Indonesia
NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Dentuman ledakan sonik yang sempat mengguncang dinding basaltik terowongan perlahan mereda, menyisakan gema dengung frekuensi rendah yang bergetar samar di balik pelat baja gerbong Vanguard. Di luar jendela palka, gumpalan asap tebal bercampur serpihan es mengepul pekat, menutupi pandangan. Berkat keahlian navigasi luar biasa dari Soju yang memanfaatkan celah gua runtuh dan keputusan cepat Gavin mengalihkan frekuensi pelacak, kereta mereka berhasil meloloskan diri dari kepungan maut The Juggernaut pada detik-detik terakhir yang menegangkan.

Kini, Vanguard merayap pelan, memasuki sebuah area perhentian tua yang telah lama mati—Stasiun Sektor 12 yang terlantar.

Peron stasiun tersebut berupa bangunan beton arsitektur brutalist yang sebagian besar strukturnya telah membeku, tertutup stalaktit es raksasa menyerupai pilar kristal transparan. Rel-rel kereta di sini berkarat dimakan zaman, dikelilingi oleh kesunyian yang terasa begitu hampa dan menusuk tulang. Tidak ada suara kehidupan, kecuali deru mesin reaktor Vanguard yang mendingin perlahan dan tetesan air es yang jatuh dari langit-langit gua.

Di dalam kabin utama, atmosfer terasa begitu berat. Bayangan dokumen Proyek Cryogen-Zero yang baru saja terhapus otomatis di layar terminal Gavin masih meninggalkan beban psikologis yang nyata di benak setiap anggota kru. Kebenaran kelam mengenai dunia yang sengaja dibekukan itu menggantung di udara layaknya kabut tebal, membuat percakapan terasa melelahkan sebelum diucapkan.

Namun, dunia es tidak pernah memberi waktu bagi para pelancongnya untuk meratapi rahasia masa lalu. Tantangan nyata yang jauh lebih mematikan telah menanti di hadapan mereka: perbatasan militer utama Korporasi Aether yang dijaga ketat dengan sistem pertahanan berlapis.

Leo adalah orang pertama yang memecah keheningan yang menyesakkan itu.

Pemuda berambut biru tersebut berdiri dari kursinya, melepas sarung tangan kerjanya yang kotor oleh pelumas hitam, lalu menghempaskan kunci pas besarnya ke atas meja kerja dengan suara dentingan logam yang nyaring. Wajahnya memperlihatkan tekad keras seorang mekanik yang menolak menyerah pada keadaan.

"Jika kita ingin menembus pos pemeriksaan militer di perbatasan utara, perisai standar gerbong ini tidak akan mampu bertahan bahkan selama sepuluh detik melawan meriam elektromagnetik mereka," suara Leo memecah keheningan, bernada tegas dan penuh perhitungan.

Tanpa membuang waktu, Leo mulai merancang rencana peningkatan (upgrade) struktur pertahanan gerbong Vanguard. Ia membentangkan cetak biru holografik di atas meja utama, menampilkan model tiga dimensi dari bodi kereta yang dimodifikasi sedemikian rupa.

"Kita butuh pelindung lapis baja ganda berbahan paduan titanium-baja di bagian moncong lokomotif," jelas Leo sambil menunjuk bagian depan gerbong dengan ujung pensil digitalnya. "Aku akan menggunakan sisa Cryo-Core Fragment yang kita dapatkan dari Ratu Laba-Laba kemarin untuk melapisi sistem generator perisai termal. Ini akan memantulkan gelombang elektromagnetik musuh dan menyerap dampak benturan fisik secara maksimal."

Soju mendekati meja kerja Leo, mengamati desain mekanik tersebut dengan mata menyipit tajam. Sebagai seseorang yang menghabiskan bertahun-tahun hidup di jalur rel bawah tanah, insting navigasinya langsung menangkap fungsi taktis dari rancangan itu.

"Bagus," komentar Soju singkat namun penuh apresiasi. "Lapisan pelindung itu akan membuat kereta kita mampu menerobos gerbang barikade baja di pos perbatasan tanpa membuat as roda patah. Tapi penambahan beban bodi itu akan mengurangi kecepatan jelajah kita secara drastis, Leo. Kau harus menyeimbangkan kapasitas tenaga dari reaktor utama."

"Aku tahu," balas Leo menyeringai tipis, rasa percaya diri khas seorang mekanik jenius kembali terpancar di wajahnya. "Aku akan memodifikasi katup injeksi bahan bakar plasma agar pembakarannya dua kali lebih efisien. Biarkan aku yang mengurus seluruh persiapan mekanik ini. Kalian fokus saja pada apa yang harus dilakukan di luar."

Mendengar kata-kata Leo, Gavin yang sedari tadi duduk merenung di depan layar server mendadak menegakkan tubuhnya. Pemuda berkacamata tebal itu menarik napas dalam-dalam, menyingkirkan sisa-sisa kegelisahan tentang data log yang terhapus, lalu memasang ekspresi analitis penuh konsentrasi.

Gavin menatap ketiga rekan setimnya secara bergantian. Pandangannya tajam, memancarkan kecerdasan taktis yang selama ini menjadi otak digital kelompok tersebut.

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan menerobos dengan kereta," kata Gavin memulai penjelasannya, jemarinya mengetuk layar terminal untuk menampilkan peta topografi pos perbatasan militer Aether. "Pos pemeriksaan utama itu dijaga oleh menara pemindai biometrik dan jaringan meriam otomatis yang terhubung langsung ke pusat komando Sektor Alpha. Jika Vanguard mendekati gerbang utama tanpa melumpuhkan sistem pengendali jarak jauh mereka terlebih dahulu, kita hanya akan berjalan menuju tiang gantung."

Semua mata di dalam kabin kini tertuju sepenuhnya kepada Gavin. Ren duduk diam bersandar di kursi operator, kedua tangannya terlipat di depan dada, mendengarkan dengan saksama tanpa menyela.

"Oleh karena itu," lanjut Gavin dengan nada suara yang terstruktur rapi, membuat seluruh rencana langsung mudah dipahami oleh mereka, "kita harus menggunakan strategi infiltrasi terbagi sebelum kereta melintasi gerbang."

Gavin memperbesar titik lokasi pos perbatasan di layar, menunjukkan sebuah bangunan generator utama yang terletak di tebing es sisi barat kompleks militer.

"Ren dan Soju akan menyusup langsung ke dalam kompleks pos pemeriksaan secara diam-diam," ujar Gavin tegas, menunjuk titik generator di layar. "Soju bertindak sebagai navigator jalur infiltrasi, membaca pola pergerakan patroli penjaga dan menghindari sensor termal menggunakan jalur pemeliharaan bawah tanah yang tidak terdeteksi. Sedangkan Ren... tugasmu adalah mencapai ruang kontrol utama generator daya dan melumpuhkan sistem pertahanan pusat dari dalam."

Soju mengangguk pelan, menyetujui pembagian tugas tersebut tanpa keraguan sedikit pun. "Aku tahu celah ventilasi di sisi barat tebing itu. Penjagaan di sana biasanya lebih longgar karena suhunya terlalu ekstrem untuk patroli rutin."

"Lalu, bagaimana denganmu, Gavin?" tanya Leo, menatap sang hacker dengan sebelah alis terangkat.

"Aku akan tetap tinggal di dalam gerbong bersama Leo," jawab Gavin mantap. "Leo sibuk menyelesaikan upgrade pelindung baja dan mempersiapkan sistem peluncuran darurat Vanguard, sementara aku akan memantau seluruh pergerakan Ren dan Soju melalui jaringan satelit lokal, meretas sandi pintu keamanan secara real-time, dan memberikan instruksi langsung ke mana kalian harus melangkah."

Gavin mengangkat pandangannya, menatap Ren dan Soju secara bergantian. "Aku akan memandu setiap langkah kalian dari jarak jauh. Kapan harus berbelok, kapan harus bersembunyi, dan kapan waktu yang tepat untuk menyerang. Koordinasi waktu kita harus akurat hingga sepersekian detik. Kesalahan kecil akan membunyikan alarm seluruh pangkalan."

Ren, yang sedari tadi menyimak dalam keheningan yang dalam, perlahan-lahan menganggukkan kepalanya. Wajah datarnya memancarkan ketenangan mutlak yang menenangkan kecemasan di dalam kabin. Tidak ada keraguan di matanya. Pendaran biru dari The Core Engine di dadanya berdenyut stabil, menyelaraskan diri dengan ritme napasnya.

"Dimengerti," jawab Ren singkat, suaranya parau namun penuh keyakinan. "Aku akan menghancurkan sistem mereka."

Soju tersenyum tipis, merapikan sarung tangan tempurnya dan memastikan busur balistik di punggungnya tersangkut dengan aman. "Kerja sama tim yang menarik. Kurasa menyelinap ke markas militer bersama sang kapten pendiam jauh lebih menantang daripada berburu laba-laba es."

Leo mendengus pelan, kembali mengambil kunci pas-nya dan bersiap melanjutkan pekerjaan berat merakit pelindung bodi kereta. "Baiklah, kalau begitu kalian berdua pergilah jalan-jalan ke sarang macan. Aku dan Gavin akan mengubah gerbong tua ini menjadi mesin pembunuh lapis baja yang tidak bisa ditembus peluru apa pun."

Suasana di dalam kabin stasiun mati itu mendadak dipenuhi oleh ketegangan yang terarah. Setiap anggota kru bergerak dengan tujuan yang jelas, menyatukan keahlian masing-masing untuk menghadapi pertempuran terbesar mereka sejauh ini.

Namun, di saat Gavin sedang mengetik barisan kode sandi terakhir untuk meretas frekuensi komunikasi internal pos perbatasan guna mempermudah pemantauan navigasi Ren dan Soju, layar monitor sekunder di sudut meja mendadak memunculkan sebuah jendela data baru yang muncul secara otomatis tanpa perintah.

Gavin mengerutkan keningnya, menghentikan jemarinya di atas keyboard. Ia mendekatkan wajahnya ke layar, membaca barisan teks yang terpampang pelan-pelan.

Itu bukanlah pesan ancaman dari militer Aether.

Itu adalah sebuah rekaman audio terenkripsi berdurasi pendek, berasal dari stasiun rel terbengkalai yang terletak tepat di balik pos perbatasan militer tersebut—sebuah sinyal otomatis dari masa lalu yang diaktifkan oleh keberadaan The Core Engine milik Ren.

Gavin menekan tombol putar pada pemutar audio terminal.

Suara desis statis berderak keras selama beberapa detik, sebelum akhirnya berubah menjadi suara rekaman seorang pria paruh baya yang terdengar lelah, berbicara di tengah badai salju yang menderu:

"Jika rekaman ini terakses... itu berarti subjek utama masih hidup dan bergerak mendekati Stasiun Nol. Ingatlah satu hal, Ren... seluruh dunia ini dibangun di atas kebohongan es, dan orang yang paling ingin kau bunuh... berdiri tepat di ujung rel terakhir..."

Suara itu terputus seketika, disusul oleh letupan kecil dari panel sekring di atas meja Gavin yang membuat seluruh lampu di dalam gerbong Vanguard padam seketika, menyisakan kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh pendaran biru dingin dari dada Ren.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!