Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pelukan di Balik Pecahan Kaca

Pecahan kaca dari pintu utama kafe yang hancur berkeping-keping berserakan di atas lantai keramik, memantulkan pendar lampu jalan yang mulai menyala di luar. Udara sore mendadak dipenuhi oleh bau debu beton dan aroma tajam parfum mahoni yang menguar dari sosok pria yang baru saja menerobos masuk.

Lin Meiying berdiri terpaku di sudut ruangan, punggungnya menempel erat pada dinding kaca dingin. Napasnya memburu tidak beraturan, dan jantungnya berdegup kencang seolah ingin melonjak keluar dari rongga dadanya. Di hadapannya, tiga orang penjahat suruhan yang tadi mengancamnya kini sudah terkapar tak berdaya di lantai, dilumpuhkan dengan begitu cepat oleh para pengawal berjas hitam.

Pria berjas abu-abu yang memegang pisau lipat sempat mencoba bangkit merangkak meraih senjatanya, namun salah satu pengawal Lu Jingyan dengan sigap menginjak pergelangan tangannya hingga pisau itu terlepas dan meluncur jauh.

Lu Jingyan melangkah melewati reruntuhan kaca tanpa ragu. Matanya tidak beralih sedetik pun dari wajah Meiying yang sangat pucat. Melihat sisa-sisa air mata dan ketakutan yang masih membekas di mata wanita yang paling dicintainya itu membuat dada Jingyan terasa diremas oleh rasa sakit yang teramat sangat. Pertahanan dingin yang selalu ia pasang di hadapan dunia seketika runtuh berkeping-keping.

Tanpa mempedulikan situasi di sekitarnya, Jingyan mempercepat langkahnya, merengkuh tubuh Meiying yang masih gemetar hebat ke dalam dekapannya, membawanya erat-erat ke dadanya.

Meiying terperanjat kaget. Sentuhan hangat itu begitu kuat, begitu kokoh, dan begitu familier hingga membuat sekujur tubuhnya menegang. Ia sempat ingin meronta karena mengira ada serangan susulan, namun aroma mahoni yang menguar lembut dari mantel pria itu langsung menghantam indra penciumannya—aroma yang sama persis dengan kenangan masa lalu yang selama ini terkunci rapat di dalam ingatannya.

"Tidak apa-apa... kau sudah aman, Meiying," bisik Jingyan lembut tepat di dekat telinganya. Suara itu begitu berat, bergetar, dan sarat akan emosi yang mati-matian ditahan—suara yang membuat pertahanan mental Meiying hancur seketika.

Mendengar nama panggilannya disebut begitu natural oleh seorang direktur utama korporasi besar yang baru dua kali ia temui, Meiying mendongakkan kepalanya perlahan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi kerah jas mahal milik Jingyan.

"Kau... siapa sebenarnya?" suara Meiying terdengar parau, terisak di sela-sela napasnya yang sesak. Ia mencengkeram kuat kain jas Jingyan dengan jemarinya yang gemetar. "Kenapa... kenapa kau selalu muncul di saat aku hampir mati? Kenapa aroma tubuhmu... cara bicaramu... semuanya terasa begitu mirip dengan suamiku yang sudah tiada?!"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari lubuk hati Meiying yang paling dalam—sebuah kejujuran mutlak yang selama ini ia pendam dan ragukan sendiri di dalam gelapnya malam.

Jingyan memejamkan matanya rapat-rapat. Sumpah dan rantai tak kasat mata dari sang penjaga jiwa bergetar hebat di dalam kepalanya, memberikan peringatan dingin: “Kau dilarang keras mengungkap identitas aslimu... Jiwamu akan lenyap seketika jika melanggar.”

Hatinya berteriak ingin mengatakan yang sejujurnya, ingin mendekap wajah istrinya dan berbisik bahwa ia adalah Chen Guowei yang kembali dari kematian. Namun, ia tahu batas waktu 364 hari yang diberikan semesta belum usai, dan jika ia melanggar sekarang, wujud fisiknya akan musnah selamanya tanpa sempat melihat musuh-musuhnya binasa dan keluarganya hidup bahagia.

Dengan sisa-sisa kewarasan yang ia miliki, Jingyan mempererat dekapannya untuk menenangkan isak tangis Meiying, lalu berbisik pelan di atas kepala wanita itu:

"Aku tidak tahu siapa suamimu di masa lalu, Meiying... Tapi aku bersumpah demi nyawaku sendiri, tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh menyakitimu dan keluargamu lagi. Aku akan melindungimu, sampai kapan pun."

Di luar kafe, suara siren mobil kepolisian dan kendaraan operasional Lu Group mulai terdengar mendekat, memecah kesunyian sore hari. Sekretaris Han melangkah masuk dengan cepat melalui pecahan kaca, membungkuk hormat kepada atasannya sambil mengamankan amplop cokelat berisi dokumen bukti milik Meiying yang terjatuh di lantai.

"Tuan Muda, pihak kepolisian sektor dan tim investigasi internal kita sudah tiba di luar. Semua orang suruhan ini akan langsung dibawa ke tahanan khusus di bawah pengawasan ketat," lapor Sekretaris Han dengan suara tegas namun berhati-hati.

Jingyan mengangguk pelan. Ia melepaskan pelukannya secara perlahan, menatap mata Meiying yang masih dipenuhi sejuta tanya dan air mata. Ia menghapus sisa air mata di pipi istrinya dengan ujung jarinya yang lembut, sebuah gestur penuh keintiman yang membuat Meiying terpaku tanpa bisa berkata-kata.

"Ambil dokumenmu, Meiying," ucap Jingyan tenang, mengambil amplop cokelat dari tangan Sekretaris Han lalu menyerahkannya kembali ke tangan Meiying dengan aman. "Jangan pernah lagi mencoba menemui siapa pun sendirian. Jika kau ingin keadilan untuk suamimu, biarkan aku yang membukakan pintu gerbangnya lebar-lebar untukmu."

Sebelum Meiying sempat merangkai kata balasan atau menuntut penjelasan lebih jauh, sebuah mobil sedan hitam mewah sudah bersiap di depan pintu kafe yang hancur. Sekretaris Han membukakan pintu belakang untuk atasannya.

Jingyan melangkah mundur perlahan, masuk ke dalam mobil, dan menatap Meiying sekali lagi melalui kaca jendela yang perlahan tertutup rapat. Mobil itu melaju meninggalkan kawasan kafe, menyisakan Meiying yang berdiri seorang diri di tengah puing-puing kaca, dengan amplop dokumen di tangan dan badai emosi yang semakin berkecamuk di dalam dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!