El Zaidan Faeyza seorang pemuda berumur 27 tahun di minta pulang oleh kedua orang tuanya. Dia tidak menyadari bahwa kepulangannya untuk menjodohkannya dengan anak kerabatnya. Setelah sampai di kampung barulah ia tau bahwa ia di jodohkan dengan Arumi Mumtaza yang saat ini baru berumur 19 tahun. Dia sempat menolak perjodohan ini, namun ia tidak bisa karena perjodohan ini adalah wasiat kakeknya dengan sang ayah wanita yang baru saja meninggal dunia.
Bagaimana nasib pernikahan El dengan Arum yang sudah di anggap sebagai adik? Lalu bagaimana kehidupan Arum di Jakarta setelah tau bahwa El sudah mempunyai pacar selama 5 tahun? Yuk baca cerita lengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Kurang ajar suami kamu bisa - bisanya dia menjual kamu lewat kekasihnya." umpat Reza setelah mendengar cerita Arum.
Arum menceritakan semua yang terjadi di dalam kamar tadi tanpa ada yang terlewat.
"Kok ada lelaki sejagat itu, demi apa coba dia menjual kamu kepada lelaki tua Bangka sialan itu, aku yakin saat ini dia tengah bersenang - senang dengan kekasihnya sambil mengejek kamu." ucap Reza mencoba menjelekkan suami Arum.
Dengan begini Reza yakin Arum akan membenci El. Dengan begitu Arum akan selalu berlindung kepadanya.
"Aku akan tanyakan ini semua kepada El." ucap Arum melihat berkas yang sempat ia ambil.
"Baiklah,kamu hati - hati dan segera hubungi aku jika dia macam-macam sama kamu." ucap Reza.
Arum menganggukkan kepalanya sambil tersenyum karena memang hanya Reza yang peduli kepadanya sejak dulu.
Arum melangkahkan kakinya menuju unit milik suaminya. Dia akan berbicara dengan suaminya dengan jelas.
Namun saat sampai di kamarnya, ia kaget saat menemui ada seorang wanita di sana.
"Kamu."
"Kamu ngapain di sini? Di apartemen pacarku?" tanya Vivian sinis.
Vivian memang sengaja datang ke apartemennya El untuk membuat kejutan kepada wanita yang menjadi istrinya El. Senyumnya semakin jelas saat tau bahwa El belum menggantikan password unit milik lelaki itu sehingga dia bisa masuk.
"Aku pacarnya El,kamu ngapain di sini? Apa kamu sengaja ke sini ingin menggoda pacar aku." hardik Vivian.
Arum tidak menjawab perkataan Vivian. Dia hanya sibuk mengemas bajunya.
"Kamu tau kenapa aku bisa masuk kedalam kamar ini? Karena kamar ini selalu menjadi saksi kami tidur bersama, dan kami sudah hidup seperti suami istri sebelum kamu di sini." ucap Vivian sengaja memanas - manasi Arum.
"Kamu ini hanya wanita murahan yang mau merebutnya, tapi sayang El terlalu cinta sama aku, sehingga El terpikir untuk menjual kamu." ucap Vivian lagi.
"Dan dengan begitu yang hasil penjualan kamu bisa di gunakan untuk bayar kontrak kamu setelah cerai, hebat bukan."
Arum semakin emosi mendengar penjelasan wanita itu. Apalagi wanita itu tau mengenai perjanjian kontrak pernikahan mereka.
Lalu tidak lama kemudian pintu kamar terbuka menampakkan sosok El. El nampak kaget saat melihat Vivian berada di kamarnya. Dia merasa bodoh karena tidak mengganti password apartemennya.
Belum sempat El bertanya kepada Vivian, Arum lansung melemparkan barang yang ada di dekatnya kepada El.
"Dasar lelaki jahat, kamu tega menjual aku ke siapa aja demi uang." ucap Arum dengan emosi.
El masih belum paham dengan ucapan sang istri. Apalagi istrinya bilang dia menjual wanita itu.
"Tenang sayang, biarkan aku mengusir wanita ini dulu." ucap El mencoba menenangkan Arum dan menatap marah kepada Vivian. Dia yakin kehadiran wanita itu memprovokasi istrinya.
Jika dulu ia akan begitu senang melihat wanita itu ada di sana, namun kali ini dia ingin rasanya mencekik wanita itu hidup - hidup.
"kamu keluar." ucap El membentak Vivian.
"Sayang, kamu tega mengusir aku? Aku kan terbiasa di sini." ucap Vivian dengan lembut berjalan memeluk El.
"Lepas Vi." ucap El.
Arum yang melihat hal tersebut malah semakin kesal tidak terbendung.
"aa mari kita bercerai." ucap Arum membuat El kaget.
El mendorong tubuh Vivian, dia mendekati Arum agar tidak salah paham.
"Aku tidak akan mau, kita baru memulai memperbaiki hubungan kita."
"kamu memperbaiki hanya karena ingin menjebak aku, kamu menjual aku ke pak Beni lewat dia." tunjuk Arum kepada wanita itu.
"Menjual?" El tidak paham apa maksud ucapan Arum.
Arum berjalan membuka pintu apartemen, namun El menangan tangan wanita itu.
"Jangan pergi sayang, kita bisa selesaikan dengan kepala dingin."
"Apanya yang mau di selesaikan jika ada suami yang sengaja menjual istrinya."
"Aku menjual apa?" El masih tidak paham karena masih di salahkan Arum tanpa penjelasan.
"Iya anda menjual Arum kepada pak Beni, kenapa anda begitu tega." kali ini tanya bersuara adalah Reza.
Lelaki itu kaget saat melihat Reza sudah di depan apartemennya. Dia menatap Reza dengan marah.
"Sayang, udahlah biarkan dia pergi." ucap Vivian juga telah sampai di pintu apartemennya.
El semakin marah mendengar ucapan wanita itu. Yang dia tangkap tadi bahwa dia menjual Arum lewat yang namanya pak Beni lewat Vivian.
"Apa pak Beni bos aku?" tanya El dalam hati.
"Jelaskan kepada dia bahwa kita sudah putus dan katakan bahwa aku tidak pernah menjual istriku kepada pak Beni lewat kamu." ucap El mencoba meminta bantuan kepada Vivian agar wanita itu berkata jujur.
"Udahlah sayang, akui saja tanpa harus berpura-pura lagi, biar kita bisa bersama selamanya." ucap Vivian.
El lansung menarik Vivian dengan kasar.
"Katakan yang sesungguhnya, aku tidak pernah menjual istriku lewat kamu, jelaskan kepadanya." ucap El memaksa Vivian mengatakan yang sebenarnya.
"Kamu liat ini, jelas - jelas ini tanda tangan kamu." ucap Reza.
El kaget saat melihat ada tanda tangannya dirinya di atas kertas itu.
"Lepaskan Arum atau aku akan melaporkan kejadian ini kepada polisi." ancam Reza.
"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan Arum, karena aku tidak melakukan hal seperti ini."
" Rum percayalah kepada aa rum." ucap El mencoba menjelaskan sambil menatap Arum dan memegang kedua tangan Arum.
"Sudahlah ini sudah ada bukti, kamu memang lelaki jahat." Arum menghempaskan tangan El dengan kasar.
Arum berjalan meninggalkan El dan Vivian.
"Jangan pergi rum." rengek El kepada Arum.
"Sayang di sini ada aku, kita bisa. Menikah tanpa hambatan lagi." ucap Vivian memegang tangan El.
Arum pergi meninggalkan apartemen bersama Reza sambil menangis. Dia merasa hatinya terasa sangat terluka akibat ulah lelaki itu.
Sedangkan El menghempaskan tangan Vivian dengan kasar.
"Jangan harap aku akan menikahi kamu wanita licik." ucap El baru menyadari bahwa Vivian adalah wanita licik.
El mencoba mengejar Arum yang sudah memasuki mobil Reza. Dia tidak ingin istrinya benar menggugatnya di pengadilan agama.