Aminah berhasil menjadi anggota polisi lalu lintas demi mengejar cinta pertamanya yang seorang polisi lalu lintas. Akankah dia berhasil mendapatkan cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan
" Saya meminta maaf karena kemarin tidak menemui kalian yang telah berkenan menanti saya di depan kantor seharian tetapi saya justru bisa menyempatkan makan malam berdua dengan pacar saya. Saya berharap kalian mendukung hubungan saya dengan pacar saya kedepannya. Dia memang bukan dari kalangan artis atau selebgram. Namun dialah yang bisa mencairkan hati saya yang telah membeku. Dia adalah pacar pertama saya. Selayaknya orang yang sedang jatuh cinta pada umumnya, tentunya saya juga ingin menghabiskan waktu bersama pujaan hati saya. Sekali lagi saya meminta maaf karena telah mengecewakan anda sekalian dan terima kasih yang tak terhingga untuk kado yang Anda berikan sebagai bentuk perhatian terhadap saya. Terima kasih." Bams menutup klarifikasinya yang cukup singkat. Dia terdiam beberapa saat, sudah siap menerima hujatan dari fans bar-barnya. Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan memecah keheningan. Rupanya banyak fans yang menerima idolanya memiliki pujaan hati. Bams tersenyum lega. Dengan segera dia menyelesaikan sesi foto bersama para fansnya sehingga bisa menemui Sari dan menyampaikan kalau hubungan mereka telah direstui fansnya. Namun saat memasuki ruang kerjanya, Sari tak nampak di pelupuk matanya.
" Am, lo liat Sari ga? " tanya Bams cemas.
" Kayaknya ke toilet, Mas." jawab Sari.
Bams ingin segera bergegas menuju toilet tapi langkahnya dihentikan oleh Pak Rafli yang menyuruhnya menemui Pak Maryo segera. Dengan berat hati, Bams berjalan menuju ruangan Pak Maryo.
Tak lama kemudian, Sari muncul sambil memegang perutnya. Dia berjalan sedikit a tertatih menuju ruangan Pak Rafli.
" Barusan Sari kenapa ya Gas? " tanya Bu Ambar. Bagas dari tadi juga memperhatikan Sari tapi tak berani bertanya karena terlihat terburu-buru menemui Pak Rafli. " Ga tau, Bu." jawab Bagas singkat. Pandangannya masih tertuju ke ruang Pak Rafli.
" Tadi aku lihat Mba Sari pegang perutnya, mungkin sakit perut, Bu." celetuk Ami.
" Kesempatan, Gas! Anterin Sari pulang sana!" suruh Bu Ambar.
Seketika Bagas menengok ke arah bu Ambar dan tersenyum lebar. " Siap laksanakan!" jawab Bagas dengan wajah cerianya. " Tuh anaknya keluar, Gas." Bu Ambar memberi kode.
" Kamu kenapa Mba?" tanya Ami.
" Aku ijin pulang Am, perutku nyeri banget. Mau ke RS." jawab Sari pelan.
" Anterin Gas! Kasian Sari lagi sakit gitu, masa ke RS sendirian." seru bu Ambar.
Tak pakai lama, Bagas segera beranjak mendekati Sari. " Tunggu bentar ya Sar, aku ijin pak Rafli dulu. " ucap Bagas. " Ga usah Mas. Aku bisa sendiri kok, Mas. " tolak Sari.
Tanpa mengindahkan penolakan Sari, Bagas sudah berjalan memasuki ruangan Pak Rafli sebentar dan keluar dengan senyum sumringah. " Yuk Sar, kita berangkat sekarang." ajak Bagas.
" Cepet sembuh ya Mba." ucap Ami disusul bu Ambar dengan ucapan senada. Sari tak punya pilihan lain, dia pun berjalan beriringan dengan Bagas yang siap sedia mengantarkannya ke RS.
" Mereka cocok ya, Am? " tanya bu Ambar.
Ami tersenyum canggung karena dia tahu bahwa Sari pasti tidak akan nyaman ditemani Bagas, harusnya yang menemani Sari adalah Bams. Baru saja diucap dalam hati, Bams datang sambil terengah. " Sari dimana, Am? " tanya Bams.
" Kenapa dari tadi cariin Sari si Bams?" sela Elok yang tak dihiraukan Bams.
" Ke RS Mas." jawab Ami.
" Apa? Dia sakit apa Am? " tanya Bams panik.
" Sakit perut, Bams. Udah dianter Bagas kok." jawab bu Ambar.
" Bagas? " Bams mulai bertanya keheranan.
Ami yang takut terjadi perang Dingin antara Bams dan Sari mencoba menengahi. " Tadi Mba Sari sakit, terus Bu Ambar minta Mas Bagas nganterin karena kasihan kalau Mba Sari sendirian."
Bams menghela nafas, mencoba menahan segala emosi yang menyeruak dalam dirinya. Dia tahu kalau dia semakin terlihat cemburu dan hubungan mereka ketahuan, pasti Sari akan marah besar.
" Lo aneh banget deh Bams, kayak orang lagi cemburu." celetuk Elok.
" Hah?! Enggak lah! Gue cuma ada perlu sama dia, da-ru-rat! " ucap Bams tegas. Lancar tanpa gugup sedetik pun walaupun curiga Elok memang tepat sasaran.
Di sisi lain, Bagas benar-benar memperlakukan Sari like a princess. Hampir tiap lima menit Bagas menanyakan keadaan Sari, membelikan air mineral dan roti coklat keju kesukaan Sari. Sari pun sebenarnya tahu sejak lama Bagas menyimpan rasa padanya, dia hanya pura-pura bodoh sebab dia tak punya kekuatan untuk menolak ketulusan Bagas. Tapi dia benar-benar tak memiliki ketertarikan pada Bagas sebagai seorang lawan jenis. Dia menyukai Bams yang memang secara visual jauh melampaui Bagas. Bagai kejatuhan langit runtuh ternyata Bams pun memiliki rasa yang sama padanya. Tapi sekarang dirinya mulai meragu, apakah hubungan dia dengan Bams akan baik-baik saja kedepannya. Barusan dia membaca berita terbaru, ada yang mendukung hubungan mereka namun banyak pula yang menghujatnya di kolom komentar. Dia mulai termakan komentar jahat yang dibacanya dan mulai minder dengan dirinya yang bukan siapa-siapa.