Seorang gadis yang pernah terpuruk karena masa lalunya, kini datang kembali untuk membalaskan dendamnya.
Ia tidak akan menyerah sampai tujuannya itu belum tercapai.
Dengan tekatnya, ia akan berusaha merebut dan menghancurkan hubungan dari sosok yang pernah dengan begitu jahat menggoreskan luka dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clara Dasella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Belum sempat Kania menemukan Nara, tiba-tiba seseorang menarik tangan Kania dan menghentikkan langkah gadis itu.
"Akhh, siapa kau! Le--"
Mulut Kania dibungkam oleh beberapa pria dengan pakaian setelan jas berwarna hitam lalu di bawalah Kania pergi dari sana.
Gadis itu benar-benar tidak bisa melawan bahkan untuk berteriak pun sangat sulit baginya. Dan anehnya lagi dengan banyaknya orang yang ada dibandara itu tidak satu pun dari mereka yang menolong Kania.
Tak lama kemudian, Kania dibawa masuk kedalam pesawat bersama orang-orang tersebut. Ia didorong dan duduk dibangku pesawat.
"Siapa kalian! Kenapa aku dibawa kesini dan--"
"Diam!" Sentak salah satu orang tersebut yang seketika membuat Kania diam tidak berkutik.
Sampai pada akhirnya David pun datang dan meminta beberapa orang yang membawa Kania kedalam pesawat itu untuk pergi.
"Kalian bisa pergi." Kata David lalu orang-orang itu pun pergi.
Kemudian David duduk disamping Kania dengan santainya yang tentu hal itu membuat Kania kebingungan. Tidak perduli, gadis itu kemudian hendak pergi dari pesawat itu untuk kembali mencari Nara namun dihalangi oleh David.
"Tuan, maaf. Aku harus pergi karena temanku masih tertinggal di--"
"Tidak ada waktu lagi untuk turun karena pesawat ini tidak lama lagi akan terbang." Kata David memotong lagi ucapan Kania.
"Tapi--"
Hanya dengan satu tatapan tajam dari David seketika membuat Kania langsung kembali duduk. Kemudian ia pun mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mencoba menghubungi Nara. Namun sayangnya lagi-lagi David mencegahnya dengan merampas begitu saja ponsel kania dari tangannya.
"Tuan, apa yang kau lakukan! Kembalikan ponselku!" Pekik Kania seraya berusaha merebut ponselnya dari tangan David.
Tidak semudah itu, David dengan cepat menyembunyikan ponsel Kania didalam saku celana miliknya. Kania yang kesal pun lantas berteriak dengan keras meminta agar ponselnya dikembalikan namun hal itu justru mempermalukan dirinya sendiri lantaran menjadikan dirinya pusat perhatian bagi semua penumpang.
"Kenapa berhenti berteriak? Ayo teriak lagi lebih keras agar semua orang bahkan langit pun mendengar teriakan gilamu itu." Kata David.
"Aku mohon kembalikan ponselku, Tuan. Aku harus menghubungi temanku karena dia--"
"Nara Alensya." Kata David menyebut nama Nara yang seketika membuat Kania terdiam.
"Kau pasti bingung kenapa aku bisa tau nama temanmu itu kan? Jangan khawatir, dia baik-bai saja dan kau juga akan baik-baik saja bersamaku." Sambungnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Kania.
Tidak menjawabnya, David lantas hanya tersenyum lalu membuang wajahnya dari tatapan Kania.
Tak berselang lama pesawat yang ditumpangi Kania pun mulai meninggalkan bandara. Dengan keresahan hatinya Kania terus berharap jika tidak akan terjadi apapun pada sahabatnya itu. Kalau pun terjadi hal buruk ia berharap Nara akan tetap bersama Reiner karena hanya pria itu saja yang mungkin bisa menjaga sahabatnya tersebut.
Sementara itu disisi lain, Reiner baru saja sampai dibandara dengan membawa beberapa bodyguardnya untuk mencari keberadaan Nara disana.
"Kalian cari disebelah sana." Perintah Reiner pada beberapa bodyguardnya tersebut.
Dengan berbekal foto Nara, mereka mulai mencari gadis yang di inginkan oleh bos mereka tersebut. Dan Reiner sendiri memilih menelfon salah satu temannya yang juga bekerja dibandara itu.
"Apa kau sudah melihat keberadaanya?" Tanya Reiner pada Mike melalui sambungan telfon genggamnya.
"Iya, aku sudah melihatnya." Jawab Mike dengan nada yang sedikit malas. "Dia masih berdiri dengan bodohnya menunggu temannya yang sudah dibawa David pergi." Sambung mike lagi.
"Dimana dia! Kenapa kau tidak memberitauku sejak awal, bodoh!" Pekik Reiner dengan sangat kesal setelah mengetahui jika Nara sudah berdiri sejak entah berapa lama.
Saat mendengar suara lantang dari Reiner seketika Mike langsung tersadar dari rasa malasnya. Pria itu kemudian mengirimkan rekaman CCTV itu pada Reiner melalui ponselnya agar diketahui dimana posisi Nara saat ini.
Setelah mengetahui hal tersebut lantas Reiner dan beberapa bodyguardnya bergegas menghampiri Nara. Ya, terlihat dari kejauhan yang dimana Nara masih berdiri dengan wajah polosnya tengah menunggu Kania yang jelas-jelas sudah pergi sejak beberapa jam yang lalu.
Sorot mata Reiner meneduh saat melihat gadis yang dicintainya itu dari kejauhan. Namun saat langkah kakinya mulai mendekat pada Nara tiba-tiba emosinya kembali naik saat mengingat bagaimana bunyi surat yang diberikan Nara padanya sebelumnya.
"Kania benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa dia memintaku menunggu selama ini. Apa yang dilakukan disana sebe--"
"Jadi kau berencana untuk pergi setelah berhasil merayu dan menghancurkan seluruh hidupku, Nara." Ucap Reiner yang seketika membuat Nara terdiam mematung.
Suara yang sangat tidak asing baginya itu benar-benar membuat Nara tidak berkutik sedikit pun. Perlahan kemudian ia memutar tubuhnya untuk melihat dibelakangnya dengan harapan tebakan tentang suara yang didengarnya itu adalah salah.
Degh.
Jantung Nara seketika berhenti berdetak. Tidak mungkin, begitulah yang ada pikirannya saat ini. Ya, Nara benar-benar tidak menyangka jika yang ada dihadapannya saat ini benar-benar yang ada dalam dugaannya sebelumnya. Siapa lagi dia jika bukan Reiner Alexander. Sosok pria yang semalam tidur satu ranjang bersamanya lalu ia tinggalkan sepucuk surat yang berisi tentang pengakuan akan semua kebohongannya.
"Re-Reiner, bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Nara dengan gugupnya. Nara melangkah mundur perlahan mencoba untuk lari dari hadapan Reiner.
Bugh.
Langkahnya tiba-tiba terhenti saat tubuhnya terasa menabrak pada seseorang dibelakangnya. Ia menoleh kebelakang dan dilihatnya seorang pria dengan setelan jas hitam berikut kaca mata hitam yang dikenakannya.
"Maaf, aku tidak sengaja." Nara mendorong pria itu lalu mencoba untuk lari.
Namun sayang sekali, lagi-lagi hal itu hanya sia-sia untuk dilakukannya. Pasalnya pria itu lebih dulu menangkapnya dan menariknya lalu mendorongnya sampai membuat Nara terpental kedalam pelukan Reiner.
"Egh!" Nara mendongak, gadis itu seketika terbelalak saat melihat wajah tampan Reiner yang begitu dengannya.
"Ingin mencoba lari dariku, hum?" Kata Reiner seraya melontarkan senyum smirk dibibirnya.
Nara menggeleng dengan cepat. Gadis itu benar-benar merasa takut kali ini karena melihat senyuman Reiner yang terlihat mengerikan baginya. Dan dengan tidak sabarnya akhirnya Reiner langsung mengangkat tubuh ramping Nara keatas pundaknya lalu dibawanya gadis itu pergi meninggalkan bandara tersebut.
"Hey, apa yang kau lakukan! Turunkan aku!" Nara terus saja berteriak seraya memukuli punggung Reiner namun hal itu sama sekali tidak indahkan oleh pria itu.
"Siapapun, aku mohon tolong aku! Ini penculikan! Aku diculik, tolong aku!" Teriak Nara berharap agar orang-orang yang ada dibandara itu bisa menolongnya.
"Apa kalian buta! Kenapa melihat tindak kejahatan seperti ini kalian malah hanya diam saja! Hey!"
Plak!
Satu pukulan cukup keras diberikan Reiner tepat dipantat Nara. Gadis itu seketika langsung terdiam dengan mata yang membulat sempurna. Tidak tinggal diam, ia mencoba membalasnya dengan menggigit bagian punggu Reiner namun hasilnya tetap sia-sia.
Sampai akhirnya Nara pun langsung dilemparkan kedalam mobil milik Reiner dan dengan cepat pintu mobil langsung ditutup rapat.
Lanjut Thor say..💪💪🖐️