Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11.BELANJA BERSAMA MAMA MERTUA

Sabtu pagi menyapa penthouse dengan cuaca yang sangat cerah. Cahaya matahari menerobos masuk dari balik tirai tipis, memantulkan kilau keemasan pada perabotan serba modern di ruang tengah.

​Nadira sedang duduk santai di sofa dengan piyama kebesarannya seraya menikmati segelas susu hangat dan maraton menonton serial animasi favoritnya. Hari Sabtu adalah hari sakral bagi Nadira—hari di mana ia bisa melepas seluruh atribut sekolah dan urusan kalkulus.

​Abiyasa keluar dari kamar dengan pakaian kasual: kaos polo berwarna biru navy yang membingkai dada tegapnya dengan sempurna dan celana santai. Pria itu menaruh cangkir kopi hitamnya di meja, lalu mengacak rambut Nadira yang terurai halus dengan lembut.

​"Hari ini saya ada pertemuan singkat dengan klub golf direksi sampai jam dua siang," pamit Abiyasa seraya mengecup singkat dahi Nadira—sebuah kebiasaan baru yang otomatis terjadi setiap kali mereka hendak berpisah. "Pak Maman siap kalau kamu mau jalan-jalan ke mall bersama Sheila."

​"Enggak deh, Mas. Aku mau leyeh-leyeh aja di rumah," sahut Nadira riang, mengelus bekas kecupan suaminya. "Mas Abi hati-hati ya, jangan kebanyakan minum kopi!".

​"Iya, Nyonya Mahendra," balas Abiyasa dengan senyum tipis seraya melangkah keluar.

​Namun, rencana 'leyeh-leyeh' Nadira mendadak buyar tepat setengah jam kemudian. Suara pintu utama yang terbuka menggunakan kode pin diikuti oleh derap langkah kaki yang heboh dan energik.

​"Nadiraaa! Sayang! Bangun, Nak! Kita ada misi penting hari ini!"

​Mama Rahmi muncul dengan setelan pakaian kasual nan elegan khas ibu-ibu elit, kacamata hitam yang tersemat di atas rambutnya, dan tas tangan berlogo desainer ternama.

​Nadira terperanjat dari sofa. "M-Mama?! Kok pagi-pagi udah ke sini?"

​"Aduh, kamu kok masih pakai piyama begini sih?" cecar Mama Rahmi seraya menepuk bahu mantunya gemas. "Cepat mandi dan ganti baju! Mama sudah jadwalkan shopping day khusus buat kita berdua hari ini. Nggak ada penolakan!"

​"Tapi Ma, Nadira baru aja mau santai..."

​"Nggak ada santai-santai! Ini demi masa depan rumah tangga kamu dan Abi," potong Mama Rahmi dengan kerlingan mata penuh misteri.

"Mandi cepat! Mama tunggu lima belas menit!"

​Dua jam kemudian, Nadira mendapati dirinya terseret di dalam sebuah boutique mall paling mewah di kawasan Jakarta Selatan. Tempat itu berisi deretan toko-toko papan atas yang pintunya dijaga oleh pengawal berjas rapi.

​Mama Rahmi menuntun Nadira masuk ke dalam sebuah butik pakaian dalam (lingerie) impor yang sangat eksklusif. Interior butik itu didominasi warna merah muda keemasan, pencahayaan temaram yang mewah, serta aroma wewangian mawar yang lembut.

​Mata Nadira membelalak lebar begitu melihat jajaran pakaian yang terpajang di manekin dan gantungan. Kain-kain sutra tipis, renda-renda transparan, dan potongan-potongan busana yang sangat terbuka mendominasi seluruh ruangan.

​Pipi Nadira seketika terbakar panas. Ia meremas tali tasnya kaku.

​"M-Mama... kita kok masuk ke toko begini sih?" bisik Nadira panik, suaranya naik satu oktav.

"Ini... ini baju-baju kurang bahan semua, Ma!"

​Mama Rahmi justru tertawa renyah,

mengibaskan tangannya santai. "Ya ampun, Nadira! Kamu kan sudah jadi istri sahnya Abiyasa! Pakaian seperti ini tuh wajib hukumnya ada di lemari kamu!"

​"Tapi Ma! Baju ini transparan banget! Yang ini cuma pakai tali-tali doang! Mana bisa dipake?!" pekik Nadira pelan, wajahnya sudah memerah seperti buah tomat rebus.

​Seorang pelayan butik yang sangat profesional dan ramah menghampiri mereka membawa segelas air mineral dingin. "Selamat datang, Ibu Rahmi. Ada yang bisa kami bantu untuk Nyonya Muda ini?"

​"Tolong carikan koleksi lingerie terbaru kita," perintah Mama Rahmi antusias. "Bahan sutra Prancis, renda Italia, cari yang warnanya cocok buat kulit dia yang putih bersih ini. Warna merah hati, hitam legam, sama putih pastel!"

​"Baik, Ibu. Mari ikut saya ke ruang VIP," undang pelayan itu.

​Nadira ditarik masuk ke dalam ruangan fitting VIP yang sangat luas. Di sana, para pelayan mengeluarkan puluhan stel lingerie mewah dengan berbagai model. Ada yang berbahan sutra licin dengan potongan dada rendah, ada yang berbentuk gaun malam tipis berenda transparan (babydoll), hingga potongan bodysuit yang sangat seksi.

​Mama Rahmi mengambil satu stel lingerie berwarna merah marun berbahan sutra dan renda transparan di bagian punggung.

​"Nih, Nadira! Coba yang ini dulu!" seru Mama Rahmi seraya menyodorkan baju tipis itu ke dada Nadira.

​"Ma... yang ini terbuka banget bagian depannya," cicit Nadira memohon ampun, menatap kain tipis yang rasanya tak bisa menyembunyikan apa pun itu.

​"Nadira sayang, dengarkan Mama," ujar Mama Rahmi, merubah nadanya menjadi sedikit lebih serius namun sangat penuh kasih sayang. Ia memegang kedua bahu Nadira. "Abi itu pria dewasa yang pekerja keras. Dia tiap hari pusing memikirkan urusan bisnis dan tekanan perusahaan. Tugas kamu sebagai istri di rumah itu bukan cuma nyiapin makan, tapi juga bikin dia betah dan rileks pas pulang ke kamar."

​Nadira menunduk canggung, jemarinya memilin ujung bajunya. "Tapi... Nadira malu, Ma. Nanti Mas Abi mikirnya Nadira cewek aneh-aneh..."

​"Aneh-aneh gimana?!" Mama Rahmi tertawa geli. "Mama jamin, begitu Abi melihat kamu pakai ini, matanya nggak bakal bisa ngelirik wanita lain seumur hidupnya! Percaya sama pengalaman Mama. Abi itu pendiam dan dingin di luar, tapi kalau sudah sayang sama satu wanita, dia itu sangat posesif. Kamu harus kasih dia 'kejutan' kecil biar hubungan kalian nggak kaku terus!"

​Nadira menelan ludah. Bayangan wajah tegas Abiyasa dan tatapan mata cokelat gelap suaminya yang intens mendadak terngiang di kepalanya. Terbayang juga bagaimana Abiyasa membelanya di depan Clara semalam. Apakah Mas Abi bakal suka kalau aku pakai baju begini? batin Nadira yang mendadak dipenuhi rasa penasaran bercampur malu.

​"Y-ya udah deh... Nadira coba," pasrah Nadira.

​"Nah, gitu dong! Anak pinter!" seru Mama Rahmi gembira. "Mbak, bungkus yang merah ini, yang hitam renda itu, yang putih sutra, sama yang warna emerald green ini ya! Masukkan ke kotak hadiah eksklusif!"

​"Baik, Ibu Rahmi," sahut pelayan butik dengan senyum lebar.

​Nadira hanya bisa membelalakkan mata melihat Mama Rahmi memborong hampir sepuluh stel lingerie berharga fantastis yang kalau ditotal nilainya bisa untuk membeli satu buah sepeda motor matic.

​Sore harinya pukul lima, Nadira kembali ke penthouse membawa dua kantong belanjaan besar berlogo merek butik mewah tersebut.

​Kondisi rumah masih sepi, Abiyasa sepertinya belum pulang dari acara golfnya. Nadira menghela napas lega. Ia cepat-cepat berlari masuk ke dalam kamarnya dan menyembunyikan kotak-kotak lingerie tersebut di tumpukan paling bawah lemari pakaiannya, di balik tumpukan piyama-piyama kaosnya yang bergambar kartun.

​"Aduh, Mama Rahmi bener-bener deh..." gumam Nadira seraya memegangi pipinya yang masih terasa panas setiap kali teringat bentuk baju-baju tipis itu.

​Tiba-tiba, suara pintu utama terbuka.

​Nadira terkejut. Ia keluar dari kamar dan mendapati Abiyasa baru saja melangkah masuk. Pria itu tampak sedikit lelah namun sangat segar setelah berolahraga. Kaos polonya sedikit melar di bagian bahu, menampilkan susunan ototnya yang tegap.

​"Sudah pulang?" panggil Abiyasa lembut begitu melihat istrinya. Ia meletakkan tas golfnya di dekat pintu, lalu berjalan mendekati Nadira.

​"E-eh... iya, Mas Abi. Baru aja sampai," jawab Nadira gagap, refleks berdiri kaku seperti tentara yang sedang berbaris.

​Abiyasa menaikan sebelah alisnya heran melihat tingkah aneh Nadira. Ia memajukan wajahnya, mengamati pipi Nadira yang mendadak merona merah tanpa alasan yang jelas.

​"Kamu kenapa? Pipimu merah sekali. Demam lagi?" tanya Abiyasa cemas seraya menempelkan telapak tangannya ke dahi Nadira.

​"Enggak! Nggak demam kok!" seru Nadira panik, sedikit mundur. "T-tadi... tadi habis jalan-jalan sama Mama Rahmi."

​"Sama Mama?" Abiyasa tersenyum tipis. "Pantas saja. Mama mengajakmu belanja ke mana saja sampai kamu kelihatan ketakutan begitu?"

​"Ke... ke mall biasa kok. Beli... beli baju santai!" alibi Nadira terbata-bata, tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika Abiyasa tahu isi kantong belanjaannya.

​Abiyasa menatap mata Nadira yang bergerak-gerak gelisah. Sebagai seorang CEO yang terbiasa membaca kebohongan orang, Abiyasa tahu ada sesuatu yang disembunyikan istri kecilnya. Namun, ia memilih untuk menikmati kepolosan dan tingkah salah tingkah Nadira.

​Abiyasa melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Pria itu menundukkan kepalanya, menyisipkan helai rambut Nadira ke belakang telinganya dengan gerakan yang sangat lambat dan sensual.

​"Baju santai?" bisik Abiyasa dengan suara baritonnya yang berat, merengkuh pinggang mungil Nadira secara alami. "Baju santai seperti apa yang membuat istri saya jadi tidak berani menatap mata suaminya begini?"

​Jantung Nadira berdegup liar bak deru mesin pacu. Napas hangat Abiyasa yang menerpa lehernya membuat seluruh persendiannya mendadak lemas.

​"B-baju santai biasa, Mas Abi... pokoknya baju rumah!" cicit Nadira, tangannya bertumpu di dada tegap Abiyasa untuk menahan diri.

​Abiyasa menyunggingkan senyum tipis yang sangat menawan—senyuman yang selalu berhasil membuat pertahanan Nadira runtuh. Pria itu mengecup singkat sudut bibir Nadira, lalu berbisik tepat di depan wajahnya.

​"Baiklah. Saya tunggu kamu memakainya nanti malam, Nyonya Mahendra."

​Setelah melemparkan bisikan misterius yang penuh godaan itu, Abiyasa melepaskan pelukannya dan berjalan santai menuju kamar mandi, meninggalkan Nadira yang berdiri membeku di ruang tengah dengan jantung yang berdegup kencang tak karuan.

​Nadira menatap pintu kamar mandi yang tertutup, lalu menoleh ke arah lemarinya. Nanti malam?! Aduh, Mama Rahmi... ini bencana atau keberuntungan sih?! batin Nadira histeris bercampur debar cinta yang kian mekar di hatinya.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!