Menceritakan tentang seorang gadis bernama Agita Naya Prawira dengan usia yang cukup matang untuk menikah, namun banyak hal yang masih menjadi pertimbangan. Keluarga dan orang - orang terdekat yang selalu menanyakan kapan menikah. Tentu hal ini adalah sesuatu yang menjadi momok setiap harinya. Beruntungnya karena kesibukannya bekerja di sebuah perusahaan membuatnya sejenak mengabaikan pertanyaan sekaligus permintaan orang tua nya untuk menikah.
Mau sampai kapan Naya akan terus mencari alasan untuk menjawab pertanyaan kapan menikah? dan Apakah pada akhirnya Naya akan memutuskan untuk segera menikah? lalu laki - laki seperti apa yang akan beruntung mendapatkan Naya untuk dijadikannya istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caca.mg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Dilarang Ikut
Pasca kejadian di lokasi survey kemarin, tentu tidak mudah untuk Naya melupakan. Dimana ingatannya akan setiap wajah orang yang ia temui, ia melihat Opa dan Oma yang tinggal disana.
"Diary... Bagaimana bisa mereka harus tinggal disebuah panti jompo yang tentu jauh dari keluarga. Memang benar tidak semua yang tinggal disana karena keinginan keluarganya, tetapi juga ada kemauan dari dalam diri mereka sendiri. Jujur aku masih belum tahu jelas tapi aku yakin tentu mereka memiliki alasan kuat, tetapi saat ini aku sedih karena aku membayangkan apabila itu terjadi padaku. Mungkin aku tidak sekuat mereka dalam menjalani setiap harinya." Keluh Naya yang ia tuangkan pada buku diary nya.
"Selamat pagi mba Naya, maaf ganggu. Udah baikan mba? Pasca sakit kemarin?" Tanya Pak Dodit yang sengaja datang menghampiri Naya di ruangannya.
"Pagi Pak Dodit, eh iya.. sudah Pak. Maaf soal kemarin ya Pak. Pasti semua jadi kerepotan karena saya ya Pak?." Naya bersikap ramah
"Iya tidak masalah kok Mba, yang lalu biarlah berlalu Mba. Saya senang Mba Naya sudah sehat."
"Iya Pak, ngomong- ngomong Pak Dodit mau kemana? Tumben pakaiannya terlihat lebih santai." Naya penasaran karena tidak biasanya melihat Pak Dodit tidak memakai kemeja dan jas tak lupa dengan dasi yang mengikatnya rapih.
"Iya Mba, hari ini kan acara Baksosnya Mba." Deg, jawaban Pak Dodit yang membuat Naya bingung.
"Loh maaf Pak, bukannya acaranya masih Minggu depan ya? Kenapa jadi Hari ini?."
"Oh iya memang betul Mba, tetapi sesuai arahan Pak Nathan di majukan."
"Apa? Terus gimana dengan semua persiapan nya Pak? Bukannya kemarin belum semua alat kesehatan dan lain - lain belum kita beli ya?."
"Iya memang betul Mba, tetapi sejak Mba Naya sakit kemarin. Pak Nathan langsung merubah jadwal di majukan dan penanggung jawab keperluan Baksos di ganti dengan Mba Laura." Pak Dodit sebenarnya ada rasa takut mengatakan pada Naya.
" Apa? Kok bisa? Bukankah Laura di tugaskan sebagai koordinator internal ya Pak?." Bukan maksud Naya protes karena tugas dan tanggungjawabnya dialihkan ke Laura. Tapi karena Naya yang seharusnya bertanggung jawab.
"Iya memang betul Mba, tetapi sekarang semua dialihkan oleh Pak Nathan ke Mba Laura."
"Apa? Lalu bagaimana dengan saya Pak? Tugas saya ngapain?."
"Pak Nathan bilang, untuk sementara Mba Naya tidak diperkenankan untuk kegiatan keluar." Jawab Pak Dodit dengan gamblang.
"What?" Naya terkejut
"Ya sudah Mba, saya ijin mah berangkat dulu ke Panti Werdha." Pak Dodit segera melangkah pergi meninggalkan Naya.
Naya terlihat gusar dan sedih karena tidak tahu alasannya dikeluarkan dari kepanitiaan. Ia butuh penjelasan dari Nathan dan juga pertanggungjawaban karena keegoisan Nathan yang melarangnya pergi.
"Halo, Selamat pagi Pak Nathan." Naya menghubungi Nathan, karena infonya Nathan hari ini tidak masuk kantor karena ada urusan di luar.
"Iya, kenapa?." Jawab Nathan
"Pak bagaimana bisa tugas saya terkait kegiatan Baksos dan persiapan HUT kantor dialihkan ke Laura?."
"Iya bisa, kan saya Bos di kantor."
"Pak, maaf. Jangan karena Bapak sebagai seorang pimpinan bisa menggunakan kekuasaan Bapak untuk mempermainkan karyawan ya." Naya sudah termakan emosi yang sedari tadi ia tahan.
"Loh suka - suka saya dong Nay, saya pilih Laura karena saya yakin dia bisa mengambil alih semua tugas kamu."
"Iya tapi alasan Bapak kenapa?."
"Alasan saya simple, karena saya menganggap Laura bisa diandalkan."
"Jadi maksud Bapak? Saya gak bisa diandalkan? Begitu?." Naya mengernyitkan dahi
"Loh saya gak bilang begitu loh Nay, itu kamu sendiri yang bilang."
"Baik kalau begitu." Jawab Naya singkat dan penuh kekecewaan.
[Hening sejenak]
"Halo Nay...Halo..." Suara Nathan memastikan keberadaan Naya.
Naya menarik nafas dan mengaturnya agar tidak terlalu emosi.
"Iya Pak, masih mendengar." Ucap Naya dengan semanis mungkin
"Oh.. saya pikir ini telfon sudah terputus."
"Pak, ya sudah kalau begitu saya mengundurkan diri saja dari sekretaris Bapak. Saya lebih baik dipindah ke departemen lain saja Pak." Naya mulai putus asa karena merasa sakit hati dengan penjelasan Nathan soal kinerja Laura.
"Eh, siapa bilang kamu di ijinkan! Kamu tidak akan pernah bisa pindah departemen, tanpa perintah saya." Jawab Nathan dengan intonasi yang mulai meninggi dan geram.
"Ya terus?." Tanya Naya
"Ya kamu masih tetap jadi sekretaris saya."
"Kan Bapak bilang, Laura lebih bisa diandalkan. Jadi kenapa gak Laura saja Pak yang menggantikan posisi saya sebagai sekretaris. Jujur saya juga sudah lelah dengan menghadapi sikap Bapak yang kadang aneh, kadang berubah sesuka Bapak." Seakan mulut Naya penuh dengan kalimat umpatan yang ingin sekali ia katakan pada Nathan
"Saya bilang kan cuma menggantikan di kepanitiaan bukan sekretaris."
"Tapi tetap saja Pak, itu bikin saya sakit hati tahu gak si." Keluh Naya
"Lah emang kamu bisa melaksanakan tugas dimana kondisi badan kamu saja masih lemah begitu." Ujar Nathan
"Tapi Pak." Rengek Naya
"Gak ada tapi - tapian Naya."
"Ih... Bapak!."
"Apa?."
"Kalau begitu saya hari ini ikut acaranya." Pinta Naya dengan suara sedikit manja.
"Tidak boleh!." Tegas Nathan
"Pak, kan cuma ikut saja."
"Gak boleh tetap gak boleh Naya! Ini perintah!."
"Janji Naya gak bikin ulah lagi Pak, please..." Naya memelas
"Bapak....." Teriak Naya yang membuat telinga Nathan seakan panas
"iya apa?."
"Naya ikut..."
"Enggak boleh, udah disitu aja duduk manis terserah kamu mau ngapain hari ini bebas." Ujar Nathan yang terdengar suaranya merasa ada suatu kemenangan yang di dapatkan.
"Pak, ikut..." Naya masih terus memohon
"Sekali bilang enggak ya enggak Naya, kamu itu susah banget kalau dibilangin."
"Ya sudah iya." Naya mengalah
"Iya sudah, jangan marah. Awas kalau sampai marah dan ketus sama aku." Ancam Nathan
"Iya lihat saja nanti." Naya sudah geram dengar suara Nathan.
"Istirahat, jangan lupa makan, di minum obatnya. Ingat hari ini kamu bebas mau nonton drama Korea juga silahkan."
Naya sudah malas menanggapi perkataan Nathan karena ia merasa kecewa sudah dilarang untuk tidak boleh mengikuti kegiatan keluar.
"Jangan marah, nanti kalau udah sembuh kamu tidak akan aku kasih kebebasan seperti hari ini Nah, jadi nikmatilah hari ini sebaik mungkin."
"Dasar Bos kejam!." Gumam Naya dalam hati.
"Jangan mengutuk saya di dalam hati kamu Naya, saya tahu saat ini kamu sedang kesal sama saya kan?."
"En...nggak." Naya seakan ketangkap basa sampai menjawab dengan terbata - bata.
"Jangan bohong!."
"Bapak sepertinya terlalu PD."
"Deh, siapa juga yang ke PD an, kamu kali Nay." Nathan menimpali balik Naya
"Ah, sudahlah. Saya capek.. besok lagi kalau mau berantem." Kata Naya sebelum mengakhiri panggilannya
****
Halo.. terimaksih sudah membaca ceritaku, semoga dapat menemani harimu ya...
jangan lupa tinggalkan like dan koment ya, agar aku lebih semangat dalam menulis. :)
feedback bakalan ontime, ditunggu like dan komennya🌻🌻🌻
pak dodit ud nungguin tuh