mendung dan berudara dingin mencengkam. Baru pukul 8, tetapi terasa sudah tengah malam. Namun, anehnya, Karelina seolah pernah merasakan di kondisi persis seperti saat ini. Karelina juga heran, tidak ada orang yang berdatangan.
Gadis itu mengeluarkan napas panjang, lelah. Kemudian, Pak Deon datang bersama laki-laki seumurannya yang berjalan di belakangnya. "Karelina," panggil Pak Deon.
Karelina pun berdiri melihat kedatangan atasannya. "Iya, Pak," jawab Karelina.
"Masih belum pulang?" tanya laki-laki itu, sambil celingukan melihat sekitar, tak melihat siapapun lagi.
"Baru jam 8, Pak, seharusnya kita tutup di jam 10, kan?"
Pak Deon terlihat terkejut, kedua matanya membulat, begitu juga laki-laki di belakangnya. "Karelina, ini sudah jam 10 malam." Lalu, ia menunjukkan jam di tangannya, yang menunjukkan sudah pukul 10 lebih lima menit. "Kamu juga shift sama siapa?" tanya Pak Deon.
Kening Karelina berkerut. "Saya, Gana, Nesi, Arwin," jawab Karelina.
"Gananya mana?"
"Di dapur .... mungkin." Karelina menjawab dengan kurang yakin. Ia juga belum melihat Gana.
Pak Deon pun melenggang dari sana dan pergi ke dapur. Ia sama sekali tidak melihat keberadaan Gana. Lalu, ia kembali menghampiri Karelina. "Gana tidak ada. Tidak ada siapapun," seloroh Pak Deon.
"Aneh," celetuk Karelina. "Saya terakhir lihat Gana ke dapur, setelah itu saya cek jam di ponsel, dan masih jam 8."
"Dan saya sangat ingat, itu terjadi tidak lama sebelum Pak Deon datang," jelas Karelina. Gadis itu menautkan kedua alisnya, merasa bingung.
Teman Pak Deon juga ikut berpikir di balik kejanggalan Karelina. "Apa kamu terkena hipnotis seseorang?" Laki-laki itu berdalih.
Pak Deon segera mengecek di bagian kasir, membuka laci di sana dan uang di tempat itu masih utuh. "Tidak ada yang dicuri di sini," ujar Pak Deon. Ia menghembuskan napas dari bibir, kemudian menepuk pundak Karelina. "Kamu pulang saja, Kar! Sudah malam, kamu sepertinya kelelahan."
Ucapan Pak Deon hanya dibalas anggukan oleh Karelina karena gadis itu sudah merasakan sakit kepala. Ia benar-benar ingat bahwa tadi masih pukul 8, kenapa tiba-tiba sudah jadi jam 10. Tidak mungkin ia melamun selama itu, apa Gana tidak membuatnya sadar? Juga, kemana rekan kerjanya itu pergi. Atau semua rekan kerjanya sudah berpamitan pulang dan Karelina tidak sadar?
Sembari menunggu Karelina, Pak Deon dan temannya juga membantu membersihkan meja dan kursi. Teman Pak Deon yang cukup tampan itu mendekat. "Lo anterin pacar lo aja! Gue bisa pulang sendiri," ujarnya.
Deon hanya terkekeh. Lalu, ia melemparkan kain lap itu pada sahabatnya. "Gue udah tua, mana mau dia sama gue," jawabnya.
"Eh, selera cewek jaman sekarang itu yang udah tua."
"Gue ketuaaan."
Di tengah candaan mereka, pintu terbuka dan menampakkan sosok laki-laki tinggi berwajah tampan membuka teman Deon melebarkan mata. "Karelina dimana?" celetuk Deniar, yang tiba-tiba datang dengan wajah ketakutan.
"Gila? Pacarnya Karelina?" seloroh teman Pak Deon. "Kalah ganteng Si Deon!"
Deon langsung melayangkan pukulan di punggung temannya. Lalu, ia menghampiri Deniar yang menatapnya dengan sorot mata dingin. "Ada apa?" tanya Deon.
"Ini sudah telat. Mengapa Karelina belum pulang?" tanya laki-laki itu.
"Dia akan segera datang dan biar Karelina sendiri yang cerita," jawab Pak Deon.
Tidak lama, Karelina datang kembali dan berpamitan pada Pak Deon. Melihat Deniar di sana, ia merasa cukup lega karena tidak perlu takut untuk pulang. Lalu, Karelina pun pergi bersama Deniar.
"Kamu jemput aku?" tanya Karelina, sembari berjalan di samping laki-laki yang masih diam sejak tadi.
Deniar membulatkan mata. "Iya," jawab Deniar. "Kamu sudah tidak marah lagi, kan?"
Karelina mengangkat bahunya. "Aku mengalami hal aneh," ucap Karelina.
"Hal aneh apa? Apa seseorang mengganggumu?" Deniar mengerutkan kening. "Atau laki-laki cabul di toko Deon tadi?" serunya, sembarangan.
"Bukan." Karelina pun mulai menceritakan kejadian yang dialaminya tadi. Namun, Karelina juga tidak menyadari hal aneh lain, atau yang terjadi padanya sebelum Deon datang. Andai pria itu tak datang menghampirinya, mungkin Karelina baru sadar di tengah malam.
"Aku membuka portal, Kar," seloroh Deniar, setelah mendengar penjelasan Karelina. "Yang berkaitan dengan dunia serigala, akan merasakan berhentinya waktu."
Karelina membuka mulut. "Hah?"
"Aku akan kembali ke duniaku, dengan misi yang tidak bisa ku selesaikan," kata Deniar. Ia menghentikan langkahnya. "Sudah ku putuskan. Aku pergi besok pagi, setelah gerbangnya terbuka sepenuhnya."
Karelina tersadar, pasti akan tiba hari ini. Dimana Deniar pergi meninggalkannya, hidup sendirian lagi. Karelina sudah mempersiapkannya. "Kamu benar-benar sudah selesai di sini?" tanya Karelina, masih belum yakin untuk ditinggalkan.
Deniar menarik sudut bibirnya. "Mengapa? Kamu tidak memperbolehkan aku pergi?"
Gadis itu segera mengalihkan pandangannya, mencari objek lain untuk dilihatnya. "Kalau kamu sudah harus pergi, ya pergi saja!" seru Karelina, kemudian melenggang berjalan terlebih dahulu meninggalkan Deniar.
Melihatnya, Deniar dengan percaya diri merasakan bahwa Karelina sudah mencintainya sama seperti dirinya yang mencintai Karelina. "Karena aku gagal membawamu, aku tidak pantas dipanggil pemimpin," kata Deniar.
Niat awal ingin mengambil seluruh kekuatan yang dimiliki Karelina untuk dikuasainya, tetapi Deniar malah mencintai gadis itu hingga sudah mendarah daging. Seharusnya, Deniar membencinya bukan malah mencintainya.
.....
Sialnya, Karelina tertidur. Padahal, ia sudah berniat untuk berjaga malam ini karena Deniar akan pergi entah kapan. Namun, Karelina malah terbangun karena sinar matahari. Ia segera beranjak dari tempat tidur, mencari keberadaan Deniar.
Setelah berputar mengelilingi rumah, nihil. Karelina tak melihat batang hidung Deniar.
Deniar sudah mengatakan, ia tidak akan pamit saat hendak pergi karena takut tertahan dan tak dapat kembali. Karenanya, Deniar pergi di pukul dua dini.
Laki-laki itu sempat datang ke kamar Karelina, melihat gadis itu tertidur pulas, Deniar menghampirinya. Deniar duduk di pinggiran tempat tidur. Ia mengulas senyum tipis, kemudian mengelus surai lembut milik Karelina yang terurai. Benda kenyal berwarna terang dan terlihat manis itu mengalihkan perhatiannya.
Deniar mendekatkan wajahnya, netranya terpaku pada bibir Karelina. Namun, ketika sudah dekat, ia tersadar dan langsung menjauh dari sana. Deniar meneguk keras ludahnya. Tanpa berlama-lama, ia pergi dari sana. Tidak mungkin mencium gadis yang sedang tidur, Deniar tak mau memaksa.
Sayangnya, Karelina melewatkan kejadian malam itu. Raut wajahnya sedih tidak menemukan adanya tanda-tanda keberadaan Deniar. Padahal, Karelina masih mau berlama-lama.
Karelina masuk ke dalam rumah, menutup pintunya dengan perasaan kacau balau. Ketika hendak melangkah, terdengar ketukan pintu yang cukup jelas. Karelina mendadak senang, karena berpikir itu pasti Deniar. Namun, ketika ia membuka pintu, bukan sosok yang diharapkan berdiri di sana melainkan seorang perempuan tinggi.
Wanita itu tidak asing, membuat Karelina mengerutkan kening. "Cari siapa, ya?" tanya Karelina.
Wanita tersebut langsung memeluk Karelina membuat gadis itu membulatkan mata. "Kamu siapa?"
Tidak ada jawaban, hanya saja pelukan itu semakin erat dan Karelina merasa aneh.
"Aku kakakmu," ujar wanita itu, yang tidak lain adalah Kameline.
...........
...Jangan lupa like dan komen yaaa!! ...
...Aku menerima saran dan kritik dengan senang hatii💞🤍...