Indonesia
NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 - Kue Manis

Elena terbangun dari tidurnya saat dering alarm ponsel memecah keheningan kamar. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Ia mengulurkan tangan meraih ponsel di atas meja sebelah tempat tidurnya, mematikan alarm, lalu kembali meringkuk malas di balik selimut untuk beberapa saat.

Baru lima menit kemudian ia memaksakan diri bangun mengambil posisi duduk. Ia menyingkirkan selimut yang melapisi tubuhnya, lalu meregangkan kedua lengan ke atas sembari menguap lebar.

Sambil melirik layar ponsel, tampak masih jam delapan pagi. Elena mulai beranjak dari tempat tidur nyamannya menuju ke meja dapur dengan langkah yang terasa cukup berat. Ia mengambil selembar roti tawar, mengolesi dengan selai coklat di permukaannya sebagai menu sarapan, lalu menuangkan jus apel dingin dari lemari es ke dalam gelas.

Elena melahap sarapannya suap demi suap sembari sibuk menggeser layar ponsel, memeriksa deretan notifikasi media sosialnya. Rupanya banyak followernya yang meninggalkan komentar di beberapa foto yang ia unggah kemarin malam.

Sesaat kemudian, jemarinya mengetuk layar, membuka sebuah laman profil media sosial milik seseorang. Layar itu menampilkan foto seseorang cowok tampan dan gagah berseragam judo. Elena menyungging senyum manis, menatap foto itu dengar binar mata yang hangat dan cukup lama.

“Gak lama lagi bisa ketemu,” batinnya, membelai pelan foto di layar ponselnya.

Setelah menghabiskan sarapan dan segelas jus apelnya, Elena beranjak menuju kamar mandi. Ia memutar keran, mengisi bathtub dengan air hangat hingga penuh, lalu mulai berendam rileks didalamnya. Sembari memanjakan diri, ia memutar daftar lagu kekinian bertemakan cinta dari ponselnya—tak jarang ia ikut berdendang pelan, meresapi tiap bait lirik romantis yang ia nyanyikan.

Setengah jam kemudian, Elena tampak sibuk men-styling rambutnya yang telah mengering sempurna. Ia lalu mengoleskan riasan tipis ke wajahnya—gaya makeup harian yang natural dan tak terlalu tebal, amat berbeda dibanding saat ia harus berdiri di depan kamera dalam sesi pemotretan.

Seusai dengan urusan makeup, Elena melangkah menuju lemari pakaian dan mulai memilah beberapa opsi outfit yang akan ia kenakan siang ini.

Untuk pilihan pertama, Elena mencobanya di depan cermin tinggi. Ia memadukan atasan graphic tee oversized warna putih dengan bawahan cargo pants berwarna olive. Beberapa kali ia memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan, menilai outfitnya dari berbagai sudut.

“Hmm… kayaknya ada yang kurang, deh.” Elena bergumam pelan, merasa kurang puas dengan nuansa chic & trendy streetwear yang sedang ia kenakan. Ia melepasnya, lalu mengambil OOTD opsi kedua.

Gaya selanjutnya mengusung kesan nyaman dan sporty. Ia mengenakan atasan sports bra premium yang dilapisi zip-up hoodie tipis warna hitam yang sengaja dibiarkan meluncur di bahu, serta dipadukan dengan bawahan bike shorts warna senada.

Elena kembali memutar-mutar tubuhnya di depan cermin, mengamati penampilannya sendiri.

“Nyaman sih… tapi kayaknya terlalu mencolok buat sekedar jalan siang nanti,” nilainya ragu.

Tanpa membuang waktu, ia kembali melepas seluruh pakaian itu dan mencoba outfit ketiga. Kali ini, sebuah kemeja putih berbahan katun oversized dengan kancing bagian atas sengaja dibiarkan terbuka, dipadukan dengan celana high-waisted denim shorts. Kombinasi tersebut memancarkan kesan casual, fresh dan classy. Sebuah gaya effortless summer style yang begitu menyatu dengan persona Elena sebagai seorang model.

“Nah, kayak ini yang terbaik untuk hari ini.”

Elena kemudian duduk di tepi tempat tidur. Jemari lentiknya dengan telaten mengenakan strappy flat sandals. Ia bangkit dan melangkah kembali ke depan cermin sembari menyilangkan crossbody bag berbahan kulit warna cokelat di bahunya. Sebagai sentuhan akhir, ia meraih botol parfum dan menyemprotkan secukupnya di pergelangan tangan serta leher.

Tak lama setelah melangkah keluar melewati pintu depan rumah, ponsel di dalam tasnya berdering. Elena tak langsung buru-buru mengangkatnya dan terus berjalan anggun menghampiri lalu masuk ke dalam mobil. Baru setelah mesin dinyalakan dan ponselnya kembali berdering untuk kedua kalinya, Elena menggeser tombol hijau.

“Ya?” sapa Elena santai.

“Len, buat hari Sabtu besok ada perubahan jadwal pemotretan, nih,” pangkas suara cowok dari seberang telepon.

Elena mengerutkan dahi. “Kenapa mendadak?”

“Ya mau gimana lagi, dari pihak klien emang ada urusan mendadak.”

“Terus diganti kapan? Kalo hari Minggu aku gak bisa, ya. Ada urusan penting,” jawab tegas Elena.

“Aman, tenang aja. Jadwalnya diganti besok lusa. Bisa, kan?”

“Bisa kalo lusa.”

“Sip. Ya udah kalo gitu.”

Panggilan pun berakhir. Elena menghela napas lega, menyandarkan punggungnya di jok mobil saat senyum kembali terukir di wajahnya. Hari Minggunya aman.

Tanpa membuang waktu, ia mulai mengendarai mobilnya melaju menembus terik dan cerahnya siang itu.

Lima belas menit kemudian, Elena melangkah masuk ke sebuah toko buku di lantai dua salah satu mall pusat kota. Langkahnya menelusuri tiap koridor. Matanya begitu serius memindai dari rak ke rak, sampai akhirnya ia berhenti tepat di area papan penunjuk bertuliskan "Kuliner dan Resep."

Jemarinya menelusuri deretan punggung buku di rak dengan cermat, hingga akhirnya terhenti pada sebuah buku bersampul cerah bertuliskan:

"Kue untuk Pemula: Langkah Mudah Membuat Manisnya Hari"

"Kayaknya gak bakal sesulit perkiraanku… semoga aja, sih," gumam Elena pelan penuh rasa percaya diri. Ia mengambil buku itu, lalu melangkah menuju meja kasir.

Seorang kasir cewek di hadapannya mulai memindai barcode di sampul belakang buku. Namun, saat mendongak untuk menyebut nominal harga, mata kasir itu mendadak membulat.

”Eh… Mbak Elena, kan?! Yang model itu? Yang ada di iklan skincare itu, kan?” serunya dengan nada terkejut yang tertahan.

Elena tersenyum kecil sembari secara refleks melirik cepat ke sekeliling area kasir untuk memastikan bahwa pekikan kecil itu tak memancing kerumunan pengunjung lain. “Ahh.. iya,” jawabnya berbisik pelan, menganggukkan kepala.

“Aku follower Instagram Mbak Elena lho! Wah, aslinya ternyata jauh lebih cantik dari yang di foto!” ujar kasir itu dengan raut wajah berbinar sekaligus kikuk. Tangannya buru-buru meraba saku celananya, lalu menambahkan antusias, “Boleh minta foto bareng sebentar gak, Mbak?”

Elena mengangguk ramah. “Ahh... boleh.”

Seusai selfie singkat di depan meja kasir, cewek itu menyerahkan struk pembayaran beserta kantong belanjaan dengan senyum yang makin lebar. “Makasih banyak, Mbak! Sumpah, masih gak nyangka bisa ketemu langsung dan selfie sama model beneran!”

Elena membalasnya dengan senyum manis, menyambar kantong belanjaan berisi buku resepnya, lalu bergegas melangkah keluar dari toko buku sebelum ada pengunjung lain yang mengenali wajahnya.

Beberapa jam kemudian, Elena sudah berdiri sendirian di dapur rumahnya, siap untuk mempraktikkan salah satu resep kue manis dari buku yang baru ia beli tadi.

Elena membalik halaman demi halaman buku resep itu, mencari panduan yang dinilainya paling mudah dan memiliki tingkat kegagalan paling rendah.

“Keliatannya ini yang paling mudah. Wajib dicoba sekarang!” gumamnya penuh antusias.

Tak lama berselang, ia sudah mengenakan celemek kain bergambar kucing. Rambut panjangnya diikat tinggi membentuk ponytail, memperlihatkan wajahnya yang penuh semangat. Di atas meja, buku resep dibiarkan terbuka lebar, berjejer rapi dengan bahan-bahan serta peralatan yang dibutuhkan.

Elena mulai meniru tiap instruksi yang tertulis satu per satu, membaca ulang beberapa langkah yang dirasanya agak rumit. Tepung terigu sempat beterbangan mengotori udara dan celemek saat ia mengaduk adonan dengan mixer. Namun, senyum kecil dan semangat yang membara terus terukir di wajahnya, tak memperdulikan kondisi dapur yang mulai berantakan.

Dengan hati-hati, Elena memasukkan adonan kue yang sudah tertata rapi di loyang ke dalam oven. Ia menghembuskan napas lega, mengusap keringat yang cukup banyak membahasi pelipis dan dahinya.

Namun, waktu berlalu…

Begitu bel oven berdenting dan kue dikeluarkan, senyumannya seketika pudar serta semua harapannya perlahan runtuh.

Adonan kue itu sama sekali tak mengembang seperti gambar yang tertera di buku. Permukaan atasnya retak-retak tak beraturan, dan aroma sedikit sangit menusuk hidung mulai menyelusup dari pinggiran loyang.

Elena menatap hasil usahanya itu dengan ekspresi bingung bercampur pasrah. Ia menghela napas panjang yang sarat akan kekecewaan.

“Yaaah… apanya yang salah coba? Padahal kayaknya udah sesuai dengan panduan buku. Takaran bahan udah persis kayak resep, langkah-langkahnya pun juga udah aku ikuti semua. Tapi kenapa hasilnya tetep kayak gini, ya? Mungkin emang benar apa kata Nathan,” gumamnya pelan.

Namun, Elena tak pantang menyerah dengan kegagalan di percobaan pertamanya. Ia kembali mencoba sekali lagi dari awal dengan memastikan resepnya sudah benar dan tak ada langkah yang terlewat satu pun.

Hingga akhirnya bel oven kembali berdenting… dan bentuk fisik kue kedua itu nyatanya tak jauh berbeda dari yang pertama.

Elena mencuil sedikit bagian tepi yang tak terlalu gosong. Ia memejamkan mata, mencicipinya dengan penuh harap, sebelum akhirnya langsung meringis.

“Hmm… masih bisa disebut kue sih, tapi rasanya... aneh. Pake banget.”

Meskipun secara teknis sudah ada peningkatan dibanding percobaan yang pertama, jujur saja hasilnya masih belum layak untuk disajikan.

Elena mulai merasa cemas. Usaha kerasnya terasa sia-sia dan hanya akan membuang-buang waktunya yang kini tersisa kurang dari enam hari lagi.

Tak lama berselang, Elena sudah terbaring di atas tempat tidur. Tubuhnya masih terbalut celemek yang kini penuh noda tepung. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar.

Di sampingnya, buku resep tergeletak terbuka dengan lembaran kertas sedikit mengerut akibat terkena cipratan adonan tadi. Sebuah jejak kecil dari kegagalan beruntunnya hari ini.

Elena meringis kecil, menepuk dahinya sendiri; merasa setengah kesal, namun juga setengah geli.

“Gimana ini, dong? Waktuku gak banyak. Apa iya mending langsung beli saja ya? Ntar jadi berasa gak spesial dong,” gumamnya dalam keheningan. "Tapi.. ini buat Kevin."

Di tengah rasa putus asa yang hampir membuatnya menyerah, sebuah kilatan ingatan melintas di benaknya. Ia teringat pada salah satu teman sekelasnya semasa SMA dulu yang memang terkenal jago dalam urusan membuat kue.

Tanpa sadar, bibir Elena perlahan membentuk senyum ceria.

“Kenapa gak tanya Belinda aja, ya?” bisiknya lirih.

Mungkin harapan itu tidak selalu datang dari dalam diri sendiri. Kadang kala, jalan keluar justru datang dari keberanian untuk mengakui bahwa kita memang membutuhkan seseorang yang lebih ahli.

Keesokan sorenya, dengan semangat baru bercampur sedikit rasa canggung, Elena melangkah masuk melewati pintu kaca Alleria cake shop. Kedatangannya kali ini bukan lagi sebagai pelanggan seperti sebelumnya, melainkan sebagai seseorang yang ingin mengobrol sedikit banyak dengan teman lamanya.

Sesampainya di depan meja kasir, Elena disambut oleh suasana cake shop yang tenang, terbalut alunan musik instrumental lembut dan senyum ramah dari kasir.

“Selamat sore, Kak! Ada yang bisa dibantu? Mau pesan apa? Kalo saya sih merekomendasikan—” sapa Anya sopan dengan gaya khasnya.

“Ah, maaf... sebenernya aku kesini bukan untuk pesen kue,” potong Elena cepat sembari tersenyum canggung. “Aku… nyari Belinda. Apa orangnya ada?”

Belum sempat Anya menjawab pertanyaan itu, sosok Belinda muncul dari balik pintu area dapur. Langkahnya terhenti sejenak, wajahnya tampak sedikit terkejut saat melihat Elena sudah berada di cake shop.

“Loh, Len?” ujar Belinda heran. Ia bergegas melepas apronnya lalu melangkah menghampirinya, mengajak Elena duduk untuk di salah satu meja yang tak jauh dari kasir.

Belinda memiringkan kepala, menyipitkan mata dengan raut wajah penasaran. "Mau ngomongin apa sebenarnya? Jarang-jarang, lho, kamu duluan yang nge-chat."

“Emm... anu, Bel. Hmm... gimana ya ngomongnya…” ucap Elena terbata-bata. Ia tampak begitu gusar.

“Ya?” Belinda mengangkat sebelah alisnya. Ia sendiri tak mengerti dengan tingkah canggung model di hadapannya itu.

Elena mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum malu. “Jadi gini, Bel. Aku... pengen belajar bikin kue. Sebenernya kemaren aku udah sempet nyoba bikin sendiri di rumah, dan... hasilnya ya, gitu deh.”

Belinda terkekeh kecil, berusaha menahan tawa mendengar pengakuan jujur itu, meski rona malu nampak jelas di wajah Elena.

“Hal yang wajar, kok. Aku dulu juga pernah gagal waktu awal belajar. Bisa dibilang, emang gak semudah keliatannya.”

Mata Elena membelalak. “Serius?”

“Serius. Tapi dari situ aku mulai ngerti kalo bikin kue itu bukan cuman soal ngikutin resep. Kadang perlu rasa sabar, dan... feeling,” jelas Belinda.

Kebetulan sore itu kondisi cake shop tak terlalu ramai, hanya beberapa meja yang terisi oleh pelanggan. Percakapan dua teman lama itu mengalir begitu saja, mengenang tentang masa-masa SMA, lika-liku hidup masing-masing, dan tentu saja, tentang kue.

Belinda menatap Elena dengan senyum geli, lalu menghela napas pelan merencanakan jadwalnya. “Kebetulan besok lusa pas banget aku libur. Gimana kalau siangnya aku main ke rumahmu? Kamu tinggal siapin aja alat dan bahan-bahannya.”

Raut ragu di wajah Elena seketika sirna, berganti senyum lebar, “Siap, Chef!”

Mereka tertawa bersama di tengah hangatnya sore itu. Kini Elena merasa sedikit lebih percaya diri untuk bisa berhasil kali ini.

Dua hari kemudian, Belinda sudah berdiri di area dapur rumah Elena. Ia mengenakan celemek yang baru saja dikeluarkan dari tasnya, lalu menepuk-nepuk tangannya dengan semangat.

“Oke, kita mulai dari yang paling dasar dulu, Len!” seru Belinda.

Elena juga mengenakan celemek bergambar kucingnya, lalu mengikat rambutnya ke atas. “Siap!”

Beberapa menit berlalu. Belinda tampak serius menjelaskan berbagai hal penting: mulai dari seputar karakteristik bahan, kontrol suhu oven, hingga teknik dasar memanggang.

Elena sejatinya sudah berusaha keras menyimak setiap detail ucapan Belinda. Namun, dari caranya mengangguk-angguk kaku sambil sesekali mengerutkan kening, jelas terlihat bahwa sebagian besar apa yang Belinda ucapkan hanya lewat sejenak di kepalanya sebelum akhirnya menguap begitu saja tanpa bekas.

"Hmm… kayaknya aku gak bisa paham kalo cuma dari teori deh, Bel,” potong Elena akhirnya sembari tersenyum canggung. “Mending kita langsung praktik aja, gimana?”

Belinda hanya tersenyum santai, sama sekali tak terkejut dengan respons Elena. “Udah kuduga kamu bakal ngomong gitu. Oke, kalo gitu kita langsung aja mulai dari butter cookies yang paling simpel dulu. Tapi inget, kamu yang pegang semua alat dan bahan. Aku cuman ngawasin aja dulu.”

Waktu tak terasa sudah beranjak sore.

Elena duduk bersandar lemas di atas kursi dapur. Pipi, tangan dan bagian depan celemeknya masih berbedak noda tepung. Helaan napasnya pelan, berbalut rasa lelah seusai beberapa jam berjuang di depan oven. Namun, senyum tipis menggantung indah di bibirnya saat memandangi hasil jerih payahnya.

Di atas meja dapur, berjejer beberapa loyang kecil berisi kue hasil eksperimen Elena. Ada beberapa yang adonannya mengembang sempurna, ada pula yang agak terlalu mengembang dan teksturnya renyah mudah hancur.

Belinda, yang berdiri membelakangi meja sembari mencuci peralatan di wastafel, melirik sekilas lewat bahunya ke arah hasil karya Elena.

“Masih banyak hal yang perlu diperbaiki,” ujar Belinda ringan. “Tapi buat pemula... ini sudah lebih dari cukup, Len.”

Elena tertawa pelan, lalu menyandarkan kepala sembari memijat lehernya yang pegal. “Ah…tanganku pegal banget. Badanku juga berasa kayak habis lari marathon.”

Belinda tersenyum, mematikan keran lalu kembali fokus membilas sisa-sisa peralatan di wastafel. “Makanya, nanti kamu coba sendiri lagi, perhatiin juga hal-hal kecilnya. Tepung yang kamu pake sebaiknya berprotein rendah atau sedang. Terus pake mentega atau margarin, itu juga ngaruh banget ke tekstur.”

Belinda menoleh sejenak, menyapu pandang ke arah Elena dengan nada suara yang kian melunak.

“Bikin kue itu kayak belajar kenal sama diri sendiri. Gak bisa buru-buru, butuh waktu, kesabaran... dan yang paling penting, harus pakai hati.”

Mendengar hal itu, Elena membayangkan wajah Kevin—membayangkan saat nanti cowok itu menerima dan mencicipi kue buatan tangannya. Pikirannya melayang jauh, dan tanpa sadar ia tersenyum-senyum sendiri dalam kebahagiaan yang indah.

Pandangan matanya kemudian jatuh pada salah satu kue di hadapannya. Bentuknya tak begitu sempurna, ada yang sedikit retak di bagian pinggir, dan warnanya agak kurang merata. Namun entah mengapa, justru ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya terasa berbeda dan lebih istimewa.

Ada sesuatu yang perlahan tumbuh dari sana. Bukan sekedar dari adonan tepung, melainkan dari keseluruhan prosesnya. Dari tumpukan rasa gugup, canda tawa, dan noda tepung yang beterbangan.

Sesuatu yang manis… meski belum benar-benar matang.

1
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!