Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.
Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Lentera
Dada Kinan seketika terasa sesak luar biasa. Ia belum sempat berbalik atau sekedar menyembunyikan wajahnya ketika Romi menoleh dan menatap tepat ke arahnya.
Tak butuh waktu lama bagi Romi untuk mengenali sosok Kinan. Sebuah senyuman miring yang sarat makna terukir licik di bibirnya.
“Wah, wah wah. Ketemu lagi,” ujar suara Romi mengalun santai, seolah tak menyangka takdir mempertemukan mereka kembali begitu cepat.
Pacar Romi yang menggelayut mesra di lengannya ikut mengalihkan perhatian ke arah Kinan. Matanya yang dipertebal garis eyeliner memindai sinis penampilan Kinan dari ujung kepala hingga ke ujung sepatu—menilai gaun gelap dan sweter sederhananya dengan tatapan jijik.
Mika yang berfirasat buruk secara refleks memegang erat lengan Kinan yang mulai gemetaran
Tak sampai hitungan detik, Romi dan ceweknya sudah berdiri tepat di hadapan Kinan. Kinan lagi-lagi hanya menunduk begitu dalam, mematung tanpa berani menatap langsung ke mata Romi.
Mika kian mempererat genggaman tangannya pada lengan Kinan, berusaha memberikan ketenangan.
Melihat situasi tersebut, Alya langsung bergeser cepat mengambil posisi agak di depan Kinan. Kedua sahabat itu sejatinya sudah tahu siapa Romi dari potongan-potongan cerita pahit masa lalu Kinan, meskipun belum semua hal Kinan ceritakan pada mereka dengan detail.
"Cewek dekil ini mantanmu? Seleramu pernah buruk juga, ya, Sayang," celoteh cewek di samping Romi sembari tertawa manja yang dibuat-buat.
"Iya, dulu dia sok banget. Diajak makan malem mewah gak mau, kukasih barang branded juga sok nolak. Bener-bener sok jual mahal," sahut Romi dengan muka sinis, melemparkan pandangannya ke arah Kinan yang tertunduk.
Kinan masih membisu di tempatnya berdiri, sama sekali belum ada keberanian untuk menatap Romi secara langsung. Jemari tangannya masih bergetar dan makin dingin. Bahkan sekedar mencoba mengatur ritme napasnya saja terasa begitu terasa berat.
"Gak pernah ngehargai semua niat baikku. Kalo inget waktu dulu, bener-bener muak rasanya!" bentak Romi.
Alya menahan diri, masih belum mengeluarkan sepatah kata pun. Sejujurnya, ia belum sepenuhnya paham seperti apa benang kusut hubungan masa lalu Kinan dan Romi.
Mika memegang lengan Kinan makin erat, menyadari penuh bahwa kondisi batin sahabatnya itu semakin tak baik-baik saja. Namun, tanpa diduga oleh siapapun, beberapa saat kemudian Kinan mendongakkan kepalanya.
Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, ia memberanikan diri menatap mata Romi langsung. Bibirnya terbuka menahan getaran.
"Niat baik? Niat baik yang mana maksudmu? Yang ada cuman buat pamer harta orangtuamu, kan?"
Mendengar letupan itu, raut wajah Romi seketika berubah gelap, seakan tak percaya dengan perlawanan Kinan.
"Oh, jadi maksudmu aku cuma tau pamer, gitu?! Setelah semua yang aku beri, kau sekarang play victim, huh? Gak bisa menghargai kebaikan orang sama sekali?” ujar Romi, wajahnya memerah penuh kekesalan.
"Kebaikan apa?! Cuman berlagak baik kalo ada maunya! Apa kau lupa kalo—"
Romi tak sanggup lagi menahan amarah mendengar kata-kata Kinan. Sebelum Kinan bicara semakin jauh di depan umum, ia memotong cepat dengan bentakan membabi buta.
"Dasar cewek gak tahu diuntung! Udah lah, kau itu cuman cewek keras kepala yang sok jaga harga diri! Brengsek!”
Dalam puncak kemarahannya, tangan Romi terangkat tinggi. Ia menghentakkannya turun dengan niat melayangkan tamparan keras ke wajah Kinan.
Kinan hanya bisa memejamkan mata. Tubuhnya gemetar menunggu sesuatu yang teramat ia takuti, meski ia berusaha tetap berdiri tegak. Alya dan Mika bahkan tak sempat beraksi karena terlalu kaget.
Namun, tamparan itu tak kunjung mendarat.
Sebuah rangkulan hangat hangat tiba-tiba menarik tubuh Kinan ke sisi belakang dengan sigap. Lengan kiri Nathan melingkar di bahu Kinan, merengkuhnya ke dalam pelukan perlindungan. Di saat yang bersamaan, tangan kanan Nathan dengan cepat mencengkeram kuat pergelangan tangan Romi yang menggantung di udara.
Romi begitu terkejut, kaget dengan kemunculan cowok asing yang begitu tiba-tiba menahan gerakannya.
“Brengsek! Siapa kau?!” gertak Romi meradang. Ia mencoba menghentakkan tangannya untuk lepas, namun cengkeraman jemari Nathan tak goyah dan malah makin menguat.
"Jangan....berani...kau...nyentuh...kekasihku," ucap Nathan dengan intonasi rendah dan tajam. Setiap katanya terucap pelan, namun sarat dengan ancaman yang tak terbantahkan.
Nathan menatap lurus tepat ke dalam bola mata Romi. Tatapan tenang itu, tetapi begitu tajam—lebih dari sekadar sebuah peringatan.
Kinan terpaku membisu. Tubuhnya bersandar sedikit pada dada Nathan, merasakan detak jantung cowok itu. Matanya terbuka perlahan, menatap wajah Nathan di sampingnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Rasa syok, tak percaya dan... sebuah kehangatan rasa aman.
Pacar Romi terlihat mulai gelisah di sampingnya. Ia memegang lengan Romi erat-erat sembari berbisik cemas, “Udah, Sayang… udah, ayo kita pergi aja.”
Namun, ego Romi belum mau mundur begitu saja. Ia mencoba membalas tatapan tajam Nathan dan berusaha melayangkan pukulan menggunakan tangan kirinya. Sayang, niat itu kandas dalam hitungan detik.
Nathan melepas cengkeramannya pada tangan kanan Romi dengan sentakan pelan namun tegas, membuat Romi terdorong mundur dan hampir kehilangan keseimbangan.
Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian mencekam di parkiran cake shop tersebut.
Langit siang begitu cerah, mengiringi canda tawa tiga sahabat yang memenuhi ruang tamu rumah Mika.
Alya duduk santai di lantai dekat meja, mengelus lembut ekor kucing peliharaan keluarga Mika. Sementara Mika duduk bersila di atas sofa sembari memeluk bantal kecil, dan Kinan duduk bersandar di sisi lain sofa, menatap mereka berdua dengan wajah sedikit lelah yang dihiasi senyum tipis.
“Aku masih gak percaya, sumpah!” seru Mika mendadak, menunjuk muka Kinan dengan ujung bantalnya. "Nathan? Si Nathan yang itu? Yang keren itu? Dia cowokmu?! Serius?! Sejak kapan, Kin? Berapa banyak rahasia yang kamu sembunyiin dari kami, heh?"
Kinan menunduk dalam-dalam, menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangan. “Ampun deh, Mik… gak usah lebay. Gak ada rahasia yang aku sembunyiin. Itu semua cuman—”
Mika setengah melompat dari sofa, lalu menjatuhkan dirinya kembali dengan gaya dramatis khasnya. “Seorang Kinan yang katanya gak tertarik sama asmara, ternyata tiba-tiba... boom! Bikin iri banget, deh! Kenapa coba gak pernah bilang?”
Alya yang biasanya paling tenang pun tak sanggup menahan senyum menggodanya. “Aku juga kaget banget pas dia nyamperin kamu malam itu. Cara dia narik dan ngelindungimu dari cowok sialan itu… asli, kayak adegan drama Korea banget, Kin. Sumpah.”
"Itu bukan… bukan kayak gitu…” Kinan berusaha membela diri dengan suara makin mencicit.
Namun, semakin ia mengelak, makin lebar pula Mika dan Alya saling melirik, sebelum akhirnya tawa lepas pecah di ruang tamu siang itu.
“Udah deh, ngaku aja! Sebenernya udah jadian sejak kapan, sih? Apa jangan-jangan setelah ketemu di sore itu?” goda Mika sembari tersenyum jahil.
"Gak!” potong Kinan cepat memprotes, kedua pipinya kian memerah. “Aku bahkan beneran belum kenal dia!”
Tawa kembali pecah di antara mereka bertiga. Meskipun Kinan terus mencoba membela diri, gestur canggung dan ekspresi wajahnya yang tak bisa berbohong justru membuat dua sahabatnya makin yakin bahwa Kinan memang perlahan jatuh hati.
Hari Minggu pagi menyapa dengan udara yang sejuk dan mendung. Kinan tampak sedang tiduran santai di atas sofa ruang tamu, menumpangkan satu kakinya di atas kaki yang lain. Namun, satu hal yang paling mencolok dari Kinan pagi ini adalah senyum-senyum kecil yang terus terukir di wajahnya.
Jemari tangannya menggenggam ponsel. Layar yang menyala menampilkan sebuah draf pesan percakapan dengan seseorang yang belum juga berani ia dikirim.
“Tumben kamu senyum-senyum terus dari tadi,” tegur ibunya yang baru pulang dari pasar, meletakkan kantong belanjaan di atas meja.
Kinan tersentak kaget. Spontan ia menyembunyikan ponselnya di atas dada, lalu terburu-buru bangkit setengah duduk.
“Anu, Bu.. cuman… abis liat video lucu di internet,” jawab Kinan terbata-bata sambil cengar-cengir salah tingkah.
Ibu Kinan kemudian duduk tepat di sebelah Kinan. "Nanti waktu kamu berangkat kerja, sekalian belikan Ibu obat sakit kepala ya."
Kinan menghela napas pelan, raut wajahnya berubah khawatir. “Loh, Ibu sakit?"
"Kecapekan saja sedikit. Lagi banyak yang perlu diurus soalnya," jawab ibu Kinan sembari memijat pelipisnya perlahan.
Kinan menghembuskan napas lega mendengar jawaban ibunya. Tak lama berselang, ibunya berdiri lalu berjalan menuju dapur sembari membawa kantong belanjaan yang tak begitu banyak—tak seperti biasanya.
Setelah itu, Kinan kembali memfokuskan pandangannya pada layar ponsel. Ia menatap deretan ketikan itu cukup lama sebelum akhirnya memberanikan diri menekan tombol kirim.
"Halo, ini aku... Kinan. Kemaren aku minta nomermu dari Alya."
Butuh waktu hampir sepuluh menit yang penuh keraguan sampai akhirnya jari Kinan mengetik dan mengirim pesan keduanya.
"Makasih banget untuk kemaren hari, ya."
Di tempat lain, Nathan sedang duduk di kasurnya, beristirahat sejenak seusai melakukan rutinitas lari paginya. Punggungnya bersandar pada dinding kamar dengan headset terpasang di telinga. Musik mengalun pelan, sementara ponselnya sengaja ia biarkan tergeletak di atas bantal.
Baru setelah mendengar notifikasi berbunyi dua kali berturut-turut, ia meraih ponselnya.
Nathan membaca pesan itu perlahan. Sejenak ia terdiam, hingga akhirnya beberapa saat kemudian, jemarinya mulai membalas chat tersebut diiringi senyum tipis yang perlahan muncul di bibirnya.
Sebuah balasan singkat: Hanya berupa sebuah emotikon senyum.
Mendapatkan balasan chat dari Nathan, Kinan yang sedang menatap layar langsung menegang dalam posisi duduk bersandar di sofa.
“Cuman... emot doang? Serius?” gumam Kinan pelan. Jemarinya mulai gelisah sendiri tak tentu arah di atas layar. Hatinya menjerit bingung, mencoba menerka-nerka apa maksud balasan singkat itu. Bibirnya terangkat membentuk senyum malu-malu, namun disaat yang bersamaan otaknya mulai overthinking sendiri.
Beberapa jam sebelumnya…
Nathan baru saja selesai mengikat tali sepatunya di teras depan, saat terdengar suara yang familiar memanggilnya dari balik pagar.
"Nath! Aku bawain sarapan, nih~!”
Riska berdiri di sana dengan senyum lebar. Tangan kirinya membawa rantang tiga susun, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah termos kecil.
Nathan langsung bangkit lalu melangkah mendekat untuk membuka pintu pagar. "Hhmm.. kayaknya enak, Kak Ris. Masak apa kali ini?” tanya Nathan penasaran.
Riska melirik usil sambil memberitahu isi rantangnya. “Nih, ada ayam ungkep, tahu balado, sama sambel tomat, sekalian sama nasinya. Terus yang di termos ini green tea asli dari jepang. Kemaren aku dapet parsel dari bosku.”
Nathan tersenyum, menerima semuanya dengan kedua tangan. “Serajin ini, pasti kucing-kucingmu bahagia punya ibu kayak kamu, Kak Ris.”
Riska menepuk bahu Nathan. “Sudah selayaknya sama anak-anak sendiri, kan?”
“Aku taruh bentar ke dalam. Kak Ris masuk aja.”
Nathan membawa masuk pemberian Riska ke dalam kos , bermaksud menyimpan makanan itu sebelum melanjutkan kembali rutinitas lari paginya.
Saat Nathan kembali ke teras, Riska masih menunggunya. "Makasih untuk sarapannya, Kak Ris. Nanti aku makan setelah lari,” ucap Nathan sembari melakukan gerakan pemanasan, menekuk lengan dan meregangkan otot kakinya.
Mereka berdua melangkah perlahan ke luar kos. Riska menyipitkan mata, menatap Nathan dengan pandangan penasaran. “Hmmm… sebelum kamu pergi, aku mau nanya sesuatu.”
Gerakan peregangan Nathan berhenti seketika, matanya menatap Riska penuh tanda tanya.
“Waktu itu, pas kamu nolongin cewek dari cowok yang mau nampar dia di parkiran cake shop... apa cewek itu… beneran pacarmu?" tanya Riska penasaran.
Nathan sesaat hanya diam, lalu membalasnya dengan senyum tipis yang penuh rahasia.
“Beneran?” Riska memiringkan kepala, menatapnya tajam—persis seperti kakak perempuan yang mencium kebohongan adik lelakinya.
Dan sebelum Riska sempat mendesak Nathan lebih jauh, cowok itu sudah mengambil ancang-ancang lalu melesat kabur berlari meninggalkan Riska sambil tertawa pelan.
Riska mendengus gemas. “Dasar bocah ngeselin!”
Kilas balik ke malam event Halloween di Alleria cake shop…
Malam kian larut, dan pengunjung cake shop justru makin ramai. Nuansa Halloween yang horor kian terasa memenuhi seluruh sudut ruangan. Di lantai satu, Nathan baru saja kembali dari kamar mandi yang sempat mengantre cukup panjang.
"Sudah, Nath?" tanya Riska yang sedari dari menunggu sendirian di meja.
Nathan hanya mengangguk pelan. Ia mulai merasa kurang nyaman dengan pengunjung yang kian padat di cake shop. "Gimana kalo pulang sekarang, Kak Ris? Gak masalah, kan?"
Riska menatap raut wajah Nathan sejenak dan langsung menangkap rasa risih dari cowok itu. “Ayo deh, udah lumayan malem.”
Akan tetapi, tepat saat Nathan hendak melangkah ke arah pintu keluar, suara yang familier mendadak memanggil namanya dari belakang. Nathan berbalik badan, dan matanya menangkap sosok Belinda yang berdiri di dekat meja kasir melambaikan tangan sembari memegang sebuah kotak kue kecil yang terhias pita rapi.
“Nath, tolong kesini bentar!” panggil Belinda setengah teriak.
Nathan menghentikan langkahnya, lalu kembali menghampiri area meja kasir.
“Bisa kamu berikan ini ke Kinan, gak?” minta Belinda sembari mengulurkan kotak kue itu ke hadapan Nathan. “Dia kelupaan bawa pesanan takeaway-nya. Tadi heboh bercanda sama temennya, sih. Aku gak bisa ninggalin kasir, soalnya cake shop udah mulai rame lagi.”
Nathan menatap kotak kue itu sejenak, lalu mengangguk pelan. “Dia masih di parkiran?”
“Iya, baru aja keluar. Mestinya sih belum jauh.”
Tanpa banyak bicara lagi, Nathan menyambar kotak kue tersebut lalu melangkah cepat keluar cake shop. Riska menyusul mengikutinya dari belakang dengan langkah santai.
Begitu sampai di pelataran parkiran yang temaram, mata Nathan langsung menangkap keberadaaan sosok cewek itu.
Kinan—berdiri mematung tak jauh dari jajaran motor, berhadapan langsung dengan seorang cowok yang tak Nathan kenal. Namun, ada yang tak beres. Ekspresi Kinan tampak begitu tegang dan diselimuti rasa ketakutan. Dada Nathan bergemuruh saat melihat tangan cowok itu sudah terangkat tinggi, siap mendaratkan sebuah tamparan.
Namun, insting Nathan bekerja jauh lebih cepat dibanding pikirannya.
Kembali ke kamar Nathan di minggu pagi menjelang siang…
Cowok itu menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Chat terakhir dari Kinan sudah dibaca—begitu pun balasan singkat yang ia kirim tadi: hanya satu emotikon senyum.
Namun sekarang, Nathan justru seperti bingung dan gugup sendiri, merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya.
Ia mengetik sebuah kalimat balasan pada kolom draf, tapi detik berikutnya ia menghapusnya. Mengetik ulang kalimat lain. Menghapusnya lagi. Begitu terus sampai akhirnya ia menyerah, meletakkan ponselnya di kasur, lalu mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Kenapa ribet banget, sih?" gumamnya gundah.
Sementara itu di rumahnya, Kinan juga tak kalah frustasi memelototi layar ponsel. Ditatapnya balasan singkat Nathan itu berkali-kali, seolah berharap secara ajaib muncul tambahan kalimat yang tertunda di bawahnya. Namun, hasilnya tetap nihil.
Jemarinya tak henti mengetuk-etuk layar, membuka dan menutup chatroom Nathan terus-menerus. Di dalam benaknya, muncul berbagai spekulasi dan prasangka aneh yang membuatnya semakin overthinking.
"Apa dia nggak tertarik? Apa aku terlalu kepedean? Apa dia bales sambil ngantuk? Atau... emang gitu aja gaya dia?"
Kinan menghela napas panjang lalu merebahkan tubuhnya secara dramatis ke sofa. Wajahnya yang memerah dipadamkan di balik bantal sambil mengerang pelan.
“Aarrgh… kenapa sih aku jadi begini…”