Karena kesalahan kakakku yang kabur dari rumah tepat di hari pernikahannya, aku terpaksa menikahi kekasih kakakku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D351, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Setibanya Jayden dan Jaka di kelas, Y/N.
"Sayang, apa kau masih ada kelas ?" Tanya Jayden yang baru saja masuk ke dalam kelas istrinya itu.
"Tidak, kebetulan bu dosen baru saja keluar." Jawab Y/N sembari tersenyum.
"Kalau begitu ayo pulang, sebentar lagi kita juga harus menjemput kakakku di bandara." Ucap Jayden dengan lirih.
"Kau benaran tidak apa-apa, Y/N ?" Tanya Kiara yang cemas.
"Tentu saja tidak, memangnya kenapa ?" Tanya Y/N yang bingung.
"Kau benaran tidak apa-apa jika dia pulang ?" Tanya Kiara lagi.
"Iya, lagi pula itu keputusannya, aku tidak mungkin melarang dia untuk kembali."
"Dan lagi, aku juga sudah punya kehidupanku sendiri, jadi sekarang aku tidak ada urusan lagi dengannya."
"Sekarang hubungan di antara kami hanya sebatas kakak dan adik ipar saja." Jawab Y/N dengan santai.
Hati Jay sedikit tenang mendengar jawaban dari istrinya itu.
"Ayo pulang !" Ucap Y/N membuyarkan lamunan, Jayden.
"Iya." Jay langsung membawakan tas dan menggandeng tangan istrinya itu melangkah pergi keluar dari dalam kelas.
"Astaga si bucin, kalau sudah ketemu sama istrinya, mulai deh temannya di lupakan." Guman Jaka saat menatap kepergian keduanya.
"Ya sudah, ayo Kiara, kau juga pulang bersamaku saja." Ucap Jimin sembari tersenyum ke arah, Kiara.
"Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri." Jawab Kiara dengan ketus.
"Ya sudah, kalau begitu biar aku saja yang menumpang di mobilmu ya, kau tolong antarkan aku pulang, sekalian kamu bertemu dengan ibuku."
"Kebetulan ibuku suka dengan tipe menantu blasteran sepertimu ini." Ucap Jaka lagi.
"Dasar pria aneh, tidak waras." Ucap Kiara yang kesal sembari bergegas pergi meninggalkan, Jaka.
"Kiara, tunggu !" Ucap Jaka sembari tertawa melihat tingkah, Kiara.
"Kalau di lihat-lihat itu cewek cantik juga, baik lagi sama temannya, meskipun selalu jutek kepadaku." Guman Jaka lagi.
Di mobil.
"Sayang..." Panggil Y/N dengan ragu.
"Iya ? Ada apa, sayang ?" Jawab Jay sembari fokus menyetir mobilnya.
"Kau tidak apa-apa ?" Tanya Y/N yang cemas.
"Entahlah, aku tidak bisa bilang kalau aku sedang baik-baik saja setelah tahu kabar kepulangan kakakku." Jawab Jay dengan lirih.
"Apa kau tidak percaya kepadaku ?" Tanya Y/N lagi.
"Bukan begitu, aku hanya tidak bisa percaya kepada diriku sendiri saja saat akan bersaing dengannya." Ucap Jayden lagi.
"Kenapa kalian harus bersaing ?"
"Aku bukan hadiah yang harus kalian rebutkan."
"Jadi tolong kalian jangan bersikap berlebihan seperti ini."
"Aku tahu itu, tetapi kakakku itu keras kepala dan punya ambisi sendiri."
"Dia selalu ingin mendapatkan apa yang dia mau, dan tidak mau mengalah." Jelas Jayden lagi.
"Sekeras apa pun dia mencoba, jika aku tidak mau, dia bisa apa."
"Jadi berhentilah bersikap murung seperti itu !"
"Sayang, kau harus terlihat lebih percaya diri lagi agar kakakmu tidak menganggap kau gampang di kalahkan !" Jawab Y/N dengan tegas.
"Terimakasih sayang, aku akan mencobanya." Jawab Jay sembari tersenyum senang karena mendapatkan dukungan dari istrinya itu.
Tiga puluh menit berlalu, keduanya pun tiba di bandara.
Mereka mulai masuk dan menunggu kedatangan pesawat, Nathan.
Y/N terlihat santai sembari membaca beberapa buku mata kuliahnya, sementara Jayden mencoba bersikap tenang walau pun sebenarnya hatinya masih di selimuti rasa cemas dan takut.
Sejak tadi, Y/N terus menggenggam tangan suaminya itu, ia berharap bisa sedikit menghilangkan rasa cemas yang sedang di rasakan suaminya itu.
"Hah... Apa pesawatnya masih lama ?"
"Aku mulai lelah dan bosan menunggu, aku ingin segera pulang, dan berbaring di ranjang yang empuk." Guman Y/N dengan pelan sembari menyandarkan diri di pundak suaminya itu.
"Sabarlah sayang, sebentar lagi kita pulang." Jawab Jay sembari mencoba menjaga suasana hati istrinya itu.