Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Siang itu di ruang kerja bertingkat yang dingin, udara dipenuhi ketegangan. Luca duduk di balik meja mahoni, menatap datar gadis di depannya yang bersikeras memotong pembicaraannya.

"Saya cuma mau punya kegiatan, Tuan," ujar Ruby setengah memohon, berdiri kaku di depan meja Luca. Tangannya saling bertaut di depan gaun sederhananya. "Tinggal di rumah sebesar ini tanpa melakukan apa-apa selama berbulan-bulan bikin saya merasa seperti tahanan. Saya... saya cuma mau berguna."

Luca meletakkan pulpen berujung emasnya dengan ketukan pelan yang mengintimidasi. Iris mata pekatnya menatap Ruby tanpa ekspresi.

"Kamu bukan tahanan," sahut Luca dengan suara rendah dan berat. "Dan kamu juga bukan pelayan di sini. Saya membiarkan kamu tinggal bukan untuk dijadikan buruh."

"Tapi saya mau, Tuan!" potong Ruby cepat, lalu buru-buru menunduk saat menyadari ia baru saja memotong ucapan sang penguasa mansion. "Maksud saya... tolong izinkan saya bantu Bi Ratna. Sekadar bersih-bersih ruang tengah, merapikan buku, atau menyiapkan tabel makan. Saya nggak akan bikin kekacauan lagi. Saya janji."

Keheningan melingkupi ruangan itu selama beberapa saat. Luca menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, mengamati keteguhan di mata Ruby yang bersinar terang di balik rasa takutnya.

"Kamu tahu apa pekerjaan pelayan di rumah ini?" tanya Luca dingin. "Mereka bekerja di bawah aturan ketat. Nggak ada mengeluh, nggak ada kecerobohan."

"Saya tahu, dan saya siap ikuti semua aturan itu," tegas Ruby tanpa ragu.

Luca mendengkus tipis, matanya menyipit tajam. "Baik. Kalau itu yang kamu mau."

Ia mengisyaratkan dengan dagunya agar Ruby mendekat satu langkah. "Mulai hari ini kamu bantu Bi Ratna. Tapi ingat satu hal, Ruby. Kamu hanya bekerja di bawah pengawasan langsung di dalam mansion ini. Jangan pernah berani melangkah keluar dari gerbang tanpa izin saya."

Ruby mengangguk mantap, ada binar lega yang akhirnya muncul di wajahnya. "Terima kasih banyak, Tuan Luca."

"Satu lagi," tambah Luca, menatap lurus ke dalam mata Ruby saat gadis itu hendak berbalik. "Kalau kamu bikin kesalahan sekecil apa pun... status pelayan kamu mencair dan saya sendiri yang bakal urus kamu."

"P-paham, Tuan," bisik Ruby pelan, merinding mendengar penekanan dingin dari Luca, meski ada perasaan lega karena akhirnya ia diberi kesempatan untuk memiliki sedikit kebebasan di dalam benteng mewah tersebut.

......................

Jika ingat percakapan beberapa bulan yang lalu, ia merasa bersyukur karena luca memperbolehkan dirinya untuk menjadi pelayan di rumah ini, meskipun pergerakan nya terbatas.

Enam bulan berlalu sejak hari di mana Ruby resmi menyandang status sebagai pelayan di mansion megah milik Luca. Hari-harinya tak lagi diisi oleh bayang-bayang ketakutan atau kebosanan yang mencekam. Justru, rutinitas barunya membawa kedamaian dan kebahagiaan kecil yang sudah lama tak pernah ia rasakan.

Setiap pagi, Ruby disibukkan dengan menyiram tanaman di rumah kaca, merapikan deretan buku di perpustakaan pribadi, hingga menyiapkan meja makan bersama Bi Ratna. Gelak tawa ringannya kerap terdengar di area dapur, mengusir suasana kaku mansion yang selama bertahun-tahun dikenal dingin.

Namun, tinggal satu atap dengan Luca Oliver tentu tidak pernah benar-benar terbebas dari intimidasi.

Pagi itu, Ruby sedang merapikan tumpukan dokumen di meja kerja Luca saat sang pemilik ruangan melangkah masuk dengan setelan jas rapinya. Langkah kaki pria itu yang mantap selalu berhasil membuat jantung Ruby berdesir halus.

"Kamu meletakkan dokumen laporan keuangan di bawah berkas ekspansi, Ruby?" tanya Luca dengan suara rendah dan berat yang khas, berdiri menjulang di samping meja.

Ruby refleks menghentikan gerakannya dan mendongak, menatap mata elang Luca. "I-iya, Tuan. Bi Ratna bilang dokumen yang paling sering Tuan baca harus di taruh di paling atas, jadi..."

Luca membungkukkan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma maskulin kayu cendana yang tajam langsung mengurung indra penciuman Ruby. Iris mata pekatnya menatap bibir Ruby yang sedikit terbuka karena gugup.

"Tugas kamu di sini merapikan, bukan mengacak-acak urusan bisnis saya," bisik Luca pelan, nada suaranya begitu dingin namun anehnya mengalirkan sensasi hangat yang membakar pipi Ruby. "Satu kali lagi kamu salah menaruh berkas penting ini... saya sendiri yang bakal mengunci kamu di ruangan ini seharian penuh bersama saya. Paham?"

Ancaman halus itu kembali terlontar dari bibir Luca, lengkap dengan tatapan dominan yang selalu sukses membuat dada Ruby berdebar tak karuan.

"P-paham, Tuan Luca... Maafkan saya," cicit Ruby seraya buru-buru membetulkan posisi dokumen tersebut dengan jemarinya yang agak bergetar.

Luca hanya memperhatikan jemari halus gadis itu sebentar sebelum menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat oleh Ruby, lalu berbalik pergi menuju pintu.

Meskipun Luca selalu melontarkan ancaman-ancaman kaku dan kalimat intimidasi saban hari, Ruby tidak lagi merasa terancam seperti saat ia berada di bawah cengkeraman Kavano. Di balik sikap dingin dan kalimat ketatnya, Ruby tahu ada perlindungan mutlak yang diam-diam dijaga Luca untuk keselamatan nyawanya. Dan bagi Ruby, ancaman halus pria itu kini justru terasa seperti bagian dari dinamika aneh yang tanpa disadari mengisi kekosongan di hatinya.

Perasaan itu datang tanpa permisi, merayap pelan di antara dinginnya dinding-dinding batu mansion. Ruby sendiri tidak pernah tahu pasti kapan tepatnya rasa takut dan cemas terhadap sang penguasa rumah mulai melebur menjadi kehangatan yang asing namun menenangkan.

Mungkin sejak Luca diam-diam menyuruh Bi Ratna menambah porsi suplemen di minumannya saat ia terlihat pucat, atau saat pria itu sengaja berjalan lebih lambat di koridor agar Ruby tak perlu setengah berlari mengekor di belakangnya. Perhatian Luca memang tidak pernah disampaikan lewat kata-kata manis—selalu terbungkus oleh nada suara kaku, perintah tegas, dan ancaman dingin.

Namun di balik itu semua, Ruby bisa merasakannya. Dan hal itulah yang membuat harinya selalu dipenuhi rasa salah tingkah.

Sore itu, Ruby sedang berdiri di atas tangga kayu kecil di perpustakaan, berusaha menjangkau sebuah buku berikatan kulit di rak paling atas. Karena tubuhnya yang mungil, ia harus berjinjit penuh kekhawatiran.

"Kalau jatuh, kamu cuma bakal nambah beban kerja Bi Ratna."

Suara berat dan dingin yang sangat dikenalnya itu mendadak terdengar dari bawah, membuat Ruby terkejut hingga pijakan kakinya meleset sedikit.

"A-ah, Tuan!" Ruby cepat-cepat berpegangan pada rak, jantungnya langsung melompat ke tenggorokan.

Luca sudah berdiri tepat di samping tangga kayu itu. Pria itu menggelengkan kepala pelan, mengikis jarak lalu mengulurkan tangannya yang panjang. Tanpa kesulitan sedikit pun, jemari Luca yang kokoh mengambil buku yang diincar Ruby, lalu menyerahkannya tepat di depan dada gadis itu.

Jarak mereka begitu dekat. Ruby bisa merasakan embusan napas hangat Luca di celah lehernya dan aroma parfum kayu cendana yang mahal merayapi inderanya.

"Terima kasih, Tuan..." bisik Ruby pelan, menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan rona merah padam yang kini membakar kedua pipinya. Tangannya bergetar halus saat menerima buku itu.

Luca menyipitkan mata, memperhatikan rona merah di pipi Ruby serta jemari gadis itu yang meremas pinggiran buku dengan sangat erat.

"Pipi kamu merah," tegur Luca datar, menyilangkan kedua tangan di dada sambil menatap lurus ke dalam mata Ruby yang gugup. "Kamu sakit, atau kecerobohan kamu yang bikin kamu demam?"

"N-nggak, Tuan! Saya... saya cuma agak kegerahan aja," sahut Ruby terbata-bata, makin salah tingkah hingga tak berani menatap iris mata hitam yang menghujam tajam itu.

Luca mendengus tipis. Ada kilatan samar yang melintas di matanya—sebuah ekspresi langka yang seolah menikmati betapa mudahnya ia membuat gadis di depannya ini serba salah.

"Turun dari sana sebelum kamu benar-benar jatuh," perintah Luca pelan namun tak membantah. "Dan bawa buku itu ke meja saya. Nanti malam saya mau kamu membacakannya untuk saya."

Setelah mengatakan itu, Luca berbalik melangkah pergi meninggalkan perpustakaan. Tinggallah Ruby yang berdiri kaku di atas tangga kayu, memegang bukunya erat-erat seraya menekan dadanya sendiri yang kini berdegup kencang tak beraturan.

Ruby menatap punggung tegap Luca yang makin menjauh dengan mata membelalak tak percaya.

*Membacakan buku? Untuknya? Nanti malam? Yang benar saja!*

Rona merah di pipinya yang semula terbit karena salah tingkah seketika berganti menjadi kepanikan dan kejengkelan yang membakar dada. Pria itu sudah benar-benar gila! Selama enam bulan menjadi pelayan di sini, tugasnya adalah menyiram bunga, merapikan ruangan, atau menyiapkan meja makan—bukan menjadi pembaca dongeng pribadi seorang penguasa dingin di tengah malam!

"Nggak. Ini udah kelewat batas," gumam Ruby pada dirinya sendiri seraya memeluk buku tebal itu erat-erat.

Malam harinya, waktu yang ditentukan pun tiba.

Sesuai dugaan, jam sembilan malam Bi Ratna mengetuk pintu kamarnya dan menyampaikan pesan bahwa Luca menunggu di ruang kerja pribadi. Namun, kali ini Ruby tidak melangkah dengan kepala menunduk pasrah. Ada keberanian liar yang membakar dadanya. Ia tidak mau diperlakukan seenaknya untuk hal-hal aneh semacam ini.

*Tok! Tok! Tok!*

"Masuk."

Ruby mendorong pintu kayu jati yang berat itu. Di dalam ruangan bernuansa gelap dan remang tersebut, Luca sedang duduk santai di sofa kulit yang megah, mengenakan kemeja hitam yang gulungan lengannya dinaikkan hingga siku. Segelas wiski berdiri di meja kecil di sampingnya.

Luca mendongak, menyapu pandangannya pada Ruby yang berdiri kaku di dekat pintu tanpa membawa buku berikatan kulit tadi.

"Mana bukunya?" tanya Luca dingin, alis tebalnya bertaut tipis.

Ruby menarik napas panjang, menetralkan degup jantungnya sebelum mengangkat wajahnya tinggi-tinggi. "Saya nggak bawanya, Tuan."

Suasana ruangan mendadak membeku. Luca memiringkan kepalanya sedikit, menatap Ruby dengan iris mata pekat yang membahayakan. "Saya nggak ingat pernah memberikan opsi untuk kamu tidak membawanya."

"Saya menolak, Tuan Luca," tegas Ruby, suaranya bergetar halus namun dipenuhi keyakinan mutlak. "Tugas saya di sini sebagai pelayan adalah membersihkan rumah dan membantu Bi Ratna. Membacakan buku buat Tuan di larut malam begini bukan bagian dari pekerjaan saya."

Luca perlahan berdiri dari duduknya. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan intimidasi yang mengurung Ruby. Pria itu melangkah pelan, mendekati Ruby dengan ritme yang tenang namun penuh ancaman.

"Kamu menolak perintah saya?" bisik Luca begitu ia berhenti tepat di depan Ruby, mengikis habis jarak di antara mereka.

Ruby mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Walau bulu kuduknya berdiri dan kakinya bergetar melihat aura penguasa di depannya, ia tetap menatap lurus ke dalam mata elang Luca.

"Iya, saya menolak," sahut Ruby berani. "Dan kalau Tuan berniat memaksa saya... saya tetap akan berontak. Tuan bisa kunci saya di kamar atau hukum saya sesuka Tuan, tapi saya nggak akan mau turuti keinginan gila ini!"

Luca tidak membalas penolakan keras itu dengan amarah. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk ukiran senyum dingin yang amat langka. Ia melangkah semakin mendekat, memaksa Ruby yang memasang sikap bertahan untuk mundur hingga punggung gadis itu membentur permukaan pintu kayu yang tertutup rapat.

Dengan satu gerakan tenang, Luca menumpukan sebelah tangannya di pintu, tepat di samping kepala Ruby, mengurung gadis itu sepenuhnya dalam kungkungan tubuhnya.

"Kamu pikir saya menyuruh kamu membaca buku itu buat pengantar tidur saya?" Suara Luca mengalun sangat rendah di dekat telinga Ruby, dalam dan berat.

Ruby menelan ludah, dadanya naik turun karena pasokan udara terasa kian menipis. "L-lalu apa?"

Luca menurunkan pandangannya, menatap lurus ke dalam iris mata Ruby yang menantang. "Buku yang kamu pegang tadi sore bukan buku cerita, Ruby. Itu adalah dokumen sejarah, silsilah internal, dan peta aset rahasia yang mengikat bisnis keluarga Archelio dengan relasi terbesarnya di Eropa."

Ketakutan di tubuh Ruby seketika melumer, berganti menjadi rasa guncangan yang hebat. Nama *Archelio* selalu berhasil memicu hawa dingin di tengkuknya.

"Kavano makin gila mencari kamu karena dia tahu ada satu posisi formal dalam struktur kepemilikannya yang hanya bisa disahkan lewat kamu," lanjut Luca, jemarinya terangkat pelan, menyapu helai rambut Ruby yang menutupi dahinya sebelum menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu. Sentuhan hangat itu berbanding terbalik dengan nada suaranya yang mematikan. "Saya sedang menyiapkan jebakan besar untuk menghancurkan Kavano dan ayahnya sampai ke akar-akarnya. Dan untuk memastikan rencana ini berhasil tanpa celah..."

Luca menundukkan kepalanya sedikit lagi, menatap bibir Ruby sebelum kembali mengunci tatapan matanya.

"...kamu harus paham setiap detail yang ada di dalam buku itu. Kamu bukan cuma sekadar pelayan yang saya lindungi di sini, Ruby. Kamu adalah pemegang kunci utama dalam permainan ini, dan kamu harus ikut ambil bagian."

Keberanian dan sikap berontak Ruby yang tadi membara perlahan goyah, berganti dengan degupan jantung yang terpacu cepat. Perasaan terkejut karena harus berhadapan kembali dengan bayang-bayang masa lalunya kini bertaut dengan kesadaran baru: Luca tidak sedang mempermainkannya, melainkan sedang mempercayakan senjata paling mematikan di tangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!