Tiga jam sebelum acara pernikahan, Ayesha, kekasih Matteo ditemukan tewas mengenaskan di kamarnya sendiri. Dengan bukti yang tertuju pada sahabat Ayesha, yaitu Alara.
Namun bukannya meneruskan penyelidikan dan membuat Alara membayar perbuatannya, Matteo justru menikahinya.
"Tutup kasus ini, Aku akan menyelesaikan semuanya dengan caraku sendiri."
Lantas, hal apa yang akan dilakukan Matteo sampai dia menikahi pembunuh kekasihnya?
Yuk kawal kisahnya
Bagi yang tidak suka cerita ini, tolong tinggalkan tanpa menurunkan Rating bintang cerita ini 🙏☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifah_Musfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPD bab 20
Alara melihat ke arah Matteo tajam, ia marah pada laki-laki itu. Tidak seharusnya dia menyerang Bu Meiga bertubi-tubi seperti itu, dasar laki-laki bodoh, begitu batin Alara.
"Hentikan tuan, apa anda tidak melihat nyonya menjadi syok seperti ini?" Kali ini yang menyala adalah Alara, ada sara kasihan melihat ibu Meiga yang harus menerima kenyataan pahit tentang suaminya.
"Kita bisa menjelaskannya pelan-pelan, bagaimana jika nyonya memiliki penyakit jantung? Apa anda tidak berpikir sebelum melontarkan semuanya? Dasar ceroboh!" Rutuk Alara kesal.
Matteo yang di kata-katai oleh Alara langsung terdiam seketika, ia tidak menyangka Alara bisa berteriak juga, mengingat gadis itu sangat lemah lembut.
Alara mencoba menenangkan ibu Meiga yang syok akibat mendengar kenyataan pahit tentang suaminya dari mulut anaknya sendiri, Alara mengusap-usap kedua bahu nyonya Meiga, lalu menuntunnya untuk duduk di kursi meja makan.
Alara berusaha mengalirkan ketenangan lewat sentuhan tangannya, keduanya tidak berkata apa-apa, Alara membiarkan ibu Meiga untuk menenangkan diri.
Setelah berdiam kurang lebih sepuluh menit, Bu Meiga kembali bersuara. "Apakah benar semua yang dikatakan Matteo, Ra?" tanya Bu Meiga lirih, bersama itu jatuh setetes cairan bening dari mata Bu Meiga.
Mendengar itu, Alara melirik terlebih dahulu pada Matteo, ada rasa ragu untuk langsung menjawab, apalagi kondisi Bu Meiga yang mendadak lemas.
Matteo mengangguk pelan, seolah tahu bahwa Alara butuh persetujuannya untuk mengatakan yang sebenarnya pada ibunya, ia ingin masalah ini cepat selesai dan tidak berlarut-larut.
"Maafkan saya harus mengatakan ini, Nyonya." Alara tertunduk sedih, lalu tak lama kembali mengangkat kepala "jika anda tidak percaya, itu adalah hak anda. Saya tidak memaksa orang lain untuk percaya pada saya, karena …."
"Apa mereka yang kamu maksud kemarin, salah satunya adalah ayah Matteo?" sambar nyonya Meiga ucapan Alara hingga terputus.
Alara hanya mengganggu sambil menundukkan wajahnya, di hati terdalamnya ia tidak tega melihat Bu Meiga yang semakin syok, ibunya Matteo itu sampai menutup mulutnya, karena saking tidak percayanya, kalau ternyata suaminya yang sangat ia cintai juga terlibat atas hilangnya nyawa calon menantu mereka.
Perlahan namun pasti suara tangisan Bu Meiga mulai terdengar, ia menutup mulutnya sendiri agar suara tangis itu tidak semakin menjadi.
Alara dan Matteo hanya bisa menyaksikan itu semua tanpa bisa berbuat apa pun selain coba menenangkan Bu Meiga. Matteo menghampiri ibunya, ia langsung memeluk malaikat tak bersayapnya itu, hatinya ikut sakit saat ibunya tersakiti seperti ini.
Tangisan Bu Meiga pecah di dalam dekapan anaknya, ia pikir semua keanehan suaminya beberapa waktu terakhir tidak ada kaitannya dengan ini semua, ia mencoba berpikir positif atas ketidakpedulian suaminya atas kematian calon menantu mereka.
Matteo ikut larut dalam kesedihan ibunya, ingatannya kembali ke waktu beberapa tahun lalu, dimana saat itu Matteo masih berusia lima tahun, hampir setiap hari ia melihat ibunya menangis sehabis bertengkar dengan ayahnya.
Sampai pada akhirnya tiba waktu dimana saat itu masih pagi buta, Matteo mendengar keributan di luar kamarnya, beserta tangisan ibu yang cukup keras.
"Tolong jangan pergi, kasihan Matteo, aku akan mengatakan pada Papa agar memberi mu jabatan yang tinggi di perusahaan, ku mohon jangan pergi, tetaplah disini karena Matteo, dia masih kecil, ku mohon."
Matteo membuka perlahan pintu kamarnya, sebagai anak ia juga penasaran apa yang sedang terjadi, kenapa ibunya menangis sambil memohon pada ayahnya seperti itu.
Dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit Matteo melihat ibunya yang sedang berlutut memegang kaki ayahnya sambil memohon dan menangis agar tidak ditinggalkan.
"Kau selalu mengatakan itu, aku muak dengan keluargamu yang selalu menyepelekan aku," ucap ayah kandung Matteo marah.
"Ku mohon beri aku kesempatan sekali lagi untuk membujuk Papa, aku yakin kali ini Papa akan mendengarkan aku," Bu Meiga masih bersikukuh tidak ingin suaminya pergi, ia berniat akan melakukan apa pun nanti supaya keinginan suaminya terwujud agar tidak meninggalkan dirinya dan Matteo.
Bu Meiga terus memohon, disini yang paling ia pikirkan adalah Matteo, karena ia sangat tahu bagaimana rasanya hidup dengan orang tua tunggal.
_______________________________________
Berkunjung juga ya ke karya di bawah ini guys, rekomendasi dari aku, jangan lupa mampir ya 👇😁
ayahny alara mafia hebat dia jg punya bnyk ank buah ternyata alara debes pokoknya
apakah Thor nya masih hidu atau?