Bagaikan mimpi buruk yang terus menghantuinya, semenjak kejadian itu, membuatnya seperti memiliki kepribadian ganda, sikapnya berubah ubah, mungkin ini yang dinamakan teroma membuatmu terkurung
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayda Azkiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. cerita 2
Dalam lamunan gadis saat pelajaran tiba - tiba saja terlintas wajah Dika, ada rasa penasaran tentangnya, yang sudah beberapa kali bertemu tanpa sengaja.
"hey Gadis.. Malah lamun sih?" tanya Lina sambil melambaikan tangannya depan muka Gadis.
Sontak membuat Gadis kaget, dan merasa aneh karena yang di fikirannya, ia mencoba mengucak matanya agar bayangan itu menghilang.
"aku nggak lamun kok" sahut gadis mengelak, ia menyembunyikan pipinya yang merah, dengan memalingkan wajahnya.
Lina hanya menganggukan kepalanya mendengar jawaban Gadis, pura-pura percaya.
"kriiing... Kriiing... Kriing..
Bel istirahat berbunyi, Gadis tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia justru mengambil headset dan menyalakan musik diponselnya.
"dis, kantin yu!" ajak Lina berharap sahabatnya mau pergi bersamanya.
"maaf lin, aku lagi nggak mood ke kantin" ujar gadis menolak dengan lembut.
"okey,, aku juga akan disini nemenin kamu" ujar Lina dengan santai
"lin....
Belum selesai Gadis berbicara, sang Dika datang menghampiri Gadis, saat kelas sudah sepi, yang nongol dari balik pintu kelas.
"hayy.... " seru Dika.
Seketika seruan Dika membuat Gadis dan Lina menoleh dengan raut wajah merasa aneh atas kelakuan Dika.
Dika dengan sikap tengilnya langsung masuk dan duduk di kursi samping Gadis.
"kaget ya,, haha" tanya Dika sambil tertawa ringan.
"kamu siapa ya? Aku kok baru lihat kamu?" tanya lina penasaran pada Dika yang sok akrab.
"gue anak baru, kelas sebelah, nama gue Dika" jawab Dika sambil melirik Gadis yang hanya diam saja.
"oh waw... Okey Dika nama gue Lina" Ucap Lina ramah.
"kalau temen kamu siapa?" tanya Dika sambil mengodekan kepalanya miring ke arah Gadis.
"oh,, dia Gadis...
"Lina.. " Gadis langsung menimpali Lina dengan kesal.
Rawut wajah Lina bingung melihat reaksi gadis, seperti tidak suka ia memberi tau namanya
"oh Gadis,, okey gue pergi dulu ya" ujar Dika sambil memandangnya dan tersenyum, tak lama ia pun pergi.
"kamu marah ya dis, aku kan cuma ngasih tau nama kamu doang, kenapa sih?" tanya Lina sangat penasaran atas tingkah sahabatnya.
Gadis pun tidak menjawab atas pertanyaan Lina, ia justru berdiri ingin beranjak pergi.
"kamu mau kemana dis?" tanyanya makin penasaran dan kebingungan.
"aku mau ke suatu tempat" Sahut Gadis dengan nada sedikit malas.
"aku ikut ya, please" bujuk Lina.
"kamu akan bosan disana" ujar gadis merasa keberatan, karena memang ia ingin menyendiri
"pleaseee" Lina masih membujuk Gadis dengan wajah memelas.
"oke deh " ucap Gadis datar.
Gadis pun menuju arah atap tertinggi gedung sekolah, tempat ini memang jarang di kunjungi, jadi enak buat menyendiri
Lina yang baru pertama kali naik ia merasa takjub dengan pemandangan dari atas, di terpa angin sepoy - sepoy merasa nyaman.
"waw,, baru tau ternyata disini enak" ucapnya merasa senang sambil melirik gadis yang tengah berdiri disampinya dengan mata tertutup dan kedua tangannya merentangkan, merasakan terpaan angin yang berhembus.
"hmmm,,, sejak kapan kamu suka kesini?" tanya Lina ingin tau.
"sejak aku merasa ingin sendirian" jawab Gadis dengan posisi yang sama.
"dis, aku sahabat kamu loh, kamu bisa cerita apa saja sama aku, jujur aku merasa sangat khawatir sama keadaan kamu sekarang" Lina mencoba memberi pengertian, rasa penasaran dan merasa sangat khawatir pada sahabatnya.
Gadis perlahan membuka mata dan menurunkan tangannya setelah mendengar perkataan lina, ia pun melihatnya sambil berkata
"aku sudah banyak cerita sama kamu Lin, tapi kali ini aku merasa belum siap, maaf ya"
"kapan pun kamu mau cerita, aku selalu ada buat kamu" Lina meyakinkan Gadis, bahwa dia selalu ada untuknya, Lina tidak menjut ucapannya, ia menghargai keputusan sahabatnya.
Gadis hanya tersenyum kecil atas perkataan sahabatnya
"dis, kamu kenal sama cowok yang tadi?" Lina merasa mereka berdua akrab.
Gadis menggelengkan kepalanya sambil berkata "nggak"
"tapi dia kaya kenal kamu" ujar Lina merasa bingung
"hanya pernah bertemu sesekali" sahut Gadis.
"oh,, tapi oke lah" ucap Lina memujinya
tak lama Lina diam berbicara, ia berkata lagi, ia seperti pengen kembali ngobrol banyak sama sahabatnya
"kamu tau , kak Andre mau keluar negri" Lina memberi tau.
Gadis hanya menggelengkankan kepala dengan rawut wajah datar
"aku rasa kamu perlu bicara sama dia...
belum selesai lina berbicara langsung di timpali Gadis
"aku rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi" ujar Gadis dengan bersikap dingin.
"saat kamu nggak berangkat, dia sangat mengkhawatirkan kamu" kata Lina agak sedikit kesal.
Gadis hanya bisa diam mematung, tanpa reaksi yang seharusnya
"ya sudahlah, terserah kamu, aku harap kamu bisa menemuinya sebentar, tapi percuma juga aku kasih tau kamu" ujar Lina dengan sangat kesal dan meninggalkan sahabatnya.
Tanpa tersadar air mata Gadis menetes, ia merasa kecewa pada diri sendiri. "aku bahkan nggak pantes untuk dia Lin" batin Gadis.
"aku tau kamu pasti melihat aku kesal, seperti seseorang yang tak punya hati, tapi... Kak Andre terlalu baik... Dia pantas mendapatkan yang terbaik" suaranya tercekat, air matanya mengalir.