Adipati tidak menyangka dirinya terbangun di tahun '70an. Bukan sebagai atlet karate di masa itu, melainkan seorang pria dengan kondisi tubuh lemah dan penakut, bernama Arya.
Arya merupakan cucu pertama keluarga Raden Adipati. Ia seharusnya menjadi pewaris utama, namun karena kepribadiannya yang dirasa tidak mumpuni membuat pemuda itu disepelekan oleh saudara-saudaranya.
Di tubuh barunya, Adipati tidak hanya terjebak dalam konflik keluarga yang rumit, tapi juga menghadapi beragam upaya pelenyapan dirinya.
Dengan kemampuan seorang atlet karate, akankah Adipati berhasil mengubah keadaan Arya, dan membuatnya layak jadi pewaris utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
desakan menikah
Tama tiba di rumah dengan raut kesal. Ekspresinya itu tak luput dari pandangan Wira yang kemudian menghampiri seraya bertanya, “Ada apa?”
Keduanya duduk di teras, tatapan Wira masih tak lepas dari sosok sang putra.
“Pak. Bujuk Aki biar cepat-cepat menikahkan si Arya sama Wida,” pintanya.
“Kamu yakin?” tanya Wira dengan seringaian berarti.
Tama mendengus pelan sambil melengoskan wajah. “Aku merasa Arya udah nggak bodoh lagi, Pak. Cuma dengan cara menikahkan dia dengan Wida, kita bisa pegang kendali,” ujarnya.
“Wida yang bisa kita kendalikan, Arya belum tentu.”
“Tapi, Pak. Kita bisa manfaatkan Wida. Kalo dia udah jadi istrinya Arya, peluangnya lebih gede.”
Wira berpikir sejenak, lalu manggut-manggut. Ia pun berkata akan secepatnya membujuk Raden Adipati untuk menikahkan Arya dengan tunangannya, Wida.
Tak menunggu lama, Wira mengendarai motornya menuju kediaman sang mertua. Kebetulan Raden Adipati ada di rumah. Pria berumur itu tampak sedang memberi instruksi pada dua orang pekerja yang membersihkan kebun di samping rumah.
Wira menyapa mertuanya yang tampak tak acuh. Ia lalu memutuskan menunggu di teras sambil menyusun kata-kata untuk membujuk pria tua itu.
“Ada apa mencariku?” tanya Raden Adipati sembari duduk berhadapan dengan Wira.
“Pak. Arya sudah sembuh, dan terlihat lebih bersemangat setiap harinya. Menurutku, bagaimana kalau kita segera menikahkannya? Pertunangan anak itu dengan Wida sudah cukup lama. Aku khawatir mereka nggak bisa menahan diri lebih lama lagi,” tuturnya to the point.
Raden Adipati terdiam, mempertimbangkan ucapan Wira. Kalau bukan karena Ocid—ayah Wida—merupakan teman dekat mendiang putranya, Raden Adipati tidak akan berpikir untuk menjodohkan Arya dan Wida. Selain status sosial keluarga yang jauh berbeda, secara pribadi Raden Adipati kurang menyukai Wida. Namun atas bujukan Wira dan istrinya, Raden Adipati menyetujui perjodohan tersebut.
Sore harinya, seseorang diutus untuk memanggil Arya ke rumah Raden Adipati. Arya pun memenuhi panggilan itu bersama sang ibu yang membawakan kue basah yang baru matang.
Di ruang tamu, Arya duduk tak jauh dari kakeknya. Sementara itu Farida menyuguhkan kue dan secangkir teh hangat untuk sang mertua.
“Farida, duduklah. Ada yang ingin kubicarakan denganmu dan Arya,” ujarnya.
Farida duduk di samping Arya dengan nampan yang menutupi kedua pahanya. Dilihat dari raut wajahnya, kemungkinan Farida sedang menebak apa yang akan dibicarakan Raden Adipati.
“Ada apa, Pak?” tanyanya.
“Aku berencana menikahkan Arya dengan Wida. Besok kau suruh Darman manggil si Ocid dan istrinya ke sini. Kita akan membicarakannya lebih lanjut. Gimana, kau setuju kan?” tanyanya.
“Menikah?” gumam Arya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Farida tak lantas menjawab. Ia melirik pada Arya yang tampak bingung. Ada keraguan tersirat di wajah Farida, dan itu ditangkap oleh Dewi yang baru bergabung bersama mereka.
“Jangan cuma Farida yang ditanya, Arya juga dong, Pak,” saran Dewi.
“Arya sama Wida kan memang sudah bertunangan tiga bulan lalu. Kalau nggak ada kejadian waktu itu, sekarang mereka udah menikah,” sergah Raden Adipati.
Farida menghela dalam napasnya, lalu menoleh pada Arya yang tak bergeming.
Arya sendiri bukan tanpa alasan memilih diam. Bagaimanapun ini menyangkut kehidupan si pemilik tubuh ke depannya. Ia tak berani menolak, namun juga tidak mungkin menerimanya begitu saja.
“Bagaimana menurutmu, Arya?” tanya Farida.
Arya tak lantas menjawab. Ditatapnya Farida dan menangkap raut tidak senang di wajah wanita itu.
Arya meraih tangan Farida dan menggenggamnya seraya berkata, “Sejujurnya aku belum ingin berumah tangga. Aku masih ingin bersama ibu, berbakti dan membahagiakan ibu …. Bagaimanapun, kalau sudah menikah pasti tidak leluasa.”
“Nini setuju sama Arya. Laki-laki kalau sudah menikah tanggung jawabnya lebih besar. Kalau Arya belum siap, jangan memaksakan diri,” timpal Dewi.
Raden Adipati menoleh pada istrinya. Secara pribadi, ia menyetujui ucapan Dewi. Namun tak dipungkiri adanya keinginan untuk segera memiliki cicit dari Arya.
“Kalau aki bersikeras ingin aku menikah, tolong beri waktu sebulan untuk memantapkan hati, dan juga biar lebih mengenal Wida,” tutur Arya.
Raden Adipati menyanggupi. Mereka pun sepakat akan membahas perihal pernikahan satu bulan kemudian.
Obrolan sore itu nyatanya mengganggu pikiran Arya yang notabene jiwanya adalah Adipati. Dalam kehidupannya, Adipati sudah lama menaruh hati pada Lily, sahabat karibnya sendiri.
Ia ingin kembali menjadi Adipati dalam kurun waktu satu bulan. Akan tetapi semakin dipikirkan, Arya seakan berada di ujung jalan buntu, tak menemukan jalan keluar.
“Den. Kok melamun?” tegur Udin.
Hari ini Arya tak terlihat bersemangat, lebih banyak diam dam melamun. Udin yang baru selesai ngarit memberanikan diri bertanya pada Arya.
“Aku diminta segera menikahi Wida, Din,” jawabnya pelan dengan tatapan kosong lurus ke depan.
“Den Arya kan memang sudah bertunangan sama Wida.”
“Aku tau. Tapi jujur, aku belum siap menikah. Kenal dekat aja enggak.”
Udin tak menanggapi ucapan Arya. Pria itu terdiam, membuat suasana jadi hening.
“Menurutmu, Wida itu orangnya gimana?”
“Wida? Dia ….”
Arya menoleh pada Udin, berharap mendengar pendapat yang sejujur-jujurnya dari pria itu. Namun ia justru menangkap gelagat lain. Udin seakan ragu dan enggan meneruskan kalimatnya.
“Dia kenapa, Din?”
“Den Arya mau Udin jujur?” tanyanya ragu.
“Iya dong. Harus.” Arya menghadap pada Udin dengan antusias.
“Selama ini kalo diperhatikan, Den Arya memang jarang bertemu apalagi bergaul dengan Wida. Kemungkinan ada beberapa hal yang belum diketahui Den Arya.”
“O-ya? Misalnya apa?”
“Sebelumnya Wida pernah hampir nikah sama kakaknya Ai. Tapi kemudian dia ketahuan selingkuh sama Den Tama. Nggak lama setelah itu kakaknya Ai meninggal.”
“Meninggal karena apa?”
“Dia berantem sama anak buahnya Den Tama, sakit, terus meninggal. Padahal waktu itu dia juga ‘orangnya’ Den Tama. Nggak lama setelah dia meninggal, ada kabar kalo Wida dijodohkan sama Den Arya.”
“Hah?! Kok aneh malah dijodohin sama aku, bukan sama Tama?”
“Memang aneh sih, tapi nggak tau kenapa bisa begitu. Dan sebenarnya … Wida masih suka ketemu sama Den Tama. Di rumah yang waktu itu.”
“Selingkuh sama Tama, tapi dijodohkan sama Arya?” batinnya. Arya tampak berpikir keras, coba mencerna informasi yang didengarnya. Entah kenapa ia merasa ada kejanggalan.
“Yang menjodohkan siapa?” tanya Arya.
“Ya Juragan sepuh.”
“Aki?”
“Iya.”
“Aki tau soal Wida sama Tama?”
“Kayaknya sih nggak tau.”
“Mungkin nggak kalo sebenarnya aki tau, tapi karena Tama udah punya istri, makanya dijodohkan sama aku?”
“Nggak mungkin, Den. Wida kan bukan anak pak camat, pak lurah, atau pak kades. Dia juga bukan dari keluarga kaya, apalagi sekaya keluarga Den Arya. Juragan sepuh nggak ada untungnya besanan sama keluarga Wida.”
“Ya terus kenapa dijodohin? Mereka-. Maksudku, aku nggak pernah pacaran sama Wida ‘kan?”
Udin menggeleng, lalu berkata “Sebelumnya Den Arya nggak bergaul sama orang lain, kecuali Sekar. Itupun karena Sekar sering datang buat bantu-bantu kerjaan Bi Minah.”
“Serius? Eh, maksudku … ternyata sebelumnya aku seintrovert itu? Hehe … terusin.”
“Menurut yang kudengar, perjodohan itu marena Pak Ocid orang kepercayaan almarhum Den Jaya. Kata orang-orang, mereka teman dekat.”
“Itu doang alasannya?”
Udin mengangguk ragu. Sementara itu Arya mendesah kasar. Jika benar demikian, artinya si pemilik raga tidak benar-benar berniat menikahi Wida.
“Din. Kamu ada ide nggak?”
“Maksudnya, Den?”
“Ide buat batalin pertunanganku sama Wida.”
Udin sempat melongo, tapi kemudian membisikkan sesuatu di telinga Arya.
“Yang bener, Din?”
Udin mengangguk cepat.
“Oke,” ucapnya antusias sambil mengacungkan jempol.
jgn patah semangat, karyamu bagus... tulisan'a rapi, bhs👍
💪💪💪dong