Wang Xi Yue adalah anak gadis dari seorang perdana menteri yang suka sakit-sakitan sejak kecil. Suatu saat, ia meninggal dalam usia 17 tahun dan pada saat itu juga roh Nara masuk ke dalam tubuh Xi Yue (Yue-er).
Nara adalah seorang wanita muda di era 21 yang melakukan transmigrasi ke abad kuno. Ia sendiri bingung kenapa ia bisa berada di era kuno tersebut setelah ia tewas akibat pengkhianatan kekasihnya sendiri.
Nara melanjutkan hidupnya dengan tubuh Xi Yue. Ia banyak mengalami lika-liku dalam kehidupannya sekarang baik itu di harem perdana menteri Wang (ayah kandung Xi Yue) bahkan sampai saat ia berhasil masuk ke harem istana kerajaan.
Adapun kisah cinta yang tersirat dalam cerita ini. Mau tau kelanjutan kisah Nara? Yuk, ikuti terus ceritanya! Jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya, vote jika suka, dan likenya juga!😊
Selamat membaca🙏😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jilid 20
"Dia tanggung jawabku," kata Feng Xi.
Nara tercengang mendengar kata-kata Feng Xi. Sedangkan paman Bun San merasa tidak senang, karena merasa rencananya akan gagal.
"Hei anak muda, ini bukan urusanmu. Dia juga bukan siapa-siapamu, bukan? Jadi biar kami saja yang urus," kata paman Bun San yang belum menyerah.
Feng Xi tersenyum dengan berbagai makna. "Dia adalah wanitaku dan kami berencana akan pulang ke kediaman keluarganya. Tolong paman dan yang lainnya urungkan saja niat membawanya pulang!"
"Tidak bisa! Kami sudah terlanjur kesini. Jika tidak dapat membawanya pulang, maka beri kami uang sebagai imbalannya!" palak paman Bun San.
"Apa? Memberi kalian uang? Mana bisa begitu?" protes Nara.
"Kami tidak punya uang. Tolong paman dan yang lainnya jangan menyusahkan kami!" pinta Feng Xi penuh hormat.
"Hahahaha... Kalau tidak ada uang, maka kita berduel saja. Siapa yang menang, dialah yang berhak membawa gadis ini pulang. Bagaimana?" tantang paman Bun San pada Feng Xi.
"Baik! Aku tidak akan segan-segan menerima tantangan paman," sahut Feng Xi. "Kalian semua, beri kami ruang!" pintanya agar yang lain mundur.
"Kamu sanggup melawan mereka sendiri?" tanya Nara yang mencemaskan Feng Xi.
"Ini urusan laki-laki. Kamu tetaplah dibelakang!" pesannya pada Nara.
Saat berduel pun dimulai. Semua warga berkerumunan ingin melihat perduelan ini. Nara juga tidak mau meninggalkan Feng Xi berduel seorang diri. Walaupun ia berdiam diri diantara yang lain, dia tetap waspada.
"Maju!" seru paman Bun San.
Segala kekuatan jurus serangan dimulai dari paman Bun San dan para rekannya. Mereka beramai-ramai maju menyerang Feng Xi dengan pedang mereka masing-masing.
Feng Xi langsung mengambil pedang kesayangannya dari punggungnya dan melawan mereka dengan hanya mengayunkan pedangnya saja, kekuatannya yang besar mampu menghalau mereka. Debu pasir berterbangan menutupi mata para musuhnya, hingga mereka berjatuhan.
'Ternyata Feng Xi bisa diandalkan. Kekuatannya memang tidak ada bandingnya. Dia juga pria yang baik,' batin Nara yang diam-diam memuji Feng Xi.
Ayunan pedang Feng Xi sangat indah dipandang ketika menangkis pedang para musuhnya. Bahkan ia berhasil melukai musuhnya dan bebas dari serangan tanpa luka lecet sedikitpun.
Karena paman Bun San melihat rekannya sudah kewalahan dan terluka, ia memutuskan untuk berhenti dan mengajak mereka kembali dengan kuda masing-masing tanpa bicara atau berpamitan.
"Prok! Prok! Prok! Prok!" suara tepuk tangan serantak yang ramai diberikan atas keberanian dan kemenangan Feng Xi.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Nara ketika menghampiri Feng Xi dan memeriksanya.
Feng Xi senang dengan perhatian kecil Nara. "Aku baik-baik saja."
"Baguslah!" ucap Nara penuh syukur.
"Tuan muda, anda hebat sekali!" puji salah satu warga yang datang menghampiri mereka berdua.
"Anda terlalu memuji, paman," kata Feng Xi sungkan. "Nara, aku pikir kita sudah seharusnya pergi dari sini. Bukankah kamu belum pulang ke rumahmu selama beberapa hari ini?"
"Tapi... warga sini ada sebagian yang belum sembuh."
"Nona, untuk masalah warga sini yang masih sakit, serahkan sisanya pada kami! Asal nona beritahu saja pada kami apa yang dibutuhkan selama merawat mereka yang sakit sampai pulih," kata salah satu bibi. "Kata tuan muda ini, nona tidak pulang beberapa hari. Sebagai orang tua, mereka pasti mencemaskan anda. Pulanglah, nona!"
"Ya benar, nona. Kamu tidak usah begitu risau mengenai warga sini. Doakan saja kami yang disini agar sehat selalu! Terima kasih juga atas bantuan kalian selama disini. Kami jadi sangat terbantu sekali," timpal paman tadi.
"Baik, paman, bibi! Aku akan mendengarkan kalian. Jika ada waktu, aku akan kembali lagi menjenguk kalian didesa ini. Terima kasih juga sudah menerimaku dan temanku ini sewaktu tinggal disini," kata Nara sopan sambil menunduk 30° sebagai rasa hormatnya.
'Teman? Padahal aku sudah menyebutnya dia adalah wanitaku didepan semua orang,' batin Feng Xi sambil melirik Nara.
"Jadi... tuan muda ini bukan kekasih nona?" tanya bibi memastikan.
"Haissshh! Kamu ini terlalu mencampuri urusan anak muda," sela paman memperingati bibi.
"Dia masih malu-malu mengakuinya," timpal Feng Xi.
Nara menatap Feng Xi dengan wajah bingungnya. Tapi itu hanya beberapa detik saja. Feng Xi tersenyum melihat tingkah laku Nara yang menurutnya sangat imut.
Setelah berpamitan, Nara dan Feng Xi pergi dari desa itu. Feng Xi juga tidak begitu mengenal kediaman keluarga Wang, namun ia membantu Nara mencari informasi lewat orang sekitar hingga akhirnya bisa menemukannnya.
"Apa yang kau lakukan setelah pulang nanti?"
"Nnnggg... Apalagi kalau bukan berkumpul dengan keluargaku."
"Kenapa kau tidak semangat? Apa susah berpisah denganku?" ejek Feng Xi.
Nara menghentikan langkah kakinya yang diikuti juga oleh Feng Xi.
"Aku belum bertanya padamu mengenai ucapan kamu tadi yang bilang aku adalah wanitamu. Kenapa kamu bisa bicara seperti itu? Apa aku sudah setuju?"
"Apakah perlu persetujuanmu disaat yang genting seperti tadi? Dan aku lihat... kamu memang belum ada yang punya. Jadi aku saja yang maju duluan mengatakan perasaanku."
'Perasaannya? Apa dia benar-benar menyukaiku?' batin Nara tak percaya orang seserius Feng Xi dapat menyukainya.
"Jangan bermain perasaan, tuan muda Feng! Aku bukan wanita murahan yang sekali dengar ucapan manis langsung jatuh cinta," ucap Nara angkuh dan melanjutkan langkahnya.
'Aku sudah jujur mengakuinya. Kenapa dia tidak percaya padaku?' batin Feng Xi sambil melihat kepergian punggung Nara yang sudah beberapa langkah maju didepannya.
Mereka berjalan melewati kios-kios para pedagang. Nara tampak tertarik dengan kosmetik yang diperjualbelikan beberapa pedagang kaki lima.
"Ini apa, paman?" tanya Nara sambil menunjuk ke sebuah wadah bulat kecil dengan ukiran berbagai macam bunga yang sudah dihias cat warna warni yang menarik.
"Kebetulan nona bertanya. Ini adalah perona pipi! Lihat!" jawab paman pedagang sambil memperlihatkan isi dari wadah yang ditunjuk oleh Nara tadi.
'Perona pipi berarti blush on,' pikir Nara.
Nara melihatnya dengan dekat lalu mengendus aromanya.
"Mmm... Harum sekali seperti bunga mawar," kata Nara setelah menilai aroma yang ditangkap oleh panca indra penciumannya.
"Benar! Perona pipi ini terbuat dari aroma bunga mawar. Setiap wanita pasti menyukai aromanya. Harganya tidak mahal, hanya satu tael perak. Apakah nona mau beli satu?"
"Maaf, paman! Aku sedang tidak bawa uang," kata Nara.
"Oh sayang sekali, padahal ini sangat cocok dengan nona," kata paman yang mengeluarkan trik dagangannya.
"Lain kali saja, paman. Rumahku tidak jauh dari sini. Aku akan kembali lagi jika aku membutuhkannya."
"Baiklah, nona!" kata paman pedagang sambil meletakkan kembali perona pipinya.
"Paman, ambil satu untukku!" kata Feng Xi.
"Apanya, tuan muda?" tanya paman pedagang bingung.
"Perona pipi yang dilihat oleh nona tadi."
"Oooo... nona tadi? Baik! Baik!" jawab si paman pedagang tadi cepat.