Indonesia
NovelToon NovelToon
Sweet & Psycho

Sweet & Psycho

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta setelah menikah / Psikopat itu cintaku / Perjodohan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.

Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.

Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba-tiba Calon Mantu

# Tiba-tiba Calon Mantu #

"Wah... wah... Eh, ada rame-rame lagi tuh. Yuk lihat, yuk!"

Sora menegakkan posisi berdirinya setelah terhempas tangan Axcel, bertolak pinggang dengan wajah yang sudah sangat jengah. Suara Profesor Antony pun tak bisa melerai pertengkaran kedua cucu kandungnya itu. Sementara itu, para mahasiswa semakin banyak merapat berkerumun untuk melihat pergulatan Easton dan Axcel.

"Ya Tuhan, keberkahan apa yang Kau berikan padaku ini...?" Profesor Antony memijat pelipisnya. "Easton... Axcel... panggil orang tua kalian ke ruangan Rektor sekarang juga. Saya tunggu hari ini. Atau kalau kalian mau di Drop out, saya bantu prosesnya secepatnya."

Suara pelan Profesor Antony nyatanya malah bisa menghentikan perkelahian Axcel dan Easton. Melirik Profesor Antony yang berlalu begitu saja setelah memberikan ultimatum, Axcel langsung menurunkan kepalan tangannya yang sudah siap mendarat di pipi Easton.

Perlahan Easton pun melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Axcel. Dan penonton pun kecewa karena kehilangan tontonan gratis pergulatan antar fakultas. Bukannya melerai, anak zaman sekarang dengan minimnya rasa empati justru lebih suka melihat keributan sebagai bahan hiburan yang siap diunggah atau disiarkan langsung di platform media sosial masing-masing. Terlihat benar-benar sangat miris.

"Kayak nya kamu udah banyak kemajuan. Ternyata sembunyi cuma buat latihan ya...? Tapi sayangnya pukulanmu ini nggak berasa apa-apa, masih lebih sakit digigit semut," bisik Easton menyinggung Axcel.

Easton pergi menyusul Profesor Antony setelah membisikkan hinaan itu di telinga Axcel. Tentu saja Sora bisa menebak percakapan mereka berdua karena Sora berdiri tak jauh dari sana. Tapi anehnya, Axcel malah tersenyum kecil dan menyeringai saat Easton menabrak bahu kirinya. Kondisi kembali normal, kawan-kawan Sora kembali ke tugas masing-masing, bersiap untuk membuka aula pameran untuk umum.

Sora mengambil tag harga dan nama unit hasil seni yang terjatuh saat badannya terombang-ambing oleh dua pria dewasa yang berlakon seperti anak kecil, lalu mulai memasang satu per satu sesuai pekerjaan yang ketua berikan padanya. Sora juga menyuruh Axcel untuk langsung bicara saja, karena dirinya sedang sibuk dan Axcel juga harus segera memanggil ibunya ke ruang Rektor.

"Ahhh... yang ada Mommy marah lagi dan pasti nyuruh Mark buat ngurung aku. Soraaa... aku lapar belum sarapan. Ayo temenin aku sarapan dulu. Hei cantik... tolong bantu gantiin tugas Sora dulu ya. Nanti kapan-kapan aku traktir kamu, oke...?"

Axcel merebut boks yang sedari tadi dibawa Sora dan memberikannya pada salah satu teman wanita Sora yang sedang sibuk mengelap meja pajangan. Ia meminta bantuan gadis itu dengan sopan, hingga berhasil membuat gadis itu tersipu malu dan menerima boks dari Axcel.

Sementara Sora hanya diam melongo melihat bagaimana Axcel merayu dengan cara yang sangat menggelikan baginya. Sora tersentak kaget saat Axcel meraih pergelangan tangannya, menyeret paksa Sora untuk menemani Axcel ke kantin kampus untuk sarapan.

"Ceeelll... apa Mommy nggak buatin sarapan di rumah? By the way... bubur itu pakai kaldu seafood lho. Topingnya juga pakai daging kepiting. Apa kamu bawa obat alergimu?"

Axcel yang masih mengaduk sebagian buburnya dengan menambahkan kecap asin, tiba-tiba berhenti lalu mendorong mangkuk buburnya ke arah Sora dan menawarkannya padanya. Axcel kembali memesan spaghetti carbonara topping smoked beef kesukaannya. Perhatian Sora pun semakin terfokuskan pada sahabatnya itu.

"Inooo... Kemarin aku ingin ketemu kamu, tapi kenapa baru muncul sekarang?"

KRR... TING!

Axcel tak sengaja menjatuhkan garpu dan membentur pinggiran piringnya sebelum jatuh ke lantai. Sora langsung membantunya mengambil garpu kotor itu, lalu mendatangi staf kantin untuk menggantinya dengan garpu baru yang bersih. Dengan senyuman datar, Sora memberikan garpu baru itu pada Axcel dan mempersilakannya untuk segera makan. Ia juga mendorong kembali bubur seafood yang disodorkan Axcel tadi.

"Kita kenal belum genap satu bulan kan ya? Aku nggak nyangka kalau kamu bisa sepeka ini sekarang, udah bisa bedain antara aku sama Axcel. Bahkan tahu apa kesukaan Axcel dan makanan yang beracun buat aku. Aku jadi tersanjung."

Ino tersenyum sambil fokus menikmati sarapannya. Untuk beberapa saat suasana hening tercipta di antara mereka, seperti sedang bergelut dengan pikiran masing-masing. Melihat Ino yang masih sibuk makan, Sora diam-diam mengirimkan pesan teks pada Nyonya Evelyn, mengabarkan kalau ia sekarang sedang bersama Ino.

Secepatnya Sora mendapatkan balasan dari Nyonya Evelyn yang mengatakan kalau Sora harus bisa menahan Ino sebisa mungkin dan jangan melakukan sesuatu yang kiranya bisa memprovokasi Ino. Jangan sampai Ino kembali melukai tubuh berharga Axcel, dan Sora harus bisa menggali semua informasi yang kiranya sangat dibutuhkan Axcel.

"Apa kamu lagi sibuk melaporkan aku ke Mommy? Wajahmu kelihatan tegang banget. Jadi... kapan Mark jemput aku? Kebetulan aku udah selesai sarapan nih. Tapi boleh nggak tolong beliin aku ice cappuccino dulu terus kasih topping ice cream vanilla? Ahhh... enak banget pasti itu. Ada nggak di kantin?"

Sora langsung memasukkan ponselnya ke saku jaket bagian dalam, berdiri, lalu mengajak Ino pergi ke kafe yang sedang populer akhir-akhir ini dengan menu ice coffee topping ice cream. Senyuman Sora disambut ceria oleh Ino. Tapi sebelum mereka pergi, Sora mengajak Ino ke ruangan Rektor dulu untuk mencari Profesor Antony.

Sebenarnya Ino sangat malas menemui pria tua itu. Tapi karena Sora menjanjikan jajanan enak setelahnya, Ino dengan berat hati mengikuti Sora.

TOK... TOK... TOK...

Setelah dipersilakan masuk oleh Profesor Antony, Sora dibuat sedikit canggung. Ternyata di dalam ruangan itu ada Easton dan ibunya. Dan dengan sangat percaya diri, Easton langsung memperkenalkan Sora sebagai kekasih dan calon istrinya di depan sang ibu.

Wanita paruh baya itu langsung berdiri dari duduknya, menghampiri Sora, lalu membelai lembut pipi Sora dengan raut wajah yang sangat bahagia. Sementara Sora masih kebingungan dengan situasi yang tak terduga ini. Dan saat menoleh, Sora melihat Ino pergi begitu saja dengan wajah kesal. Sora ingin mengejarnya langsung, tapi ibu Easton yang sangat antusias menggenggam lengan Sora terlalu kuat, ingin mengajak Sora duduk berbincang sebentar bersama mereka.

Sora tak enak menolaknya, tapi ia juga khawatir kalau Ino melakukan hal-hal aneh saat hatinya sedang kesal. Pasti dia akan marah besar dan menjauhi Sora tanpa mempercayai dirinya lagi, hanya karena ice coffee sundae.

"Maaf, Tante... Mungkin lain kali Sora baru bisa memenuhi undangan Tante. Sekarang Sora harus melakukan hal penting. Sora mohon maaf sebesar-besarnya. Emm... Prof, saya ke sini untuk minta izin absen sebentar dari pameran. Ada sedikit urusan mendesak dengan Nyonya Evelyn."

Sebenarnya Sora tak perlu meminta izin pada Profesor Antony. Tapi berhubung tadi pagi ia sudah mendapatkan sapaan berupa teguran yang tak mengenakkan hatinya, Sora memutuskan berpamitan lebih awal sekadar memberitahu hal-hal yang berkaitan dengan Axcel maupun Easton, agar tak ada salah paham lagi dan Profesor Antony tak melaporkan kelakuannya pada sang ayah.

Tatapan ibu Easton sangat kecewa saat mendengar Sora menyebut nama Evelyn. Ia memikirkan hal apa yang sebenarnya melibatkan Sora dengan adik iparnya itu. Bukankah harusnya Sora yang disebut anak lelakinya sebagai calon istri, lebih mementingkan dirinya daripada orang lain?

Di sisi lain, Easton hanya bisa mengeratkan genggaman tangannya dan rahangnya terlihat mengeras menahan kekesalan. Lagi dan lagi, ia harus berurusan dengan Axcel. Easton percaya Axcel sengaja ingin merebut Sora darinya cuma demi balas dendam.

"Hahhh... hahh... Huft... Ternyata kamu di sini. Aku dari tadi lari-larian nyariin kamu, tahu! Kenapa pergi gitu aja sih? Jadi beli coffee cream nggak kita?" Sora bertingkah seolah tak terjadi apa-apa saat menghampiri Ino yang meninggalkan dirinya di ruangan Rektor tadi.

Seolah tak ingin memperpanjang masalah, Ino menengadahkan tangannya meminta kunci mobil Sora. Lagipula kalau dipikir-pikir, Ino tak akan bisa marah dan meninggalkan Sora, karena sahabat satu-satunya di kota ini hanya Sora. Keluar tanpa Sora hanya akan menjadikannya target buronan orang lain. Karena itu ia menunggu Sora di kursi taman yang dekat dengan parkiran mobil.

"Ketik dulu alamat kafenya. Tadi kok kamu cepat banget ngobrolnya sama calon mertuamu? Apa nggak takut hilang restu kalau mereka tahu kamu jalan sama aku?"

Uhuuk! Uhuuk!

Tiba-tiba banget Sora tersedak angin. Jadi Ino mengira kalau dirinya dan Easton benar-benar bertunangan? Situasi tadi benar-benar aneh bagi Sora. Selama ia menjalani hubungan tanpa status dengan Easton, jangankan sebuah restu dari orang tuanya, sebuah pengakuan resmi saja tak pernah ia dapatkan dari Easton. Dulu Easton selalu beralasan bahwa orang tuanya lah yang menentang kedekatan mereka berdua, hingga Easton tak punya keberanian untuk memberikan status pada Sora.

Sangat berbanding terbalik dengan pemandangan barusan, di mana terlihat ibu dari Easton sangat menyukai Sora dan menyambutnya dengan sangat hangat. Tak ada satupun tanda-tanda penolakan dari orang tua Easton.

"Aish... Kamu ini tak tahu apa-apa soal aku dan Easton. Lagian di antara kita juga nggak pernah ada hubungan apa-apa. Nggak ada hujan, nggak ada angin tiba-tiba banget klaim aku jadi calon istrinya. Sakit emang itu orang."

Ino terkekeh mendengar penuturan Sora yang berapi-api. Ia juga menawarkan bantuan untuk Sora agar bisa mendapatkan kembali Easton tanpa harus merendahkan dirinya lagi. Lagipula dengan kehadiran dirinya saja, Easton sudah merasa terancam. Terlihat pria itu sangat takut kehilangan Sora, cuma Easton masih menganggap penolakan Sora hanya sebuah trik tarik-ulur semata.

"Kirain kamu sama Axcel itu selalu bertolak belakang. Ternyata buat hal ini kalian kompak banget ya... Udah kepengen banget jadiin aku ipar kalian ya? Emangnya kalau aku beneran nikah sama Easton, persahabatan kita ini apa masih bisa dipertahanin? Apa kamu sama Easton bakal berdamai dan kita bisa jadi keluarga besar yang harmonis?"

CITTTTT....!

Ino mendadak menginjak rem dan menatap tajam ke arah Sora. Sora terkejut sambil melawan rasa takutnya melihat perubahan mood Ino yang mendadak berubah. Auranya sangat mendominasi dan menyeramkan.

Napas Ino memburu dan urat-urat tangannya mencuat saat ia mencengkeram kuat-kuat kemudi mobil. Sora menelan ludahnya yang terasa penuh dengan duri ikan, sambil perlahan menanyakan kenapa Ino terlihat seperti tak senang dan marah. Apakah perkataannya barusan terlalu menyinggung Ino? Tapi bagian mananya? Sora sendiri tak sadar. Sora berulang kali mengucapkan kata maaf sambil menunggu Ino menjawab pertanyaannya.

"Kamu pikir aku selalu menggantikan Axcel buat kasih pelajaran ke mereka itu tanpa sebab? Tubuhku sakit, aku kedinginan lalu kepanasan, dan mereka tertawa puas. Ayo turun, kita udah sampai."

DEK... BRUK!

(Apa maksud Ino...? Apa yang terjadi padanya...? Kenapa...? Ada apa...?) sentak Sora dalam hati.

Sora yang masih meringsut memeluk sabuk pengaman hanya bisa tertegun, terhenyak, dan entah mengapa matanya mulai berkaca-kaca seolah bisa melihat sesak yang dirasakan Ino saat mengatakan semua itu.

"Ino... Tunggu, Inooo...!"

⭐⭐⭐⭐⭐

WADUH KIRAVERS! PENYESALAN DAN RAHASIA KELAM MULAI TERBONGKAR! 😱💔

Perkataan Ino di dalam mobil bener-bener bikin merinding sekaligus nyesek! *"Tubuhku sakit, aku kedinginan lalu kepanasan, dan mereka tertawa puas..."* Maksud Ino itu apa?! Apakah selama ini Axcel disiksa atau disakiti oleh seseorang di masa lalunya hingga tubuh Ino harus mengambil alih rasa sakit itu?!

Terus gimana respon Sora setelah tahu potongan rahasia kelam ini? Apakah Sora bisa menenangkan Ino yang lagi emosi berat, atau justru Ino bakal makin menjauh dan kembali sembunyi dari Axcel?!

Yuk, tumpahkan teori dan luapan emosi kalian di kolom komentar sekarang, Kiravers! 💬👇

Jangan lupa dukung terus naskah ini dengan cara:

TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) sebanyak-banyaknya buat Sora dan Ino!

SIMPAN NOVEL INI DI LIBRARY (TAP/BOOKMARK) kalian biar tidak ketinggalan Notifikasi Bab 20!

FOLLOW PROFILKU untuk dapat update paling cepat!

Terima kasih banyak sudah setia membaca dan sampai jumpa di bab selanjutnya! Happy reading, Kiravers! 🚀🔥

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!