Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Suara bentakan Kevin memantul keras menghantam dinding kelas XII-IPS 2 yang catnya sudah mengelupas. Gema itu menciptakan keheningan tegang yang seketika mencekik leher siapa pun di ruangan tersebut.
Di ambang pintu, kemeja Kepala Sekolah sudah basah kuyup oleh keringat dingin, otaknya berputar panik membayangkan dana miliaran rupiah dari Yayasan Adiwangsa terancam melayang begitu saja masuk ke selokan akibat siswi bar-bar bernama Alea.
Namun, Alea sama sekali tidak bergeming. Alih-alih gemetar atau menunduk minta ampun, ia justru menyipitkan mata, menatap Kevin dari atas sampai bawah dengan ekspresi jijik yang luar biasa, layaknya melihat kecoa terbang yang mendarat di atas piring nasi uduknya.
"Emangnya lo siapa, hah? Pemilik sah bumi, langit, dan seluruh aset propertinya?" balas Alea sengit, melipat kedua tangannya di dada dengan dagu terangkat menantang.
"Satu-satunya fakta yang gue tahu, muka glowing lo itu sekarang lagi nampilin ekspresi kalah telak. Jadi, saran gue sebagai praktisi ekonomi mikro: mending lo bawa deh tuh kotak sumbangan lo, putar balik, dan cari panggung pencitraan di tempat lain sebelum kesabaran gue habis dan gue tagih biaya sewa tempat!"
"Lo—!" Kevin menunjuk wajah Alea dengan tangan bergetar hebat.
Urat-urat di pelipisnya menonjol keluar, memerah akibat amarah yang membakar habis sisa-sisa harga dirinya.
Sebagai Tuan Muda kedua dari keluarga Adiwangsa yang selalu dielu-elukan bak pangeran di lingkaran sosialita elite, tidak pernah ada satu pun manusia, apalagi gadis dari kelas sosial rendahan yang berani melucuti harga dirinya sedemikian rupa di hadapan publik.
Akal sehat Kevin putus total. Dengan mata gelap, ia mengayunkan tangan kanannya ke depan, mengumpulkan tenaga untuk melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Alea.
Tapi tangan itu tidak pernah sampai pada sasarannya. Sebuah cengkeraman baja mendadak mencekal pergelangan tangan Kevin dari udara. Cengkeraman itu begitu brutal, begitu cepat, hingga terdengar bunyi retakan kecil dari tulang sendi pemuda itu.
Kevin menjerit tertahan. Ia mendongak dengan wajah pias, dan mendapati Arka sudah berdiri mematung tepat di sampingnya.
Pewaris utama Adiwangsa itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, manik matanya yang sehitam obsidian memancarkan kengerian mutlak dari jurang neraka terdalam.
Hawa membunuh yang sangat pekat menguar dari tubuh Arka, membekukan oksigen. Suhu di dalam kelas mendadak anjlok drastis, membuat anak-anak kelas XII-IPS 2 di sudut ruangan tanpa sadar menahan napas dalam teror yang mencekam.
"Satu inci lagi tangan kotor itu mendekati dia..." suara Arka berbisik rendah, merayap pelan di udara namun menghantam gendang telinga Kevin bagaikan vonis eksekusi mati, "...dan gue akan memastikan lo pulang ke rumah hanya tinggal nama, Kevin."
Asisten pribadi Kevin yang berdiri di belakang langsung melompat maju dengan wajah sepucat kapas, mencoba menarik bahu Tuan muda-nya.
"T-Tuan Muda Arka, mohon tenang! Ini di lingkungan sekolah! Kami hanya—"
"Keluar," potong Arka tanpa melirik sedikit pun ke arah sang asisten. Suaranya sangat datar, mutlak, dan tidak menyisakan ruang sehelai benang pun untuk tawar-menawar.
"Atau gue bantai kalian semua."
Tidak butuh ancaman dua kali. Kepala Sekolah yang sedari tadi hampir jantungan langsung melangkah maju, menarik lengan Kevin dengan kasar mengabaikan rasa hormatnya.
"A-Ayo, Tuan Kevin! Kita selesaikan urusan sumbangan CSR ini di ruang kantor saya saja! AC-nya lebih dingin! Mari, mari!"
Dengan wajah sepucat mayat, napas tersengal, dan tangan kanan yang terkulai lemas menahan ngilu, Kevin nyaris diseret keluar dari kelas oleh para asistennya. Sebelum melewati kusen pintu, Kevin menyempatkan diri melemparkan tatapan penuh kebencian maut ke arah Alea dan Arka, sebuah sinyal sunyi bahwa perang saudara di internal Adiwangsa baru saja memasuki babak yang jauh lebih kotor.
Begitu rombongan pencari muka itu lenyap ditelan tikungan koridor, suasana kelas perlahan mencair dari keheningan mencekam.
Alea menurunkan tangannya, mendengus pelan sambil menepuk-nepuk kerah seragamnya seolah baru saja terkena debu jalanan.
"Dasar cowok sok kegantengan banget tuh anak. Kirain bakal bawa pasukan ninja bayaran atau helikopter, eh, tahunya cuma bawa kotak kardus mie instan berkedok CSR. Buang-buang waktu kerja freelance gue aja!"
Arka perlahan melepas kepalan tangannya, menarik napas panjang, dan mengembuskannya untuk meredam sisa-sisa amarah iblis di dalam nadinya. Ia menoleh, bersiap memastikan keadaan Alea. Namun alih-alih menemukan sosok gadis yang terguncang atau menangis ketakutan, ia mendapati Alea tengah sibuk memelototi layar ponselnya yang retak, menggulir aplikasi DANA dengan kening berkerut serius.
"Lo tidak takut dia akan membalas dendam?" tanya Arka datar, menarik kursinya dan merapikan kembali lengan kemeja putihnya yang sedikit bergeser.
Alea mendongak, menyeringai lebar penuh rasa percaya diri yang membuat akal sehat Arka selalu tertantang.
"Balas dendam? Silakan aja panggil satu batalion!" seru Alea berapi-api.
"Selama di belakang gue ada bodyguard high-end tak berbayar kayak lo, Bos, sepuluh Kevin pun bakal gue jadikan ladang cuan! Lumayan kan kalau gue gugat dia pakai pasal perbuatan tidak menyenangkan, uang damainya bisa buat bayar paket COD skincare gue!"
Mendengar kalkulasi komersial dari sebuah percobaan penyerangan fisik itu, Arka terdiam sejenak. Segala beban gelap tentang klan mafia, intrik keluarga, dan perebutan kekuasaan mendadak menguap tanpa sisa. Seringai tipis yang terlampau menawan kembali terukir di sudut bibirnya, sebuah senyuman tulus yang sejauh ini hanya berhasil ditarik keluar oleh seorang Alea.
"Baiklah," balas Arka lembut, suaranya mengalun hangat, meleburkan seluruh ketegangan berdarah yang sempat menguasai ruangan.
"Sebagai kompensasi atas gangguan operasional kerja lo hari ini, jam pulang sekolah nanti... gue akan traktir lo bakso urat sepuasnya di gerobak ujung jalan sana."
Mata Alea seketika membulat, berbinar-binar terang benderang seolah baru saja memenangkan tender nasional.
"Wah, tawaran bisnis yang sangat menggiurkan! Deal, Bos! Jangan lupa siapin dompet tebal lo, ya, karena gue bakal pesen tetelan porsi kuli!"
Bersambung....
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂