Indonesia
NovelToon NovelToon
Alnira - Spin Of Aldan

Alnira - Spin Of Aldan

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Teen School/College
Popularitas:41.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yeremias

Ini adalah cerita lanjutan (sekuel) dari cerita berjudul "Aldan". Silahkan baca Aldan terlebih dahulu jika tidak keberatan. Karena cerita ini, mempunyai hubungan kuat dengan cerita sebelumnya.

Ditinggal kekasih saat masih menyayanginya, mungkin bukan yang Ira harapkan. Namun, nyatanya itulah yang ia alami.

Aldan, lelaki yang ia sayangi, memutuskan hubungan mereka sesaat sebelum dirinya pergi.

Akankah Ira mampu mengisi harinya lagi, setelah kepergian Aldan?

Atau sampai di sini, kisah hidup Ira?

-Yeremias;2020-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeremias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Apakah Ini Akhir?

"I ... Ira."

Sena masih saja terisak, tangisnya terus saja tanpa henti. Sudah tiga hari setelah kejadian itu Ira masih saja belum bangun dari tidur panjangnya. Sahabat serta kerabat Ira silih berganti menjenguk Ira. Contohnya saja Monic, baru saja ia datang bersama Aldo.

"Sudahlah, Bun. Ikhlaskan saja."

Albert yangs edang tidak mendapatkan jadwal terbangpun menemani Sena menjaga anaknya. Keduanya dengan setia menemani Ira walau lelah.

Ceklek...

Suara pintu terbuka membuat Sena dan juga Albert menoleh bersamaan. Beberapa hari ini Dimas juga bergantan menjaga Aldan dan juga Ira. Hal itu membuat kedua orang tua Ira mulai mengenal Dimas. Dimas berjalan mendekati Sena dan mencium tangannya, hal itu ia lakukan juga kepada Albert sebagai bentuk penghormatannya pada orang tua.

"Tante, Om. Bisa saya berdua saja dengan Ira? Saya ingin bicara sama Ira."

"Bagaimana caranya? Ira sampai sekarang belum bangun!"

Albert mengelus pundak istrinya itu, kemudian mencoba membawa Sena untuk keluar dari kamar inap Ira.

"Kata orang, walau kita dalam keadaan koma, yang beristirahat hanyalah raga saja, sedangkan jiwanya dapat mendengar apa yang orang di sekitarnya katakan. Jadi, saya berharap bisa berbicara sebentar dengan Ira."

Kemudian Sena dan Albert mengizinkan Dimas untuk berbicara dengan Ira. Keduanya keluar dari kamar itu dan meninggalkan Dimas yang kemudian mendekati Ira dan duduk di sebelahnya.

"Maaf."

Hanya kata itu yang mampu dikeluarkan Dimas saat ini. Dimas menggenggam tangan Ira, ia menangis di hadapan Ira. Membuat dirinya dalam posisi yang sangat rendah. Menangis dihadapan orang yang bahkan entah dia mendengarnya atau tidak.

"Kalau saja gue nggak nembak lo waktu itu, gue gak mungkin berantem sama Aldan dan ngebuat lo harus berantem juga sama Aldan. Kalau waktu itu gue nggak mulai naruh rasa sama lo, mungkin gue nggak bakal ngebuat lo dalam keadaan yang sekritis ini."

Dimas terus saja menangis, hatinya merasa sangat bersalah karena waktu itu dengan bodohnya ia menyatakan rasa cintanya pada Ira. Dimas tahu pasti apa jawaban Ira, dirinya pasti ditolak oleh Ira. Karena sejujurnya, hanya ada nama Aldan di hatinya.

Dimas hanya ingin jika Ira merasa bahagia, merasa bahwa hidupnya masih berharga sampai saat ini. Dimas hanya ingin Ira bangun dari keterpurukannya. Dimas hanya ingin melihat Ira tersenyum, karena Dimas alasannya.

Kecelakaan itu merubah cara pandang Dimas kepada Ira. Sekuat Dimas memaksa segalanya, yang ia dapatkan hanyalah penolakan. Dimas sekarang sadar, bahwa ia hanya dapat melihat Ira bahagia meskipun dari jauh.

"Maaf. Gue nggak tahu apalagi selain kata maaf. Gue banyak salah sama lo. Gue salah satu alasan lo jadi tidur panjang kayak gini. Gue yang bertanggung jawab semuanya. Gue yang mulai permainan ini, Gue yang udah bikin lo sama Aldan berantem gara-gara perasaan sayang gue. Gue perusak hubungan orang, Ra."

Dimas menciumi tangan Ira, menggenggamnya erat hingga kesadaran Dimas kembali. Detak jantung Ira mulai melambat, Dimas dapat melihatnya dari suara Electrocardiography yang berada tak jauh dari tubuh Ira. Dimas gelisah dan kebingungan.

Dengan cepat Dimas memencet tombol darurat, namun tenaga medis tak segera datang kekamar Ira. Detak Ira semakin melemah, Dimas berupaya sebisa mungkin terus memencet bel itu. Namun, nihil tak ada dokter yang datang satupun.

"Brengsek!"

Dimas mengumpat dan berlari keluar dari ruangan. Diluar Sena dan Albert melihat kebingungan. Dimas tak memperdulikannya, ia hanya terus berlari dan mencari perawat yang dapat menangani Ira secepat mungkin. Beberapa suster dan Dokter masuk ke kamar milik Ira.

Sena dan Albert juga ikut masuk bersama Dimas ke dalam. Dokter dengan cepat memeriksa keadaan Ira, namun sayang. Semuanya terlambat. Sena memeluk tubuh Albert erat. Matanya kembali mengeluarkan air matanya kembali.

Tiiiitttttt......

Suara melengking mengisi ruangan itu. Dimas dapat melihat hanya ada garis lurus di Electrocardiography, Dimas jatuh ke lantai, kakinya lemas melihat kenyataan bahwa Ira sudah pergi meninggalkannya.

Dokter mengambil alat kejut jantung dan mencoba untuk mengembalikan detak jantung Ira. Percobaan itu terus dilakukan, hingga akhirnya ruangan itu hening. Monitor itu terus saja meunjukkan garis lurusnya. Dokter mengusap wajahnya kasar lalu berbicara kepada salah satu perawat di sana.

"Umumkan waktu kematin pasien."

"Tidak ada yang mati!"

Dimas mendekati Ira dan memeluknya, air matanya terus menetes membasahi pipinya. Didekapnya Ira dalam pelukannya.

"Waktu kematian pasien pukul—"

"Aku sudah bilang, tidak ada yang mati!"

Dimas masih saja bersikukuh mengatakan bahwa Ira tidak mati. Ira hanya tertidur saat ini. Ira butuh istirahat. Yang Ira butuhkan hanya istirahat hingga semua keadaan membaik. Ira hanya butuh kehangatan.

"Tap—"

"Aku udah bilang tidak ada yang meninggal!" Dimas berteriak kepada dokter yang masih saja berada di depannya.

"I...ira, ke...kenapa tubuhmu sa...sangat dingin? Kau ke...kedinginan? Te...tenang, aku akan membawa kau pu...pulang dan menghangatkanmu."

Dimas memeluk tubuh Ira erat, ia tidak rela jika Ira yang hampir menjadi miliknya itu meninggal. Dimas hanya ingin Ira selamat.

"Waktu kematian pasien, pukul 12.05 waktu Indonesia barat. Rumah sakit Keluarga Bahagia, Jakarta."

Suara itu bagaikan palu yang menghantam hati Dimas. Ia benar-benar menyayangi Ira saat ini. Dimas tidak ingin Ira pergi untuk saat ini. Dimas masih ingin bersama dan membahagiakan Ira.

"NGGAK!"

"Maafkan aku, aku adalah laki-laki yang brengsek. Aku mengikhlaskanmu," ucap seorang laki-laki yang dari tadi dengan setia melihat semuanya dari balik pintu. Mendengar semua ucapan Dimas. Laki-laki itu juga terpukul, ia sama dengan lainnya. Ia menangis.

Tiiitt... tiittt... tiitt...

Suara Electrocardiography kembali terdengar lemah dan lambat. Jantung Ira kembali berdetak lemah. Dokter langsung mengecek kembali keadaan Ira, suster langsung menggeret Dimas agar Dokter lebih leluasa mengecek keadaan Ira.

Jantung Ira kembali berdetak normal. Sebuah keajaiban yang Dimas inginkan untuk saat ini. sama halnya dengan Sena maupun Albert. Mereka semua hanya bertahan pada keajaiban yang datang dari Tuhan. Dan memang, bukan saatnya Ira pergi.

"Maaf. Setelah ini aku tidak akan membuatmu sedih. Aku akan kembali padamu dan menjagamu."

Seorang laki-laki dengan baju pasiennya berjalan pelan menuju ke kamarnya kembali. Setelah dirasa cukup melihat keadaan Ira yang mulai membaik. Laki-laki itu kembali hening dalam penyesalannya. Aldan menyesal telah meninggalkan Ira dan membawa Ira dalam bahaya.

...***...

¬Tbc

1
Chy~
Next
FQ_I
ceritanya seru, lanjut kak....
Vina Ynt
lanjut kak
elviana
kapan up nya thor
elviana
maraton baca novelmu
elviana
ealah...suka ma martin toh gilbrane..tak kiro martin yo suka ma ira bakno sesama guy gilbran ma martin...saiki kari dimas...
elviana
dimas udah mulai bergerak...naahhh aldan..siap2 kehilangan ira yee
elviana
pinisirin
Aluna marvel alaskar aldebaran
wanna playy astaghfirullah menagia kuu
Chyda
Tim aldan dan alnira,kasian banget sihh mereka,kenapa hubungan mereka selalu saja ad masalah,
tolong hilangkan semua masalah mereka yeah thorr🙏🙏🙏
NaFasya Cutez
tim aldan alniraaaaaa
NaFasya Cutez
syuka.... aldan ira
Auriell Zeta
Bagus kak❤❤

Maaf baru bisa mampir
Jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya
Dedeh Rohaeni
tenyata aldan asli nya bucin ya
Dedeh Rohaeni
$3 like Thor hahaha
Dedeh Rohaeni: maksud nya 23 like
total 1 replies
Anie Syani Sadirah
lanjut thor...jgn terlalu lama up nya nanti diulang lagi bacanya dr awal.
Dedeh Rohaeni
sebenar nya ada dengan aldan ,masih bingung nih ?? apa baca lagi tentang aldan
elviana: sama..sampe bab ini nasih bingung
total 1 replies
Anie Syani Sadirah
jangan lupa up nya thor...jadinya lupa awal seritanya.
Mira Chaniago
lanjut Thor....
hadiya nur Jannah
Alfan -ira
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!