Gimana rasanya ketika kita menikah dengan orang yang tidak dikenal dan menjalani sandiwara sebagai pasangan yang berbahagia didepan umum, yap itulah yang dirasakan oleh gadis berusia 25 tahun bernama Shasa Saputri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shinra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gengsi
Kalau rindu bilang rindu
Kalau suka bilang suka
Jangan gengsinya digedein
Diambil orang jangan nyesel
-AUTHOR-
Happy Reading🤗🤗....
Sarah mengangkat alisnya bingung saat melihat Shasa mondar-mandir dihadapannya. Sedangkan yang ditatap saat ini merasa resah.
"Bisa diam tidak." Langkah Shasa berhenti ketika ia mendengar seruan kesal dari Sarah.
"Antar aku kerumah sakit." Sarah langsung bangkit saat ia mendengar ucapan Shasa. Ia menempelkan tangan dikening Shasa lalu meneliti tubuh Shasa.
"Kau sakit apa?" Shasa mengarahkan tangan Sarah ke dadanya lebih tepat dimana jantungnya berada.
"Disini. Sepertinya ada masalah dijantungku." Sarah menatap horor perempuan dihadapannya ini.
"Sejak kapan?" Mengerjapkan mata Shasa menatap Sarah.
"Baru tadi. Entah kenapa jantungku berdetak tidak seperti biasanya. Debarannya lebih cepat." Sarah memutar bola mata malas.
"Kau bodoh atau bagaimana??" Sarah kembali berjalan ke tempat tidurnya dan merebahkan dirinya disana.
"Aku tau ada masalah dengan jantungku. Ayo Sarah antar aku kerumah sakit." Shasa menarik tangan Sarah hingga bangkit dari tempat tidur.
Bukannya mengikuti kemauan Shasa, Sarah malah tetap berdiri di samping ranjang dan menghilangkan tangannya. Ia menatap Shasa lalu menggeleng.
"Kau pernah pacaran?" Shasa mengernyit saat pertanyaan itu dilontarkan Sarah.
Tentu saja tidak. Bukankah ia sudah pernah mengatakan bahwa dia tidak ingin menjalin hubungan seperti itu dengan lawan jenisnya. Lantas ia menggeleng untuk menjawab pertanyaan Sarah.
"Astaga. Pantas saja kau jadi seperti orang bodoh begini. Kau tau bahkan tanpa kerumah sakit pun aku sudah tau kau kenapa." Shasa masih menanti kelanjutan yang akan dikatakan Sarah.
"Kau sedang jatuh cinta." Sarah menepuk pundak Shasa sambil tersenyum.
Oh. Jangan harap reaksi Shasa akan sama seperti Sarah. Karena saat ini wajahnya seperti melihat hantu. Matanya bahkan seakan ingin keluar dari tempatnya.
"Jangan bercanda Sarah. Kalau kau bercanda ini tidak lucu." Sarah memutar bola mata malas.
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda." Setelah mengatakan hal itu Sarah mengusir Shasa dari kamarnya.
Sepanjang jalan menuju ke dapur Shasa menggerutu. Apanya yang jatuh cinta? Cih!
"Ada masalah?" Pertanyaan itu membuat Shasa terlonjak.
"Oh Ibu. Tidak ada masalah apapun bu." Shasa menampilkan senyumnya kearah sang mertua.
"Ingin membantu ibu?" Shasa mengangguk sebagai jawaban.
Shasa mengambil sayuran lalu memotongnya menjadi bagian-bagian kecil.
"Ibu penasaran seperti apa kalian saat pacaran dulu. Apa Arkan masih tetap dingin padamu?" Shasa meneguk ludah saat pertanyaan itu terlontar untuknya.
Apa yang harus dia jawab? Pacaran? Kenal saja sewaktu Arkan ingin menikah lalu bagaimana bisa tiba-tiba mereka pacaran. Sepertinya Arkan pengarang yang hebat sampai menciptakan cerita yang sangat mustahil terjadi.
"Iya Bu, tapi kadang-kadang dia sangat baik dan juga lembut padaku." Bagus sekali Shasa. Ternyata dirimu jago berakting. Senyum bangga terbit diwajahnya.
"Anak itu memang seperti itu. Luarnya saja yang terlihat dingin." Bethrys tersenyum kearah menantunya. Dia senang bahwa putranya memperlakukan istrinya dengan baik.
"Ibu benar." Shasa tersenyum tapi didalam hati menyumpahi objek yang sedang mereka perbincangkan saat ini.
Kalau saja sang mertua tau bagaimana putranya memperlakukanku mungkin dia akan kena serangan jantung.
Es batu itu mau berbaik hati padaku, oh sampai ayam beranak pun hal itu tak akan terjadi. Ingin rasanya menggores wajahnya itu.
"Shasa, bisa kerjakan ini sebentar? Ibu mau mengangkat telepon dulu." Shasa mengangguk.
Setelah sang mertua tak terlihat lagi. Shasa menghembuskan napasnya. Ia tak ingin membohongi mertuanya itu, tapi demi kebaikan dia mau melakukannya. Andai saja saat itu dia tidak mau bekerjasama untuk menjadi WO dalam pernikahan Arkan itu, saat ini ia pasti sedang berada dikantor dan mengerjakan pekerjaannya. Dan statusnya masih belum menikah.
"Aku rasa sup itu sudah matang." Shasa berjengit kaget. Suara Arkan terasa dekat sekali dengan telinganya. Shasa mengerjapkan matanya berkali-kali ketika lagi-lagi jantungnya berdetak tak normal.
"Ck. Apa yang sedang kau pikirkan?" Arkan mendorong Shasa kesamping lalu mematikan kompor.
"Apa?" Masih dengan tampang bodoh. Shasa bertanya pada Arkan.
Arkan menaikkan sebelah alisnya. "Supnya" Arkan menunjuk kearah kompor.
Setelah mencerna apa yang terjadi. Shasa paham. "Oh" hnya itu yang keluar dari mulutnya.
"Ibu mana?" Arkan menatap Shasa.
"Sedang mengangkat telepon." Shasa berjalan kearah kompor lalu menuangkan supnya ke mangkok yang telah disiapkan.
"Apa?" Pertanyaan itu terlontar ketika Shasa mendapati Arkan menatapnya lebih tepatnya ke wajahnya.
Arkan menggeleng sebagai jawaban. Ia mengikuti Shasa yang sedang membawa sup ke kamar ibunya. Bethrys mengernyit ketika melihat sang putra berjalan dibelakang Shasa.
"Kau mau sup juga?" Shasa berbalik kearah dimana sang mertua menatap saat ini. Kenapa Arkan mengikutinya? Ia meletakkan supnya di meja nakas.
Arkan menggeleng lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bethrys menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sang putra.
"Lalu?" Bethrys masih menatap sang putra.
"Aku hanya ingin melihat keadaan ibu." Arkan mendekat kearah sang ibu lalu duduk di sampingnya. Bethrys tersenyum kearah Arkan.
"Kalau begitu saya pamit ya Bu." Shasa beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.
Setelah kepergian Shasa, Bethrys memukul lengan sang putra. Bahkan ia memberi tatapan tajam pada sang putra.
"Apa?" Arkan menoleh kearah sang ibu. Ia meringis ketika sekali lagi lengannya dipukul.
"Apa kau tidak bisa merubah sikap dinginmu itu? Bersikap lembut lah pada istrimu." Bethrys menatap kearah dimana Shasa pergi tadi.
"Dia baik-baik saja Bu. Kalau dia tidak suka dengan sikapku pasti nanti dia bilang." Arkan mengambil sup yang di nakas lalu memberikannya pada sang ibu.
"Ck. Seharusnya dirimu yang mengerti. Tidak semua hal bisa dia katakan padamu. Kau lah yang harus peka terhadap istrimu. Dasar, suami macam apa kau ini?!" Arkan menggaruk tengkuknya. Ia tidak tau harus menanggapi seperti apa ucapan dari ibunya.
Mereka menikah atas dasar perjanjian. Yah, walau dulu dirinya yang memaksa. Dia tidak tau harus seperti apa saat berhadapan dengan Shasa. Sikap seperti apa yang harus dia tunjukkan dihadapan Shasa.
"Pokoknya kalau sampai Shasa mengeluh tentang sikapmu, Ibu pastikan kau akan dapat hukuman dari Ibu." Arkan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Bethrys tau bahwa bukan Shasa pengantin wanita yang akan menikah dengan Arkan saat itu. Tapi dia yakin kalau semua yang terjadi pasti ada alasannya. Shasa wanita yang baik. Kepribadiannya cocok dengan Arkan. Dia hanya bisa berharap kalau kehidupan pernikahan anaknya berjalan dengan baik.
Bethrys memberikan tempat sup yang telah ia habiskan kepada Arkan. "Ibu harap kau bisa bersikap baik pada istrimu. Bagi Ibu pernikahan hanya di lakukan sekali seumur hidup. Ibu juga berharap kau akan seperti itu. Jangan pernah berpisah dengan istrimu. Kalau kau melakukannya maka Ibu tidak akan pernah membiarkanmu menikah lagi." Arkan meringis saat mendengar ancaman sang ibu.
Arkan tau ibunya tak pernah main-main dengan ucapannya. Mungkin suatu saat nanti ia tidak akan pernah menikah lagi. Perjanjian pernikahan ini hanya sampai 7 bulan. Jadi sekarang mari menghitung hari sampai hari itu tiba dan ancaman sang ibu terlaksana.
karakter lumayan
Tempat nya lumayan jelas
dan pengenalan karakternya juga sangat jelas