Biasanya penyihir adalah perempuan. Tapi apa jadinya jika ada penyihir laki-laki? Inilah yang terjadi pada Claude, dia terlahir di desa Aderrig (Desa Sungai Merah) sebagai satu-satunya penyihir laki-laki dari klan-nya. Calude pun diusir dari kampung halamannya karena di anggap pembawa sial. Claude pun terdampar di sebuah kota dan bertemu seorang aktris papan atas bernama Ayara yang bermasalah.
Pertemuan tidak sengaja antara keduanya pun menjadi hubungan simbiosis yang saling menguntungkan. Claude mendapatkan tempat tinggal yang nyaman, sementara Ayara dapat menyelesaikan semua masalah dengan bantuan sihir.
Namun semua itu hanya bersifat sementara, sampai seorang paparazi mendapatkan foto, bahwa sang aktris menyimpan seorang pria di rumahnya. Akankah kerjasama mereka akan berakhir? Atau hubungan mereka akan berakhir menjadi cinta? Apakah identitas Claude akan ketahuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anthiq. C, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Aku Bukan Ibumu
“Ayara! Apa kau mengambil keju dan susu kedelai milik Laras lagi?” Maharani menyambut Ayara yang baru aja pulang sekolah dengan sebuah bentakan.
“I-iya, Ma,” jawab Ayara dengan kepala tertunduk. Jemarinya meremas ujung rok sekolahnya, untuk mengurangi rasa cemas dan takut.
“Dasar anak kurang ajar! Sudah dibilangin beberapa kali nggak boleh maling di rumah ini, tetap aja dilakukan! Minggu lalu kau mengambil buah-buahan sesuka hati. Sebelumnya lagi kau seenaknya memakan ikan salmon yang dimasak pembantu untuk Laras.”
Maharani mendenguskan napasnya dengan kasar. Matanya terbuka lebar, menatap bocah kurus di hadapannya dengan nanar.
“Kau kan tahu kalau Lara situ sedang diet dan butuh makanan bernutrisi tinggi. Kau pikir makanan yang ada di kulkas itu untuk kamu, hah?”
Maharani memarahi Ayara tanpa ampun. Kedua tangan istri konglomerat itu mengangkat sebuah sapu, yang bisa mendarat di tubuh Ayara kapan saja. Para asisten rumah tangga yang melihatnya hanya bisa diam dan pura-pura tidak tahu, jika tidak ingin dipecat dari rumah itu.
“Maafkan aku, Ma. Aku sudah meminta izin pada papa kemarin sebelum mengambilnya,” kata Ayara dengan suara bergetar. Bocah SMP berusia empat belas tahun ini menahan air matanya agar tidak menetes.
“Kau izin pada siapa? Papa? Siapa yang kau panggil Papa? Dia itu bukan Papa kamu,” ujar Maharani seraya mendaratkan tangkai sapu ke bahu Ayara yang ringkih.
“Lagian semua makanan yang ada di rumah ini aku yang membelinya. Jadi kalau kau mau mengambilnya harus izin denganku. Kalau tidak, berarti kau maling. Paham?” ucap Maharani dengan oktaf paling tinggi.
“Ta-tapi, Ma …”
“Jangan panggil aku Mama. Aku bukan Mama kamu!” bentak wanita pemilik hidung mancung dan rambut hitam yang panjang itu. “Aku akan memotong uang jajanmu selama dua bulan untuk mengganti semua kerugian!” kata Maharani mengancam Ayara.
Bruk! Ayara berlutut di hadapan Maharani. Kedua tangannya bertangkup memohon ampun! “Jangan, Nyonya. Jangan lakukan itu! Aku mohon ampun. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Ayara dengan suara parau. Tangisnya yang sejak tadi dia tahan, akhirnya tumpah ruah.
“Cih, aku udah nggak percaya sama janji-janjimu itu. Selama ini Afika membesarkanmu sebagai anak manja. Sehingga kau tumbuh menjadi anak yang tidak tahu adab dan sopan santun,” balas Maharani dengan angkuh. Dia bahkan menepis tangan Ayara, dengan kakinya.
Ayara hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, dengan perasaan terluka yang tiada tara.
“Malam ini kau hanya boleh makan nasi dan lauk sisa pembantu. Itu hukuman untukmu,” ucap Maharani, lalu meninggalkan gadis malang itu seorang diri.
Sepeninggal Nyonya rumah itu, Ayara pun melangkahkan kaki dengan gontai menuju kamarnya. Batin gadis mungil itu menangis pilu. Sejak sang Mama meninggal dan Papanya menikah lagi, kehidupan Ayara berubah drastis. Dia diperlakukan lebih rendah dari para asisten rumah tangga, oleh Nyonya baru di rumah itu.
“Hei rembulan, seperti apa dunia luar? Apakah lebih kejam dari rumah ini? Atau justru lebih baik?”
Ayara menatap Sang Lunar yang bersinar terang di langit malam ini. Remaja cantik itu meringkuk di tepi tempat tidurnya, menahan rasa lapar yang membuat badannya menggigil. Maharani ingkar janji.
Malam ini Ayara tidak mendapat jatah makan malam. Semua nasi dan lauk sisa justru diberikan untuk kucing liar di luar sana. Mereka tidak mempedulikan Ayara yang kelaparan sejak tadi siang.
Maharani dan putrinya memang sangat menyukai kucing. Di rumah ini, mereka memiliki tiga jenis kucing dengan harga dan biaya perawatan yang fantastis. Mulai dari American Shorthair, ragdoll, hingga Russian blue. Faktanya, mereka lebih menyayangi kucing peliharaan mereka, dibandingkan Ayara.
"Apa aku harus jadi kucing, biar bisa mendapat kasih sayang semua orang?" pikir Ayara yang masih remaja itu dengan sedih.
...***...
“Mbak Tatik, gimana keadaan Ayara?” tanya Claude dengan setengah berbisik.
“Badan Dek Ayara panas banget. Kayaknya dia demam. Tadi udah aku kompres,” sahut Mbak Tatik dengan suara lirih. “Tidurnya juga gelisah. Kayaknya dia bermimpi buruk,” sambung Mbak Tatik sambil mengucek matanya.
“Gitu, ya? Kasihan gadis ini,” gumam Claude. “Mbak Tatik istirahat aja. Biar gantian aku yang menjaga Ayara,” ujar Claude yang melihat asisten rumah tangga itu kelelahan.
“Eh, nggak apa-apa kok. Ini emang tugasku,” sahut Mbak Tatik, menolak usul dari Claude. Dia sedikit merasa khawatir, meninggalkan Ayara berdua saja dengan pria yang baru mereka kenal.
“Justru itu. Kalau Mbak Tatik sakit juga, malah nggak ada yang merawat Ayara nanti,” ucap Claude. Mbak boleh istirahat di sini kok, sambil menemani Ayara,” sambung Claude lagi, seakan mengerti isi kepala wanita itu.
“Beneran rapopo iki? Kalau gitu Mbak rebahan bentar, ya,” kata Mbak Tatik. Claude mengangguk dengan tegas, dan membiarkan asisten rumah tangga Ayara itu merebahkan tubuhnya di sofa kamar itu.
Tak lama setelah Mbak Tatik terlelap, Claude pun memulai aksinya. Dia menempelkan punggung tangannya ke kening Ayara, untuk mengecek kondisi tubuh wanita itu. Bzzztt! Claude merasakan sesuatu seperti aliran listrik di dalam tubuhnya, saat menyentuh kulit Ayara. Sekilas, pria itu juga bisa melihat masa lalu Ayara yang kelam.
“Apa yang terjadi?” pikir Claude bingung. Dia pun semakin meyakini, kalau Ayara bukanlah gadis biasa. Tetapi dia tidak bisa menyelidiki lebih lanjut, karena di ruangan itu juga ada Mbak Tatik.
Pria itu kemudian beranjak ke dapur dan mencari beberapa bahan untuk meredakan demam Ayara. Sepanjang malam itu Claude menahan rasa kantuknya, demi merawat Ayara sepenuh hati.
...***...
“Astaga! Aku rupanya ketiduran sampai pagi!”
Sinar mentari yang menerobos masuk melalui celah ventilasi, membuat wanita berdarah Jawa itu terjaga. Dia pun buru-buru beranjak dari sofa. Ayara tampak masih tertidur, tetapi wanita itu tidak menemukan keberadaan Claude di sana.
“Ah, mungkin dia lagi balik ke kamarnya sebentar untuk istirahat,” pikir Mbak Tatik. Dia lalu membuka gorden dan jendela, membiarkan udara segar memasuki kamar.
“Loh, Mbak Tatik kok ada di sini?” ucap Ayara seraya mengucek matanya. Dia terbangun karena sinar matahari yang sangat menyilaukan.
“Iya, semalam kamu demam. Gimana keadaanmu sekarang?” tanya Ayara.
“Aku demam? Jadi Mbak Tatik ada di sini semaleman?” kata Ayara seraya memegang beberapa bagian tubuhnya. Suhu badannya normal, kepalanya juga tidak terasa pusing. “Kayaknya aku baik-baik aja, deh,” ucap Ayara beberapa saat kemudian.
“Syukurlah kalau demam Dek Ayara udah turun,” kata Mbak Tatik.
“Wah, apa ini? Mbak buatkan bubur ayam untukku? Udah lama banget aku nggak makan bubur ayam.” Ayara langsung mengambil mangkok yang masih mengepulkan uap panas.
“Bubur?” Mbak Tatik baru menyadari, jika di atas meja kecil samping tempat tidur terdapat semangkok bubur dan segelas wedang hangat. “I-itu bukan aku yang …”
“Makasih ya, Mbak. Buburnya enak banget. Aku jadi bisa merasakan punya keluarga lagi,” kata Ayara sambil tersenyum ceria.
Mbak Tatik mengusap matanya yang basah, mendengar kalimat Ayara barusan. “Ta-tapi itu bukan Mbak yang bikin. Itu pasti Claude yang masak,” kata Mbak Tatik.
Sementara itu di tempat lain. “Claude, gimana keadaan Ayara?” tanya Luna.
“Ayara baik-baik aja. Demamnya udah turun,” balas Claude.
“Terima kasih, Claude. Sebentar lagi aku sampai di rumah Ayara, nih,” ucap Luna.
“O-oh, ya? Hati-hati di jalan,” ucap Claude dengan lirih. Dia lalu mengepakkan sayapnya dan pergi meninggalkan rumah Ayara sesuai janjinya.
(Bersambung)