Indonesia
NovelToon NovelToon
The Story Of Wedding Blues

The Story Of Wedding Blues

Status: tamat
Genre:Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Tamat
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: Three Ono

Blurb:
Arin yang sudah tak ingin lagi tinggal bersama keluarganya yang toxic dan Haru yang sudah lelah dengan tuntutan kedua orang tua untuk menikah.
Akhirnya mereka menyepakati pernikahan ini di atas sebuah perjanjian pernikahan kontrak. Sebuah pernikahan kontrak yang akhirnya disepakati oleh keduanya tanpa diketahui oleh siapapun. Kehidupan mereka dimulai setelah mereka tinggal dalam satu rumah.
Namun tak disangka, ternyata jauh sebelum pernikahan ini terjadi, Haru sudah jatuh cinta pada Arin dan bahkan ia sudah mengetahui tentang depresi yang diderita oleh istrinya itu. Haru berjuang untuk mendapatkan sebuah kepercayaan dari Arin agar bisa sembuh bersama dan bangkit dari keterpurukan, namun tentu saja hal itu tidaklah mudah.
Tidak berhenti sampai disana, masalah mulai berdatangan menerjang rumah tangga mereka. Masa lalu keduanya datang dan menggoyahkan pernikahan Arin dan Haru.
Apakah Arin akan bisa sembuh dari depresinya?
Lalu apakah Arin dan Haru bisa mempertahankan pernikahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Three Ono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Obrolan Tengah Malam

Obrolan Tengah Malam

Hara mengambil satu potong teok lalu ia memasukkan kedalam mulutnya. Terlihat raut wajah yang penuh pengharapan dari Arin, rasanya tak tega melihat tatapan itu, seperti anak anjing yang sedang meminta pada pemiliknya.

“Bagaimana rasanya? Nggak enak ya …?” tanya Arin.

“Enak … ini enak,” ucap Haru sambil memberikan senyum, karena memang masakkan yang dibuatkan Arin tidaklah buruk. Haru tidak bisa bilang masakan ini enak, karena diri memang kurang menyukai makanan yang seperti ini, mungkin karena lidahnya 100 persen orang Indonesia jadi lihatnya tidak cocok.

“Kayaknya bisa aja yah …” ucap Arin seketika murung, dirinya menyadari jika Haru tampak terlalu memaksakan dirinya hingga tak bisa berbohong.

“Nggak kok. Ini lumayan enak. Aku belum pernah makan-makan seperti ini, jadi belum terbiasa … tapi ini beneran enak, aku suka sama pedas,” ucap Haru mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman wanita yang tampak sudah kehilangan kepercayaan diri karena dirinya.

“Nggak perlu dijelaskan. Aku nggak memaksa kok. Lain kali aku akan buatkan makanan yang kamu suka, jadi anggap aja ini percobaan … heheh” ucap Arin sambil terkekeh.

Haru terdiam sambil menatap tudeh ke arah Arin yang tampak sangat menikmati makanannya. Lantas sebegitu teganya kah dirinya membiarkan wanita yang sudah susah payah membuatkan cemilan malam sampai kakinya kram karena menunggunya. Haru tidak ingin mematahkan semangat wanita berwajah manis itu. Ia langsung merenungkan kembali tteokbokki kedalam piringnya.

“Jangan dipaksain …,” ucap Arin yang sedikit khawatir melihat Haru yang mengambil begitu banyak, padahal dirinya sungguh tidak merasa sakit hati. Itu bisa saja terjadi, jika Haru memang tidak menyukai makanannya.

“Nggak. aku suka karena ini buatan kamu. Mau enak atau tidak, aku tetap mau memakannya. Jadi biarkan aja. Ini namanya etika terhadap makanan,” ucap Haru.

Mendengar hal tersebut membuat hati Arin tersentuh. Haru benar-benar berusaha untuk menghargai makanan yang sudah ia buat tanpa memberikan kritik. Mereka makan bersama dengan lahap. Disela-sela makan, Haru masih saja bersikap peka dengan menuangkan cola ke dalam gelas Arin yang sudah kotor atau memberikan tisu saat Arin tak sengaja mengotori mulutnya.

“Ah … aku hampir lupa. Sebenarnya besok luka, perusahaanku mengadakan pesta peluncuran aplikasi baru. Kalau kamu nggak keberatan, kamu mau datang bersamaku?” tanya Haru.

“Pesta …?”

Kata yang membuat Arin terdiam beberapa saat. Dirinya yang sangat tidak menyukai banyak orang jika mendengar hal itu sudah pasti mencoba untuk menghindarinya. Namun jika ia menolaknya sangat tidak logis lantaran dirinya yang akan menjadi calon istri dari pemilik perusahaan tersebut tidak datang, rasanya sedikit tidak pantas.

“Aku tidak akan memaksa kamu untuk datang. Awalnya aku tidak ingin memberitahumu tentang ini karena takut membebani kamu, tapi kalau kamu mendengar hal ini dari orang lain rasanya agak …” ucap Haru yang bingung melanjutkan kalimatnya.

“Akan aku coba …,” ucap Arin dengan sedikit rasa nekad.

“Kamu yakin? Di sana bakal banyak, wartawan, orang, kamera dan musik kencang …” ucap Haru khawatir.

“Hanya sebentar kayaknya nggak bakal ada masalah. Aku ikut! Tapi yang jadi masalah, aku tidak memiliki gaun yang cocok untuk datang ke pesta dan nggak tau gaun seperti apa yang cocok untuk datang ke acara seperti itu. Ini pertama kalinya buat aku,” ucap Arin sedikit merasa malu.

“Kalau masalah itu kamu nggak usah khawatir, biar aku yang mengurusnya. Tapi kamu yakin mau datang?” tanya Haru sekali lagi lantaran masih tak percaya akan keputusan Arin.

“Nggak apa-apa. Aku rasa, aku akan bisa baik-baik saja. Yah … memang aku nggak menyukai tempat ramai. Tapi kadang ada waktu aku bisa baik-baik saja di tengah-tengah kerumunan orang banyak, tapi kadang ada waktu aku benar-benar nggak baik-baik saja. Aku bisa kok mengendalikan diri aku sendiri, jadi nggak perlu khawatir …,” ungkap Arin mencoba untuk memberikan sedikit penjelasan mengenai kondisinya.

“Baiklah … aku percaya.” ucap Haru.

Mereka kembali melanjutkan makan, membuat suasana kembali hening.

“Tadi kamu menunggu sejak kapan? Kenapa nggak telepon aku?” tanya Haru kembali memulai topik pembicaraan.

“Emm … setengah jam.” ucap Arin sedikit ragu.

“Pantesan sampai kaki kamu kram, lain kali kamu telepon aku atau kirim pesan. Aku kadang suka lembur di kantor dan waktunya nggak menentu,” ujar Haru.

“Tadinya juga mau telpon, tapi takut ganggu. Makanya aku nungguin kamu … hehe …” ucap Arin sambil tertawa kecil, menertawakan tingkahnya sendiri. “Tapi … kamu suka cemilan apa?” tanya Haru.

“Emm … sebenarnya aku jarang ngemil. Kalau nggak sempat makan, ya sudah aku langsung tidur. Ini pertama kalinya aku makan cemilan tengah malam … tapi seru juga.” ucap Haru.

“Ya ‘kan? tapi nggak baik buat tubuh. Apa kali makannya begini …”

“Emm … kalau kamu nggak keberatan, apa kamu bisa buatkan aku empek-empek?” tanya Haru.

“Oh!! Aku bisa buat itu!!”

“Serius …?”

“Emm … nanti akan aku buatkan ya …”.

“Kalau begitu, aku yang berterima kasih …,” ucap Haru.

Perbincangan hangat antara dua orang yang memiliki kepribadian dan pola pikir yang berbeda bisa mengobrol dengan baik. Mereka saling mengisi kekosongan satu sam alain, membuat hubungan mereka semakin menjadi dekat tanpa di sadari oleh keduanya.

***

Haru bersiap untuk berangkat bekerja. Tak lupa ia mengambil kucin mobilnya — berjalan ke depan pintu setelah mengenakan sepatu — membuka pintu apartemennya. Saat melangkahkan kakinya keluar, Haru terdiam beberapa detik saat melihat sebuah paper bag yang menggantung di penganan pintu miliknya. Lantas Haru langsung mengambilnya — menoleh ke kanan ke kiri untuk melihat siapa yang meletakan ini, tapi tidak ada siapapun disana. Sebuah note tertempel di depan pintu.

| Aku nggak tau kamu suka atau nggak. Aku buatkan sandwich. Pastikan sarapan. Aku juga buatkan americano panas dengan gula terpisah. Semangat bekerja!! -Arin-

Seketika Haru langsung tersenyum lebar setelah mengetahui jika ini pemberian dari Arin. Entah sejak kapan dia meletakkan ini. Bahkan kopinya saja masih terasa panas, dipastikan arin belum lama meletakkannya. Rasa senang bercampur haru melihat perhatian yang diberikan Arin terhadap dirinya.

“Bangun jam berapa dia, sampai buat sandwich.Imutnya …” ucap Haru yang kembali tersenyum saat mengeluarkan sandwich tersebut yang tampak begitu rapi seperti ia membeli di toko roti.

Kemudian Haru berjalan pergi ke kantor dengan perasaan senang dan penuh semangat berkat Arin. Haru memakan sarapan yang dibuat Arin untuknya sembari nyetir mobil dan mendengarkan radio. Satu pagi yang tidak akan pernah dilupakan. Haru begitu lahap menikmati sandwich tersebut yang penuh dengan sayuran dan tuna mayones.

“Emm … enak juga …” ucap Haru.

1
Rosa Rosiana
menarik
and.ochre
Lanjut atau aku gabisa tidur nih thor?! Haha.. pokoknya semangat kakak author
Is Wanthi
Arin boleh gak Harunya buat aku aja,dia itu terlalu sempurna 🙂🙂🙂
Is Wanthi
malu banget 🙈🙈🙈
Is Wanthi
Jujur di awal itu lebih baik,dari pada di tutupi nantinya akan rumit.
Is Wanthi
Arin kah,yg di jodohkan deng Haru,
Is Wanthi
keluar kan segala kejengkelan kalian tak selamanya anak harus patuh sama orang yg tua,
Is Wanthi
aduh Bu, mental Arin tambah anjlok aja anaknya dapat omongan kaya gitu
Is Wanthi
waikum salam, boleh 🙂🙂🙂🙂🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!