Acara ini harus segera dilaksanakan jangan ditunda-tunda kata perangkat desa yang diiyakan oleh masyarakat yang datang.
"Aku tidak mau menikah ini paksaan kataku sambil menangis. Mengapa Nasibku sudah jatuh tertimpa tangga juga.
"Takdir dan Nasib".....
Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini terjadi padaku..Tapi bagaimanapun aku menolaknya semua orang akan menghakimiku seperti seorang penjahat. Ini semua gara - gara masalah sepela yang akhirnya malah menjebak kami berdua.
"Aaaah ... pusing. Kepalaku yang tadinya sudah pusing semakin tambah pusing."
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa datang. Yang perlu kita pahami hanya menjalani dan menerimanya.
Takdir memanglah tidak dapat kita ubah dan hindari tapi jika masih ada nasib yang dapat di ubah, akankah kita hanya berdiam diri saja. Pasti kita akan berusaha merubahnya menjadi lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de'arys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 17. AKU DAN KAMU
Akhirnya kami sampai di tempat kami memarkirkan motor.
Daniel langsung mengajakku untuk pulang bersamanya. Akupun mengiyakan ajakannya.
"Ayo kita pulang la kamu bareng aku aja. Kita lewat jalan yang lebih dekat sampai villa. Daniel tak segan sengan menawarkan dirinya."
"Iya terima kasih. Aku langsung naik ke motor Daniel."
"Aku pulang bareng Daniel ya, kami duluan kataku tak lupa pamit sama Amel dan Dirga."
"Iya, hati-hati di jalan bang kata Amel mengingatkan."
"Jangan cari cari kesempatan kamu niel kata Dirga sambil tertawa."
Aku langsung menoleh dan melihat Dirga yang tertawa. Rasanya aku pingin menginjak kakinya supaya diam.
Reflek aku langsung menepuk pundak Daniel untuk segera melajukan motornya pulang.
Daniel langsung mengendarai motornya menuju jalan yang dianggapnya jalan yang cepat untuk sampai di villa.
Di sepanjang perjalanan Daniel lebih banyak berbicara dari pada aku.
Aku cukup menjawab secukupnya saja.
"By the way, do you have someone special in your life Lala?" Daniel dengan ceplas ceplosnya langsung bertanya kepadaku.
"Ha ... !" ucapku terkejut dengan pertanyaannya.
"Do you have someone special in your life Lala?" Daniel mengulangi pertanyaannya.
"Yes, I have. My mother and my father. They are special for me. Aku menjawab dengan sangat yakin."
Daniel tiba-tiba tertawa lepas dengan sangat bahagianya.
"Kok kamu malah tertawa, emang ada yang lucu ya kataku."
La ... Lala, kamu ini ternyata polos juga ya jawab Daniel masih dengan tertawanya."
"I mean ... Do you have a boyfriend?"
"Oooo itu maksudmu ... Kalau itu sih aku ga ada. Emang penting buatmu ya."
"Lala ... Lala, kamu ini bener bener polos banget." "Kamu belum pernah punya pacar ya?"
"Jangan jangan malah kamu belum pernah pacaran. Daniel berbicara sambil masih tetap tertawa."
"Apaan sih tanya tanya beginian segala. Fokus sama jalanan, jangan tanya yang aneh aneh deh. Hati hati di jalan woiiii, jangan sampai kenapa napa ya. Aku langsung ngomong panjang lebar biar Daniel berhenti bicara dan fokus mengendarai motornya."
"Iya aku ini tetap fokus mengendarainya, tapi aku kan juga mau tanya sama kamu."
"Sekarang hanya ada aku dan kamu, jadi wajar dong kalau aku tanya sama kamu. Mosok aku tanya sama pepohonan yang kita lewati. Daniel berbicara masih sambil tertawa."
"Ya kalau kamu mau ngomong sama pepohonan ya silahkan, tidak ada kok yang melarang kataku sambil tertawa juga."
"Wow ... ga asyik dong ngomong sama benda mati yang ga bisa jawab."
"Kalau kamu kan benda hidup yang bisa ngomong dan menghidupkanku, hahaha kata Daniel dengan tertawa keras."
"Apaan sih kamu ini jawabku sambil reflek memukul pundaknya pelan."
"Apa memang begini ya cara ngomong orang yang lahir dan tinggalnya diluar negeri, langsung to the point ke intinya kataku jadi tersenyum lihat kelakuan Daniel."
"Ya ga juga la, tapi aku maunya tanya langsung aja biar jelas."
"Mau ga jadi pacar abang Daniel?"tanya Daniel masih sambil tertawa.
"Apaan sih kamu ini kataku sambil menepuk pundak Daniel. Fokus fokus mengendarai motornya."
"Kapan sampainya kalau begini terus."
"Akupun jadi ga fokus karena omongan Daniel ini."
"Pertanyaanku ini beneran lo Lala, i like you."
"Iiiiii ... Sudahlah niel jangan ngegombal aja, ga bakalan mempan sama aku."
"Aku kasih tahu sama kamu ya niel, aku itu tidak mau pacar pacaran."
"Ooooo ... Jadi masih jomblo nih."
"Jadi kamu maunya langsung nikah aja ya."
"Okey, ayo kata Daniel antusias."
"Jangan gila kamu ini niel kataku langsung mencubit pinggang Daniel dengan cukup keras."
"Ouch ... Sakit la, jangan dicubit dong."
"Kamu sih ngomong yang seperti itu."
"Aku kan ngomong kebenaran, apa adanya ga bohong kok."
"I'm crazy about you kata Daniel tertawa senang."
"Sudah jangan ngegombal terus. Jadi geli aku mendengarnya."
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di villa kataku dengan bahagia."
"Wah cepat sekali sampainya, padahal masih banyak yang mau aku bicarakan."
"OK ... Makasih ya niel, sudah sampai tujuan."
Akupun langsung turun dari motor Daniel dan melangkah cepat cepat menuju teras villa.
"Lala ... jangan lupa obrolan kita tadi teriak Daniel masih diatas motornya."
Aku pura pura tidak mendengarnya dan langsung masuk ke dalam villa dan menuju kamarku.