Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Berbaikan / Single Mom / Tamat
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: marilu@123

Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.

Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.

Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.

Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.

Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.

Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkonfirmasi

Sudut Pandang Dante

Hari itu terasa lebih lama dari seharusnya. Atau mungkin… hanya perasaanku saja. Karena setiap menit terasa merambat. Lambat. Berat.

Aku tak bisa fokus pada apa pun. Pekerjaan. Rapat. Tak ada yang penting. Hanya satu hal. Hasilnya.

Menjelang sore… hampir malam… pintu ruang kerja terbuka. Dan Jason masuk. Tanpa tergesa. Seperti biasa. Tapi aku menyadarinya. Amplop di tangannya. Putih. Sederhana. Namun membawa bobot yang… mengubah segalanya.

Pandanganku langsung tertuju ke sana. Dan sesaat… aku tak bergerak.

Jason pun tak berkata apa-apa. Ia hanya mendekat. Lalu meletakkan amplop itu di meja. Di antara kami.

"Sudah sampai." Sederhana. Langsung.

Tapi keheningan yang menyusul… terasa berbeda. Berat. Penuh penantian.

Aku terus menatap amplop itu. Tanpa menyentuh. Tanpa membuka. Seolah… dalam jeda waktu yang kecil itu… aku masih punya pilihan. Tapi tidak. Tak pernah punya.

Kuambil. Perlahan. Kurobek. Tanpa basa-basi. Tanpa sabar. Kubuka.

Mataku menyapu deretan kata. Cepat. Terlatih. Tapi kali ini… aku benar-benar membacanya. Sungguh-sungguh. Tiap detail. Tiap baris. Tiap konfirmasi.

Dan kemudian… dunia berhenti.

Hening. Total.

Napasku melambat. Berat. Seolah sesuatu telah berubah di dalam diriku. Dan memang berubah.

Jason mengamatiku. Aku merasakannya. Tapi aku tak menoleh padanya. Kuteruskan menatap kertas itu. Seolah ia akan lenyap. Seolah semua ini tak nyata. Tapi nyata. Sangat nyata.

Kuembuskan napas perlahan. Kuusap wajahku. Kupejamkan mata sesaat. Dan kemudian… aku menerimanya.

"Bagaimana?" Suara Jason datang tenang. Tapi ada sesuatu di sana. Penantian.

Aku mengangkat pandangan. Menatapnya. Langsung. "Mereka anakku." Sederhana. Tanpa berputar-putar. Tanpa keraguan.

Jason mengangguk pelan. Seolah sudah menduga. "Kalau begitu aku jadi paman."

Aku menghela napas tipis lewat hidung. Nyaris tak terlihat. "Sepertinya begitu."

Hening. Tapi kali ini… berbeda. Tak setegang tadi. Lebih… nyata.

Aku bangkit. Kurapikan setelanku. Berusaha menata pikiran. Tapi percuma. Karena kini… ini bukan lagi kemungkinan. Ini fakta.

Kuambil ponsel. Kubuka pesan. Dan kukirim.

"Kau baru saja dapat dua keponakan."

Aku tahu ia akan mengerti. Tak perlu penjelasan lebih jauh.

Kusimpan ponsel. Kutatap Jason. "Ayo."

Ia tak bertanya apa pun. Hanya mengangguk. Karena ia tahu. Sudah waktunya.

Perjalanan ke apartemen itu berlangsung cepat. Tapi pikiranku… masih terus mencerna. Anak. Dua. Tujuh belas tahun. Seumur hidup… tanpa kutahu. Seumur hidup… jauh dariku. Dan kini… di sana. Dalam jangkauanku. Dalam tanggung jawabku.

Aku memarkir mobil. Keluar. Tanpa menunggu. Tanpa banyak berpikir. Masuk. Naik. Setiap langkah mantap. Lurus. Tanpa ragu.

Pintu sudah terbuka bahkan sebelum aku mengetuk. Jason tentu sudah mengabari. Aku masuk. Dan berhenti.

Ruang tamu itu sunyi. Dan hanya dia yang ada di sana. Rebecca. Berdiri. Tegang. Cemas. Matanya terpaku padaku. Menunggu.

Pikiranku bisa saja berputar. Bisa saja menganalisis. Bisa saja melakukan seribu hal. Tapi tidak. Aku langsung ke inti.

"Mereka anakku." Suaraku keluar mantap. Tanpa emosi yang tampak. Tapi sarat kebenaran.

Ia mematung. Benar-benar. Seolah tubuhnya lupa cara bereaksi.

"Si kembar," tambahku. "Mereka anakku."

Keheningan jatuh. Berat.

Lalu aku melangkah maju satu langkah. Lebih dekat. "Aku mau bertemu mereka."

Tanpa berputar-putar. Tanpa dilembutkan. Tanpa memberi ruang bagi keraguan. Karena kini… ini bukan lagi kemungkinan. Ini kenyataan. Dan aku tak akan menjauh darinya. Tidak sedetik pun lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!