Indonesia
NovelToon NovelToon
Janji Sahabat

Janji Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Persahabatan
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Keke Ganteng

"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan yang Tak Terucap

Beberapa hari setelah Hari Olahraga, Naya mulai memperhatikan sesuatu yang berubah dalam dirinya sendiri—setiap kali melihat Raka dan Salsabila mengobrol akrab di kelas, ada rasa tidak nyaman yang menyelinap masuk ke dadanya, meski ia tidak pernah mengucapkannya kepada siapa pun.

Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan tenggelam dalam tugas kelompok yang tersisa, menuliskan ulang bagian kesimpulan riset tentang legenda pohon beringin berkali-kali meski hasilnya sudah cukup baik sejak awal. Namun setiap kali suara tawa Salsabila terdengar dari meja sebelah, disusul suara Raka yang ikut tertawa, tangan Naya berhenti menulis sejenak, seolah ada sesuatu yang menahan jarinya dari dalam.

Suatu siang di perpustakaan, saat mengembalikan buku referensi yang mereka pinjam untuk tugas, Naya sempat berpapasan dengan Bu Retno yang kebetulan sedang merapikan rak buku.

"Naya, akhir-akhir ini kok keliatan agak murung? Ada masalah?" tanya Bu Retno ramah, memperhatikan raut wajah muridnya yang biasanya ceria.

"Nggak apa-apa, Bu. Cuma kecapekan aja," jawab Naya cepat, tersenyum dipaksakan.

Bu Retno menatapnya sejenak, tidak sepenuhnya percaya, namun memilih tidak mendesak lebih jauh. "Kalau butuh cerita, pintu ruang guru selalu kebuka, ya."

Naya mengangguk, lalu bergegas keluar perpustakaan sebelum air matanya yang sudah mulai menggenang sempat terlihat oleh siapa pun.

Suatu sore, saat mereka berempat kembali berkumpul di bawah pohon beringin setelah menyelesaikan presentasi tugas kelompok yang mendapat nilai memuaskan dari Bu Retno, Salsabila tanpa sengaja menyinggung sesuatu yang membuat suasana sedikit canggung.

"Eh, Raka, kamu ada acara Minggu ini? Aku diajak Mama ke pameran buku di pusat kota, kalau kamu suka baca, boleh ikut," tawar Salsabila polos.

Raka tampak sedikit terkejut dengan ajakan mendadak itu. "Eh, boleh, sih. Aku emang suka baca buku petualangan."

"Asik! Nanti aku kasih tau jam berapa, ya," jawab Salsabila senang.

Naya mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba bergejolak di dadanya. Adit, yang duduk di seberang, menangkap perubahan kecil di wajah Naya, meski ia memilih untuk tidak berkomentar apa pun saat itu.

Sepulang dari pertemuan sore itu, Naya berjalan pulang sendirian, dan pikirannya terus dipenuhi oleh perasaan campur aduk yang sulit ia jelaskan.

"Kenapa aku ngerasa nggak nyaman, ya?" gumamnya sendiri, menendang kerikil kecil di trotoar sambil berjalan. "Raka kan cuma temenan biasa sama Salsabila. Nggak ada salahnya."

Namun semakin ia mencoba meyakinkan diri sendiri, semakin jelas pula ia menyadari kebenaran yang selama ini enggan ia akui—bahwa perasaannya terhadap Raka bukan sekadar rasa sayang seorang sahabat biasa.

Sesampainya di rumah, Naya langsung menuju kamarnya, merebahkan diri di ranjang sambil menatap langit-langit dalam diam. Ibunya yang kebetulan lewat di depan kamar, sempat mengetuk pintu yang terbuka sedikit.

"Naya, makan dulu, Nak. Ibu masak sop kesukaanmu," panggil ibunya lembut.

"Sebentar lagi, Bu," jawab Naya tanpa bergerak dari posisinya.

Ibunya berdiri sejenak di ambang pintu, memperhatikan wajah anaknya yang tampak berbeda dari biasanya, namun memilih untuk tidak bertanya lebih jauh, mengingat betapa keduanya masih sama-sama belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan baru pascaperceraian. Ia hanya menutup pintu perlahan, membiarkan anaknya menikmati waktu sendirian yang tampaknya dibutuhkan.

Malam itu, Adit—yang sejak sore tadi terus memikirkan perubahan raut wajah Naya—memutuskan untuk menghubungi sahabatnya itu secara pribadi.

Adit: Naya, kamu oke? Tadi sore keliatan agak diem pas Salsabila ngajak Raka ke pameran buku.

Balasan dari Naya datang setelah beberapa menit jeda yang cukup lama.

Naya: Aku oke kok. Cuma capek aja abis presentasi.

Adit menatap layar ponselnya, tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban itu, namun memilih untuk tidak memaksa lebih jauh—mengingat betapa ia sendiri juga menyimpan perasaan yang sama terhadap Naya, sesuatu yang membuatnya merasa berada di posisi yang rumit.

Adit: Oke deh, kalau butuh cerita, aku selalu ada.

Ia meletakkan ponselnya, menatap langit-langit kamarnya dalam diam, menyadari bahwa persahabatan mereka bertiga kini mulai memasuki babak yang jauh lebih rumit, dengan perasaan-perasaan tak terucap yang perlahan tumbuh di antara mereka.

Beberapa hari setelah Hari Olahraga, Naya mulai memperhatikan sesuatu yang berubah dalam dirinya sendiri—setiap kali melihat Raka dan Salsabila mengobrol akrab di kelas, ada rasa tidak nyaman yang menyelinap masuk ke dadanya, meski ia tidak pernah mengucapkannya kepada siapa pun.

Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan tenggelam dalam tugas kelompok yang tersisa, menuliskan ulang bagian kesimpulan riset tentang legenda pohon beringin berkali-kali meski hasilnya sudah cukup baik sejak awal. Namun setiap kali suara tawa Salsabila terdengar dari meja sebelah, disusul suara Raka yang ikut tertawa, tangan Naya berhenti menulis sejenak, seolah ada sesuatu yang menahan jarinya dari dalam.

Suatu siang di perpustakaan, saat mengembalikan buku referensi yang mereka pinjam untuk tugas, Naya sempat berpapasan dengan Bu Retno yang kebetulan sedang merapikan rak buku.

"Naya, akhir-akhir ini kok keliatan agak murung? Ada masalah?" tanya Bu Retno ramah, memperhatikan raut wajah muridnya yang biasanya ceria.

"Nggak apa-apa, Bu. Cuma kecapekan aja," jawab Naya cepat, tersenyum dipaksakan.

Bu Retno menatapnya sejenak, tidak sepenuhnya percaya, namun memilih tidak mendesak lebih jauh. "Kalau butuh cerita, pintu ruang guru selalu kebuka, ya."

Naya mengangguk, lalu bergegas keluar perpustakaan sebelum air matanya yang sudah mulai menggenang sempat terlihat oleh siapa pun.

Suatu sore, saat mereka berempat kembali berkumpul di bawah pohon beringin setelah menyelesaikan presentasi tugas kelompok yang mendapat nilai memuaskan dari Bu Retno, Salsabila tanpa sengaja menyinggung sesuatu yang membuat suasana sedikit canggung.

"Eh, Raka, kamu ada acara Minggu ini? Aku diajak Mama ke pameran buku di pusat kota, kalau kamu suka baca, boleh ikut," tawar Salsabila polos.

Raka tampak sedikit terkejut dengan ajakan mendadak itu. "Eh, boleh, sih. Aku emang suka baca buku petualangan."

"Asik! Nanti aku kasih tau jam berapa, ya," jawab Salsabila senang.

Naya mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba bergejolak di dadanya. Adit, yang duduk di seberang, menangkap perubahan kecil di wajah Naya, meski ia memilih untuk tidak berkomentar apa pun saat itu.

Sepulang dari pertemuan sore itu, Naya berjalan pulang sendirian, dan pikirannya terus dipenuhi oleh perasaan campur aduk yang sulit ia jelaskan.

"Kenapa aku ngerasa nggak nyaman, ya?" gumamnya sendiri, menendang kerikil kecil di trotoar sambil berjalan. "Raka kan cuma temenan biasa sama Salsabila. Nggak ada salahnya."

Namun semakin ia mencoba meyakinkan diri sendiri, semakin jelas pula ia menyadari kebenaran yang selama ini enggan ia akui—bahwa perasaannya terhadap Raka bukan sekadar rasa sayang seorang sahabat biasa.

Sesampainya di rumah, Naya langsung menuju kamarnya, merebahkan diri di ranjang sambil menatap langit-langit dalam diam. Ibunya yang kebetulan lewat di depan kamar, sempat mengetuk pintu yang terbuka sedikit.

"Naya, makan dulu, Nak. Ibu masak sop kesukaanmu," panggil ibunya lembut.

"Sebentar lagi, Bu," jawab Naya tanpa bergerak dari posisinya.

Ibunya berdiri sejenak di ambang pintu, memperhatikan wajah anaknya yang tampak berbeda dari biasanya, namun memilih untuk tidak bertanya lebih jauh, mengingat betapa keduanya masih sama-sama belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan baru pascaperceraian. Ia hanya menutup pintu perlahan, membiarkan anaknya menikmati waktu sendirian yang tampaknya dibutuhkan.

Malam itu, Adit—yang sejak sore tadi terus memikirkan perubahan raut wajah Naya—memutuskan untuk menghubungi sahabatnya itu secara pribadi.

Adit: Naya, kamu oke? Tadi sore keliatan agak diem pas Salsabila ngajak Raka ke pameran buku.

Balasan dari Naya datang setelah beberapa menit jeda yang cukup lama.

Naya: Aku oke kok. Cuma capek aja abis presentasi.

Adit menatap layar ponselnya, tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban itu, namun memilih untuk tidak memaksa lebih jauh—mengingat betapa ia sendiri juga menyimpan perasaan yang sama terhadap Naya, sesuatu yang membuatnya merasa berada di posisi yang rumit.

Adit: Oke deh, kalau butuh cerita, aku selalu ada.

Ia meletakkan ponselnya, menatap langit-langit kamarnya dalam diam, menyadari bahwa persahabatan mereka bertiga kini mulai memasuki babak yang jauh lebih rumit, dengan perasaan-perasaan tak terucap yang perlahan tumbuh di antara mereka.

1
Dini
jangan lupa mampir juga di karya ku
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Keke Ganteng: ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!