Indonesia
NovelToon NovelToon
TIRAKAT 6

TIRAKAT 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.

(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.

Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?

SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 SENYUMAN MANIS DI TENGAH KEBUN KOPI

☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️

🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳

Matahari perlahan merangkak naik, menggeser posisinya tepat ke atas ubun-ubun. Hawa sejuk sisa embun pagi di kebun kopi kaki bukit itu kini telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh sengatan panas yang cukup terik.

Namun, rimbunnya pohon-pohon pelindung dan dedaunan kopi yang saling bertautan masih mampu menyaring cahaya matahari, menyisakan pendar-pendar sinar keemasan yang seolah menari-nari di atas tanah gembur.

Di salah satu blok kebun, Zaki tengah sibuk mengayunkan sabitnya. Kaus oblong putih yang ia kenakan kini sudah tak lagi berwarna putih bersih. Noda kecokelatan dari cipratan tanah dan getah hijau dedaunan menghiasi beberapa bagian. Peluh membanjiri dahi dan lehernya, sesekali menetes jatuh membasahi kerah bajunya.

Sudah hampir empat jam pemuda berusia 27 tahun itu bekerja tanpa henti.

Telapak tangannya yang terbiasa mengetik di atas keyboard komputer ber-AC kini mulai terasa perih dan menebal, bergesekan dengan gagang kayu sabit dan rumput-rumput liar yang ia cabut paksa. Otot lengan dan punggungnya menjerit kelelahan.

Namun, anehnya...

Zaki justru menyukai rasa sakit ini!

Setiap ayunan sabit yang ia lakukan terasa seperti memotong habis beban-beban pikirannya di masa lalu. Bau tanah yang menguar setiap kali ia membersihkan gulma terasa seperti terapi bagi jiwanya.

Sesekali, ia berteriak menanyakan sesuatu kepada Pak Doyo yang sedang memangkas dahan tua di blok sebelah, dan pria paruh baya itu akan menjawabnya dengan tawa lebar dan petuah-petuah bertani yang diselipi candaan khas Jawa Timur.

.....

.....

"Mas Zaki! Wis awan, ngaso dhisik! Mengko malah semaput kowe nek diforsir!" (Mas Zaki! Sudah siang, istirahat dulu! Nanti malah pingsan kamu kalau diforsir!) seru Pak Doyo dari kejauhan.

Zaki menghentikan ayunan sabitnya. Ia menegakkan tubuhnya yang tinggi tegap, melepaskan caping bambunya untuk mengipas-ngipas wajahnya yang memerah karena kepanasan.

Napasnya terengah-engah, memompa oksigen segar perbukitan ke dalam paru-parunya.

"Nanggung, Pak Doyo! Tinggal dua baris lagi ini rumputnya!" balas Zaki berteriak.

"Halaaah, suket kuwi ora bakal mlayu nang endi-endi, Mas! Ayo leren dhisik nang gubuk. Biosone jam semene... nah, kae lho wonge teko!" (Halaaah, rumput itu tidak akan lari ke mana-mana, Mas! Ayo istirahat dulu di gubuk. Biasanya jam segini... nah, itu lho orangnya datang!)

Zaki mengernyitkan dahi.

Ia menoleh ke arah pandangan Pak Doyo yang menunjuk ke jalan setapak di pintu masuk kebun.

Samar-samar, dari sela-sela batang pohon kopi yang rimbun, Zaki mendengar suara gemerisik langkah kaki yang menginjak dedaunan kering.

Langkahnya terdengar ringan, teratur, dan sama sekali tak terburu-buru.

Lalu, sebuah suara mengalun pelan dan lembut, memecah paduan suara tonggeret dan jangkrik siang itu.

"Bapak... Niki maeme sampun mateng..." (Bapak... Ini makanannya sudah matang...)

Suara itu terdengar begitu lembut, bening, dan mengalun dengan langgam Jawa yang sangat sopan. Suara yang mendadak membuat ritme detak jantung Zaki melambat sepersekian detik.

Zaki memutar tubuhnya seutuhnya.

Dari balik rimbunnya dedaunan kopi yang tersibak, muncul sesosok perempuan muda.

Waktu seakan berhenti berdetak di mata Zaki.

Perempuan itu tampak sangat sederhana, namun justru di situlah letak pesonanya yang melumpuhkan.

Wanita muda itu mengenakan tunik lengan panjang berwarna krem pudar yang dipadukan dengan rok panjang bermotif bunga-bunga kecil.

Rambut hitam pekatnya tidak dibiarkan tergerai, melainkan diikat rapi ke belakang dengan sebuah jepitan sederhana, menyisakan beberapa helai anak rambut yang menempel di dahi dan pelipisnya karena keringat.

Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah rantang susun empat berwarna hijau enamel yang tampak usang namun bersih. Sementara di lengan kirinya, ia mengapit sebuah kendi tanah liat berukuran sedang yang permukaan luarnya tampak berembun, menandakan betapa sejuknya air di dalam kendi tersebut.

Perempuan itu melangkah mendekat.

Wajahnya memerah alami, dipanggang oleh terik matahari selama berjalan kaki dari desa menuju kaki bukit.

Tak ada riasan tebal di wajahnya.

Tak ada lipstik merah menyala.

Hanya sapuan bedak tipis yang sudah luntur oleh keringat, menampilkan kulit kuning langsatnya yang bersih dan bersinar natural.

Zaki terpaku. Mulutnya sedikit terbuka, lupa caranya bernapas.

Selama di Jakarta, Zaki sudah terbiasa melihat ratusan wanita cantik dengan polesan makeup mahal, pakaian branded, dan parfum menyengat.

Di dunia gaib, ia juga terbiasa dihadapkan pada kecantikan paripurna yang mematikan dari sosok Sekar Mayang maupun Dayang Putri.

Dan juga, saat di dalam kereta api Brantas, dia sudah melihat manisnya wajah Nisa.

Namun, perempuan yang kini berjalan ke arahnya ini... kecantikannya terasa sangat berbeda.

Sangat membumi.

Sangat manusiawi.

Kepolosannya memancarkan aura kehangatan yang langsung menembus ruang hampa di dalam dada Zaki. Tidak ada aura berat, tidak ada ancaman mistis, murni hanya pesona seorang anak manusia.

Melihat ada sosok pria asing yang berdiri mematung dengan kaus kotor dan sabit di tangannya, langkah perempuan muda itu seketika terhenti.

Matanya yang bulat bening mengerjap kaget. Rona merah di pipinya mendadak bertambah pekat. Ia menundukkan pandangannya dengan sopan, tak berani menatap mata Zaki berlama-lama, lalu sedikit beringsut bersembunyi di balik punggung Pak Doyo yang baru saja tiba di dekat mereka.

"Lha iki lho, Mas Zaki, anaku wedok sing ragil. Pas kowe budhal nang Jakarta mbiyen, arek iki isih cilik, isih umbelen, hahahaha!" (Lha ini lho, Mas Zaki, anak perempuanku yang bungsu. Waktu kamu berangkat ke Jakarta dulu, anak ini masih kecil, masih ingusan, hahahaha!) Pak Doyo tertawa lepas, memecah kecanggungan yang menggantung di udara.

Pria paruh baya itu menepuk pelan bahu putrinya, menariknya perlahan agar berdiri di sampingnya.

"Nduk, kenalan dhisik. Iki lho sing jenenge Mas Zaki. Bendorone Bapak sing duwe kebun iki. Biyen lak kowe kerep tak ceritani toh?" (Nak, kenalan dulu. Ini lho yang namanya Mas Zaki. Majikannya Bapak yang punya kebun ini. Dulu kan kamu sering Bapak ceritain kan?)

Perempuan muda itu meremas pegangan rantang di tangannya dengan gugup. Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Ia memberanikan diri menatap Zaki sekilas, lalu mengukir sebuah senyuman.

Ya Tuhan...

Senyuman yang terukir dari bibir wanita itu...

Senyuman yang melengkung malu-malu di bibir tipisnya itu seolah memancarkan cahaya yang jauh lebih terang daripada sinar matahari siang ini. Zaki bisa merasakan ada desiran aneh yang mengalir hangat membasuh seluruh aliran darahnya.

Perempuan itu menganggukkan kepalanya dengan sangat sopan, "andhap asor" (adab sopan santun) yang menjadi ciri khas gadis desa didikan orang tua zaman dulu.

"Nderek nepangaken, Mas Zaki... Kulo... Wiwi." (Salam kenal, Mas Zaki... Saya... Wiwi.)

Suaranya nyaris menyerupai bisikan, tertiup angin bukit yang berhembus pelan.

"Wi... Wiwi?" gumam Zaki, suaranya terdengar serak di telinganya sendiri.

Pemuda berusia 27 tahun itu buru-buru tersadar dari lamunannya. Kesadarannya sebagai laki-laki dewasa mendadak mengambil alih.

Ia panik, segera menyadari betapa berantakannya penampilannya saat ini. Dengan gugup, Zaki melempar sabitnya ke tanah, lalu mengusap-usapkan kedua telapak tangannya yang penuh noda tanah dan getah ke celana jeans-nya, berharap tangannya cukup bersih untuk sekadar membalas sapaan.

"E-eh... iya, Dek Wiwi. Saya Zaki..." balas Zaki canggung, memaksakan senyum yang ia harap tidak terlihat aneh.

Melihat Zaki yang salah tingkah menggosok-gosokkan tangannya yang kotor, Wiwi tak kuasa menahan tawa kecilnya. Sebuah kekehan halus meluncur dari bibirnya, ia buru-buru menutupi mulutnya dengan punggung tangan kirinya yang bebas, matanya menyipit membentuk bulan sabit yang teramat indah.

Zaki terpana untuk yang kedua kalinya.

Tawanya, senyumnya, bahkan cara berdirinya... semuanya terasa begitu pas.

Di usia Wiwi yang Zaki pikir mungkin baru menginjak awal 20-an—mungkin sekitar 22 tahun—perempuan ini memancarkan kedewasaan yang bersahaja.

"Wis, wis, ayo leren nang gubuk! Wetengku wis ngamuk iki njaluk diisi!" (Sudah, sudah, ayo istirahat di gubuk! Perutku sudah ngamuk ini minta diisi!) sela Pak Doyo yang tak menyadari pergolakan batin majikan mudanya itu.

Pria itu mengambil alih kendi dari tangan putrinya dan melangkah lebih dulu menuju gubuk kayu.

"Monggo, Mas Zaki... pinarak dhateng gubuk rumiyin," (Silakan, Mas Zaki... duduk di gubuk dulu) ucap Wiwi lembut, mempersilakan Zaki untuk berjalan mendahuluinya.

"I-iya, Dek. Makasih," jawab Zaki, melangkah kaku bagai robot menuju gubuk.

Di atas balai-balai bambu gubuk yang reyot itu, mereka bertiga duduk beralaskan tikar pandan. Wiwi dengan cekatan membuka susunan rantang enamel tersebut. Kepulan asap tipis seketika menguar, membawa aroma masakan rumahan yang luar biasa menggugah selera.

Nasi putih hangat, sayur lodeh tewel (nangka muda), ikan asin dan ayam yang digoreng garing, serta sambal terasi yang aromanya sukses membuat perut Zaki berbunyi keras.

"Wah, pas banget iki. Ayo Mas Zaki, dipangan sing akeh ben tenogone pulih. Masakane Wiwi iki jian marahi nambah terus lho!" (Wah, pas banget ini. Ayo Mas Zaki, dimakan yang banyak biar tenaganya pulih. Masakannya Wiwi ini benar-benar bikin nambah terus lho!) bangga Pak Doyo sambil menyendokkan nasi ke atas piring.

Wiwi kembali tersipu malu mendengar pujian bapaknya.

Dan dengan gerakan yang lembut, Wiwi menyodorkan piring yang sudah berisi lauk pauk itu ke hadapan Zaki.

"Monggo, Mas... Mugi-mugi cocok kalih ilate tiyang kitho," (Silakan, Mas... Mudah-mudahan cocok dengan lidahnya orang kota) ucap Wiwi merendah.

Zaki menerima piring itu. Ujung jarinya tak sengaja bersentuhan sedikiiiit saja dengan ujung jari Wiwi.

Sentuhan sepersekian detik itu terasa bagai sengatan aliran listrik bervoltase rendah yang membuat Zaki buru-buru menarik tangannya.

"Pasti cocok, Dek. Baunya aja udah bikin saya laper banget dari tadi," jawab Zaki, kali ini senyumnya jauh lebih tulus dan santai.

.....

.....

Di siang yang terik itu, di tengah rimbunnya perkebunan kopi, Zaki menyuap sayur lodeh buatan Wiwi. Rasanya sangat lezat, membangkitkan memori masakan mendiang ibunya.

Sambil mengunyah, Zaki diam-diam mencuri pandang ke arah Wiwi yang sedang menuangkan air kendi ke dalam gelas kaca yang kekuningan untuk bapaknya.

Jantung Zaki berdegup dengan ritme yang baru.

Sebuah ritme yang sangat manusiawi.

Tak ada lagi kekhawatiran tentang kutukan lelembut.

Tak ada lagi beban masa lalu.

Di sela-sela pohon kopi ini, melihat senyum malu-malu Dek Wiwi, Zaki menyadari satu hal yang pasti.

Keputusannya untuk melepas Sekar Mayang semalam, dan kembali menjadi manusia biasa di desa ini...

Adalah keputusan paling membahagiakan yang pernah ia buat seumur hidupnya.

.....

.....

Dan kehadiran Dek Wiwi itu...

Seolah membuat Zaki terlupa dengan Nisa...

Dan terlupa dengan pesan yang diucapkan oleh Sekar Mayang kemarin, tentang masa depan Zaki dan Nisa kelak.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang sekelas Nisa punya 2 perewangan 3 sama punya haruma saja perjuangan melawan santet kiriman yuli apalagi yg orang biasa ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ada pepatah yang terkenal dari dulu, Kak:

"Semakin tinggi pohon kelapa, semakin kencang angin yang menerpa."

Mungkin itu pepatah yang sesuai sama kondisi kebatinan dan kemampuan Nisa yang sekarang. Kalau di awal-awal seri, Nisa kan cuma menghadapi bangsa lelembut kelas rendah (sosok Gilang misalnya). Nah, sekarang yang dihadapi adalah rasa dendam dari manusia yang bersekutu dengan iblis.
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh seperti itu ya serem juga ya dua santet kutukan tsb
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: klo nggak baca karya ini aku mana tau yg namanya santet
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
6 tahun di waktu yg sama

Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berburuk sangka pada manusia saja tidak dianjurkan, apalagi berburuk sangka pada Tuhan, yulll.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
astaga yullll barbar skali, udah kek preman cewek
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
wkwkwk asyuuu wong cerbon


aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🤭🤭🤭

Makanya saya juga nulis dialognya natural aja, Kak... Wkwkwk... Biar terasa semirip mungkin sama kondisi nyatanya...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Cirebon kota yang biasa disebut sebagai kota udang, kota nya sunan gunung jati.

Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.

Selamat Datang di Cirebon Yuli.
Irman
kesedihan yang datang berturut-turut untuk Yuli...😢
semangat yul💪💪
Irman: rasanya sakit hati ini, ka othor sukses buat pembaca serasa masuk dalam cerita... 👍👍👍
total 2 replies
Irman
aku juga pasti sedih jika d posisi keluarga Wiwi,,,😢
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak Irman...

Saya juga pas menulis naskah BAB ini, benar-benar meresapi bagaimana rasanya kalau saya yang jadi Yuli... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh sadissss

seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak...

Sebenarnya, dari semua seri TIRAKAT yang aku tulis, TIRAKAT 6 ini yang akan paling banyak pesan moralnya buat para pembaca, buat saya juga...

Pesan moral tentang rasa cinta, pengorbanan, dendam, amarah, kasih sayang, dan keluarga... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nggak cinta Zaky ke Wiwi tulus... itu knpa dia mengabaikan omongan mbah joyoo

yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kaaak... 🥰🥰🥰

Semoga nggak bosen-bosen ya Kak bacanya... hehehe...

Insya Allah, rencana saya buat TIRAKAT ini, The Last Chapternya ada di TIRAKAT 9.
total 3 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh Zakk ada yg nangis darah kna keegoisan kmu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh si mbok juga jadi korban ya? pantes Yuli dendam.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak... Karena Si Mbok pas hari dimana tragedi itu terjadi, beliau juga ada di dapur yang sama dengan Dek Wiwi... Hanya saja tidak banyak diekspos keberadaan Si Mbok, fokusnya memang ke Zaki dan Dek Wiwi saja...

Bahkan Yuli, Kakaknya Dek Wiwi pun, dari awal kisah pertemuan Zaki-Dek Wiwi, dirinya sama sekali nggak muncul satu dialogpun.

Sengaja baru dimunculkan sekarang... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh dendam kna mungkin mikir gara-gara zaky ngeyel dek wiwi jadi korban kali ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TEPAT!!! 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Setiap orang ada ujian nya masing-masing Zak... ada nya ujian itu kna kita mampu melewati nya. Ujian kamu, ujian Nisa berbeda kna kekuatan N kemampuan kalian juga berbeda, yg terpenting jngn lupa tetap bersyukur N bersabar ya Zakk

( duhh aku komen apa sihh) next aja ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🥰🥰🥰

Komen Kakak bisa jadi Quote of The Night, nih... Mwehehehe...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku lupa Sekar Arum masa lalu nya. klo Dayang putri sama sekarang mayang aku inget masa lalu mereka. perewangan Haruma ini ada pernah di bhs di Tirakat sblom nya kah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: ohh itu iya iya aku inget terimakasih udah diingatkan kak
total 7 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti Tirakat nya, Cinta Nisa ke Zaky juga nggak kaleng kaleng. 6 tahun menunggu, bukan mencari tapi menunggu tanpa berburuk sangka. klo jaman sekarang ada kah Seperti Nisa?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mungkin ada... Tapi... Sejuta banding satu kayaknya, Kak... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Tirakat nya Nisa nggak kaleng kaleng Zakk... bukan waktu yg sebentar tapi waktu yang lama, wajar klo nisa bisa seperti itu.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Nggak kebayang gimana kalau seandainya saya beneran jadi Zaki, terus lihat istri sendiri kayak begitu...

Wah... 🤨🤨🤨
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat sembuh Zakk, tenang obat yang sesungguhnya udah kamu miliki
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nisa ketempelan sekarang mayang kek nya wkwkwk jadi nggak pasif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!