Indonesia
NovelToon NovelToon
BAPER (BAwa PERasaan)

BAPER (BAwa PERasaan)

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Tamat
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sabira

6 orang yang bersahabat baik semenjak mereka duduk di bangku SMA: 3 orang laki-laki = Nathan, Dave, dan Kenzo

dan 3 orang'perempuan = Milly, Sheryl, dan Megan.

Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta mulai bersemi diantara mereka.

Dapatkah mereka mempertahankan persahabatan tanpa melibatkan perasaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sabira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 20 - It's me, Not him!-

"TAN MINGGIR!!" Teriak Dave yang menyadari hal itu.

Nathan pun tersadar, dan buru-buru membawa motornya kembali ke pinggir.

WUSSSS!!

"SETAN !!" Maki pengemudi mobil itu dengan emosi. Padahal Nathan tidak sepenuhnya bersalah. Pengemudi mobil itu juga tidak seharusnya kebut-kebutan.

Nathan pun langsung menepi, dan menenangkan diri.

Dave buru-buru turun dari jok belakang. "Loe kenapa sih?" Tanyanya heran.

"Sory, gue lagi banyak fikiran," timpal Nathan dengan wajahnya yang memucat.

"Loe lagi mikirin apa emangnya?"

"Nggak.. Bukan apa-apa."

Dave berdecak kesal. Ia pun mengeluarkan minum dari dalam tasnya, dan langsung menyerahkannya pada keponakannya tersebut. "Nih loe minum dulu."

Nathan menerimanya dan langsung meneguknya.

Setelah itu ia mengembalikannya pada Dave, dan memastikan ucapannya barusan.

"Tadi loe bilang, Milly suka sama loe?"

"Iyah."

"Loe tahu darimana?"

"Gue ngelihat nama gue di bukunya."

Nathan terdiam. Bukti yang sama dengan yang ia lihat beberapa waktu lalu.

"Loe nyangka nggak Tan? Gue sendiri bener-bener nggak nyangka," kata Dave dengan wajah berseri-seri.

Sementara Nathan hanya tersenyum. Senyuman yang amat pahit.

Ia pikir hanya tinggal masalah waktu, untuk melihat Dave dan Milly bersama. Saat Dave mengutarakan perasaannya terhadap Milly, Gadis itu pasti akan langsung menerimanya.

"Gue ikut seneng," ucapnya, penuh kebohongan.

"Seneng kenapa?"

"Bukannya loe juga suka sama Milly? Dan sekarang, kalian tinggal jadian aja."

Dave heran. "Loe tahu darimana?"

"Waktu itu kan loe bilang sama Maurice, bahwa Milly adalah cewek yang udah gantiin posisi dia di hati loe."

Dave manggut-manggut, lalu tersenyum. "Loe doain aja, semoga gue dan Milly bisa bersatu."

"Amin." Mengaminkan sesuatu yang jelas bertentangan dengan hati, apakah tidak dosa?

***

Setelah memarkirkan motornya, Nathan memberikan nasi uduk pesanan Gengs pada Dave, dan langsung menyuruhnya ke kantin.

"Anak-anak pasti udah pada nungguin."

"Emang loe mau kemana?"

"Toilet. Kebelet gue gara-gara kejadian tadi."

Sesampainya di kantin yang tidak terlalu ramai, Billy Davidson KW hanya mendapati Sheryl dan Megan.

"Kenzo sama Milly kemana?" Tanyanya seraya duduk di salah satu bangku.

"Si Milly lagi piket. Kalau si Kenzo gak tahu dah." jawab Sheryl.

"Gue ke toilet dulu yah. " pamit Megan.

Di kebun belakang kelas yang sepi, terlihat Kenzo yang sedang duduk termenung sembari mendengarkan sebuah lagu di handphonenya.

'Aku tak percaya lagi

Dengan apa yang kau beri

Aku terdampar disini

Tersudut menunggu mati

Aku tak percaya lagi

Akan guna matahari

Yang dulu mampu terangi

Sudut gelap hati ini

Aku berhenti berharap

Dan menunggu datang gelap

Sampai nanti suatu saat

Tak ada cinta kudapat

Kenapa ada derita

Bila bahagia tercipta

Kenapa ada sang hitam

Bila putih menyenangkan

Aku pulang....

Tanpa dendam....

Ku terima... Kekalahanku...

Aku pulang...

Tanpa dendam...

Kusalut kan .. Kemenanganmu...

Kau ajarkan aku bahagia

Kau ajarkan aku derita

Kau tunjukkan aku bahagia

Kau tunjukkan aku derita

Kau berikan aku bahagia

Kau berikan aku derita..'

Kenzo menunduk dan menghela nafas panjang.

Perasaan itu.. Benar-benar membuatnya frustasi.

"Loe lagi ngapain disini?" tanya seseorang tiba-tiba.

Kenzo terperanjat dan langsung menoleh.

Rupanya Nathan. "Ngagetin aja ish."

Nathan tersenyum. Mendekati Kenzo, kemudian duduk di sampingnya.

"Kenapa loe nggak ngumpul sama anak-anak?"

Kenzo menatap lurus. "Gak papa," dustanya.

"Jangan bilang loe lagi ngehindarin Megan." Terka Nathan.

Cowok berbadan sixpack itu langsung menyangkal. "Nggak lah."

"Akhirnya loe ngakuin juga Zoe."

"Ngakuin apa?"

"Ngakuin kalo loe suka sama Megan."

Kenzo tertegun. Ucapan Nathan seolah menyiratkan jika ia sudah tahu tentang perasaan Kenzo, jauh sebelum dirinya mengakui hal itu.

"Loe.. Udah tahu?"

Nathan mengangguk sambil membenarkan tali sepatunya.

"Tahu darimana?"

"Dari mata loe."

"Dusta!"

"Yaudah kalau loe nggak percaya."

Kenzo terdiam. Ia fikir tidak akan ada seorangpun yang tahu tentang perasaannya, bahkan Roy Kiyoshi.

"Kenapa sih loe nggak jujur?"

"Gue kan udah jujur."

"Maksud gue, kenapa baru sekarang?"

"Meskipun baru sekarang, tapi seenggaknya gue udah jujur. Nggak kaya loe."

Nathan heran dan langsung menatap Sahabatnya itu. "Maksud loe?"

"Loe juga nggak jujur kalo loe suka sama Milly."

Deg! Barusan Kenzo bilang apa? Kupingnya tidak konslet kan?

"Ngomong apa loe barusan?"

"Ck, udahlah.. Gak usah pura-pura budek. Gue tahu loe suka sama si Adinda Azani KW 20 itu."

Mata Nathan seketika membesar. "Lo .. Loe tahu darimana?"

"Sebenarnya.. Malam itu gue belum tidur."

"Malam kapan?"

Malam ketika Sheryl menyadari perasaan Nathan terhadap Milly.

Masih ingat? Saat itu..

"Nathan...

Kayanya gue sekarang faham, kenapa tiba-tiba loe sering jahatin Milly belakangan ini. Loe suka sama Milly kan?"

"Lo.. Loe ngomong apa sih? Jangan ngarang deh!"

"Udah deh loe jujur aja sama gue..

Menurut pandangan gue, loe tuh suka sama Milly. Tapi entah karena apa, loe nggak mau nerima kenyataan itu, dan akhirnya loe jahatin Milly biar loe bisa ngebunuh perasaan loe buat dia.. Iya kan?"

"Loe bener."

"Terus kenapa loe nggak mau nerima kenyataan, kalau sebenernya loe suka sama Milly?"

"Itu karena...,"

Nathan sungguh tidak habis fikir. "Jadi waktu itu..

Walaupun loe udah merem, tapi loe masih belum tidur?"

Kenzo mengangguk polos sambil mematikan musiknya yang saat itu memutar lagu Berganti Hati- Anggun C Sasmi.

Nathan langsung menoyor kepalanya. "Terus kenapa loe nggak bangun?"

"Karena gue pengen tahu, loe bakal jujur apa kagak. Eh, nggak tahunya sampe detik ini, loe belum jujur juga."

Nathan membuang muka dan tertawa tidak percaya. Kenzo kamvret!

"Kalah loe sama gue." Kenzo meledek.

Nathan menunduk dan berkata pelan. "Loe bener.. Gue emang cemen."

Kenzo jadi tak enak hati. Ia pun memegang pundak Cowok yang pintar matematika itu. "Makanya, loe harus cepet-cepet nembak Milly, sebelum dia sama yang lain.

Contohlah gue, meskipun Megan udah punya cowok, tapi gue berani ngungkapin perasaan gue sama dia."

Nathan terdiam dan memikirkan perkataan Kenzo baik-baik. Ia fikir Kenzo benar.

Tapi saat teringat sesuatu, Cowok itu mendadak berubah fikiran. "Gue nggak bisa."

"Kenapa?"

"Gue nggak mau ngelukain Dave."

Kenzo bingung. Apa hubungannya perasaan Nathan dengan Dave?

"Loe nggak tahu? Milly suka sama Dave."

Kenzo ternganga. Karena sumpah demi apapun, ia memang belum mengetahuinya. "Loe serius?"

"Iyah. Cuma Dave nggak sadar, dan malah jadian sama Maurice. Tapi nggak lama setelah itu, mereka putus dan Dave pun deket sama Milly."

"Dan akhirnya Dave jadi suka sama Milly?"

Nathan mengangguk berat. "Bahkan Dave juga udah tahu kalo Milly suka sama dia."

"Really?"

"Yes..

Dan gara-gara mikirin hal itu, gue hampir kecelakaan pas berangkat sekolah tadi."

Untuk yang kesekian kelinya, Kenzo melongo. "Seriusan?"

"Buat apa gue bohong?"

Kenzo menghela nafas panjang. Ia pikir hanya dirinya yang harus mengalami pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan.

"Terus sekarang rencana loe apa?"

Nathan menatap langit dan menelan ludah pahit. "Kayanya gue mau move on aja."

"Beneran?"

Cowok itu mengangguk mantap.

"Karena loe juga gitu kan? Bedanya loe move on setelah sempet ngasih tahu perasaan loe sama Megan. Sedangkan gue nggak."

Kenzo menerima keputusan Nathan, jika memang itu yang ia inginkan. "Yaudah, gue dukung keputusan loe." Ia merangkul Sahabatnya tersebut, "Kita move on sama-sama Tan.

Loe lupain Milly, dan gue lupain Megan."

***

5 menit setelah bel masuk berbunyi, Kenzo baru muncul.

"Loe darimana aja sih?" Semprot Dave, heran.

"Kepo!"

"Dih.. Yaudah ganti yuk, sekarang kan jadwal kita olahraga."

Kenzo mengangguk dan langsung mengeluarkan kaos olahraga dari dalam tasnya.

Tiba-tiba, salah satu teman mereka datang membawa informasi. "Guys, kata Pak Jimmie Olahraga kali ini renang. Ntar kalian langsung ke Swimming Room aja yah."

"Oke," Sahut mereka, kompak.

Megan mengeluh. "Kenapa harus renang sih?"

"Emang kenapa?" tanya Dave.

Belum sempat Megan menjawab, Kenzo sudah berkata. "Dia kan alergi kaporit."

Megan sontak menatap Kenzo, yang balas menatapnya.

"Oiyah? Baru tahu gue."

"Kenapa?" tanya Kenzo pada Megan yang terus memandanginya dengan tatapan tidak wajar.

Megan buru-buru mengalihkan pandangannya. "Nggak papa." Sedetik kemudian ia bangkit, dan langsung pergi.

Dave berteriak. "Loe mau kemana?!"

"Jengukin adeknya Hitto." Jawab Nathan, ketika Sheryl bertanya kemana ia semalam.

Sheryl terdiam dan ganti menatap Hitto. "Adek loe sakit?"

Hitto hanya mengangguk dengan wajah dinginnya.

"Sakit apa?"

"Bukan urusan loe."

Sheryl merasa tersinggung. Cowok sialan!

Saat melihat Milly yang tampak sedang melamun, Gadis itu langsung menyenggolnya. "Milly.."

Milly terkesiap. "Iyah?"

"Loe lagi mikirin apa?"

"Ng, nggak.. Gue gak mikirin apa-apa." Si Pipi Bulat berbalik, dan menatap Nathan. "Tadi loe nggak piket yah?"

Nathan baru ingat jika hari itu dia piket kelas. "Owh, iyah.. Gue lupa."

"Kalau gitu pulang sekolah loe buang sampah yah."

Nathan mengangguk sambil mengatupkan bibirnya, entah biar apa.

Milly kembali berbalik, dan menghela nafas panjang. 'Gila.. Canggung banget.'

Tiba-tiba Hitto teringat sesuatu, dan langsung menatap Nathan. "Tan.. Tiap sore sampai malem, loe selalu kemana?"

"Di rumah, emang kenapa?"

"Gimana kalau loe kerja part time sama gue?"

"Kerja part time?"

"Iyah, kafe tempat gue kerja lagi kekurangan karyawan. Loe mau nggak? Gajinya lumayan loh."

"Ntar dulu, kerjanya gimana?"

"Ya pelayan.. Loe tinggal nganterin pesenan pelanggan doang. Atau kadang-kadang ngepel lantai, gak susah kok."

Nathan memikirkannya baik-baik. Haruskah ia menerima tawaran Hitto? Toh bekerja di kafe tidak ada buruknya.

Lagipula Nathan sangat ingin membantu neneknya dalam mencari nafkah. Karena semenjak sang kakek meninggal, Bu Wirawan lah yang menjadi tulang punggung keluarga mereka.

Akhirnya ia menyanggupi. "Oke, gue mau."

Hitto tersenyum. "Kalau gitu ntar sore, loe dateng ke kafe Bluemoon yah. Ntar alamatnya gue sharelock."

***

Begitu bel istirahat berbunyi, Sheryl langsung mengajak Nathan dan Milly ke kantin.

Namun Nathan menolak dengan alasan ngantuk.

Ia pun langsung meletakkan kepalanya diatas meja seraya memejamkan mata.

Melihat hal itu, Sheryl cemberut dan langsung menatap Milly. "Yaudah kuy."

Beberapa lama kemudian, Nathan memanggil Hitto yang juga sedang tiduran sambil membaca novel.

"To ..."

"Hmm .."

"Ajarin gue move on."

Hitto tertawa. Tidak hanya karena mendengar perkataan Nathan, tapi juga karena bacaan yang ada di buku. "Loe pengen move on dari Milly?"

Nathan tidak membantah, namun tidak juga membenarkan.

Hitto berkata, caranya tidak sulit, tapi tidak mudah juga. "Loe harus nyibukkin diri loe dengan kegiatan yang bermanfaat. Baca buku misalnya, atau nggak nonton film."

"Kalau masih nggak berhasil juga?"

"Simple.. Jauhin dia, dan datengin sosok baru."

Nathan membuka mata dan menatap tembok yang ada di hadapannya. "Datengin sosok baru?" Apa gue bisa? Fikirnya. Ia menghela nafas panjang dan kembali menutup matanya. Mumet Ya Allah..

Tiba-tiba Hitto merasa mules. Ia pun menurunkan bukunya dan pamit pada Nathan. "Gue ke toilet dulu yah."

"Hem."

Saat Cowok mata elang itu menegakkan posisi duduknya, ia shock bukan kepalang. "Mi--"

Milly yang rupanya masih berada dikelas, langsung mengisyaratkan Hitto untuk diam. Dengan gerakan tangan, ia pun menyuruh Hitto untuk segera mengikutinya.

Di atap sekolah yang terbuka..

"Jadi daritadi loe ada di kelas?"

Milly mengangguk dengan ekspresi yang sukar untuk dibaca.

"Berarti loe juga denger dong, obrolan gue sama Nathan tadi?"

Sekali lagi Milly mengangguk.

Hitto menghela nafas panjang. "Terus sekarang loe mau gimana?"

Milly yang sedari tadi menunduk, akhirnya menatap Hitto. "Mau gimana apanya?"

"Ya loe kan udah tahu perasaan Nathan. Dan seperti yang loe denger, dia mau move on dari loe. Gue nanya, gimana tanggapan loe tentang hal itu."

Milly mendesah berat. Berjalan ke tepi, kemudian berhenti tepat dibalik tembok pembatas setinggi dadanya.

"Gue bingung."

Hitto menatap punggung Milly. "Bingung kenapa?"

"Apa loe tahu, kenapa Nathan nggak mau ngungkapin perasaannya dan malah pengen move on dari gue?"

Hitto menebak, mungkin semua itu karena Nathan tidak ingin merusak hubungan persahabatan mereka.

"Loe salah."

"Terus?"

"Itu semua karena Nathan nggak mau ngelukain Dave yang juga suka sama gue."

Hitto berjalan ke arah Milly, dan berdiri di sampingnya.

"Dave siapa?"

"Salah satu sahabat kita, sekaligus pamannya Nathan."

Hitto mengerti. Itu artinya, Nathan rela mengalah dan melepaskan Milly demi pamannya?

Milly membenarkan dengan lemas.

"Terus yang bikin loe bingung adalah, loe nggak tahu harus milih siapa, gitu?"

"Bukan."

"Terus?"

Milly tidak menjawab dan malah menghela nafas panjang. Persoalan ini rasanya lebih rumit dari rumus trigonometri.

"Gini deh, loe jawab pertanyaan gue."

Milly langsung berdiri menghadap Hitto yang entah akan bertanya soal apa.

"Nathan atau Dave?"

"Nathan." jawab Milly spontan.

"Yaudah, loe tinggal ungkapin perasaan loe sama Nathan. Simple kan?"

"Masalahnya kan--" Belum selesai Milly berkata, tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya.

Milly dan Hitto pun langsung menoleh ke arah sumber suara.

Rupanya Dave, yang kemudian mendekati mereka.

"Kalian lagi ngapain disini?"

Hitto dan Milly tidak menjawab dan malah saling melempar pandang. Tatapan Hitto seakan bertanya. 'Siapa nih orang?'

Dave sendiri kesal karena merasa diabaikan. "Hello! Jawab kek!"

Akhirnya Milly menjawab. "Kita lagi ngobrol Dave."

''Oh, jadi ini yang namanya Dave?' Hitto manggut-manggut sambil memperhatikan Dave dari atas sampai bawah.

Membuat Dave heran. "Kenapa loe?"

"Gak papa.." Cowok itu menatap Milly.

"Mil, ngobrolnya ntar aja kita lanjutin, gue duluan yah."

Sepeninggal Hitto, Dave langsung bertanya dengan nada cemburu. "Kalian abis ngobrolin apa?"

"Loe nggak perlu tahu." Milly membuang muka, kemudian mengingat pembicaraan Nathan dan Kenzo tadi pagi.

"Kayanya gue mau move on aja."

"Beneran?"

"Loe juga gitu kan? Bedanya loe move on setelah sempet ngasih tahu perasaan loe sama Megan.

Sedangkan gue nggak."

"Yaudah, gue dukung keputusan loe. Kita move on sama-sama Tan. Loe lupain Milly, dan gue lupain Megan."

Mengingat hal itu, Milly menghela nafas panjang.

Sebuah fakta yang mengejutkan.

Rupanya saat Nathan dan Kenzo curhat di belakang sekolah, Milly berada di balik tembok dan diam-diam menguping pembicaraan mereka.

***

Setelah dari Ruang Ganti, Kenzo bergegas menuju kelasnya. Disana, ia mendapati Andra yang sedang duduk bersandar dibahu Megan dengan mata tertutup.

Sebisa mungkin Kenzo mengendalikan perasaannya. Ia pun mendekat ke arah mereka, dan berhenti di bangkunya.

Sambil memasukkan pakaiannya ke dalam tas, Kenzo bernyanyi kecil.

"Ku akui sungguh beratnya..

Meninggalkanmu yang dulu pernah ada..

Namun harus aku lakukan..

Karena ku tahu ini yang terbaik.."

Megan melirik Kenzo dengan mata yang berkaca-kaca. Apa maksudnya ia menyanyikan lagu tersebut? Untuk menyiksa perasaannya kah?

Kenzo pun duduk, lalu membenarkan tali sepatunya.

"Ku harus pergi meninggalkan kamu..

Yang telah hancurkan aku..

Sakitnya, sakitnya oh sakitnya..

Cintaku lebih besar dari cintanya..

Mestinya kau sadar itu..

Bukan dia, bukan dia, TAPI AKU.."

Megan menunduk. Dua bening luruh tak tertahankan.

Rasanya sakit. Lebih dari apapun.

"Loe jangan baper Meg. Gue cuma nyanyi." Ucap Kenzo, kemudian berlalu dari sana.

Tiba di kantin, Cowok cool itu hanya melihat Sheryl yang sedang makan seorang diri.

"Kok loe sendirian aja? Anak-anak lain pada kemana?" Kenzo duduk disampingnya.

"Gak tahu, mereka sok sibuk. Gue ajak ke kantin gak ada yang mau. Kan kamvret." Sheryl menyendok siomaynya, kemudian memasukkannya ke dalam mulut. "Loe juga kenapa sendiri?"

"Si Dave lagi ke toilet."

"Kalau istri loe?"

Kenzo yang sedang mengetik sesuatu dihandphonenya langsung terdiam. Ia tahu persis jika yang dimaksud istri oleh Sheryl, adalah Megan.

"Apaan sih loe. " protesnya, pelan.

Sheryl tersenyum tipis dan menyedot minuman favoritnya, yakni jus Jeruk. "Gue gak nyangka loe bisa suka sama Megan."

Kenzo balas tersenyum pahit. "Jangankan loe, gue sendiri juga gak nyangka." Cowok itu menelan ludah getir, kemudian bertanya lirih, "Apa perasaan gue ini salah?"

Sheryl terpaku. Namun selanjutnya ia tersenyum, dan menggeleng. "Loe nggak salah Zoe. Wajar kok kalau loe suka sama Megan. Secara, kalian udah sahabatan selama bertahun-tahun.. Jadi nggak aneh kalau loe suka sama dia."

"Lagi pada ngomongin apa sih?" Tanya Dave yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat mereka, bersama Milly. "Kayanya seru banget."

"Kami lagi ngomongin pelajaran," dusta Kenzo.

"Megan mana?" Tanya Milly, dan mengambil cermin Hello Kitty Sheryl.

"Di kelas." jawab Kenzo singkat.

"Owh."

"Mil.." panggil Dave tiba-tiba. Milly yang sedang bercermin langsung menatapnya.

"Sebenarnya loe ada hubungan apa sama cowok tadi?"

Milly termangu. Dirinya tidak langsung menjawab, dan malah tampak bingung harus berkata apa.

Sheryl sendiri heran. "Cowok tadi siapa?"

"Itu loh, murid baru di kelas loe, yang tempo hari tiba-tiba fotoin loe pas kita lagi di kantin."

"Maksud loe si Hitto?"

"Bodo amat siapa namanya."

"Emang kenapa Milly sama Hitto?"

"Tadi gue mergokin mereka yang lagi ngobrol. Dan mereka kelihatan akrab banget."

"Oiyah?" Sheryl tampak terkejut dan langsung menatap Milly.

"Gue gak ada hubungan apa-apa sama dia. Dan tadi tuh kita cuma lagi ngobrolin soal pelajaran.

Udah yah gak usah dibahas lagi." ucap Milly setengah kesal.

***

Sebelum pulang, Hitto memperingatkan Nathan agar jangan lupa datang ke kafe sore nanti.

Nathan mengerti. Hitto pun berlalu.

Nathan juga menggendong tasnya, kemudian pamit. "Gue duluan yah."

"Tungguin! Ini gue dikit lagi kok." Ucap Sheryl yang masih sibuk mencatat.

"Kan ada Milly."

"Kenapa nggak bareng? Biasanya juga kita keluar kelas bareng kan?"

Nathan langsung menatap Milly yang rupanya juga sedang menatapnya. Namun tatkala Nathan memergokinya, Milly buru-buru membuang muka.

Akhirnya Nathan menjawab "Gue ada urusan." Ia pun berlalu.

Milly sadar. Nathan mulai menjauhinya saat ini.

Saat Megan keluar kelas, Andra sudah standby di samping pintu. Merekapun saling melempar senyum.

Namun saat mereka sudah hampir berjalan, tiba-tiba

Andra mendapat panggilan dari ibunya. Cowok berdagu lancip itu pun langsung mengangkatnya. "Halo mah?"

Kemudian ia permisi sebentar pada Megan.

Sepeninggal Andra, mendadak seseorang mendekati Megan. "Kakak yang namanya Megan?"

Megan membenarkan. Pemuda itu pun berkata jika guru olahraga meminta Megan untuk menemuinya di Swimming Room saat ini juga. Tentang alasannya, ia juga tidak tahu.

Meski heran, Megan akhirnya pergi ke Swimming Room yang letaknya bersebelahan dengan aula.

Sampai di sana, anehnya Megan tidak menemukan Guru Olahraga tersebut.

"Mana Pak Jimmie?"

Gadis itu pun mengedarkan pandangannya, mencari sosok guru olahraga yang katanya ingin menemuinya.

Namun tetap tidak ada.

"Dih, Pak Jimmie mana ... AAAAARRRHH!!!"

Tanpa diduga, seseorang mendorong Megan. Gadis itupun pun langsung jatuh ke kolam dan kalap seketika.

"TOLOOONG!!"

Disaat yang sama..

"Coba, kamu lempar bolanya dari jarak 10 meter." perintah Pak Jimmie, yang rupanya berada di ruang sebelah. (aula; beliau sedang mengajari basket.)

"Baik pak." ucap Kenzo. Tapi saat ia sudah hampir melempar bolanya, sayup-sayup ia mendengar suara teriakan seseorang yang meminta tolong.

"Pak, kayanya ada suara yang minta tolong."

"Oiyah?"

Saat Kenzo dan Pak Jimmie tiba di Swimming Room, mereka terbelalak.

"Ya Allah ada yang tenggelam! Kenzo, cepat tolong dia."

Kenzo mengerti. Buru-buru ia melepaskan sepatu dan kaos kakinya, kemudian terjun menyelamatkan Megan yang sudah tidak sadarkan diri.

Ketika tahu bahwa gadis yang tenggelam tersebut adalah Megan, betapa terkejutnya Cowok itu.

Bersambung....

1
Silvi Aulia
ninggalin jejak dulu,nanti baca lagi Thor 😍
🌑🍃Suasana Malam🍃🌑
Nathan & Milly, kalian udah buat aku jadi baperrrrr.....

Semangat terus Kak buat up_nya💪


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
🌑🍃Suasana Malam🍃🌑
Aku suka banget ngeliat interaksi Nathan & Milly.Untuk saat ini Nathan & Milly jadi pasangan favoritku.Dan tentunya cerita dari Nathan & Milly yang selalu ditunggu-tunggu.

Jadi, semangat ya Kak untuk up_nya💪😁
🌑🍃Suasana Malam🍃🌑: Sama2 Kak. Ok Kak👍
total 2 replies
Reva Azza
asik banget cerita nya 😊
MUSHOKANAH ALQOIRIYAH
keren banget ceritanya❤❤
Mamah Bira: ikuti terus kisahnya ya kak, supaya author semangat melanjutkan ceritanya
total 1 replies
Ana Ajja
nangis aku
Mamah Bira
good
Max >w<
cerita ini membuka pikiranku tentang banyak hal.
Maximilian Jenius
Waktu membaca cerita ini rasanya seperti di masa lalu, indah dan penuh warna.
Hazel Nolasco
Kejutan yang mengejutkan!
ZodiacKiller
Mantap banget nih thor, jangan berhenti menulis ya!
Abdul Rahman
Cerita ini keren banget, susah move on!
Rajnandini Sukla Bhattacharjee
Top markotop deh cerita ini, recommend banget!
Mamah Bira: makasih kakak
total 1 replies
Bianca Garcia Torres
Pengen baca lagi dan lagi!
Mamah Bira: ditunggu kelanjutannya ya kakk
total 1 replies
Star Kesha
Mantap banget! 🙌
LalyGamer 590
Menyentuh hati.
Syaifudin Fudin
karya ini membuatku terpesona dan terus ingin membacanya. Semoga thor bisa terus menghasilkan karya yang bagus!
namjoon_skyi
Penasaran terus nih!
Mamah Bira
ditunggu yaa kakak'
Ryner
Habis-habisan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!